Kenji Arashi terbangun di dunia One Piece setelah kematian yang tak masuk akal.
Tanpa sistem, tanpa takdir istimewa, ia justru mendapatkan Buah Iblis Web Web no Mi—kekuatan jaring laba-laba yang memberinya refleks, insting, dan mobilitas layaknya Spiderman.
Di lautan penuh monster, bajak laut, dan pemerintah dunia, Kenji memilih jalan berbahaya: bergabung sebagai kru resmi Topi Jerami, bertarung di garis depan, dan tumbuh bersama Luffy dari awal hingga akhir perjalanan.
Di antara jaring, Haki, dan takdir laut, satu hal pasti—
legenda baru saja di mulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Dermaga No 7
Malam turun di Pulau Yotsuba. Lampu-lampu pelabuhan mulai menyala, menciptakan pantulan keemasan di permukaan air. Aku berjalan menyusuri dermaga, mencari dermaga nomor 7 yang disebutkan bartender tadi.
Suasana pelabuhan malam berbeda dengan siang hari. Lebih sepi, tapi juga lebih mencurigakan. Beberapa kelompok pria berkumpul di sudut-sudut gelap, berbisik dengan nada rendah. Aku bisa merasakan tatapan mereka mengikuti langkahku.
Spider Sense ku tetap waspada, siap bereaksi kapan saja.
"Dermaga lima... dermaga enam..." aku menghitung sambil berjalan. "Dermaga tujuh!"
Di ujung dermaga nomor tujuh, aku melihat sebuah kapal berukuran sedang. Kapal itu terlihat kokoh dengan cat hitam dan garis merah di lambungnya. Bendera bajak laut berkibar di tiang—tengkorak dengan dua pedang menyilang di belakangnya.
Di dek kapal, beberapa orang sedang sibuk mempersiapkan keberangkatan esok hari. Mereka tampak terlatih, bergerak dengan efisien.
"Hei!" aku berteriak dari dermaga. "Aku mencari Kapten Drake!"
Seorang pria besar dengan rambut pirang panjang dan bekas luka di pipi menoleh ke arahku. Dia turun dari kapal dengan langkah berat, menatapku dengan mata tajam.
"Siapa kau?" tanyanya dengan suara dalam.
"Namaku Kenji," jawabku sambil menatap balik. "Aku dengar kapal ini menuju Loguetown dan mencari awak tambahan."
Pria itu mengamati ku dari atas ke bawah, matanya berhenti sejenak di jaket laba-labaku. "Kau bajak laut?"
"Belum resmi," jawabku jujur. "Tapi aku punya kemampuan dan aku butuh sampai ke Loguetown secepat mungkin."
"Kemampuan?" Pria itu mengangkat alis. "Kemampuan apa?"
Tanpa berbicara, aku mengangkat tanganku dan menembakkan jaring ke tiang kapal di belakangnya. Jaring menempel sempurna. Aku menarik perlahan, menunjukkan kekuatannya.
Mata pria itu melebar. "Buah Iblis... kau pengguna Buah Iblis?"
"Spider Fruit," jawabku sambil melepaskan jaring. "Aku bisa menembakkan jaring tanpa batas, bergerak cepat, dan punya insting bahaya yang tajam."
Pria itu terdiam sejenak, lalu tiba-tiba tertawa keras. "HAHAHA! Menarik! Sangat menarik!" Dia menepuk bahuku keras. "Namaku Marcus, wakil kapten kapal ini. Tapi sayang, aku bukan Kapten Drake."
"Lalu di mana dia?"
"Di dalam kabin, sedang minum," Marcus menunjuk ke kapal. "Ayo, kuantar kau menemuinya. Tapi peringatan—kapten kita punya... kepribadian yang unik."
Aku mengikuti Marcus naik ke kapal. Dek kapalnya bersih dan terorganisir dengan baik. Beberapa awak kapal menatapku dengan penasaran, tapi tidak ada yang mencegah.
Marcus membawa ku ke kabin kapten—ruangan cukup luas dengan meja, kursi, dan peta-peta yang terpampang di dinding. Di tengah ruangan, seorang wanita duduk dengan kaki diangkat ke atas meja, memegang botol rum.
Wanita itu... cantik dengan cara yang berbahaya. Rambut merah panjang, mata hijau tajam, dan bekas luka tipis melintang di dahinya. Dia mengenakan jaket kulit hitam dan celana panjang, pedang tergantung di pinggangnya.
"Kapten," Marcus berbicara. "Ada tamu. Dia ingin bergabung dengan kru kita untuk perjalanan ke Loguetown."
Wanita itu—Kapten Drake—menatapku dengan tatapan menilai. Dia meneguk rumnya, lalu meletakkan botol dengan keras di meja.
"Kapten Drake adalah... wanita?" pikirku terkejut. Entah kenapa aku mengira kapten Drake adalah pria.
"Kau," Drake menunjuk padaku. "Nama?"
"Kenji."
"Kenji apa?"
"Hanya Kenji," jawabku. "Belum punya nama keluarga atau julukan."
Drake tertawa sinis. "Bocah misteri, eh? Aku suka itu." Dia berdiri dan berjalan mendekatiku, mengitari ku seperti predator menilai mangsa. "Marcus bilang kau pengguna Buah Iblis. Tunjukkan."
Aku menembakkan jaring ke langit-langit kabin, lalu menarik diriku ke atas. Aku bergelantungan terbalik di langit-langit, lalu melompat dan mendarat dengan sempurna.
"Impressive," kata Drake. "Tapi kemampuan saja tidak cukup. Di laut, kau butuh mental yang kuat. Kau butuh keberanian untuk menghadapi kematian."
Dia menarik pedangnya dengan cepat dan mengayunkannya ke arahku!
Spider Sense berdering! Aku refleks menghindar, pedangnya meleset hanya beberapa sentimeter dari leherku.
"Bagus!" Drake tersenyum. "Refleks yang baik. Tapi bagaimana dengan ini?"
Dia menyerang lagi, kali ini lebih cepat. Serangkaian sabetan datang dari berbagai sudut. Aku menghindari semuanya berkat Spider Sense, bergerak dengan langkah minimal.
"Kau tidak menyerang balik?" tanya Drake sambil terus menyerang.
"Aku tidak ingin melukai calon kaptenku," jawabku sambil menghindari sabetan lain.
Drake tiba-tiba berhenti dan tertawa keras. "HAHAHA! Calon kapten? Kau sudah yakin akan diterima?"
"Ya," jawabku dengan percaya diri. "Karena kau membutuhkan orang seperti ku, dan aku membutuhkan kapal seperti ini."
Drake menatapku lama, lalu memasukkan pedangnya kembali. "Kau punya nyali, bocah. Aku suka itu." Dia kembali ke kursinya dan duduk. "Tapi aku punya pertanyaan. Kenapa kau sangat ingin ke Loguetown?"
"Aku mencari seseorang," jawabku. "Monkey D. Luffy dan Kru Topi Jerami."
Suasana di kabin tiba-tiba berubah. Marcus dan Drake saling pandang.
"Luffy...?" Drake mengernyit. "Bocah dengan bounty 30 juta Berry yang mengalahkan Arlong? Kau teman atau musuhnya?"
"Bukan keduanya," jawabku. "Belum. Tapi aku ingin bertemu dengannya dan... mungkin bergabung dengan krunya."
Drake tertawa lagi, kali ini lebih keras. "Kau ingin bergabung dengan Kru Topi Jerami? Bocah, kau tahu itu artinya kau akan jadi target Marine dan World Government?"
"Aku tahu," jawabku mantap. "Tapi itu tidak masalah. Aku punya impian yang ingin kuraih, dan aku rasa... Luffy adalah orang yang bisa membawaku ke sana."
Drake menatapku dengan ekspresi yang sulit dibaca. Lalu dia tersenyum—bukan senyum mengejek, tapi senyum yang tulus.
"Kau bocah yang menarik, Kenji," katanya sambil berdiri. "Baiklah, aku terima kau sebagai awak sementara sampai Loguetown. Tapi ada syaratnya."
"Apa?"
"Selama di kapal ini, kau ikut aturanku. Kau bekerja untuk kru ini. Dan kalau ada pertarungan, kau bertarung untuk melindungi kapal ini. Setuju?"
Aku mengangguk tanpa ragu. "Setuju."
"Bagus!" Drake mengulurkan tangannya. "Selamat datang di Drake Pirates, Kenji. Kita berangkat besok pagi saat matahari terbit."
Aku menjabat tangannya. Genggamannya kuat, mencerminkan kepribadiannya yang tangguh.
Marcus menepuk bahuku. "Ayo, kutunjukkan kamarmu. Istirahat yang cukup—perjalanan ke Loguetown memakan waktu dua hari, dan laut di rute itu tidak bersahabat."
Aku mengikuti Marcus keluar dari kabin. Dia membawaku ke bagian bawah kapal di mana ada beberapa kamar awak. Kamarnya sederhana—kasur, lemari kecil, dan jendela kecil yang menghadap ke laut.
"Ini kamarmu," kata Marcus. "Makanan tiga kali sehari di ruang makan. Shift jaga akan dikasih tahu besok. Dan satu lagi—jangan macam-macam dengan kapten. Dia baik, tapi kalau marah, dia bisa sangat menakutkan."
"Noted," jawabku sambil tersenyum.
Marcus pergi, meninggalkan ku sendirian di kamar. Aku duduk di kasur, menatap keluar jendela ke laut yang gelap.
"Loguetown," gumamku. "Aku akan sampai di sana. Dan aku akan bertemu Luffy."
Tapi ada perasaan tidak enak di dadaku. Perasaan bahwa perjalanan ini tidak akan semudah yang kubayangkan.
Pagi tiba dengan cepat. Suara lonceng kapal membangunkan ku—tanda untuk semua awak berkumpul di dek.
Aku keluar dari kamar dan naik ke dek. Matahari baru saja terbit, cahayanya mewarnai langit dengan gradasi jingga dan merah. Seluruh kru Drake Pirates sudah berkumpul—sekitar 15 orang, semuanya tampak berpengalaman.
Kapten Drake berdiri di depan, pedangnya tergantung dengan gagah di pinggang.
"Dengarkan!" suaranya keras dan tegas. "Hari ini kita berlayar ke Loguetown. Perjalanan akan memakan waktu dua hari. Rute kita melewati area yang sering didatangi bajak laut dan Marine, jadi tetap waspada. Shift jaga akan diatur oleh Marcus. Semua paham?"
"PAHAM, KAPTEN!" teriak seluruh kru bersamaan.
"Bagus. Sekarang angkat jangkar dan siapkan layar. KITA BERANGKAT!"
Kru langsung bergerak dengan terkoordinasi. Jangkar diangkat, layar dibentangkan, dan kapal perlahan mulai bergerak meninggalkan dermaga.
Aku membantu menarik tali layar bersama beberapa awak lainnya. Meskipun aku punya kekuatan super dari Spider Fruit, aku tidak ingin terlihat sombong—bekerja sama dengan kru adalah yang terpenting.
"Hei, Kenji!" seorang awak muda dengan rambut coklat memanggil ku. "Namaku Taro. Aku pelaut biasa, tidak punya kekuatan spesial seperti mu. Tapi aku sudah berlayar sejak umur 10 tahun!"
"Senang bertemu denganmu, Taro," jawabku sambil tersenyum. "Ajari aku kalau aku salah melakukan sesuatu, ya. Aku masih baru di dunia pelayaran."
Taro tertawa. "Tenang saja! Kita semua pernah jadi pemula. Yang penting kau mau belajar!"
Jam demi jam berlalu. Aku belajar banyak tentang kehidupan di kapal—cara mengikat tali dengan simpul yang benar, cara membaca arah angin, cara mengoperasikan layar untuk kecepatan maksimal. Semuanya baru bagiku, dan aku menyerapnya dengan cepat.
Saat istirahat siang, aku duduk di dek bersama Taro dan beberapa awak lainnya, makan roti dan sup ikan.
"Jadi, Kenji," kata seorang awak wanita bernama Lisa. "Kau benar-benar ingin bergabung dengan Straw Hat Pirates? Kau tahu mereka itu kru yang gila, kan? Mereka menyerang Arlong yang bahkan Marine takut hadapi!"
"Justru karena itu aku ingin bergabung," jawabku. "Mereka punya keberanian untuk melakukan hal yang orang lain takut lakukan. Mereka punya impian besar. Itu jenis orang yang ingin kuikuti."
"Impian besar, eh?" Taro tersenyum. "Kau juga punya impian besar?"
Aku terdiam sejenak, lalu mengangguk. "Ya. Aku ingin berlayar keliling dunia, melihat semua yang ditawarkan laut ini, dan menjadi seseorang yang bisa melindungi orang-orang yang kupedulikan. Aku tidak ingin hidup dengan penyesalan lagi."
"Lagi?" Lisa mengangkat alis. "Kau pernah hidup dengan penyesalan?"
Aku menyadari kesalahan ku—aku hampir membocorkan tentang kehidupan lamaku. Tapi aku menutupinya dengan cepat. "Maksudku... aku tidak ingin menyia-nyiakan kehidupan yang kuberi."
Taro menepuk bahuku. "Itu pemikiran yang bagus, Kenji! Kau akan jadi bajak laut yang hebat!"
Kami tertawa bersama, menikmati makanan dan persahabatan.
Tapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
Spider Sense ku tiba-tiba berdering keras di tengah makan siang!
BAHAYA!
Aku langsung berdiri dan menoleh ke laut. Di kejauhan, aku melihat tiga kapal mendekat dengan kecepatan tinggi. Bendera mereka berkibar di angin—bendera Marine dengan simbol burung camar.
"KAPAL MARINE!" aku berteriak sekeras mungkin.
Seluruh kru langsung panik dan berlarian ke posisi masing-masing.
Kapten Drake naik ke dek dengan cepat, teropong di tangan. Dia mengamati kapal Marine yang mendekat.
"Tiga kapal Marine kelas sedang," gumamnya. "Dan mereka menuju langsung ke kita. Sial, kita ketahuan."
Marcus datang dengan nafas terengah. "Kapten, apa kita lawan atau kabur?"
Drake menatap kapal Marine, lalu menatap krunya. "Kalau kita lawan, kita mungkin menang tapi akan ada korban. Kalau kita kabur, mereka akan terus mengejar." Dia mengertakkan gigi. "Sialan... tidak ada pilihan bagus."
"Kapten," aku maju. "Aku punya ide."
Drake menatapku. "Apa?"
"Biarkan aku mengalihkan perhatian mereka," kataku. "Aku bisa bergerak cepat dengan jaringku. Aku akan menarik perhatian mereka sementara kapal ini kabur ke arah berbeda. Setelah mereka sibuk mengejarku, aku akan lolos dan menyusul kalian."
"Itu rencana bodoh," kata Marcus. "Kau bisa mati!"
"Atau kita semua bisa mati kalau bertarung," balasku. "Ini cara terbaik untuk memastikan kapal dan kru selamat."
Drake menatapku lama, ekspresinya serius. "Kau yakin?"
"Ya," jawabku dengan mantap. "Percaya padaku."
Drake terdiam, lalu mengangguk pelan. "Baiklah. Tapi kau harus berjanji—kau akan selamat dan menyusul kami di Loguetown."
"Aku janji," jawabku sambil tersenyum.
Aku langsung berlari ke sisi kapal, bersiap melompat. Tapi sebelum melompat, aku menoleh ke belakang.
"Sampai jumpa di Loguetown!"
Dan aku melompat ke laut.