NovelToon NovelToon
Mas Kapten, Ayo Bercerai!

Mas Kapten, Ayo Bercerai!

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Dijodohkan Orang Tua / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas / Tamat
Popularitas:2.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Aisyah Alfatih

Lima tahun lalu, malam hujan hampir merenggut nyawa Kapten Shaka Wirantara.
Seorang wanita misterius berhelm hitam menyelamatkannya, lalu menghilang tanpa jejak. Sejak malam itu, Shaka tak pernah berhenti mencari sosok tanpa nama yang ia sebut penjaga takdirnya.

Sebulan kemudian, Shaka dijodohkan dengan Amara, wanita yang ternyata adalah penyelamatnya malam itu. Namun Amara menyembunyikan identitasnya, tak ingin Shaka menikah karena rasa balas budi.
Lima tahun pernikahan mereka berjalan dingin dan penuh jarak.

Ketika cinta mulai tumbuh perlahan, kehadiran Karina, gadis adopsi keluarga wirantara, yang mirip dengan sosok penyelamat di masa lalu, kembali mengguncang perasaan Shaka.
Dan Amara pun sadar, cinta yang dipertahankannya mungkin tak pernah benar-benar ada.

“Mas Kapten,” ucap Amara pelan.
“Ayo kita bercerai.”

Akankah, Shaka dan Amara bercerai? atau Shaka memilih Amara untuk mempertahankan pernikahannya, di mana cinta mungkin mulai tumbuh.

Yuk, simak kisah ini di sini!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. Enam Tahun Kemudian

Kota Jakarta kembali dipenuhi langit abu-abu. Di lantai paling atas gedung Wirantara Group, seorang pria berdiri membisu di depan kaca besar yang membentang dari lantai ke langit-langit.

Shaka Wirantara, postur tegapnya tetap sama, namun wajahnya kini jauh lebih keras, matanya dalam dan penuh bayangan masa lalu. Tangannya terkepal di sisi tubuh, urat-urat di lehernya menegang setiap hembusan napasnya seperti menahan amarah yang sudah berkarat di dada.

Enam tahun tanpa melihat Amara, tanpa mendengar suaranya, tanpa tahu apakah wanita itu masih mengingatnya atau tidak.

Dia menatap pantulan dirinya di kaca dengan jas hitam, ekspresi dingin, dan tatapan kosong yang nyaris tak menunjukkan kehidupan.

“Kenapa kau pergi sejauh itu, Amara…” gumamnya lirih, hampir seperti doa yang tak pernah dijawab. Suara ketukan pelan di pintu memecah keheningan.

Haris masuk dengan raut serius, menenteng sebuah map cokelat dan ponsel di tangan.

“Maaf mengganggu, Kapten,” katanya sambil menunduk sedikit.

Shaka tidak menoleh. “Ada apa?”

Haris menarik napas pendek sebelum bicara.

“Saya baru kembali dari rapat dengan Tuan Zico … tapi dia menolak memberi kabar soal Bu Amara.”

Mata Shaka yang dingin langsung beralih ke arah Haris, seolah menembus pandangannya.

“Zico menolak?” ulangnya pelan namun tajam.

“Ya, tapi...” Haris meletakkan map di meja. “Saya punya sesuatu yang mungkin bisa menjawab pertanyaan Anda.”

Dia mengeluarkan beberapa lembar foto dari dalam map, lalu mendorongkannya ke hadapan Shaka. Satu foto menarik perhatian Shaka seketika.

Di sana terlihat Tuan Edward, duduk di sebuah restoran elegan di Bandung, bersama seorang wanita memakai syal krem lembut, wajahnya hanya terlihat dari samping, namun cukup untuk membuat Shaka kehilangan kata-kata.

Pipi itu, bentuk dagu itu, dan cara wanita itu tersenyum pada Edward semuanya terlalu mirip dengan Amara. Hening panjang menyelimuti ruangan. Hanya suara jarum jam yang terdengar pelan, berdetak di antara denyut nadi Shaka yang mulai memburu.

“Di mana tempat ini?” tanyanya datar tapi bergetar.

“Saya telusuri lewat data reservasi, Kapten” jawab Haris cepat. “Restoran itu berada di kawasan Dago Atas, Bandung. Dan kabarnya, Tuan Edward sering menginap di vila pribadi dekat sana. Saya juga mendapat laporan bahwa wanita itu sering terlihat menemaninya.”

Shaka menatap foto itu lama, begitu lama sampai jemarinya gemetar halus saat memegangnya.Satu kalimat meluncur pelan, tapi penuh tekanan,

“Kirim beberapa orang ke Bandung. Telusuri semua vila di sekitar Dago. Aku ingin tahu keberadaan Amara ... malam ini juga.”

Haris mengangguk tegas, “baik, Kapten.”

Setelah Haris keluar, Shaka kembali menatap kaca besar di hadapannya. Langit mulai mendung, kilat menyambar jauh di ufuk barat, dan untuk pertama kalinya setelah enam tahun, matanya tampak hidup kembali bukan karena kebahagiaan, tapi karena sesuatu yang jauh lebih dalam dari itu, hasrat untuk menemukan wanita yang dulu ia sia-siakan.

Sore hari.

Suasana sore di salah satu mall terbesar di Bandung terasa riuh dan hangat. Di tengah hiruk pikuk keluarga yang berbelanja, suara tawa anak kecil menggema di antara lantai marmer dan lampu-lampu terang.

Seorang bocah laki-laki berusia sekitar lima tahun lebih, berlari kecil dengan langkah lincah. Rambut hitamnya berantakan karena angin pendingin ruangan, dan matanya yang tajam seolah menyimpan ketenangan sekaligus kecerdasan yang tak biasa untuk seusianya.

Dua pengawal berpakaian kasual mengawalnya dari jauh, mengikuti langkah kecilnya sambil sesekali menegur,

“Pelan-pelan, Tuan Muda, nanti jatuh.”

Namun, bocah itu hanya tertawa, menggoyangkan es krim vanila di tangannya. “Tenang aja, Om. Aku nggak akan jatuh kok!”

Di sisi lain, seorang wanita tengah menelusuri butik mewah, tangannya sibuk memilih pakaian sambil sesekali menoleh memastikan anaknya masih dalam pengawasan, dia adalah Amara Marvionne.

Setelah memastikan pengawal ada di dekat Azril, anaknya. Dia kembali pada pekerjaannya tak sadar takdir sedang menyiapkan pertemuan yang selama enam tahun ini mereka hindari.

Langkah Azril melambat ketika melihat sebuah booth penjual balon warna-warni. Ia begitu senang hingga tak memperhatikan jalan di depannya.

Dugh!

"Aah!" Dua bocah terjatuh. Es krimnya jatuh, dan ia sendiri menabrak seorang bocah perempuan kecil yang langsung menangis.

Azril membeku, lalu buru-buru menunduk, menatap bocah itu dengan wajah cemas.

“Maaf, aku nggak sengaja … maaf ya, nanti aku beliin es krim baru.”

Namun ibu dari bocah itu segera datang dengan ekspresi marah,

“Kamu ini gimana sih?!” serunya sambil mendorong bahu kecil Azril hingga terjatuh.

Dua pengawal yang melihat langsung hendak mendekat, namun bocah itu mengangkat tangan kecilnya dengan tegas.

“Jangan, Om. Azril bisa sendiri.”

Ia menatap ke atas, wajahnya serius meski tubuh mungilnya sempat bergetar karena dorongan tadi.

“Aku udah bilang maaf, Tante. Aku nggak sengaja.”

Ibu bocah perempuan itu mendengus, menggenggam tangan anaknya.

“Maaf? Gara-gara kamu anak ku jatuh! Anak kecil kok kurang ajar begini!”

Tangannya terangkat hendak menampar bocah kecil itu. Namun, sebelum sempat menyentuh pipi Azril, sebuah tangan kuat menahan pergelangan wanita itu di udara.

“Cukup!”

Suara berat dan tegas itu membuat suasana di sekitar membeku seketika. Wanita itu menoleh begitu pula Azril.

Di hadapan mereka berdiri Shaka Wirantara, dengan jas gelap, tatapan tajam, dan aura dingin yang membuat semua orang di sekitar terdiam. Mata Shaka jatuh pada bocah kecil yang kini menatapnya dari bawah.

Pandangan mereka bertemu dan dalam satu tatapan itu, Shaka merasakan sesuatu yang aneh.

Azril menatap Shaka tanpa takut, malah berkata dengan polos bernada sopan,

“Om, makasih udah nolong Azril..."

Shaka tertegun, napasnya tercekat, jemarinya masih menahan tangan wanita tadi, tapi pikirannya jauh melayang.

Shaka menepis tangan wanita itu, lalu berjongkok di depan Azril, menatap lekat kedua mata sang bocah.

"Di mana ibumu, Nak?" tanyanya lembut seraya mengusap kepala Azril.

1
Nurmalasari
Luar biasa
Rosita Tumbelaka
.Memang sakit ...itu juga pernah aq alami... tapi cinta dan Anak membuat lulus...
Rosita Tumbelaka
Rasa nya ingin ku tampar dan tendang si Karina...
Rosita Tumbelaka
Aq suka tantangan Thor...Dan okay ...maju terus Amara... lanjut Thor...
Rosita Tumbelaka
Semoga Amata tdk goyang pendirian nya...Amara tetap pede yaa...
Rosita Tumbelaka
Salut utk Amara...waah Thor novel bagus...
rara🍁🍃🦋
kapokk🤣
Febby fadila
malas banget sama sikap Amara, sok jual mahal padahal dianya mau juga, klw mau tegas harus jelas bukan pinplan bgt,
Febby fadila
ciiieeee yg lagi rindu sama papanya Azril 🤭🥰🥰
Febby fadila
semangat pak kapten sdah mulai ada lampu hijau itu
Febby fadila
itu anggap aja Arif lagi buka kesempatan buat mu kapten Shaka untuk mendapatkan kembali amara
Febby fadila
Shaka ini pandai berbohong bilangx suka Amara dari dulu, lah apa yg kamu berikan sama Amara selama jadi istrimu bodoh
Diana
kau pantas mendapatkan penderitaan mu karena kebodohanmu Shaka.
kasihan sekali melihat dirimu.
Diana
itulah hukuman yang pantas untukmu Shaka, yaitu untuk seumur hidup.
Febby fadila
knp nggak bilang sama Shaka langsung biar Shaka juga mengambil keputusan untuk mendapatkan hati kamu atau dia akan menjauh
Febby fadila
waaa Amara yg bakalan kalah ini karena Shaka sudah punya sekutu untuk mendapatkan hati Amara kembali
Febby fadila
ya sdah waktunya kamu jujur sama anakmu amara, biar gimanapun azri berhak tau klw dia punya papa
Febby fadila
semoga saja si Shaka benar² berubah awas aja klw masih pim plan lagi,
Febby fadila
jangan munafik kamu Amara, sok marah padahal kamu juga mau aja dicium sama shaka
Febby fadila
woooowww makin seruh aja ni, gimana Shaka dianggap nggak ada tu padahal kamu ada disamping 🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!