NovelToon NovelToon
Be The Antagonist'S Wife

Be The Antagonist'S Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Transmigrasi ke Dalam Novel / Selingkuh / Sistem / Cintapertama / Berbaikan
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: lailararista

Georgio Cassano adalah antagonis paling menyedihkan yang pernah Selin baca. Dimana sedari kecil dia tidak pernah mendapat perhatian keluarganya,cinta pertamanya malah menikah dengan rivalnya, dan istrinya berselingkuh. Sang Antagonis mendapat akhir trangis, Perusahaan yang dibangun dengan hasil kerja kerasnya sendiri bangkrut, dan dia meninggal dibunuh protagonis pria.

"Andai saja aku yang menjadi istri antagonis. Pasti aku akan membuat dia bahagia." Kata-kata yang diucapkan Selin malah membuatnya memasuki tubuh Cassandra, istri antagonis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lailararista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedatangan Jordan

Adrian dan Sonia tiba di sebuah rumah kecil yang tersembunyi di pinggir kota. Udara di sana terasa lebih sepi dan suram, seolah mencerminkan suasana hati Jordan. Mereka masuk dan menemukan putra mereka duduk termenung di sofa usang, rambutnya acak-acakan, matanya menunjukkan kelelahan.

"Jordan," panggil Sonia dengan suara parau. Ia segera menghampiri dan memeluk putranya erat.

Jordan hanya membalas pelukan itu dengan kaku. "Ada apa?

Adrian duduk di kursi tunggal di seberang mereka. Wajahnya tampak lebih tua dari biasanya.

"Cassandra datang ke rumah," kata Adrian, tampak ragu.

Mendengar nama itu, raut wajah Jordan langsung mengeras. "Untuk apa dia datang? Mau mengejekku?"

"Dia bilang, Gio bisa menolongmu. Mengembalikan semua yang hilang."Sahut Adrian cepat.

Mata Jordan menyala karena amarah. "Aku tidak butuh pertolongan darinya! Kenapa aku harus menerima bantuan dari orang yang menghancurkanku?!"

Sonia melepaskan pelukan. "Jordan, dengarkan Papa. Ini kesempatan kita."

"Kesempatan apa, Ma? Kesempatan untuk dipermalukan?" Jordan berdiri, berjalan mondar-mandir dengan gelisah. "Aku tau apa maunya Gio. Dia mau melihatku hancur!"

Adrian menghela napas berat. "Memang itu maunya. Cassandra bilang, kamu harus datang sendiri ke Cassano Grup. Memohon pertolongan. Bahkan kalau bisa, berlutut."

Keheningan seketika menyelimuti ruangan. Wajah Jordan memucat, kemudian memerah menahan rasa terhina yang luar biasa. Sonia kembali bangkit, matanya berkaca-kaca.

"Kita tidak akan biarkan ini terjadi, Jordan! Lebih baik kita cari cara lain!"

"Tidak ada jalan lain, Sonia!" bentak Adrian, suaranya menggelegar. Ia menatap Jordan dengan tatapan memohon. "Nak, Papa tau ini berat. Tapi sampai kapan kamu mau hidup seperti ini? Semua aset kita hilang, perusahaan hancur. Gio pegang semua kartu. Hanya dia yang bisa membalikkan keadaan."

Jordan menunduk, mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Harga dirinya telah direnggut sedikit demi sedikit selama beberapa bulan terakhir. Rasanya seperti menelan bara api, namun kenyataan bahwa ia tidak punya apa-apa lagi menamparnya. Ia memikirkan masa depannya, dan yang terpenting, ia memikirkan Annabella, rasanya dia sungguh menyesal telah memperlakukan buruk Annabella. Meski kasar, Annabella selalu menurut padanya, dia tidak pernah melawan, tapi Jordan dengan keji menyakitinya hanya karena sakit hati karena Annabella terus memikirkan Georgio. Setiap gerik yang Annabella lakukan, pasti tidak luput dengan kata Georgio. Sebab itu Jordan menjadi marah dan berakhir menyiksanya.

Setelah keheningan yang menyiksa, Jordan akhirnya mengangkat kepala. Matanya terlihat kosong, namun ada tekad pahit di dalamnya.

"Baiklah," katanya pelan, suaranya nyaris berbisik. "Aku akan datang. Aku akan berlutut di depannya jika itu yang dia mau."

Sonia terkesiap, menutup mulutnya dengan tangan. "Jordan! Kamu tidak serius!"

"Aku serius, Ma," potong Jordan dengan nada datar. "Dia sudah menghancurkanku. Jadi, tidak ada lagi harga diri yang tersisa untuk dipertahankan. Aku akan ambil kembali semuanya."

Adrian menghela napas lega bercampur sedih. "Itu keputusan yang benar."ucapnya.

★★★

Seperti yang dikatakan Jordan. Keesokan harinya, dia benar-benar datang ke Cassano grup. Jordan melangkah masuk ke lobi megah Cassano Grup. Semuanya terasa begitu asing dan menyakitkan. Lift membawanya naik ke lantai paling atas, ke kantor Georgio.

Saat pintu terbuka, dia melihat Cassandra berdiri di samping meja resepsionis, dengan banyak berkas ditangannya.

"Hallo, Jordan. Selamat datang. Lama tidak bertemu, sepertinya anda kurusan."Cassandra tersenyum mengejek.

Jordan mengabaikannya, melangkah maju dengan kepala tegak meski hatinya remuk. Pintu ruangan Georgio terbuka setelah Cassandra memerintahkan Albert untuk membukanya untuk Jordan. Kalau perusahaan tengah sibuk Cassandra sering membantu disana, setidaknya memberikan ide-ide cemerlang.

Georgio duduk di balik meja kerjanya yang besar, memandangi Jordan dengan tatapan dingin dan tanpa emosi. Cahaya matahari dari jendela besar di belakangnya menciptakan siluet yang mengintimidasi.

"Saya sangat menantikan kehadiran mu," ujar Georgio dengan suara tenang namun menusuk.

Jordan melangkah mendekat. Ia melihat tatapan Georgio seperti menilai penampilan nya, menelanjangi semua rasa malu yang ia bawa. Jordan menarik napas panjang, mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Meruntuhkan semua harga dirinya.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Jordan menekuk lututnya di atas karpet mahal di hadapan meja Georgio.

Georgio tidak bereaksi. Dia hanya terus menatap Jordan, membiarkan keheningan yang mematikan memenuhi ruangan.

Jordan mendongak, menatap mata Georgio.

"Gio," suaranya serak. "Saya datang untuk memohon pertolongan, tolong bantu saya."

Georgio menyandarkan punggung ke kursinya, bibirnya membentuk senyum tipis seakan sangat puas melihat pemandangan di hadapannya. Akhirnya, dia mendapatkan apa yang dia inginkan. Jordan yang dulu sombong dan sok paling berkuasa, kini bertekuk lutut dihadapannya.

"Menarik," kata Georgio pelan. "Kenapa saya harus menolongmu?"

Jordan tetap berlutut, menahan gejolak emosi dan rasa terhina yang membakar dalam dirinya. Ia tahu, satu-satunya cara untuk keluar dari kehancuran ini adalah dengan menelan ludahnya sendiri.

"Karena... karena kita saudara," ucap Jordan, suaranya terdengar tercekat. "Apapun yang terjadi di antara kita, tidak bisa menyangkal kenyataan itu. sekarang saya sudah kehilangan segalanya. Saya minta tolong padamu, Gio."

Georgio tertawa kecil, tawa dingin yang tidak mencapai matanya. "Saudara? Jangan membuat lelucon, Jordan. Saya bukan saudaramu. Lagian selama ini kita hanya berpura-pura akur didepan Adrian. Dari kecil sampai sekarang, kita adalah musuh."

Jordan mengepalkan tangan di samping tubuhnya, giginya terkatup rapat. "Baik. Saya mengakuinya. Saya bersalah. Saya sudah mengakui kemenangan mu. sekali saja bantu saya. Saya akan melakukan apa pun yang kamu minta, asal kamu mau membantuku."

Karena tidak ada jawaban, jordan menarik napas dalam, memaksa dirinya menatap Georgio lurus.

"Saya sudah kehilangan segalanya. Apa lagi yang kamu inginkan?" Jordan melanjutkan, nadanya kini lebih mendesak. "Saya sudah datang, sudah berlutut di sini. Kamu menang, Gio. Kamu berhasil menjatuhkanku."

Georgio bangkit perlahan dari kursinya, berjalan mengelilingi meja besarnya hingga berdiri tepat di depan Jordan yang masih berlutut. Georgio mencondongkan tubuh sedikit, membuat Jordan harus mendongak untuk menatapnya.

"Tadi kamu bilang akan melakukan apa pun?" ulang Georgio, suaranya pelan. Jordan mengangguk cepat. "Kalau gitu saya akan membantu mu, tapi ada syaratnya."

"Apa syaratnya?"

Georgio terdiam. Ia menatap wajah Jordan yang kini terlihat sangat lelah dan putus asa, bukan lagi sombong dan angkuh seperti dulu.

"Saya akan membantu mu sampai semuanya kembali seperti dulu, bahkan mungkin bisa lebih. Asal..."Georgio menggantung ucapannya, dia menatap Jordan penuh arti.

Jordan menatap lama Georgio, menunggunya melanjutkan kata-katanya. "Asal saham Immanuel yang di kendalikan ayahmu diberikan kepadaku lima puluh persen. Gimana?"

Jordan mengepalkan tangannya, tampak terkejut dengan ucapan Georgio. "Kamu gila! Papa pasti tidak akan setuju!"

"Kalau begitu kamu boleh pergi, saya tidak akan menolong mu cuma-cuma?"Jordan tampak berfikir, namun akhirnya dia memilih menyerah. Tidak ada pilihan lain, cuma Georgio satu-satunya jalan agar dia bisa kembali seperti dulu.

"Baiklah, saya akan bujuk papa."putus nya.

Akhirnya, Georgio menjauh sedikit, kembali ke belakang mejanya.

"Bangun," perintah Georgio, nada suaranya kini kembali datar.

Jordan perlahan bangkit, kakinya terasa kaku.

"Saya akan membantu mu mengembalikan sahammu yang hilang. Setelah saham milik Adrian jatuh ke tanganku. Dan setelah ini kamu berada dibawah kendaliku."

Jordan mendengarkan setiap ucapan Georgio. Ini jelas sebuah kesepakatan yang akan membuatnya menjadi boneka Georgio, tapi saat ini, dia tidak punya pilihan.

"Aku mengerti."ujar Jordan pasrah.

Georgio tersenyum sinis. Itu adalah senyum kemenangan yang mengerikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!