Alana, pewaris tunggal imperium properti, menemukan fakta bahwa sahabat yang ia biayai kuliahnya, Siska, adalah wanita simpanan ayahnya sendiri. Apa yang dimulai sebagai drama perselingkuhan berkembang menjadi perang dingin perebutan warisan, rahasia korporasi, dan manipulasi psikologis di mana Alana harus menghancurkan dua orang yang paling ia cintai untuk bertahan hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Teror Tanpa Wajah
Cahaya matahari pagi menembus tirai jendela penthouse Elang, jatuh tepat di lengan kiri Alana. Warnanya bukan lagi merah menyala seperti kemarin, melainkan ungu kebiruan yang pudar—sisa hantaman besi scaffolding yang gagal merenggut nyawanya. Alana berdiri di depan cermin kamar mandi tamu yang seukuran dinding, mengoleskan salep dingin ke memarnya dengan gerakan mekanis.
Tidak ada air mata. Tidak ada tangan gemetar. Rasa sakit fisik itu justru membuatnya merasa sangat sadar, sangat hidup.
"Jangan ditekan terlalu keras," suara bariton Elang terdengar dari ambang pintu yang sedikit terbuka.
Alana menoleh. Elang sudah rapi dengan kemeja putih yang lengan bajunya digulung hingga siku. Pria itu membawa nampan berisi dua cangkir kopi hitam dan roti panggang. Aroma kopi mengisi ruangan yang steril itu, memberikan sedikit kehangatan yang asing.
"Hanya memastikan tulangnya tidak retak," jawab Alana datar, menarik lengan bajunya kembali. "Rico sudah bangun?"
"Dia sudah 'bangun' sejak subuh. Anak buahku memastikan dia menghafal naskahnya dengan baik," kata Elang, meletakkan nampan di meja kecil dekat jendela. "Duduklah. Kamu butuh energi sebelum kita memulai pertunjukannya."
Alana duduk di sofa kulit, mengambil cangkir kopi. "Aku ingin mendengar panggilannya."
"Tentu. Aku sudah menyambungkan audio dari ponsel Rico ke speaker di ruang kerja. Tapi ingat, Alana, tujuan kita hari ini bukan menghancurkannya seketika. Kita ingin dia paranoid. Kita ingin dia membuat kesalahan di depan Hendra."
Alana mengangguk, matanya menatap uap kopi yang mengepul. "Aku tahu. Seperti merebus katak. Perlahan-lahan sampai dia tidak sadar sudah mati matang."
***
Di sisi lain kota, di penthouse Wardhana yang kini terasa seperti penjara berlapis emas, Siska sedang menahan mual. Bukan karena kehamilannya—yang sebenarnya masih sangat muda dan belum menunjukkan gejala fisik—melainkan karena segelas susu khusus ibu hamil yang dipaksakan Hendra setiap pagi.
"Habiskan, Sis. Itu nutrisi buat jagoan saya," kata Hendra, duduk di ujung meja makan sambil membaca koran bisnis. Dia tidak menatap wajah Siska, melainkan perut ratanya.
"Mas, aku mual..." keluh Siska, mendorong gelas itu pelan.
"Jangan manja. Dokter bilang kalsium itu penting. Kamu mau anak saya lahir cacat?" Nada bicara Hendra meninggi sedikit, cukup untuk membuat nyali Siska ciut. Pria tua itu kini lebih mirip sipir penjara daripada kekasih.
Siska meneguk susu itu dengan terpaksa, menelan rasa muak bersama harga dirinya. Ponselnya yang tergeletak di meja bergetar. Sebuah nomor tidak dikenal.
Jantung Siska berdegup kencang. Sejak Rico menghilang dan berhenti menagih uang dua hari lalu, ketenangan Siska justru terusik. Kesunyian Rico jauh lebih menakutkan daripada ancamannya.
Siska melirik Hendra. Pria itu masih sibuk dengan halaman saham. Siska menyambar ponselnya dan beranjak berdiri. "Aku ke toilet sebentar."
"Jangan lama-lama. Jam sepuluh kita harus ke dokter kandungan. Saya mau cek detak jantungnya lagi," perintah Hendra tanpa menoleh.
Siska mengunci pintu kamar mandi utama, menyalakan keran wastafel agar suara air menyamarkan suaranya, lalu mengangkat telepon dengan tangan gemetar.
"Halo?"
"Pagi, Calon Ibu," suara Rico terdengar serak, namun anehnya tenang. Tidak ada nada membentak seperti biasanya. Itu membuat bulu kuduk Siska meremang.
"Rico... kamu di mana? Aku sudah siapkan uangnya. Jangan ganggu aku lagi," desis Siska cepat.
"Uang? Ah, aku sedang tidak butuh uang hari ini, Sayang. Aku cuma lagi lihat-lihat foto lama kita. Ingat motel di Puncak bulan lalu?"
Keringat dingin mengalir di punggung Siska. "Apa maumu?"
"Aku cuma penasaran," suara Rico melambat, penuh penekanan. "Bayi yang didewakan si tua bangka itu... yakin benih dia? Atau jangan-jangan, itu darah dagingku yang lagi kamu jual mahal?"
Lutut Siska lemas. Dia merosot duduk di atas tutup kloset. Ini adalah mimpi buruk terbesarnya. "Jangan gila. Ini anak Mas Hendra."
"Yakin? Kita main bersih waktu itu, Sis? Enggak, kan?" Rico tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat jahat. "Gimana kalau aku kirimkan tes DNA ke kantor tua bangka itu? Sebagai hadiah syukuran?"
"JANGAN!" pekik Siska tertahan. "Rico, dengar. Aku kasih kamu dua kali lipat. Lima ratus juta. Tapi tutup mulutmu."
"Simpan uangmu. Aku mau lihat kamu menderita, Sis. Kamu pikir bisa hidup enak di istana itu sementara aku dikejar-kejar rentenir? Tunggu paket dariku. Semoga Hendra nggak buka duluan."
Sambungan terputus.
Siska menatap layar ponselnya dengan horor. "Rico! Halo! Rico!"
"Siska? Kenapa teriak-teriak?" gedoran keras di pintu kamar mandi membuat Siska melompat. Suara Hendra terdengar curiga.
Siska buru-buru membasuh wajahnya dengan air dingin, mengatur napas, dan membuka pintu. Dia memaksakan senyum paling palsu yang pernah ia buat. "Nggak apa-apa, Mas. Ada kecoa tadi. Aku kaget."
Hendra menatapnya tajam, matanya memindai wajah pucat Siska. "Kecoa? Di penthouse lantai 40 ini? Kamu jangan mengada-ada. Cepat ganti baju. Dokter sudah menunggu."
Siska mengangguk patuh, namun tangannya mencengkeram ponsel begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Dia harus menemukan Rico. Dia harus membunuhnya jika perlu.
***
Kembali di penthouse Elang, Alana mematikan sambungan audio. Ruangan kembali sunyi, hanya terdengar dengung halus AC sentral.
"Bagus," gumam Alana dingin. "Dia ketakutan setengah mati."
Elang duduk di kursi kerjanya, memutar sebuah pena mahal di jari-jarinya. "Ketakutan membuat orang ceroboh. Siska akan mulai bertindak irasional. Dia akan mencoba mencari Rico, atau lebih parah, dia akan mencoba mengambil uang perusahaan lagi untuk membayar Rico."
"Dan saat dia melakukannya, Ayah akan tahu," sambung Alana. "Ayah paling benci dua hal: dibohongi dan dicuri uangnya."
"Tepat." Elang menatap Alana lekat. "Tapi kamu harus hati-hati, Alana. Rico itu anjing gila. Walaupun rantainya aku pegang, dia tetap bisa menggigit. Jangan pernah temui dia sendirian tanpa pengawasanku."
"Aku mengerti," kata Alana. Dia bangkit dari sofa, merasakan nyeri di rusuknya tapi mengabaikannya. "Aku harus ke kantor. Rini bilang ada revisi mendesak untuk struktur atap lobi Blue Coral."
Elang mengerutkan kening. "Kamu baru hampir mati kemarin malam. Istirahatlah sehari."
"Kalau aku tidak muncul, Siska akan curiga aku terluka parah. Aku harus terlihat biasa saja. Itu akan membuatnya semakin bingung kenapa rencananya gagal," jawab Alana tegas.
Elang terdiam sejenak, lalu sudut bibirnya terangkat sedikit. Senyum tipis yang jarang terlihat. "Keras kepala. Baik. Aku antar. Tapi supirku akan menunggumu di lobi seharian."
***
Siang harinya di kantor Terra Architecture—yang menempati satu lantai di gedung milik Elang—Alana bekerja dengan fokus yang menakutkan. Dia memeriksa gambar teknis, mengoreksi hitungan beban, dan membalas email klien seolah tidak terjadi apa-apa.
Rini masuk ke ruangannya membawa makan siang. "Mbak Alana, wajah Mbak pucat banget. Yakin nggak mau pulang?"
"Aku baik-baik saja, Rin. Ada kabar dari 'dalam'?" tanya Alana tanpa mengalihkan pandangan dari layar komputer.
Rini meletakkan kotak makan di meja, lalu merendahkan suaranya. "Satpam lobi Wardhana Group bilang tadi siang Bu Siska datang ke kantor Pak Hendra. Dia kelihatan kacau. Rambutnya agak berantakan, matanya merah. Dia marah-marah sama resepsionis cuma karena ID card-nya nggak terbaca mesin."
Alana berhenti mengetik. "Dia panik."
"Iya. Terus dia masuk ke ruangan Pak Hendra, dan ada suara ribut-ribut sebentar. Nggak lama Pak Hendra keluar mau meeting, mukanya masam banget. Siska ditinggal di dalam."
"Dia pasti mencoba meminta uang tunai lagi," gumam Alana. "Ayah mulai memperketat keran airnya."
Ponsel Alana berbunyi. Pesan singkat dari Elang: *"Umpan dimakan. Siska baru saja menghubungi nomor lama Rico yang sudah kita sadap. Dia minta bertemu di parkiran basemen Plaza Indonesia jam 4 sore. Dia bilang dia bawa perhiasan."*
Alana tersenyum tipis. "Rini, tolong batalkan meeting dengan vendor kaca sore ini. Saya ada urusan lapangan."
"Mbak mau ke mana?"
"Menonton pertunjukan," jawab Alana sambil meraih tasnya. Rasa sakit di tubuhnya seolah lenyap, digantikan oleh adrenalin murni.
***
Jam 4 sore, basemen parkir P2 Plaza Indonesia yang remang-remang. Suasana sepi, hanya ada deru mesin mobil yang lewat sesekali.
Siska berdiri di samping pilar beton, mengenakan kacamata hitam besar dan topi, mencoba menyamar namun tas Hermès di tangannya justru menarik perhatian. Dia gelisah, terus menengok ke kanan dan kiri.
Sebuah mobil sedan hitam melambat dan berhenti sepuluh meter di depannya. Kaca jendela turun separuh.
Siska berlari kecil menghampiri, mengira itu Rico. Namun, kaca itu tertutup lagi sebelum dia sampai, dan mobil itu melaju pergi meninggalkan sebuah amplop cokelat di lantai beton.
Siska tertegun. Dia memungut amplop itu dengan tangan gemetar. Tidak ada Rico. Tidak ada negosiasi.
Dia merobek amplop itu dengan kasar. Isinya bukan surat ancaman, melainkan sebuah benda kecil yang membuat napasnya tercekat: sebuah empeng bayi murahan yang masih terbungkus plastik apotek, dan selembar struk pembayaran motel murah tertanggal enam minggu lalu.
Di balik struk itu tertulis dengan spidol merah: *"DNA tidak bisa bohong, Sayang."*
Siska menjatuhkan amplop itu seolah terbakar. Dia mundur terhuyung, punggungnya menabrak pilar. Air matanya tumpah. Dia terjebak. Rico tidak menginginkan uang. Rico menginginkan kehancurannya.
Dari dalam mobil SUV berkaca gelap yang terparkir tiga baris dari sana, Alana menurunkan binokular kecilnya. Di sampingnya, Elang duduk tenang di balik kemudi.
"Cukup?" tanya Elang.
Alana menatap Siska yang kini merosot di lantai parkiran, menangis sambil memeluk lutut, terlihat sangat kecil dan menyedihkan. Dulu, pemandangan ini mungkin akan membuat Alana iba. Tapi mengingat upaya pembunuhan semalam, hati Alana telah membeku.
"Belum," jawab Alana, suaranya tanpa emosi. "Ini baru permulaan. Biarkan dia pulang dengan rasa takut itu. Biarkan dia melihat wajah Ayah dan bertanya-tanya apakah Ayah sudah tahu."
"Kejam," komentar Elang, namun nadanya terdengar seperti pujian.
"Aku belajar dari yang terbaik," balas Alana, menatap Elang sekilas. "Ayo pulang. Badanku mulai terasa sakit lagi."
Elang mengangguk, menyalakan mesin mobil. SUV itu meluncur pelan keluar dari basemen, meninggalkan Siska yang masih terisak sendirian di antara bayang-bayang beton dan dosa masa lalunya.