NovelToon NovelToon
Harmoni Lembah Biru "Kazumi Flora"

Harmoni Lembah Biru "Kazumi Flora"

Status: tamat
Genre:Romansa / Fantasi Wanita / Tamat
Popularitas:46
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Namaku Kazumi Flora. Dengan tinggi 154 cm, aku mungkin tampak mungil di tengah megahnya Lembah Biru, namun jiwaku seluas dan sedalam danau ini. Sejak kecil, alam adalah rumahku, dan bunga-bunga adalah sahabatku. Setiap helai kelopak, setiap hembusan angin, dan setiap riak air danau menyimpan cerita yang tak pernah usai aku dengarkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 21

"Turunin dong, Kael... malu aku dilihatin orang satu kantin," rengekku sambil menyembunyikan wajah di ceruk lehernya, mencoba menghindari tatapan penasaran para mahasiswa yang kini mulai berbisik-bisik di sepanjang koridor kafetaria.

Kaelen tidak langsung menjawab. Ia justru melangkah masuk ke area kantin dengan mantap, mencari meja yang paling tenang di pojok ruangan. Begitu sampai di sana, barulah ia menurunkan aku dengan sangat perlahan, seolah-olah aku adalah porselen yang bisa pecah kapan saja.

"Duduk di sini. Jangan ke mana-mana," perintahnya mutlak. Ia bahkan sempat mengusap puncak kepalaku sekali lagi untuk memastikan tidak ada luka serius.

Tak lama kemudian, Kaelen kembali dengan nampan yang penuh sesak. Ada roti bakar cokelat keju, bubur ayam hangat, susu kotak, dan berbagai macam camilan manis yang sengaja ia pesan untuk mengembalikan mood-ku yang hancur.

"Banyak banget, Kael! Aku kan cuma satu orang," protesku sambil menatap tumpukan makanan itu. Aku masih sedikit merajuk, melipat tangan di depan dada sambil membuang muka.

Kaelen duduk tepat di hadapanku. Ia mengambil sendok, meniup bubur ayam itu pelan, lalu menyodorkannya ke arah mulutku. "Tadi bilangnya sakit banget sampai nggak selera makan, kan? Makanya, biar aku yang suapi. Pilihannya tetap sama: kamu makan, atau kita diam di sini sampai kelas selesai dan aku akan terus menggendongmu ke mana pun."

Aku meliriknya kesal, tapi melihat tatapan matanya yang penuh kekhawatiran dan rasa bersalah, hatiku luluh juga. Dengan ragu, aku membuka mulut dan menerima suapan pertamanya.

"Enak?" tanyanya lembut.

Aku hanya mengangguk pelan, masih enggan bicara banyak. Kaelen tersenyum tipis, kali ini senyumnya benar-benar tulus, bukan senyum dingin asisten laboratorium.

Salsa yang duduk di meja sebelah hanya bisa gigit jari sambil menatap kami dengan mata berbinar. "Gila, Kazumi... Kalau aku jadi kamu, dijambak tiap hari juga nggak apa-apa kalau ujung-ujungnya disuapi Kak Kael kayak gini!"

"Salsa, jangan mulai!" seruku malu, yang hanya dibalas dengan tawa renyah dari Kaelen.

"Habiskan susunya, sedikit lagi," bujuk Kaelen lembut sambil menyodorkan sedotan susu kotak ke arah bibirku.

"Huhh... aku kenyang banget ini, Kael. Perutku rasanya mau meledak," keluhku sambil menyandarkan punggung ke kursi kayu kantin. Aku sengaja memasang wajah lemas, mencoba melihat bagaimana reaksinya setelah membuatku makan sebanyak ini.

Kaelen meletakkan susu itu dan menatapku dengan tatapan yang sangat dalam. Ia meraih jemariku di atas meja, mengusapnya perlahan. "Maafkan aku ya, Sayang. Gara-gara aku tidak menjagamu dengan benar, kamu jadi kena masalah. Tapi mulai sekarang, aku tidak akan membiarkanmu sendirian lagi di kampus ini."

Aku sedikit tersipu mendengar panggilan 'Sayang' yang keluar begitu alami dari bibirnya. "Iya, aku maafkan. Tapi sekarang turunin genggaman tanganmu, kita harus kembali ke lab, kan? Ren pasti sudah kewalahan menghadapi mahasiswa baru."

Kaelen berdiri, tapi bukannya melepaskan tanganku, ia malah menarikku berdiri dan menggandengku dengan sangat erat. Ia mengambil tas kuliahku dari tangan Salsa yang sedari tadi menonton kami seperti menonton drama.

"Ayo. Tapi mulai sekarang sampai kelas selesai, kamu adalah asisten pribadiku. Kamu akan duduk di meja depan, tepat di sampingku," ucap Kaelen mutlak.

"Apa?! Kael, itu namanya pilih kasih!" protesku, tapi dalam hati aku merasa senang.

Kami berjalan menyusuri koridor menuju laboratorium. Sepanjang jalan, Kaelen tidak melepaskan genggamannya sama sekali. Setiap ada mahasiswa yang berpapasan dengan kami, Kaelen akan memberikan tatapan tajam yang seolah berkata, 'Jangan berani-berani menyentuh milikku.'

Namun, tepat di depan pintu laboratorium, langkah kami terhenti. Seorang pria paruh baya dengan kacamata tebal dan jas putih—Profesor Haryo, dosen senior yang terkenal paling killer—berdiri di sana dengan wajah tidak senang.

"Kaelen! Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu meninggalkan laboratorium saat jam praktikum baru saja dimulai? Dan siapa mahasiswi ini? Kenapa kamu menggandengnya seperti di taman bunga?" tanya Profesor Haryo dengan suara tegas.

Salsa yang berada di belakangku langsung menciut ketakutan, namun Kaelen tetap berdiri tegak dengan wajah datar andalannya. Ia tidak melepaskan genggaman tangannya padaku, justru malah menarikku sedikit lebih dekat ke sisinya.

"Maaf, Profesor. Tadi ada insiden perundungan yang menimpa mahasiswi baru ini, dan saya harus memastikan keadaannya baik-baik saja," jawab Kaelen tenang, namun tetap berwibawa.

"Insiden?" Profesor Haryo mengerutkan kening.

"Benar. Dan karena saya merasa keamanan di lingkungan fakultas ini sedang tidak stabil, saya memutuskan untuk menjadikan Kazumi sebagai asisten pribadi saya hari ini agar saya bisa mengawasinya langsung selama jam praktikum Anda," lanjut Kaelen tanpa ragu.

Profesor Haryo melongo. Belum pernah ada asisten dosen yang berani memerintah atau memberikan alasan sekaku itu di depannya. Tapi melihat aura Kaelen yang begitu dominan, Profesor itu hanya bisa berdehem canggung.

"Ya sudah... segera masuk! Jangan sampai praktikum terhambat lagi," gerutu Profesor Haryo sambil masuk ke kelas.

Kaelen menoleh padaku dan berbisik, "Lihat? Tidak ada yang bisa melarangku untuk menjagamu, Sayang."

"Terserah kamu saja, Kael. Aku capek," gumamku sambil menghela napas pasrah. Rasa sakit di kepala dan drama di koridor tadi benar-benar menguras energiku. Aku membiarkan Kaelen menuntunku masuk ke dalam laboratorium yang dingin.

Begitu pintu terbuka, suasana lab yang tadinya bising mendadak sunyi senyap. Ratusan pasang mata tertuju pada tangan Kaelen yang masih menggenggam erat jemariku.

Kaelen menarik kursi tinggi di meja instruktur—meja paling depan yang biasanya hanya boleh ditempati asisten dosen. "Duduk di sini, Sayang. Kamu cukup perhatikan aku, tidak perlu ikut praktikum yang melelahkan hari ini," ucapnya lembut, mengabaikan bisik-bisik kaget dari seluruh penjuru ruangan.

Di barisan tengah, aku melihat senior yang tadi menjambakku. Wajahnya yang tadinya sombong kini pucat pasi. Setiap kali Kaelen mengedarkan pandangan untuk menjelaskan materi, ia sengaja memberikan tatapan tajam dan dingin tepat ke arah gadis itu. Gadis itu menunduk sangat dalam, tangannya gemetar memegang pinset, seolah sedang menunggu vonis mati.

Kaelen mulai menyiapkan mikroskop khusus untukku. Ia membungkuk, berdiri tepat di belakangku hingga dadanya hampir menyentuh punggungku. Tangannya yang besar menutupi tanganku di atas meja lab untuk membimbingku memutar lensa mikroskop.

"Lihat ini, Kazumi. Ini sel stomata, mirip dengan pola bunga yang pernah kamu jaga dulu," bisiknya tepat di samping telingaku. Wangi tubuhnya yang menenangkan membuatku sedikit rileks meskipun sedang diawasi satu kelas.

Tiba-tiba, jendela kecil di pintu belakang laboratorium berderit pelan. Ren muncul di sana dengan cengiran lebarnya. Ia memberi kode padaku sambil mengangkat sebuah kantong kertas kecil berisi kue mochi kesukaanku.

"Sttt!" Ren berbisik tanpa suara, lalu dengan gerakan cepat ia menyelipkan kantong itu ke laci meja depanku saat Profesor Haryo sedang membelakangi kelas. Ia mengedipkan mata padaku, seolah ingin memastikan aku tidak merajuk lagi karena lapar.

Kaelen yang menyadari kehadiran Ren hanya mendengus pelan, namun ia tidak mengusirnya. Ia justru mengambil satu mochi dari kantong itu dan menyuapkannya padaku sambil matanya tetap mengawasi mahasiswi yang menjambakku tadi.

"Makan ini. Aku tidak mau asisten pribadiku terlihat lemas," ucap Kaelen posesif.

Satu kelas benar-benar heboh dalam diam. Profesor Haryo yang sedang menulis di papan tulis tidak menyadari bahwa di belakangnya, asisten kesayangannya sedang sibuk memanjakan "asisten pribadi" barunya.

"Tapi, Kael... semua orang melihat kita," bisikku pelan, berusaha menelan potongan mochi yang baru saja masuk ke mulutku. Mataku melirik ke arah Profesor Haryo yang masih sibuk menjelaskan anatomi tumbuhan di depan, lalu beralih ke teman-teman sekelas yang fokusnya sudah bukan lagi ke papan tulis, melainkan ke arah kami.

Kaelen tidak bergeming. Ia justru semakin merapatkan posisinya di belakang kursiku, kedua tangannya kini bertumpu di atas meja laboratorium, mengurungku dalam dekapan posesifnya yang samar.

"Tapi apa, Sayang?" tanyanya dengan nada rendah yang bergetar di dekat telingaku. "Biarkan saja mereka melihat. Aku ingin seluruh dunia tahu bahwa menyentuhmu adalah kesalahan terbesar yang pernah mereka lakukan."

Ia melirik tajam ke arah senior yang menjambakku tadi—gadis itu sekarang terlihat seperti ingin menghilang ditelan bumi. Kaelen sengaja memperkeras suaranya sedikit agar terdengar oleh barisan depan. "Dan aku tidak suka asisten pribadiku membantah perintahku. Jadi, habiskan mochi itu, atau aku akan menyuapimu dengan cara yang jauh lebih memalukan daripada ini."

Wajahku memerah sempurna. Aku tahu persis 'cara memalukan' yang dimaksud Kaelen adalah menciumku di depan kelas. Dengan cepat, aku segera memasukkan sisa mochi itu ke mulutku sampai pipiku menggembung.

Ren yang masih mengintip di pintu belakang memberikan jempol sambil tertawa tanpa suara, sementara Salsa di mejanya tampak sibuk mencatat—bukan mencatat materi kuliah, tapi sepertinya mencatat setiap momen romantis kami untuk diceritakan nanti di asrama.

Tiba-tiba, bel tanda praktikum berakhir berbunyi.

"Baik, praktikum hari ini selesai," ucap Profesor Haryo sambil membereskan bukunya. "Kaelen, tolong pastikan semua alat bersih sebelum kamu meninggalkan ruangan."

"Tentu, Profesor," jawab Kaelen formal. Namun begitu Profesor keluar, aura Kaelen langsung berubah menjadi dingin kembali. Ia menatap ke arah kerumunan mahasiswa yang mulai berdiri.

"Kalian semua boleh keluar," ucap Kaelen lantang, lalu matanya mengunci sosok senior tadi. "Kecuali kau, Kakak Tingkat yang duduk di meja nomor 12. Tetap di tempatmu. Kita perlu bicara soal 'etika' di laboratorium ini."

Gadis itu gemetar hebat, sementara mahasiswa lain berhamburan keluar seolah takut terkena imbas kemarahan Kaelen.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!