Alana, pewaris tunggal imperium properti, menemukan fakta bahwa sahabat yang ia biayai kuliahnya, Siska, adalah wanita simpanan ayahnya sendiri. Apa yang dimulai sebagai drama perselingkuhan berkembang menjadi perang dingin perebutan warisan, rahasia korporasi, dan manipulasi psikologis di mana Alana harus menghancurkan dua orang yang paling ia cintai untuk bertahan hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Retak di Atas Marmer
Jalanan Jakarta lewat tengah malam tampak seperti aliran sungai lampu merah dan putih yang kabur. Di dalam sedan hitam milik Elang, kesunyian terasa jauh lebih bising daripada pesta yang baru saja mereka tinggalkan. Alana duduk di kursi penumpang depan, menatap pantulan wajahnya sendiri di kaca jendela. Make-up tipisnya masih sempurna, tapi matanya menyiratkan kelelahan yang tulang-tulangnya rasakan.
"Kamu mengambil risiko besar tadi," suara bariton Elang memecah hening. Ia tidak menoleh, matanya tetap fokus pada jalan tol yang lengang. "Menyinggung soal marmer di depan klien potensial ayahmu. Kalau informasimu salah, Terra Architecture mati sebelum sempat bernapas."
Alana menoleh, sudut bibirnya sedikit terangkat, senyum yang tidak mencapai mata. "Aku tidak menebak, Lang. Aku tahu. Siska itu serakah, tapi dia tidak pintar dalam detail teknis. Dia pikir semua batu putih yang mengkilap itu marmer Italia."
Elang melirik sekilas. "Dan ayahmu? Hendra Wardhana bukan pemain baru. Bagaimana bisa dia tidak sadar?"
"Karena dia sudah berhenti melihat detail sejak dia sibuk melihat belahan dada Siska," jawab Alana tajam, lalu menghela napas panjang. "Ayahku terlalu percaya diri. Dia pikir dia raja yang tak tersentuh. Dia lupa bahwa fondasi kerajaannya sedang digerogoti rayap yang dia pelihara sendiri."
Elang mengangguk pelan, seolah puas dengan jawaban itu. "Bagus. Sentimen itu berguna. Tapi ingat, Alana, kita butuh lebih dari sekadar sentimen untuk merebut proyek Blue Coral Resort. Besok pagi, data spesifikasi teknis harus sudah ada di meja saya. Kita harus mengajukan penawaran harga 30% di bawah Wardhana Group tanpa mengurangi kualitas."
"Sudah kusiapkan," jawab Alana mantap. "Rini sudah mengontak pengrajin lokal di Jepara dan Bali. Kita tidak perlu impor. Kita pakai narasi 'kearifan lokal'. Investor asing suka itu."
***
Sementara itu, di Penthouse SCBD, atmosfer terasa mencekam. Tidak ada musik, tidak ada denting gelas wine.
Hendra Wardhana melempar jas mahalnya ke sofa kulit, lalu berjalan cepat menuju ruang kerja. Langkah kakinya berat, menggemakan kemarahan yang tertahan. Siska mengekor di belakangnya, gaun malamnya yang mewah kini tampak seperti kostum yang kebesaran. Wajahnya pucat.
"Mas, tunggu dulu. Alana cuma mau mengacau. Kamu tahu kan dia sakit hati?" suara Siska terdengar melengking, berusaha terdengar manja namun terselip nada panik.
Hendra tidak menjawab. Dia menyalakan lampu ruang kerja, lalu menarik laci arsip proyek Blue Coral. Dia mengeluarkan binder tebal berisi laporan pengadaan material. Matanya menyisir baris demi baris angka dengan cepat. Jari telunjuknya yang kasar berhenti pada satu kolom: *Supplier Batu Alam - PT. Berkah Alam Semesta*.
"Siska," panggil Hendra rendah, tanpa menoleh.
Siska berdiri di ambang pintu, meremas tangannya sendiri. "Iya, Mas?"
"PT. Berkah Alam Semesta ini... vendor rekomendasi kamu, kan? Yang kamu bilang punya koneksi langsung ke tambang Carrara di Italia?"
"I-iya. Kenapa memangnya? Barangnya bagus kok, Mas. Mengkilap, mewah..."
"Ambilkan sampel yang datang minggu lalu. Sekarang."
Siska terdiam. Kakinya terasa dipaku ke lantai marmer yang dingin. "Mas, ini sudah malam..."
"AMBILKAN!" bentak Hendra. Suaranya menggelegar memenuhi ruangan, membuat Siska tersentak kaget.
Dengan tangan gemetar, Siska berjalan ke sudut ruangan tempat beberapa sampel material ditumpuk. Dia mengambil lempengan batu putih berukuran 20x20 cm dan menyerahkannya pada Hendra. Hendra menyambar batu itu, lalu mengambil pisau surat dari atas mejanya. Tanpa ragu, dia menggores permukaan batu itu dengan keras.
Bunyi decit yang menyakitkan telinga terdengar. Serbuk putih halus muncul di bekas goresan. Hendra meniup serbuk itu, lalu menatap Siska dengan tatapan yang bisa membekukan air.
"Marmer asli tidak akan tergores sedalam ini dengan pisau surat tumpul, Siska," geram Hendra. Dia melempar lempengan itu ke meja hingga menimbulkan bunyi *brakk* yang keras. "Ini granit lokal kualitas rendah yang dipoles ulang dan diberi coating. Harganya paling 500 ribu per meter. Di sini..." Hendra menunjuk faktur di binder, "...kamu tagihkan 4 juta per meter."
Siska mundur selangkah, air mata buayanya mulai menggenang. "Mas... aku nggak tahu... aku ditipu! Vendor itu bilang ini asli! Aku cuma mau bantu kamu cari barang cepat karena deadline proyek sudah dekat!"
Hendra mendekat, aroma alkohol dan amarah menguar dari tubuhnya. Dia mencengkeram dagu Siska, memaksanya mendongak. "Kamu pikir aku bodoh? Aku sudah bangun gedung sejak kamu masih main boneka di kampung. Selama ini aku diam karena aku pikir kamu cuma ambil untung kecil-kecilan. Tapi ini? Ini penipuan yang bisa bikin klien menuntut kita, Siska!"
"Sumpah, Mas! Aku nggak tahu!" Siska menangis histeris, memeluk kaki Hendra. "Jangan marahi aku... aku takut... Alana pasti senang kalau lihat kita begini. Jangan biarkan anak durhaka itu menang, Mas..."
Penyebutan nama Alana membuat rahang Hendra mengeras. Dia melepaskan cengkeramannya dan mendorong Siska pelan. Dia benci mengakui bahwa putri yang diusirnya itu benar. Ego lelakinya terluka parah malam ini.
"Besok pagi, putus kontrak dengan vendor ini," perintah Hendra dingin. "Cari supplier baru yang benar. Dan uang selisihnya..." Hendra menatap Siska tajam, "...harus kembali ke kas perusahaan dalam 2x24 jam. Aku tidak peduli kamu jual tas atau perhiasanmu. Tutup lubang itu sebelum auditor internal mencium baunya."
Hendra melangkah keluar ruang kerja, meninggalkan Siska yang terduduk lemas di lantai. Siska menghapus air matanya dengan kasar. Ketakutan di wajahnya perlahan berganti menjadi kebencian murni. Alana benar-benar ancaman nyata sekarang.
***
Pagi harinya, sinar matahari menerobos masuk ke jendela ruko lantai dua di kawasan Tebet yang disewa Elang untuk kantor sementara Terra Architecture. Ruangan itu jauh dari kata mewah; hanya ada dua meja kerja besar, satu printer plotter bekas, dan tumpukan maket.
Alana sudah duduk di sana sejak pukul enam pagi, rambutnya diikat asal-asalan, kacamata bertengger di hidungnya. Di hadapannya, Rini sedang sibuk menelepon dengan speaker aktif.
"Iya, Pak Komang. Saya butuh konfirmasi harga batu paras Jogja dan kayu ulin bekas bantalan rel. Iya, untuk proyek resort. Kita mau konsep *raw material*," ucap Rini, lalu menutup telepon dan mencatat angka di buku besar.
"Dapat berapa?" tanya Alana tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop.
"Masuk akal, Mbak. Jauh lebih murah daripada marmer, tapi kalau dipoles, teksturnya artistik banget. Cocok buat konsep 'Barefoot Luxury' yang Mbak Alana mau," lapor Rini antusias. Matanya berbinar. Bekerja dengan Alana di tempat sempit ini entah kenapa terasa lebih hidup daripada di gedung kaca Wardhana Group yang penuh intrik.
"Bagus. Masukkan ke RAB (Rencana Anggaran Biaya). Pastikan margin keuntungan kita tipis saja dulu. Kita butuh portofolio, bukan uang cepat," instruksi Alana.
Pintu ruko terbuka. Elang masuk membawa dua gelas kopi kertas. Penampilannya santai dengan kemeja lengan yang digulung, tapi aura otoriternya tetap terasa.
"Sarapan," kata Elang, meletakkan kopi di meja Alana. "Tim legal saya baru saja dapat info menarik dari orang dalam Wardhana."
Alana menghentikan ketikannya. "Soal apa?"
"Hendra memecat vendor batu alamnya pagi ini. Dan ada rumor bagian keuangan sedang panik mencari dana talangan untuk menutupi selisih kas operasional proyek Blue Coral."
Alana tersenyum tipis, kali ini senyumnya mencapai mata. "Siska pasti sedang kelabakan menjual koleksi Hermes-nya."
"Tembakanmu tepat sasaran semalam," Elang duduk di tepi meja, menatap Alana lekat. "Tapi ini pedang bermata dua. Hendra sekarang waspada. Dia akan memeriksa semua detail penawaran. Kalau desainmu tidak solid, dia akan menang hanya karena nama besar Wardhana Group."
Alana memutar laptopnya ke arah Elang, memperlihatkan render 3D desain resort. Gambar itu menampilkan bangunan villa yang menyatu dengan kontur tanah, menggunakan material lokal yang terekspos, atap jerami modern, dan bukaan lebar untuk sirkulasi udara alami. Kontras sekali dengan desain gaya Eropa klasik yang kaku dan boros energi milik ayahnya.
"Wardhana menawarkan kemewahan beton dan kaca yang butuh AC 24 jam. Terra menawarkan pengalaman. Kita menjual 'Bali yang Asli'. Biaya konstruksi kita 40% lebih rendah, biaya operasional jangka panjang hemat 50% karena efisiensi energi," jelas Alana dengan percaya diri.
Elang menatap layar itu, lalu beralih menatap Alana. Ada kilatan apresiasi di sana. Wanita di depannya bukan lagi gadis manja yang menangis karena anting yang hilang. Dia adalah arsitek yang sedang membangun senjata perang.
"Kirimkan filenya," kata Elang singkat. "Saya akan atur pertemuan tertutup dengan pemilik lahan Blue Coral lusa. Kamu yang presentasi."
"Saya? Sendiri?"
"Ini firmamu, Alana. Saya hanya investor. Kalau kamu mau mengalahkan ayahmu, kamu harus berdiri di depan, bukan di belakang punggung saya."
Alana terdiam sejenak, lalu mengangguk tegas. "Baik."
Saat Elang beranjak pergi, ponsel Alana bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal. Alana membukanya.
*"Jangan pikir kamu sudah menang. Kamu cuma tikus kecil yang main-main di kandang singa. Hati-hati kalau jalan sendirian."*
Tidak ada nama pengirim, tapi Alana tahu persis siapa penulisnya. Dia tidak membalas. Dia hanya menekan tombol 'blokir', lalu kembali fokus pada pekerjaannya. Ancaman Siska justru menjadi validasi baginya: musuhnya sudah mulai takut.