(NOVEL INI LANJUTAN DARI LEGENDA SEMESTA XUANLONG)
Tiga belas tahun telah berlalu sejak Dewa Bintang Tian Feng mendirikan Kekaisaran Langit, menciptakan era kedamaian di dua alam semesta. Namun, di Puncak Menara Bintang, Ye Xing, putra dari Ye Chen dan Long Yin, serta Cucu kesayangan Tian Feng merasa terpenjara dalam sangkar emas.
Terlahir dengan bakat yang menentang surga, Ye Xing tumbuh menjadi remaja jenius namun arogan yang belum pernah merasakan darah dan keputusasaan yang sesungguhnya.
Menyadari bahaya dari bakat yang tak ditempa, Tian Feng mengambil langkah drastis menyegel kultivasi Ye Xing hingga ke tingkat terendah (Qi Condensation) dan membuangnya ke Alam Bawah, ke sebuah sekte sekarat bernama Sekte Awan Rusak. Tanpa nama besar keluarga, tanpa pengawal bayangan, dan tanpa harta istana, Ye Xing harus bertahan hidup sebagai murid biasa bernama "Xing" yang diremehkan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 5
Sekte Awan Rusak – Ladang Herbal Barat.
Sinar matahari pagi menembus kabut tipis pegunungan, menyinari pemandangan yang seharusnya mustahil. Ladang seluas satu hektar yang kemarin sore hanyalah tanah tandus berwarna abu-abu, kini telah berubah menjadi lautan hijau yang bergoyang tertiup angin.
Rumput Roh Angin. Tanaman tingkat rendah, tapi jika tumbuh subur, daunnya akan memiliki urat perak yang berkilau.
Dan tanaman di depan Ye Xing bukan hanya punya urat perak, tapi batangnya setebal lengan bayi dan memancarkan aroma dingin yang menyegarkan pikiran.
"Ini... ini gila," Lin Xiao menganga, menyentuh salah satu daun dengan takut-takut. "Biasanya butuh tiga bulan untuk panen. Kau melakukannya dalam satu malam? Xing, kau penyihir?"
Ye Xing sedang duduk santai di atas batu besar sambil menggigit batang rumput liar. "Bukan sihir. Tanaman itu hanya 'kelaparan'. Aku memberinya makan, jadi mereka tumbuh cepat. Hukum alam sederhana."
Sebenarnya, Ye Xing telah menyalurkan sedikit Qi Bintang murni melalui formasi akupunktur tanah semalam. Bagi tanaman fana, energi bintang adalah nutrisi super.
"Cepat panen," perintah Ye Xing. "Ambil yang paling besar, sembunyikan di balik bajumu. Sisanya biarkan untuk setoran."
"Kenapa disembunyikan?" tanya Lin Xiao polos.
Belum sempat Ye Xing menjawab, suara langkah kaki berat dan tawa kasar terdengar dari jalan setapak.
"Wah, wah! Lihat ini! Si Tua Ma tidak berbohong!"
Tiga pemuda mengenakan seragam abu-abu dengan garis biru (tanda Murid Luar Senior) berjalan masuk ke ladang. Mereka menginjak-injak beberapa tanaman dengan sepatu mereka tanpa peduli.
Lin Xiao langsung pucat pasi. "I-itu Senior Zhao... dan gengnya. Mereka 'pemungut pajak' tidak resmi di sekte ini."
Pemimpin mereka, Zhao Hu, seorang pemuda berwajah kasar dengan bekas luka di dagu (Kultivasi: Qi Condensation Tingkat 6), menendang keranjang panen Lin Xiao hingga isinya tumpah.
"Kerja bagus, Budak-budak kecil," kata Zhao Hu menyeringai, memperlihatkan gigi kuningnya. "Karena kalian baru, kalian mungkin tidak tahu aturannya. Ladang Barat ini berada di bawah perlindungan kami. Biaya perlindungannya adalah... 90% dari hasil panen."
"Sembilan puluh persen?!" teriak Lin Xiao panik. "Tapi kuota untuk sekte saja 50 batang! Kalau kalian ambil, kami tidak punya sisa untuk makan!"
"Itu urusan kalian," Zhao Hu mengangkat bahu, lalu memberi isyarat pada dua kacungnya. "Ambil semuanya. Sisakan akar busuknya untuk mereka lapor ke Diaken Ma."
Dua kacung itu maju sambil tertawa, siap menjarah.
Ye Xing melompat turun dari batu. Dia berjalan santai dan berdiri di depan keranjang yang tumpah, menghalangi jalan mereka.
"Berhenti," kata Ye Xing datar.
Zhao Hu menoleh, alisnya terangkat. "Apa kau bilang?"
"Aku bilang berhenti. Apa telingamu tersumbat kotoran?" Ye Xing menatap Zhao Hu dengan tatapan merendahkan—tatapan seorang Kaisar melihat pengemis. "Tanaman ini tumbuh karena keringatku. Kalau kau mau, bayar. Satu batang harganya satu Batu Roh."
Hening sejenak. Lalu ketiga senior itu tertawa terbahak-bahak.
"Bocah ini gila! Dia minta bayaran?" Zhao Hu mencabut pedang kayu latihan dari pinggangnya. "Biar kualirkan sedikit darah supaya otakmu lancar!"
Zhao Hu mengayunkan pedang kayunya ke arah kepala Ye Xing. Meski hanya kayu, dialiri Qi tingkat 6, hantamannya bisa mematahkan tulang tengkorak manusia biasa.
Lin Xiao menjerit menutup mata. "Xing! Lari!"
Ye Xing tidak lari.
Di mata Galaksi-nya, gerakan Zhao Hu penuh celah. Berat badannya terlalu condong ke depan. Kuda-kudanya goyah.
Lambat, batin Ye Xing.
Ye Xing tidak menangkis. Dia hanya mundur satu langkah kecil ke samping pada detik terakhir.
Wuss!
Pedang kayu itu membelah udara kosong, hanya berjarak satu inci dari hidung Ye Xing.
Karena memukul angin dengan tenaga penuh, Zhao Hu kehilangan keseimbangan dan terhuyung ke depan.
Pada saat itulah, Ye Xing mengulurkan kakinya. Bukan menendang, tapi sekadar "menempatkan" kakinya di jalur langkah Zhao Hu yang kacau.
Brak!
Zhao Hu tersandung kaki Ye Xing dengan keras. Tubuhnya meluncur ke depan, wajahnya menghantam tanah ladang yang keras.
"Bos!" Dua kacungnya terkejut.
Ye Xing tidak memberi jeda. Dia menyambar cangkul yang tergeletak di tanah. Dengan gerakan memutar, dia menghantamkan gagang cangkul itu ke belakang lutut salah satu kacung.
Buk!
"Argh!" Kacung itu jatuh berlutut.
Kacung kedua mencoba memukul Ye Xing dari belakang.
"Di belakangmu!" teriak Lin Xiao.
Ye Xing tidak menoleh. Dia membungkuk mengambil segenggam tanah dan melemparnya ke belakang melewati bahunya sendiri dengan akurasi mengerikan.
Pfff!
"Mataku! Mataku!" Kacung kedua menjerit, matanya kemasukan tanah dan pasir. Dia panik mengayunkan tangannya dan tidak sengaja memukul temannya sendiri yang sedang berlutut.
Dalam sepuluh detik, ketiga senior itu sudah bergulingan di tanah. Satu mencium tanah, satu berlutut kesakitan, satu buta sementara.
Ye Xing berdiri tegak, memegang cangkul seperti memegang tombak dewa. Napasnya sedikit memburu—tubuh lemah ini cepat lelah tapi auranya mendominasi.
Zhao Hu bangkit dengan hidung berdarah, wajahnya merah karena malu dan marah. "Kau... kau main curang! Kau pakai trik kotor!"
"Trik?" Ye Xing tertawa dingin. "Itu namanya strategi, Babi Bodoh. Kau punya kultivasi tingkat 6 tapi kalah oleh pemula tingkat 3? Kalau aku jadi kau, aku akan membenturkan kepalaku ke tahu busuk karena malu."
"Mati kau!" Zhao Hu mengamuk. Dia mengumpulkan seluruh Qi-nya di telapak tangan. Jurus Telapak Besi!
Ini gawat. Ye Xing tahu tubuhnya tidak akan tahan menerima hantaman Qi langsung.
Tapi tiba-tiba, Ye Xing menunjuk ke belakang Zhao Hu dengan wajah kaget. "Diaken Ma!"
Zhao Hu, yang takut pada hukuman karena menindas sesama murid di siang bolong (meski dia suruhan Ma, dia tidak boleh ketahuan publik), refleks menoleh.
Kosong. Tidak ada siapa-siapa.
Plak!
Ye Xing memanfaatkan momen itu untuk menampar wajah Zhao Hu sekeras-kerasnya menggunakan gagang cangkul yang dilapisi sedikit Qi Bintang (satu-satunya Qi yang bisa dia kerahkan saat ini).
Tamparan itu begitu keras hingga dua gigi Zhao Hu copot dan terbang keluar. Pemuda itu pingsan seketika, matanya memutih.
Suasana hening. Lin Xiao menatap Ye Xing seolah melihat hantu.
Ye Xing membuang cangkulnya, lalu menatap dua kacung yang masih sadar.
"Angkut bos kalian pergi dari kebunku," perintah Ye Xing dingin. "Dan tinggalkan kantong uang kalian sebagai ganti rugi tanaman yang kalian injak."
Kedua kacung itu gemetar ketakutan. Mereka melempar kantong koin mereka, memapah Zhao Hu yang pingsan, dan lari terbirit-birit.
Ye Xing memungut kantong uang itu, menimbangnya di tangan. "Lumayan. Tiga Batu Roh Rendah dan lima puluh koin tembaga."
Dia melempar satu kantong ke arah Lin Xiao.
"Ambillah. Beli daging untuk makan malam," kata Ye Xing. "Mulai hari ini, tidak ada lagi roti berjamur."
Lin Xiao menangkap kantong itu dengan tangan gemetar. Air mata menggenang di matanya. Bukan karena uangnya, tapi karena harga dirinya yang baru saja diselamatkan.
"Xing... kau... kau benar-benar hebat."
Ye Xing tersenyum tipis, tapi matanya menatap ke arah hutan di pinggir ladang. Dia tahu kemenangan ini hanya awal. Zhao Hu hanyalah pion. Diaken Ma pasti akan datang sendiri.
Dan di atas sana, di langit, Ye Xing merasa tatapan Kakeknya sedang tersenyum.
Ujian kedua lulus, Kakek. Apa selanjutnya?