NovelToon NovelToon
Titisan Dewi Sri Yang Dibuang Ayahnya

Titisan Dewi Sri Yang Dibuang Ayahnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Kontras Takdir / Anak Genius / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Mata Batin / Fantasi Wanita
Popularitas:16.6k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Dibuang karena bukan anak laki-laki, Sulastri dicap aib keluarga, lemah, sakit-sakitan, tak diinginkan.

Tak seorang pun tahu, dalam nadinya berdenyut kuasa Dewi Sri, sang Dewi Kehidupan. Setiap air matanya melayukan keserakahan, setiap langkah kecilnya menghidupkan tanah yang mati.

Saat ayahnya memilih ambisi dan menyingkirkan darah dagingnya sendiri, roda takdir pun mulai berputar.

Karena siapa pun yang membuang berkah, tak akan luput dari kehancuran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dibuang Seperti Sampah

"Ini surat cerainya. Ambil, bawa anakmu, dan segera angkat kaki. Jangan pernah muncul lagi di depan saya. Kamu cuma bikin saya malu."

Suryo Wibowo melemparkan selembar kertas ke atas meja. Tatapannya dingin, setajam silet, tak menyisakan sisa kasih sayang yang pernah ada sepuluh tahun lalu. Bagi Suryo, Kinar Hidayat kini hanyalah noda di tengah karier politik dan bisnisnya yang sedang meroket.

"Sekarang saya ini pejabat, Kinar. Teman-teman saya orang terpandang. Sedangkan kamu? Cuma anak guru honorer desa yang nggak tahu cara dandan," lanjut Suryo dengan nada jijik.

"Kalian berdua cuma jadi beban. Sadar diri, pergi sekarang. Jangan kotori rumah ini atau menghalangi jalan saya jadi anggota dewan."

Kinar memungut kertas itu dengan tangan gemetar. Di sana tertulis alasan yang terasa seperti hantaman godam: Istri pembawa sial dan gagal memberikan keturunan laki-laki.

"Bapak jahat! Bapak jahat! Lastri nggak mau sayang Bapak lagi! Lastri nggak mau jagain Bapak lagi!"

Sulastri, bocah kecil di dekapan Kinar, berteriak kencang dengan wajah memerah. Ia menangis sesenggukan sampai napasnya tersengal. Lastri memang lahir dengan fisik yang lemah, namun sorot matanya saat ini berkilat penuh kemarahan yang tidak biasa bagi anak seusianya.

Di sudut ruang tamu, Pak Wibowo hanya diam membisu, terus menghisap rokoknya tanpa berani menatap menantunya.

"Anak pembawa sial! Kalau mau mati, jangan di rumah ini!" Bu Darmi, ibu Suryo, menimpali dengan sinis.

"Dasar perempuan mandul! Lima tahun cuma bisa kasih satu anak perempuan pesakitan. Sudah penyakitan, sering pingsan pula. Paling juga nggak bakal umur panjang. Cepat angkat kaki!"

Bu Darmi merasa keberuntungan keluarganya selama ini adalah murni karena kerja keras Suryo. Ia tak sadar bahwa setiap kali Lastri membisikkan doa kecil atau sekadar memeluk ayahnya, energi kehidupan bocah itu tersedot demi kelancaran proyek-proyek Suryo.

"Jadi... Mas sudah merencanakan ini semua?" tanya Kinar lirih.

"Nggak perlu banyak tanya. Kenyataannya kamu nggak bisa kasih saya anak laki-laki. Saya nggak mau garis keturunan saya putus di kamu."

"Abahmu di desa juga pasti paham kalau istri nggak bisa kasih keturunan itu sudah sepantasnya dikembalikan," jawab Suryo angkuh.

Kinar tak takut miskin, tapi hatinya hancur melihat kondisi Lastri. "Saya akan pergi. Tapi tolong, Mas... biarkan Lastri di sini sementara."

"Dia butuh pengobatan rutin di kota. Kalau ikut saya ke desa, dia bakal menderita."

Suryo sempat ragu, namun Bu Darmi langsung menyambar, "Enak saja! Mau nitip beban di sini? Biar dia jadi penghalang buat cucu laki-lakiku dari calon istri baru Suryo nanti?"

"Tidak! Bawa pergi anak ini. Mau jadi pengemis atau mati kedinginan, bukan urusan kami!"

"Ibu... Lastri mau ikut Ibu. Lastri nggak takut lapar, Lastri mau sama Ibu saja," bisik Lastri lemah, memeluk leher ibunya erat-erat.

Ia membenci aroma rumah ini. Ia bisa merasakan kegelapan yang mulai menyelimuti ayahnya.

"Sudahlah, Mbak Kinar. Terima saja nasibnya. Mas Suryo sudah baik kasih pesangon sepuluh juta."

"Dulu waktu Mas Suryo nikahin Mbak, maharnya nggak seberapa kan? Jangan serakah jadi orang," celetuk Lilis, istri Bagyo, sambil memutar bola mata.

Ambar, istri Darso, ikut memanaskan suasana. "Iya, Mbak. Kalau ribut terus, Mas Suryo bisa berubah pikiran dan nggak kasih uang sepeser pun lho."

Ajeng, adik bungsu Suryo yang selama ini hidup dari uang saku yang sering disisihkan Kinar, malah sibuk bermain ponsel.

"Cepatlah pergi, Kak. Bikin pusing saja lihat orang nangis-nangis. Aku sudah lapar mau makan siang."

Kinar menggendong Lastri yang badannya terasa makin ringan setiap harinya. Ia tahu, uang sepuluh juta itu mungkin hanya cukup untuk bertahan hidup beberapa bulan mengingat mahalnya obat-obat Lastri.

Tapi ia tidak sudi bertahan sedetik pun lagi di rumah yang penuh racun ini.

Suryo memesankan sebuah mobil pick-up tua untuk membawa barang-barang Kinar. "Cuma sampai terminal ya, Bu. Saya nggak mau masuk ke pelosok desa, jalannya rusak," ujar sopir pick-up itu ketus.

Saat Kinar melangkah melewati gerbang, Lastri menyandarkan kepalanya di pundak sang ibu. Matanya yang sayu menatap tanaman hias Anthurium seharga jutaan di halaman rumah Suryo.

Seketika, daun-daun yang hijau royo-royo itu berubah kecokelatan dan layu, seolah nyawanya ditarik paksa.

Tak lama kemudian.

"Neng, sudah sampai. Ini pertigaan Desa Sukamaju," ujar tukang ojek yang membawa mereka dari terminal kota.

Kinar turun dengan sisa tenaga yang ada. Ia berdiri di depan pagar bambu rumah kayu yang sangat ia rindukan, namun sekaligus ia takuti.

Ia pulang sebagai janda yang dibuang. Malu rasanya menginjakkan kaki di tanah kelahiran dengan kegagalan.

Lastri yang sempat tertidur di pangkuan Kinar sepanjang jalan, kini mengerjap-ngerjap. "Ibu jangan sedih... Ibu jangan takut. Semoga Abah sama Pakdhe dapat kejutan hari ini."

Kinar hanya tersenyum getir, menganggap itu hanya hiburan dari anaknya. Namun, dari arah jalan setapak menuju hutan, terdengar suara langkah terburu-buru dan tawa yang pecah.

"Abah! Lihat ini, Bah! Rezeki nomplok!" Kang Jaka berteriak kegirangan sambil memikul jaring yang tampak sangat berat.

Di dalamnya, beberapa ekor ikan gurame raksasa masih menggelepar segar, sisiknya berkilat tertimpa cahaya sore.

Abah Kosasih yang berjalan di belakangnya nampak terengah-engah, namun wajahnya berseri-seri.

"Aneh sekali, Bah. Ikan-ikan ini tiba-tiba saja melompat naik ke tepian sungai, seolah-olah menyerahkan diri tepat di depan kaki kita!" lanjut Kang Jaka dengan nada takjub yang masih tersisa.

"Alhamdulillah... ini kalau dibawa ke pasar kota harganya mahal sekali, Jaka. Bisa buat bayar tunggakan pajak sawah dan beli obat buat Ibumu," sahut Abah Kosasih sambil menyeka keringat di dahinya.

Langkah mereka terhenti tepat di depan pagar rumah.

Langkah mereka terhenti tepat di depan pagar rumah.

Kegembiraan itu mendadak sunyi saat mereka melihat sosok wanita dengan koper-koper di pinggir jalan.

"Kinar? Nduk?" Abah Kosasih mendekat. Ia melihat mata putrinya yang sembab dan wajah cucunya yang pucat pasi.

Hati seorang ayah tak mungkin bisa dibohongi.

"Abah... Jaka..." Kinar langsung jatuh bersimpuh, air matanya tumpah tak terbendung lagi.

"Bapak jahat, Bah. Dia usir Ibu. Dia nggak mau Lastri lagi," adu bocah kecil itu dengan suara serak.

Rahang Kang Jaka mengeras seketika. "Kurang ajar! Jadi itu alasannya dia jarang balas telepon kita?"

"Dia pikir kita sampah? Aku samperin dia ke kota sekarang juga!"

"Sudah, Jaka! Tahan dirimu!" potong Abah Kosasih tegas namun lembut. Ia berlutut di depan Kinar, mengelus rambut putrinya yang mulai nampak kusam.

"Nduk... tidak apa-apa. Kamu sudah pulang. Rumah ini masih milikmu, kamarmu masih seperti dulu."

"Biarkan mereka yang membuangmu merugi. Di sini, kamu tetap permata Abah."

Kang Jaka yang tadinya meledak, langsung luluh melihat keponakannya yang kurus kering. "Sini, Lastri sayang... Pakdhe gendong."

"Jangan takut, ya? Di sini ada Pakdhe, ada Budhe Mira. Kita makan enak malam ini. Pakdhe punya ikan banyak!"

Saat Kang Jaka mengangkat Lastri ke dalam gendongannya, sesuatu yang ajaib terjadi. Rumput-rumput liar di halaman rumah yang tadinya menguning akibat musim kemarau panjang.

Perlahan mulai menampakkan pucuk-pucuk hijau segar di setiap tempat yang dilewati bayangan Lastri. Hanya saja tidak ada yang menyadari hal itu.

Kinar merasa bebannya sedikit terangkat. Meski ia pulang tanpa harta melimpah, ia merasakan hangatnya ketulusan yang tak pernah ia dapatkan di rumah megah Suryo.

"Mbak Kinar!" Mira, istri Jaka, keluar dari pintu rumah dengan wajah cemas yang langsung berubah jadi pelukan hangat.

"Ya Allah, Mbak... sudah, jangan nangis. Yang penting selamat sampai rumah. Ayo masuk, Ibu sudah kangen sekali."

1
Lala Kusumah
😭😭😭😭😭😭
Enah Siti
suami edan pngen ku baco tu suryo 😡😡😡😡😡😡😡
gina altira
untung Abahnya Tari itu pinter, cerdas dan bijaksana
gina altira
dibikin lumpuh aja si suryo ini
gina altira
Suryo pengecut
Ebhot Dinni
ayo semangat kinar
Allea
ka Author aku boleh titip nanya ga ma Tari tolong terawang anting2 dan gelang aku keselip apa ada yg ambil soalnya raib dari tempatnya 😁
Allea: paham ka
ke 1 9,900
ke 2 99.000
ke 3 999.000 kan y 🤭
total 2 replies
Kusii Yaati
kasian keluarga kinar, mantan suami tak tahu diri itu ngusik terus.nggak ada yang belain.kirimkan pahlawan yang bisa membantu dan melindungi kinar dan keluarganya Thor 😟
Sribundanya Gifran
lanjut
Aretha Shanum
bingung ko ga kelar2 tuh si suryo ma antek2, pdhal karna udah jalan y tpi ga sadar2, malsh makin jadi, jangan stak alurnya nanti bosen🙏
Pawon Ana
pada masa lampau banyak orang2 yang Waskita karena hati mereka bersih,sekarang mencari orang benar2 berhati bersih seperti mencari jarum ditumpukan jerami 😔
Sribundanya Gifran
lanjut thor
mom SRA
baru mampir..bagus bgt ini...
Lili Aksara
Bagus sekali cerita ini, suka banget deh, udah gitu sering update.
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor
Pawon Ana
membaca ceritamu sambil flashback kenangan masa lampau, dulu dibelakang rumah bapak jug nanam buah juwet yng rasnya asem2 sepet tapi kadang juga ada rasa manisnya,ada juga buah salam.✌️🤭
Pawon Ana: wayang kakak bukan walang kekek🤭
ditempatku ada yng namanya suket teki,suketnya panjang cuma satu tangkai,sama anak2 biasanya dibentuk serupa wayang buat mainn🤭✌️
total 4 replies
🌸nofa🌸
Asli ketawa ngakak🤣🤣
Lili Aksara
Tari, ancurin aja lah tuh pak Halim, udah salah juga, tapi masih bilang tapi kan dia nggak tahu rumah kita.
Lala Kusumah
lanjuuuuuuuuut, tambah seruuuuu nih, semangat sehat ya 💪💪🙏🙏
el 10001
tapi novel nya keren semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!