Semua masih terasa tak masuk akal bagi Ningsih. setahunya ia hanya menjadi pengiring pengantin di acara pernikahan Tania, sepupunya. Tapi bagaimana bisa, ia yang sedari tadi hanya dikurung di dalam kamar entah untuk apa, kini mendengar dengan jelas namanya yang disebut dengan lantang pada pengucapan Ijab Qabul?
Mohon komentar yang sopan yah😊
jangan nagih juga, karena walaupun nggak ditagih insyaa Allah aku up nya tiap hari😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Assifaatulqalbi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Tiga
"selesai ini mau langsung pulang?" tanya Juna. Ningsih terlihat berfikir sebentar. rasanya sayang aja kalau mereka langsung pulang, mungkin di rumah keduanya hanya akan nonton saja atau mungkin tiduran.
"Emmmm, kita ke Toko Buku dulu yah Kak? terus pulangnya nanti sekalian belanja bahan-bahan makanan di Supermarket. Aku tadi sempat ngintip isi Kulkas, dan bahan makanannya udah banyak yang kurang" Juna mengangguk. Ia juga terlalu malas kembali ke rumah, lebih baik ia dan Ningsih menghabiskan waktu hari ini di luar rumah. Kan jarang-jarang mereka pergi hanya berdua jalan-jalan kayak gini.
"Oke" Ningsih berseru senang mendengar jawaban Juna. Novel bacaannya sudah mau habis dan sudah nggak ada yang baru lagi, jadinya ia mau menambah koleksi novelnya lagi.
"Kak, Kakak ngerasa nggak sih kalau kita itu walau pasangan suami istri tapi kayak orang asing" Juna menatap Ningsih saat gadis itu berucap hal yang sama sekali Juna tak duga. Ia menunggu Istrinya melanjutkan ucapannya.
"Yaa maksud aku itu...aku tahu kalau kita menikah bukan karena saling cinta atau apa, tapi.... setidaknya aku ingin pernikahan kita ini tak akan kandas hanya dalam waktu sebentar" Juna tetap diam. ia berpikir yang sama dengan Ningsih. Lagian, ia sama sekali tidak ingin jika pernikahan ini nggak berhasil. Sudah cukup ia memendam perasaannya pada Ningsih selama ini, jadi sangat tidak mungkin jika ia membiarkan pernikahan mereka kandas begitu saja dengan gadis yang dicintainya ini. Sebenarnya Juna sangat bersyukur dengan semua kejadian yang menimpanya. Bukankah ia beruntung, gadis yang akan menikah dengannya kabur dan digantikan dengan gadis yang sudah lama dicintainya? jadi, apa mungkin Juna akan menyia-nyiakannya begitu saja.
"Kakak berpikir yang sama dengan kamu" Ia menarik sudut bibirnya membentuk senyum. "Tapi....Kakak rasa ini bukan saatnya kita membicarakan hal itu" ujarnya membuat Ningsih membuka mulutnya bermaksud menyela.
"Jangan potong dulu! Maksud Kakak itu, ini bukan saat dan tempat yang tepat. Masa kita bahas masalah ini di warung Nasi goreng ini? nantikan banyak pelanggan lain yang dengar" sambungnya.
Ningsih tersadar apa yang dimaksud Juna. ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling warung tersebut. Benar! di sana banyak pelanggan yang sedang makan. Ia tadi sudah berpikir kalau Juna akan menghindar lagi.
Ningsih tertawa pelan menyadari kebodohannya. "iya ya. Kok aku sampai nggak sadar. Tapi janjikan Kak, Kakak nggak akan menghindari pertanyaan-pertanyaan yang aku ajukan?" Juna mengangguk mantap, membuat senyum Ningsih merekah lebar.
"udah ah, makan dulu. Kasian nasinya di kacangin dari tadi" ucapnya sambil mengelus lembut puncak kepala Ningsih.
"Oke. Oh ya, Kak. Bukunya nanti Kakak tetap traktir Ningsih kan? Kan kata Kakak Ningsih udah tanggung jawab Kakak, berarti termasuk jajan Ningsih kan?"
Juna tertawa geli mendengar perkataan Ningsih. udah tau, malah nanya. Istrinya ini benar-benar menggemaskan.
"Iyalah. Masa kamu Kakak suruh minta sama Papa kamu lagi! Kan kamu udah tanggung jawab Kakak" Ningsih mengangguk-angguk mengerti.
"Tapi kasih Kakak bonus yah nanti" sambungnya. "bonus? apa?"
"Ada deh. Kakak bilangnya nanti di rumah aja" Ningsih mengedikkan bahunya acuh. Dia tau Juna nggak mungkin meminta sesuatu yang aneh atau yang nggak wajar padanya. Ia tahu, walau Juna menyebalkan pasti pria itu menyayanginya. Yah....meski Ningsih nggak tau sayang sebagai apa. Mungkin sebagai adik sepupu Tania? sebagai adik? atau.... mungkin sebagai Istri pengganti, Ningsih tak tahu. Baginya,perasaan Juna itu abu-abu.
"berangkat sekarang ke toko bukunya?" tanya Juna. Mereka sudah menghabiskan makanan beberapa menit yang lalu, namun belum berniat beranjak dari sana. sepertinya efek terlalu kenyang.
"Iya. Ini udah mau jam sebelas juga" jawab Ningsih sambil melihat jam yang berada di pergelangan tangan kirinya. Waktu benar-benar tak terasa. bahkan mereka sudah menghabiskan waktu hampir dua jam di sini.
"Oke. Tunggu di sini, Kakak bayar dulu" Ningsih mengangguk. Selesai membayar, mereka berjalan beriringan keluar dari warung tersebut. Juna menggenggam tangan Ningsih, sedangkan Ningsih membiarkan saja tangannya digandeng Juna. Karena menurutnya, ia menemukan kemyamanan saat tangan besar milik Juna membungkus tangan mungilnya.
Sesampainya di samping Mobil, Juna membukakan pintu dan menyuruh Ningsih masuk. Ini sudah biasa bagi Ningsih, karena memang Juna sejak dulu selalu memperlakukan hal seperti itu padanya. Ningsih ingat, saat Juna dan Tania akan berkencan, pasangan tersebut akan menjemputnya. Dan Juna akan melakukan hal yang sama, bedanya dulu Ningsih duduknya di belakang karena di depan adalah tempat Tania.
saat sampai di Toko Buku, Ningsih langsung menghampiri tempat di mana ribuan Novel berjejer. Ia mulai mencari judul buku yang menurutnya menarik, melupakan Juna yang sedari tadi mengikutinya layaknya ekor.
Juna menggeleng pelan melihat kelakuan Istrinya itu. Astaga, bahkan tangan gadis itu kini sudah penuh dengan novel namun matanya masih lincah memperhatikan judul novel-novel di depannya itu?
Karena Juna pengertian, ia mengambil novel yang memenuhi tangan istrinya itu. "Sini, biar Kakak yang bawain. Dek, dek! emang ini semua mau kamu apain sih, ampe sebanyak ini?" ujar Juna tak habis pikir.
Dia memang beberapa kali menemani Ningsih ke Toko buku bersama Tania, dan situasinya sama seperti ini. ia akan melihat Ningsih yang tetap asik memilih meski di tangannya sudah terdapat banyak. Kalau Tania, perempuan itu lebih sering menunggu di kursi yang memang disediakan di tempat itu daripada kakinya pegal mengikuti Ningsih.
Ningsih tak mempedulikan Juna, matanya tetap fokus ke arah judul-judul buku tersebut daripada meladeni Juna.
"Dek, udah yuk! ini Novelnya aja udah lima belas buah, masa mau nambah lagi? Kita bisa ke sini lagi lain kali kalau misalnya semua udah habis kamu baca" bujuknya karena sudah merasa lelah. Kadang Juna berfikir, lebih baik ia menemani Ibunya belanja di Mall dibanding menemani Ningsih ke Toko Buku. Walaupun ibunya gila belanja, tapi tak akan selama Ningsih.
"Oke, janji tapi temanin ke sini lagi!" Juna mengangguk pasrah. Terserah istrinya itu sajalah, Juna benar-benar merasa kakinya encok karena mengikuti Ningsih yang sebentar-sebentar diam, lalu sebentarnya lagi melangkah. gitu aja terus sampai Juna pingsan.
Ningsih menoleh pada Juna yang berada di belakangnya. Ia tertawa geli melihat ekspresi merana suaminya itu. "Lebay banget sih! perasaan udah sering nemanin aku beli buku, masiiiiih aja belum terbiasa" omelnya di sela tawa.
"Yah, mau gimana lagi. Kamu sih belanjanya lama, mana berdiri terus lagi" katanya beralasan.
"Jadi, udah nggak mau lagi nemanin aku belanja?" tanya Ningsih tajam. Juna gelagapan, "Bukan gitu Dek, Ya Allah! Kan Kakak nggak ngomong gitu"
"Nah, terus tadi emang maksudnya itu nggak menjurus ke sana?"
Juna menggaruk tengkuknya yang sama sekali nggak gatal. Ia hanya bingung mau menjawab pertanyaan Ningsih. beberapa detik kemudian matanya membulat karena perlakuan Ningsih yang tiba-tiba.
CUP! Ningsih mengecup pipi kanannya.
"Masih ngelu?" tanya Ningsih lagi, kali ini dengan mata bersinar jahil. Lalu melangkah duluan meninggalkan Jun yang mematung.
'Aduh Si, bisa-bisanya kamu lakuin hal yang memalukan kayak tadi' rutuknya sendiri saat sudah menjauh dari Juna. Mana sempat-sempatnya ia menggoda Juna, mau taruh di mana mukanya?
di rumah merayu dan meyakinkan Sisi dengan berbagai cara tapi diluar seenaknya digelayuti cewek bak lengketnya permen karet 🙄🙄😠😡😡
sabar jak juna