NovelToon NovelToon
CINTA DUA ALAM - Aku Menikahi Jin

CINTA DUA ALAM - Aku Menikahi Jin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Misteri
Popularitas:85
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Arga Maheswara, mengira bahwa kepindahannya ke rumah tua peninggalan keluarga, akan menyembuhkan luka akibat pengkhianatan istri. Namun sejak malam pertama, sosok wanita cantik bergaun putih selalu muncul di bawah sinar bulan tersenyum sendu, seolah telah lama menunggunya.

Safira Aluna. Kehadirannya yang lembut perlahan mengobati hati Arga yang hancur. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta yang tulus. Tapi ketika kebenaran terungkap, Arga terkejut Safira bukan manusia. Ia adalah jin muslimah yang terikat kutukan masa lalu, menunggu puluhan tahun untuk menemukan cinta sejatinya.

Meski menakutkan, Arga tak sanggup melepaskan Safira. Mereka menikah dalam ikatan dua alam yang terlarang. Namun cinta mereka adalah kutukan itu sendiri semakin dalam Arga mencintai Safira, semakin cepat nyawanya terkikis.

Akankah cinta mereka bertahan melawan takdir?

Atau salah satu harus berkorban untuk yang lain?

Selamat menyaksikan kisah cinta beda alam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akad yang Bergetar

Sore itu langit berwarna jingga kemerahan. Indah. Seperti lukisan yang dilukis Tuhan khusus untuk hari ini. Hari pernikahan Arga dan Safira.

Ruang tamu rumah tua itu sudah didekorasi sederhana. Kain putih menggantung di dinding, bunga mawar putih di sudut-sudut ruangan, lilin-lilin kecil menyala di atas meja. Sederhana. Tapi indah. Penuh kehangatan meski udara terasa dingin.

Arga berdiri di depan cermin dengan jas hitam dan kemeja putih. Tangannya gemetar saat memasang dasi. Berkali-kali ia pasang tapi terus miring.

"Sial... kenapa nggak bisa sih..." gumamnya frustasi.

Bagas yang sudah rapi dengan kemeja batik menghampiri. "Sini, gue bantuin."

Ia memasangkan dasi untuk Arga dengan tangan yang juga sedikit gemetar. Mereka berdua gugup.

"Lo... lo yakin sama ini, Ga?" tanya Bagas untuk kesekian kalinya hari ini.

"Sangat yakin," jawab Arga tanpa ragu.

"Tapi lo tahu kan risikonya? Lo bisa..."

"Aku tahu," Arga memotong. "Aku sudah tahu semuanya, Gas. Dan aku tetap pilih dia."

Bagas terdiam. Ia menatap sepupunya dengan tatapan yang campur aduk. Ada rasa kagum, ada rasa khawatir, ada rasa sedih. "Lo gila, Ga. Tapi... tapi gue salut sama lo. Nggak semua orang berani kayak lo."

Arga tersenyum. "Makasih udah jadi saksi, Gas. Makasih udah nggak ninggalin aku."

"Emang gue tega ninggalin lo?" Bagas memeluk Arga dengan erat. "Lo sodara gue. Sodara sejati. Mau lo nikah sama siapapun, gue akan tetap di sini."

Mereka berpelukan sebentar. Lalu terdengar suara mobil berhenti di depan rumah.

Pak Haji Ahmad tiba dengan istrinya. Penghulu tua itu turun dari mobil dengan susah payah, tongkatnya mengetuk tanah dengan bunyi tok tok tok.

"Assalamualaikum," sapa Pak Haji Ahmad dengan senyum lebar.

"Waalaikumsalam, Pak Haji," Arga menyambut dengan hormat, membantu penghulu tua itu masuk ke rumah.

Beberapa tetangga juga mulai berdatangan. Mbah Karyo, Pak Burhan dengan istrinya, dan beberapa warga yang penasaran dengan pernikahan di rumah angker ini.

Tapi yang membuat Arga terperanjat adalah kedatangan Ustadz Hasyim.

Ustadz itu turun dari mobilnya dengan wajah yang sangat serius. Di belakangnya, Ratih ikut turun. Wajahnya pucat, matanya merah bengkak seperti habis menangis sepanjang jalan.

"Ustadz?" Arga berdiri kaku. "Kenapa... kenapa Ustadz di sini?"

Ustadz Hasyim berjalan menghampiri dengan langkah yang berat. "Mas Arga, sebelum akad dimulai, saya mohon... saya mohon pikir ulang keputusan Mas."

"Ustadz..."

"Ini terakhir kalinya saya memohon," Ustadz Hasyim menatap Arga dengan mata berkaca-kaca. "Jangan lakukan ini, Mas. Jangan nikahi jin itu. Mas masih punya kesempatan untuk hidup normal. Untuk..."

"Saya tidak mau hidup normal!" Arga memotong dengan tegas. "Saya mau hidup bersama Safira! Dan hari ini saya akan menikahinya!"

"Arga, kumohon!" Ratih melangkah maju, air matanya mengalir deras. "Kumohon dengerin aku. Aku... aku tahu aku salah. Aku yang mengkhianatimu. Tapi aku menyesal! Kumohon jangan nikahi makhluk itu! Dia... dia bisa membunuhmu!"

"Dia tidak akan membunuhku," Arga menjawab dingin. "Dia mencintaiku. Lebih tulus dari yang pernah kau berikan."

"Tapi dia bukan manusia!" Ratih berteriak dengan frustasi.

"Dan kau bukan wanita yang layak aku cintai!" Arga membalas dengan teriakan yang lebih keras. "Sekarang pergi! Kalian berdua pergi! Ini hari pernikahanku dan aku nggak mau ada yang merusaknya!"

Bagas melangkah maju, menghadang Ustadz Hasyim dan Ratih. "Maaf, Ustadz. Maaf, Ratih. Tapi ini pilihan Arga. Dan gue sebagai sodara harus hormati pilihannya. Jadi kalau kalian datang cuma buat menghancurkan hari bahagianya, mending pergi sekarang."

Ustadz Hasyim menatap Bagas dengan tatapan sedih. "Kamu juga mendukung ini, Bagas?"

"Gue nggak mendukung," jawab Bagas jujur. "Gue juga takut kehilangan Arga. Tapi ini pilihannya. Dan gue... gue cuma bisa hormati dan berdoa dia bahagia."

Ustadz Hasyim menghela napas panjang. Ia menatap Arga untuk terakhir kali. "Baiklah. Kalau Mas sudah bulat hatinya, saya tidak akan menghalangi. Tapi saya akan tetap di sini. Menyaksikan. Dan berdoa semoga Allah melindungi Mas."

"Terima kasih, Ustadz," Arga mengangguk.

Ratih masih berdiri dengan air mata yang mengalir. Ia menatap Arga dengan tatapan yang sangat menyakitkan. "Aku... aku kehilangan kamu untuk selamanya ya?"

Arga menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. "Kamu kehilangan aku sejak hari kamu selingkuh dengan Dimas, Ratih. Hari ini hanya membuat itu resmi."

Ratih menangis sejadi-jadinya. Tapi ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia hanya berdiri di sudut ruangan, menangis dalam diam.

Saat jam menunjukkan pukul empat sore, akad nikah dimulai.

Pak Haji Ahmad duduk di depan dengan Al-Quran di pangkuannya. Arga duduk berhadapan dengannya. Di sampingnya, Bagas sebagai wali dan saksi.

Dan di ruang sebelah, Safira sedang bersiap.

Saat Safira keluar, semua orang terdiam.

Cantik. Sangat cantik sampai tidak ada kata yang bisa menggambarkannya.

Safira mengenakan kebaya putih dengan bordir emas yang rumit. Rambutnya disanggul tinggi dengan bunga melati menghiasi. Wajahnya dipoles makeup natural yang membuat kulitnya yang pucat terlihat bersinar. Dan tatapannya... tatapannya penuh cinta saat menatap Arga.

Arga berdiri saat Safira mendekat. Tangannya gemetar saat menggenggam tangan Safira yang dingin.

"Kamu cantik sekali," bisik Arga dengan suara bergetar.

"Terima kasih," Safira tersenyum sambil menahan tangis.

Mereka duduk berdampingan di hadapan Pak Haji Ahmad. Penghulu tua itu menatap mereka berdua dengan senyum hangat meski ada kekhawatiran di matanya.

"Bismillahirrahmanirrahim," Pak Haji Ahmad memulai dengan suara yang lantang meski tubuhnya rapuh.

Saat itu, udara di ruangan tiba-tiba berubah.

Dingin.

Sangat dingin.

Semua orang merasakan hawa dingin yang tidak wajar menyeruak masuk. Nafas mereka keluar seperti kabut. Lilin-lilin yang menyala mulai bergoyang-goyang meski tidak ada angin.

Pak Haji Ahmad merasakan sesuatu. Ia bisa melihat, di sekeliling ruangan, ada sosok-sosok transparan yang berdiri. Makhluk gaib. Jin-jin yang datang menyaksikan pernikahan ini. Ada yang tersenyum, ada yang menatap dengan tatapan sedih, ada yang terlihat marah.

Tapi penghulu tua itu tidak gentar. Ia tetap melanjutkan.

"Kita hari ini berkumpul untuk menyatukan dua insan dalam ikatan pernikahan yang suci..."

Saat Pak Haji Ahmad menyentuh tangan Safira untuk memulai proses akad, tangannya langsung gemetar hebat. Tangan Safira dingin seperti es. Bukan dingin biasa. Tapi dingin yang menembus tulang.

Ia menatap Safira dengan tatapan yang dalam. Dan Safira menatapnya balik dengan mata berkaca-kaca, seperti memohon agar penghulu ini tidak menghentikan akad.

Pak Haji Ahmad tersenyum tipis. Ia mengerti.

"Arga Maheswara bin Sutrisno," suara Pak Haji Ahmad bergema di ruangan yang hening. "Apakah Anda bersedia menerima Safira Aluna binti Abdullah sebagai istri Anda dengan mahar seperingkat emas dan seperangkat alat shalat, dibayar tunai?"

Hening.

Semua orang menahan napas.

Arga menatap Safira yang duduk di sampingnya. Wanita yang ia cintai. Wanita yang mengubah hidupnya. Wanita yang memberikannya alasan untuk hidup lagi.

Dengan suara yang tegas dan penuh keyakinan, Arga menjawab, "Saya bersedia menerima nikahnya Safira Aluna binti Abdullah dengan mahar seperingkat emas dan seperangkat alat shalat, dibayar tunai."

"Saya terima nikahnya," ulang Arga dengan lebih keras.

"Saya terima nikahnya," untuk ketiga kalinya.

Pak Haji Ahmad tersenyum lebar. "Sah!"

Dan saat kata itu diucapkan, sesuatu yang luar biasa terjadi.

Semua lilin di ruangan menyala lebih terang. Hawa dingin tiba-tiba hilang, digantikan kehangatan yang menenangkan. Sosok-sosok gaib yang tadi berdiri di sekeliling ruangan perlahan memudar, menghilang satu per satu.

Dan Safira menangis. Menangis bahagia sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Arga langsung memeluknya. Tidak peduli dengan semua orang yang melihat. Ia memeluk istrinya dengan erat sekali.

"Kita menikah," bisik Arga dengan suara yang pecah karena menangis. "Kita sudah menikah, Safira."

"Ya... kita sudah menikah..." Safira membalas sambil menangis di bahu Arga.

Bagas yang menjadi saksi ikut menangis. Mbah Karyo menangis. Bahkan Pak Burhan dan beberapa tetangga ikut terharu.

Ustadz Hasyim yang berdiri di sudut ruangan hanya bisa menggelengkan kepala sambil menangis. Ia berdoa dalam hati, memohon pada Allah agar melindungi Arga dari bahaya yang mungkin datang.

Ratih yang melihat semuanya langsung berlari keluar rumah. Ia tidak sanggup melihat lebih lama. Tidak sanggup melihat Arga bahagia dengan wanita lain. Dengan makhluk yang bukan manusia.

Setelah semua selesai, setelah tamu-tamu pamit dan pulang, tinggal Arga, Safira, dan Pak Haji Ahmad di ruang tamu.

Penghulu tua itu menarik Arga ke samping dengan wajah yang sangat serius.

"Nak," katanya pelan. "Istri yang kau nikahi bukan manusia. Aku bisa merasakan..."

"Saya tahu, Pak Penghulu," Arga memotong dengan tenang. "Saya tahu sejak awal. Dia jin muslimah. Dan saya tetap memilihnya."

Pak Haji Ahmad terdiam. Ia menatap Arga dengan tatapan yang penuh kesedihan dan kekaguman sekaligus. "Kamu... kamu berani sekali, nak. Atau bodoh. Aku tidak tahu mana yang benar."

"Mungkin keduanya," Arga tersenyum pahit.

Pak Haji Ahmad memeluk Arga dengan erat. Tubuhnya yang rapuh gemetar. "Semoga Allah melindungimu, nak. Semoga Dia memberkahi pernikahanmu. Dan semoga... semoga cintamu tidak membawamu pada kehancuran."

"Amin," Arga membalas pelukan dengan air mata yang mengalir.

"Jaga dia baik-baik," Pak Haji Ahmad berbisik. "Jaga istrimu itu. Karena aku bisa melihat... dia benar-benar mencintaimu. Cinta yang tulus. Cinta yang rela berkorban."

Arga mengangguk sambil menangis.

Setelah Pak Haji Ahmad pergi, Arga dan Safira duduk berdampingan di sofa. Sebagai suami istri yang sah.

"Kita berhasil," bisik Safira dengan senyum bahagia meski air matanya masih mengalir. "Kita benar-benar menikah."

"Ya," Arga menggenggam tangan Safira yang sekarang sudah sah menjadi istrinya. "Kita menikah. Dan tidak ada yang bisa memisahkan kita lagi."

Safira menatap Arga dengan tatapan yang sangat dalam. "Arga... aku janji akan jadi istri yang baik. Aku akan mencintaimu sepenuh hatiku. Sampai akhir."

"Aku juga," Arga mengusap pipi Safira dengan lembut. "Aku akan jadi suami yang baik. Sampai napas terakhirku."

Mereka saling menatap dengan cinta yang sangat besar. Cinta yang sudah melewati begitu banyak rintangan. Cinta yang akhirnya disahkan di hadapan Allah dan manusia.

Dan malam itu, malam pertama mereka sebagai suami istri, mereka duduk berdampingan di teras. Menatap bintang yang sama seperti malam sebelumnya.

Tapi kali ini berbeda.

Kali ini Safira bukan lagi tunangan.

Tapi istri.

Istri yang sah.

Dan Arga merasakan kebahagiaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Kebahagiaan yang ia tahu mungkin tidak akan bertahan lama.

Tapi ia tidak peduli.

Karena saat ini, di momen ini, ia bahagia.

Dan itu sudah cukup.

1
Cimol krispy
wah mereka bisa sentuhan dong. bahkan pelukan
Cimol krispy
50 th berarti sejak sebelum nenek Sarinah tinggal di sana sudah ada kejadian itu ya.
Cimol krispy
Arga... ayo move on bareng mbak Kun
Leoruna: ngeri2 sedep klo Arga bisa berpaling sama mbak kun🤣
total 1 replies
Cimol krispy
Serem banget astaga. ini si Arga beneran bisa cepet move on sih kataku, dunianya langsung teralihkan sama mbak-mbak Kunti😅
Cimol krispy: iya lagi, ih
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!