NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Pengembara

Pendekar Pedang Pengembara

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kebangkitan pecundang / Action / Romantis / Epik Petualangan / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

Jian Yi secara tak terduga memperoleh sebuah pedang aneh yang mampu berbicara. Dari pedang itulah ia mempelajari teknik pedang kuno dan jalan kultivasi yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Saat kekuatannya dianggap cukup, pedang tersebut memerintahkannya untuk mengembara—mencari cara agar sang roh pedang dapat memperoleh wujud fisik.

Maka dimulailah perjalanan Jian Yi sebagai seorang pengembara, melangkah di antara bahaya, rahasia, dan takdir yang perlahan terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Kristal Api dan Perubahan Sikap

​Setelah naga itu membatu dan Kristal Api Langit berhasil diserap Ling'er, suasana di Gunung Merapi Tua berangsur tenang.

Pangeran Ketiga dan pasukannya mulai mengamankan wilayah, sementara Lu Feng sibuk mencari "sisa-sisa naga yang bisa dipanggang".

​Jian Yi duduk di tepi kawah yang kini mendingin, memeluk Ling'er yang kembali ke wujud pedangnya.

Ia bisa merasakan denyutan hangat dari dalam bilah pedang itu, tanda bahwa proses penyatuan energi kristal berjalan lancar.

​Pangeran Ketiga mendekat, duduk di sebelah Jian Yi tanpa rasa canggung. "Terima kasih, Pengembara Jian Yi. Kau menyelamatkan kekaisaran ini dari bencana."

​"Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan." jawab Jian Yi singkat.

​"Tapi kau mengambil Kristal Api Langit itu," Pangeran Ketiga menatap Jian Yi dengan pandangan penuh perhitungan. "Benda itu adalah harta langka yang sangat diinginkan kekaisaran."

​Jian Yi menatapnya tajam. "Aku mengalahkan naga itu. Kristal itu adalah milik Ling'er, bukan milik siapa pun. Jika kau menginginkannya, kau harus bertarung denganku."

​Pangeran Ketiga terkekeh pelan. "Tenang saja. Aku tidak sebodoh itu. Aku tahu kekuatanmu. Lagipula, aku tidak berani mengambil barang milik 'guling' kesayanganmu itu." Pangeran Ketiga melirik pedang Ling'er dengan senyum geli. "Ngomong-ngomong, dia itu senjata yang menarik. Tadi dia terlihat sedikit... lebih tinggi, kan?"

​"Hanya beberapa sentimeter," jawab Jian Yi, tersenyum kecil. "Dia juga jadi sedikit lebih cerah."

​"Sebuah pedang yang bisa tumbuh... Aku belum pernah melihat yang seperti itu," gumam Pangeran Ketiga. "Aku tidak tahu apa tujuanmu, tapi aku yakin kau akan membuat gelombang besar di dunia persilatan. Sebagai tanda terima kasih dan aliansi yang tidak diucapkan... aku punya hadiah untukmu."

​Pangeran Ketiga mengeluarkan sebuah gulungan kulit binatang yang sudah tua dari jubahnya. "Ini adalah peta kuno yang diwariskan dalam keluarga kerajaan. Peta ini menunjukkan lokasi Mutiara Laut Abadi, sebuah permata yang konon hanya ada di dasar lautan paling dalam. Dikatakan bahwa mutiara itu bisa memberikan kehidupan pada benda mati, atau menyempurnakan bentuk raga bagi entitas spiritual."

​Jian Yi mengambil peta itu, matanya berkilat. "Mutiara Laut Abadi? Jian Yi! Itu dia! Jika aku bisa menyerap mutiara itu, raga fisikku akan stabil! Dan... mungkin aku bisa memilih bentuk dewasaku sesukaku!" Ling'er berbisik dengan nada penuh semangat, tidak ada lagi jejak kekesalan karena disebut "guling" atau "bakpao".

​"Itu adalah informasi yang sangat berharga," kata Jian Yi, menatap Pangeran Ketiga. "Apa imbalan yang kau inginkan?"

​"Hubungan baik dengan pendekar sepertimu sudah cukup," Pangeran Ketiga menyeringai. "Lagipula, aku tidak butuh mutiara itu. Aku butuh kekuasaan. Dan kekuatanmu... mungkin berguna di masa depan."

​"Baiklah. Jika kekaisaranmu membutuhkan bantuanku lagi, aku akan mempertimbangkannya." jawab Jian Yi.

​Beberapa jam kemudian, saat mereka bertiga sudah berada cukup jauh dari Gunung Merapi Tua dan menemukan tempat untuk beristirahat di tepi sungai yang jernih, Ling'er tiba-tiba bersinar terang.

​Wujud gadis mungil itu muncul kembali di samping Jian Yi.

Namun kali ini, ada perbedaan signifikan. Tinggi badannya memang hanya bertambah sedikit, sekitar sejengkal, tapi bentuk tubuhnya terlihat lebih proporsional.

Garis lekuknya lebih halus, dan wajahnya yang tetap imut kini memancarkan aura yang sedikit lebih dewasa, meskipun pipi tembamnya tetap memberikan kesan menggemaskan.

​"Jian Yi!" seru Ling'er. Suaranya terdengar lebih matang, namun tetap manis. Ia merentangkan tangannya, lalu memutar tubuhnya dengan anggun. "Lihat! Aku... aku merasa lebih kuat! Dan juga... lebih nyaman di raga ini."

​Jian Yi menatapnya dengan seksama. "Kau terlihat... sedikit lebih tinggi. Tapi pipimu masih seperti bakpao."

​"Jian Yi!" Ling'er mencubit pinggangnya lagi. Namun kali ini, cubitannya terasa lebih kuat.

​Lu Feng yang sedang memancing ikan di sungai, menoleh. "Wah! Sudah ada peningkatan! Tingginya bertambah sedikit, dan yang di depan itu... uhuk... terlihat lebih matang!"

​Ling'er memelototi Lu Feng, lalu menoleh ke Jian Yi dengan ekspresi yang sedikit berbeda.

Ada tatapan dingin yang tiba-tiba muncul di matanya, membuatnya terlihat lebih mengintimidasi meskipun tubuhnya masih mungil.

​"Jian Yi," ucap Ling'er. Kali ini, nada suaranya lebih tenang, namun ada otoritas di dalamnya. "Aku ingin berbicara serius denganmu."

​Jian Yi sedikit terkejut dengan perubahan sikap ini. "Ada apa?"

​Ling'er mendekat, menatap lurus ke mata Jian Yi. "Aku bersyukur kau telah membantuku. Aku tahu kau kuat, dan aku mengagumi tekadmu. Tapi... aku tidak suka dipermainkan, dicubit, atau dijadikan bantal peluk lagi."

​Wajah Ling'er mendekat, berbisik pelan agar Lu Feng tidak mendengar. "Terutama saat kau tidak sengaja menyentuhku di... tempat sensitif itu. Aku pedang, Jian Yi. Aku memiliki martabat. Kau harus menghormatiku sebagai sekutumu, bukan sebagai... boneka."

​Melihat ekspresi serius di wajah imut itu, Jian Yi menelan ludah.

Ia merasakan gelombang Qi dari Ling'er yang kini jauh lebih stabil dan matang. Dia memang masih imut, tapi kini ada aura yang menuntut rasa hormat.

​"Baiklah," jawab Jian Yi, menghela napas. "Aku mengerti. Tidak ada lagi bakpao atau bantal peluk."

​"Bagus," Ling'er tersenyum tipis, namun di balik senyum itu ada senyum kemenangan. "Sekarang, berikan aku peta itu. Kita harus segera mencari Mutiara Laut Abadi. Dan mulai sekarang, jangan harap aku akan kembali menjadi pedangmu jika kau tidak sopan."

​Jian Yi hanya bisa mengangguk pasrah. Niatnya untuk terus mempermainkan Ling'er sepertinya harus ditunda dulu.

Pedangnya yang imut kini telah "dewasa" dan menuntut perlakuan yang lebih serius.

1
Dadan Purwandi
mantapppp 🔥🔥🔥🔥
Dadan Purwandi
gaspolll thorrrrr🔥🔥🔥🔥
Dadan Purwandi
mantap thorrrrr🔥🔥🔥🔥
Dadan Purwandi
mantap 🔥🔥🔥🔥
Dadan Purwandi
mantap ceritanya 🔥🔥🔥🔥🔥
Dadan Purwandi
hancurkannnnn🔥🔥🔥🔥
angin kelana
dah 7 tahun lg yah...
Agen One: time skip aja/Pray/
total 1 replies
Adibhamad Alshunaybir
mantap author semangat up nya☺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!