Seorang Wanita Kuat-Amara. setelah hampir 15 th pernikahan ternyata suaminya ketahuan Selingkuh.
Semenjak itu Kehidupan Amara dan kehidupan rumah tangga nya berubah.
Masih Mencinta namun tak dapat bersama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Noda di Atas Taplak Meja
Dinginnya ubin marmer merambat dari telapak kaki telanjangnya ke sekujur tubuh, meski udara pagi di Jakarta sudah mulai lembap dan hangat.
Amara berdiri di hadapan kompor induksi, matanya kosong menatapi gelembung-gelembung kecil yang muncul di pinggiran telur mata sapi yang sedang digoreng dengan mentega.
Suara desis lembut itu tenggelam dalam dengungan konstan kipas angin di plafon.
Bzzzzz. Suara itu, baginya, adalah soundtrack kebisuan rumah mereka yang luas.
Dia mengenakan daster sutra berwarna krem, simpel dan mahal—hadiah dari Rafa dua tahun lalu.
Rambutnya yang hitam sebahu diikat longgar, beberapa helai terlepas dan menempel di pelipisnya yang berkeringat halus.
Tangannya bergerak otomatis: membalik telur dengan sempurna (kuning harus tetap utuh, setengah matang, persis seperti yang disukai Rafa), mengambil dua lembar roti dari pemanggang, menuangkan kopi hitam pekat ke dalam cangkir porselen putih bermotif geometris. Semua dalam keheningan yang ritualistis.
Dapur ini adalah ruang pamer. Kabinet high-gloss putih, handle berlapis krom, peralatan masak dari merek Jerman tersusun rapi di rak dinding.
Tidak ada noda, tidak ada bumbu yang tercecer, tidak ada kesan hidup. Seperti model di majalah Architectural Digest yang dihidupkan, tapi jiwanya tertinggal di balik halaman majalah.
Dia menata semuanya di atas nampan kayu, lalu membawanya ke meja makan berbahan kayu oak. Taplak meja putih bersih, permadani buatan tangan dari Turki di bawahnya, vas bunga berisi satu tangkai anggrek putih di tengah. Semua pada tempatnya.
Langkah kaki terdengar dari tangga. Rafa muncul, sudah berdasi, jas tergantung di lengan. Wajahnya tertuju pada layar ponsel di tangannya, jempolnya bergerak cepat. Dia mengangguk tanpa melihat ke arah Amara.
"Pagi," gumamnya, suaranya serak.
"Pagi. Kopimu sudah siap," sahut Amara, suaranya datar, terjebak di suatu nada antara pernyataan dan tanya.
Rafa mendekat, akhirnya mengangkat pandangan. Dia mencium pipi Amara, sebuah gestur cepat, kering, tepat di sudut bibir—lebih seperti tugas daripada kasih sayang. Bibirnya terasa sejuk.
"Dinamika gerakan mata di sini menarik," Rafa tiba-tiba berbicara, masih menatap ponsel.
Amara membeku sebentar sebelum menyadari itu bukan untuknya. Dia sedang mendikte pesan suara untuk timnya.
Rafa duduk, meletakkan ponsel di sebelah piring, tapi matanya masih tertambat di sana. Dia mengambil seteguk kopi, tanpa mengecapnya.
"Meeting besar hari ini, presentasi ke direksi. Bisa jadi molor," ujarnya, lebih kepada ponselnya daripada kepada Amara.
"Jam berapa kira-kira? Luna minta dijemput les piano jam lima."
"Suruh Yuni saja yang jemput," balas Rafa, merujuk pada asisten rumah tangga yang datang pagi dan pulang sore.
"Yuni hari ini izin, anaknya sakit. Dan aku janji padanya aku yang akan jemput."
Rafa akhirnya menatapnya, sejenak. Ada sedikit kerutan di dahinya, bukan kekhawatiran, tapi gangguan.
"Kalau gitu, pesan taksi online saja. Aku tidak bisa janji. Ini meeting penting."
Amara menarik napas pelan. Dia duduk di seberang suaminya, memeluk cangkir kopinya sendiri. "Baiklah. Aku yang atur."
Keheningan kembali, hanya diisi suara sendok menyentuh piring dan dengungan kipas angin yang setia.
Amara memperhatikan suaminya. Rambut hitamnya yang rapi, kemeja putih tanpa kusut, dasi biru navy. Dia tampak seperti poster pria sukses. Tapi matanya, di balik kaca matanya yang tipis, terlihat lelah dan jauh. Seperti dia terbang ke suatu tempat di balik layar ponsel itu.
Dia teringat 15 tahun lalu, ketika mereka masih pacaran. Rafa akan menatap matanya saat berbicara, tertawa lepas, tangannya selalu mencari sentuhannya. Sekarang, sentuhan itu hanya formalitas. Perhatiannya adalah komoditas langka yang harus dijadwalkan.
"Kau sudah sarapan?" tanya Rafa tiba-tiba, memecah lamunannya.
"Belum. Tidak lapar."
"Kamu harus makan. Nanti sakit lambungmu kambuh lagi."
Perhatian itu terdengar seperti daftar periksa. Cek: ingatkan istri makan.
Amara mengangkat teko sirup maple kecil berbentuk botol apel. Dia ingin menambah sedikit di atas pancakenya sendiri.
Tangannya, entah mengapa, gemetar ringan. Mungkin karena kurang tidur, atau karena kebisuan pagi ini terasa begitu padat.
Kemudian itu terjadi.
Tetesan sirup maple yang kental dan cokelat mengkilap meleleh dari mulut botol, bukan ke pancake, tapi jatuh tepat di atas taplak meja putih bersih. Membentuk noda bulat sempurna yang perlahan-lahan merembes, merusak kemurnian putih itu.
"Ah!" teriak Amara kecil, spontan.
Rafa langsung menoleh, matanya membesar melihat noda itu. Reaksinya cepat, hampir refleks.
"Hati-hati, Amara!" katanya, nadanya tajam, lebih tinggi dari biasanya.
"Taplak ini kain impor, susah nyucinya. Bisa noda permanen."
Dunia seolah diam.
Amara membeku, tangan masih memegang teko. Suara dengungan kipas angin tiba-tiba terdengar sangat keras, menggergaji telinganya.
Dia melihat wajah Rafa—bibir yang mengeras, tatapan penuh kekecewaan pada benda mati itu.
Bukan pada tangannya yang mungkin lelah, bukan pada kelelahan di matanya, bukan pada momen canggung yang sepele ini. Tapi pada sepotong kain.
Rasa sesuatu yang panas dan pahit naik ke kerongkongannya. Bukan marah. Lebih dalam dari itu. Sebuah pencerahan yang menyakitkan.
Dengan tangan yang tiba-tiba sangat stabil, dia meletakkan teko sirup. Tanpa kata-kata, dia berbalik, berjalan ke dapur. Kakinya terasa dingin kembali menyentuh marmer.
Dia mengambil lap microfiber bersih dan sebotol kecil pembersih noda khusus. Rafa sudah kembali menatap ponselnya, sibuk membalas chat, seolah insiden kecil sudah selesai.
Amara kembali ke meja. Dia membungkuk, mulai membersihkan noda dengan gerakan melingkar yang pelan, tekun.
Aroma pembersih kimia yang tajam menyerang hidungnya, mengusir aroma sarapan yang tadinya menggugah selera. Dia menekan lebih kuat, seolah ingin menghapus bukan hanya sirup, tapi jejak sesuatu yang lain.
Dari sudut matanya, dia melihat pantulan dirinya di sendok perak yang tergeletak di samping piring Rafa. Pantulan itu terdistorsi, memanjang, seperti wajah hantu yang terperangkap dalam logam dingin. Pikirannya berjalan kencang, lebih keras dari dengungan kipas angin.
Inikah yang disebut 'rumah tangga bahagia'? pikirnya, sementara tangannya terus menggosok. Sebuah museum yang kita rawat dengan saksama? Di mana setiap benda punya tempatnya, setiap rutinitas adalah ritual, dan setiap emosi adalah barang terlarang yang bisa mengotori kesempurnaan?
Kita menjadi kurator bagi kehidupan kita sendiri, Rafa. Dan aku... aku merasa seperti arsip yang terlupakan. Disimpan rapi di rak, dikategorikan: 'Istri', 'Ibu', 'Pengurus Rumah'. Tapi isinya, jiwanya, sudah lama tidak dibaca.
Noda itu perlahan memudar, meninggalkan bekas basah yang sedikit lebih gelap. Taplak itu tidak akan pernah benar-benar putih lagi. Begitu juga pagi ini.
Rafa tiba-tiba berdiri, menggeser kursinya. "Aku berangkat. Jangan lupa pesan taksi untuk Luna."
Amara mengangguk, tidak mengangkat kepalanya. Dia tidak sanggup melihatnya.
Dia mendengar langkah kaki menjauh, suara pintu depan terbuka, lalu tertutup rapat. Keheningan yang tertinggal terasa lebih pekat, lebih berat.
Dia berdiri, membawa nampan berisi sisa sarapan yang hampir tidak tersentuh ke dapur. Di wastafel besar, dia menatap telur mata sapi yang kini dingin dan berminyak, kuning telurnya yang setengah matang terlihat seperti mata kusam yang menatapnya.
Tiba-tiba, rasa mual muncul. Dia membuang semua makanan itu ke tempat sampah, suara piring yang berdentam keras di tengah kesunyian.
Dia berjalan pelan ke ruang keluarga—ruangan yang luas dengan sofa abu-abu, lukisan abstrak besar di dinding, dan karpet tebal. Semua monokrom, semua terukur. Di luar jendela kaca lebar, langit Jakarta mulai mendung, awan kelabu menggumpal. Rintik-rintik hujan pertama mulai menghantam kaca.
Amara menarik napas dalam. Dia menuju ke meja kerjanya yang kecil, terselip di sudut dekat rak buku. Laptopnya tertutup. Dia membukanya. Layar menyala, menampilkan screensaver foto lama—dia dan Rafa di pantai, tertawa, dengan matahari terbenam di belakang mereka. Itu sepuluh tahun yang lalu. Sebelum rumah ini, sebelum promosi Rafa, sebelum rutinitas menjadi penjara.
Dia mengeklik, membuka browser. Tab email masih terbuka. Di antara promo dan newsletter, ada satu email yang belum dibalas. Subjeknya: "[Freelance Project] Desain Koleksi Musim Dingin - Bandung."
Dikirim oleh Clara, mantan bos sekaligus mentornya. Isinya hangat, penuh keyakinan: "Amara, bakatmu sia-sia kalau cuma buat desain interior rumah sendiri. Aku butuh matamu untuk proyek ini. Bayaran dan fleksibilitas sesuai permintaanmu. Pertimbangkan."
Jarinya membeku di atas trackpad. Dia membaca ulang kalimat "bayaran dan fleksibilitas sesuai permintaanmu." Sebuah penawaran. Sebuah pintu. Sebuah identitas yang bukan hanya "istri Rafa".
Hujan di luar mulai deras, mengetuk jendela seperti ingin masuk. Dengungan kipas angin masih sama. Tapi di dalam dada Amara, sesuatu yang lama tertidur mulai bergolak.
Dia melihat ke arah meja makan yang kosong, ke bekas noda yang hampir tak terlihat di taplak putih. Lalu kembali ke layar, ke email yang penuh janji itu.
Jarinya, yang tadi membersihkan noda dengan tekun, kini bergerak pelan. Kursor berkedip di kotak balasan. Kepalanya penuh dengan suara: suara Rafa yang kesal, suara Luna yang bertanya kapan Papa pulang, suara kipas angin yang tak henti-henti, dan suara hatinya sendiri yang berbisik pelan.
Apakah aku masih berani?
Dia mengetik satu kata.
"Clara, yang terhormat..."
Titik-titik hitam di layar seolah menantang. Hujan semakin keras, membasuh kaca jendela, mengaburkan pandangan ke luar. Dunia di luar rumahnya yang sempurna menjadi buram, tidak jelas.
Tapi untuk pertama kalinya dalam lama, ada sesuatu yang jelas di dalam dirinya: sebuah keinginan, sebuah kerinduan, sebuah kemungkinan yang berdetak pelan namun pasti.
Dia tidak menekan 'Kirim'. Belum. Tapi jarinya tidak menghapus kata-kata itu.
Dia hanya duduk di sana, terdiam, mendengarkan simfoni hujan dan dengungan kipas angin, sementara dua dunia—yang lama dan yang mungkin—berdiri di ujung jarinya, terpisah hanya oleh satu hentakan jari.
Dan taplak meja putih itu, dengan bekas noda yang samar, menjadi saksi bisu dari pagi di mana retakan pertama, sekecil apapun, mulai terlihat di tembok museum yang mereka sebut rumah.
sambil ☕ thor
Penulisnya sukses mengaduk emosi jiwa seperti naik roller-coaster dan yang buat salut hampir tidak ada typo dalam tiap bab cerita yang disuguhkan. Semoga kisah di novel ini bisa diangkat ke film,karena asli bagus jalan cerita dan penokohan serta konflik yang ada benar-benar membuat cerita ini hidup.
Terimakasih buat penulis dan sukses selalu.