NovelToon NovelToon
Miranda Istri Yang Diabaikan

Miranda Istri Yang Diabaikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Selingkuh / Nikah Kontrak
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Miranda menikah selama 2 tahun berbakti pada suami
membantu suami keluar dari kebangkrutan
sayang sekali setelah sukses suaminya selingkuh
bagaimana kehidupan miranda selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MIA 3

“Saras sedang apa kamu?” ucap Miranda sedikit membentak, suaranya terdengar tegang, dadanya naik turun menahan kesal yang sejak tadi mengumpul.

Belum sempat Miranda menjawab, suara dari kamar mandi terdengar, “Saras mana samponya,” itu adalah suara Rizki. Tangan Rizki tampak terulur dari balik pintu setengah terbuka untuk mengambil sampo. Saras dengan sigap memberikan sampo pada tangan Rizki. Entah apa maksud Saras, tampak genggaman itu terlihat lama, seolah ingin memanasi perasaan Miranda. Jari-jari mereka bersentuhan terlalu lama, lebih lama dari yang pantas, membuat dada Miranda semakin sesak.

“Saras,” bentak Miranda, nadanya meninggi menahan amarah.

“Sudah, Mas, jangan pegang terus,” ucap Saras sambil mendorong tangan Rizki dengan lembut, sorot mata mengejek ditunjukkan pada Miranda, senyum tipis terukir di sudut bibirnya seolah menikmati situasi itu.

“Saras,” kembali Miranda membentak, kali ini suaranya bergetar, campuran marah dan terluka.

Terdengar hentakan pintu kamar mandi. Miranda menatap tajam pada Saras, napasnya berat, dadanya bergemuruh oleh cemburu dan kecewa, tapi Saras hanya diam tenang dan tidak segera beranjak dari depan kamar mandi, seolah sengaja menghalangi pandangan Miranda.

“Maaf tadi Mas Rizki butuh sampo, memanggil manggil kamu tapi kamu tidak menyahut,” jelas Saras. Dia menyilangkan tangannya di dada dan dia belum beranjak dari depan pintu kamar mandi, sikapnya santai, wajahnya polos seakan tak terjadi apa apa.

Baru saja Miranda akan marah, tiba tiba terdengar suara batuk dan itu adalah suara dari Ayah Anton. Dengan memakai sarung dan sweter, Anton keluar kamar, langkahnya pelan, tubuhnya sedikit membungkuk.

“Kalian kenapa ribut sekali,” ucapnya sambil terbatuk, bau balsam menyeruak mengisi ruang tengah yang sempit itu.

Saras berlari ke arah Ayah Anton. “Paman kenapa keluar, istirahatlah ini masih jam tiga malam,” katanya lembut, nada suaranya penuh perhatian. Dengan halus Saras menuntun Ayah Anton duduk di kursi.

“Aku ini sakit pinggang dan batuk batuk, kenapa kalian ini malah ribut,” ucapnya dengan nada lelah.

Dengan lembut Saras memijat pundak Ayah Anton, jarinya bergerak perlahan penuh ketelatenan, Ayah Anton tampak tersenyum, wajahnya sedikit lebih tenang. “Kamu anak baik,” ucapnya lembut.

“Kenapa kamu belum tidur,” tanya Ayah Anton sambil menatap Saras penuh iba.

Belum sempat Saras menjawab, Rizki keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di pinggang. “Ayah kenapa bangun, bukankah ayah lagi sakit,” ucap Rizki, suaranya khawatir.

“Kamu lagi kenapa dini hari malah ribut dengan Saras,” lanjut Ayah Anton, tatapan Rizki tajam pada Miranda.

“Ada apa ini sebenarnya?” tanya Ayah Anton, nada suaranya mulai tegas.

Belum sempat ada yang menjawab, Anton melanjutkan ucapannya, “Rizki pakai baju kamu nanti masuk angin, setelah itu kembalilah ke sini.”

Rizki hanya bisa menganggukkan kepala lalu pergi ke kamar. Miranda masih melamun, entah apa yang dipikirkannya, matanya kosong menatap lantai.

“Kenapa kamu diam saja,” ucap Anton.

“Sediakan baju ganti suami kamu, kamu ini kalau begini terus jangan salahkan kalau Rizki nanti menikah lagi.”

Sebenarnya nyeri sekali hati Miranda mendengar hal itu, seperti disayat pelan oleh kata kata tajam mertuanya. Tanpa berkata apa apa, Miranda segera bergegas ke kamarnya.

Dan sayangnya Rizki sudah berganti baju. Dengan kesal dia berkata, “Andai kamu tidak membuat keributan, harusnya aku sudah tidur.”

Dengan muram Rizki keluar kamar dan Miranda mengikuti di belakang, langkahnya pelan, bahunya merosot.

Tampak Saras dengan lembut memijat pundak Ayah Anton.

“Duduklah kalian,” ucap Ayah Anton.

Miranda dan Rizki duduk bersebelahan.

“Miranda sampai kapan kamu begini terus?” tanya Ayah Anton.

Miranda tertegun, dalam hati bergumam, apa yang sudah dikatakan si Saras ini, dia pasti mengatakan hal buruk tentangku.

“Kenapa hanya melamun saja,” tegas Ayah Anton.

“Maaf, Yah,” hanya itu yang keluar dari mulut Miranda.

“Tidak cukup minta maaf, kamu itu harus belajar dari Saras, aneh sekali padahal Saras ini belum menikah, tapi dia sigap sekali,” ucap Ayah Anton memandang Miranda dengan nada sedikit menghina.

“Harusnya kamu tahu kapan suami kamu pulang, sebelum suami kamu pulang kamu siap siap, apalagi dia pulang malam, siapkan air hangat, tanya sudah makan apa belum,” ucap Anton.

“Suami kamu itu lelah mencari nafkah, jangan diberondong oleh pertanyaan.”

Miranda akan membalas, dia hanya membuka mulut tapi dia urungkan, untuk saat ini dia hanya bisa diam karena ujung ujungnya dia yang selalu disalahkan.

Andai Ayah Anton tahu berapa kali Miranda berkirim pesan pada Rizki namun tak satu pun dibalas.

Berapa kali Miranda menelepon Rizki dan diangkat dengan nada kesal lalu dijawab, “Jangan ganggu aku.”

Dan sekarang seolah dia yang salah.

“Harusnya kamu seperti Saras, Saras saja tahu kapan suami kamu pulang, Saras sudah menyediakan kopi, menyediakan air hangat dan kamu malah marah,” ucap Ayah Anton.

“Sampai Rizki meminta sampo saja kamu tidak mendengar, sampai Rizki harus minta tolong sama Saras.”

Ingin sekali Miranda berkata, aku istri Rizki, kenapa dia selalu membuat kopi untuk suami orang tanpa bertanya dulu, kenapa dia seolah berlomba melayani suami orang.

Dan itu hanya bisa dia tanyakan dalam hati.

“Dengar tidak kamu?” ucap Rizki dengan nada ketus.

“Sudah, Mas Rizki, jangan marahi Miranda, kasihan dia mengurus bayi dan mengurus ayah, kita tidak tahu apa saja yang dikerjakan Miranda, walau kita memang repot di kantor kita jangan sepelekan pekerjaan di rumah,” ucapan itu begitu bijak dikatakan oleh Saras, nadanya lembut seolah penuh empati.

“Pekerjaan apa memang,” ucap Rizki kesal. “Bahkan membuatkan aku kopi saja dia tak sempat, sedangkan kamu, pagi kerja ke kantor, sore masak dan mengurus ayah, kamu apa,” lanjutnya sinis, tatapannya menusuk Miranda.

Miranda hanya bisa mengepalkan tangannya menahan kesal, kukunya menekan telapak tangan, dadanya terasa panas oleh amarah yang dipendam.

“Sudahlah ini mau subuh, istirahatlah,” ucap Ayah Anton mengakhiri, suaranya berat.

Dan selalu seperti ini, di saat Miranda akan melakukan pembelaan maka selalu diakhiri, “Sudahlah sampai di sini.”

Ingin sekali Miranda berkata,

“tiga bulan yang lalu yang memaksa dirinya berhenti bekerja siapa?”

“yang ngotot Miranda digantikan oleh Saras siapa?”

“yang menyuruh mengasuh anak Mas Raka siapa?”

Dan pada saat Miranda mengikuti keinginan mereka, lalu dengan enteng mereka menuduh seolah Miranda tak berguna.

Tiba tiba suara bayi terdengar, tangis kecil memecah kesunyian rumah.

“Urus dulu Amora,” perintah Ayah Anton.

Miranda menganggukkan kepala dengan patuh, lalu dia masuk ke kamar Amora. Bayi itu memang selalu bangun pas subuh, dengan telaten Miranda membuatkan susu untuk Amora, tangannya bergerak cekatan meski matanya sembab menahan tangis.

“Amora bangun ya, Mir,” ucap Raka menghampiri.

Miranda yang sedang menimang nimang Amora menoleh ke arah Raka yang sudah memakai koko dan peci hitam, ya lelaki di rumah yang suka ke masjid hanya Raka.

“Mas Raka semalam ke mana?” tanya Miranda pelan.

“Semalam aku pulang jam sepuluh malam, ibunya almarhum istriku ingin mengurus Amora,” ucap Raka dengan nada sendu.

“Mas semalam kamu di kamar Saras ya, sedang apa kamu, Mas,” ingin sekali Miranda bertanya hal itu pada kakak iparnya ini, namun melihat raut mukanya yang murung tentu saja Miranda tak tega.

“Mas ayahnya, Mas lebih berhak, mereka bisa mengunjungi Amora kapan saja, Mas jangan pernah menghalangi Amora bertemu dengan neneknya,” Miranda memberi nasihat, suaranya lirih tapi tulus.

“Ya, terima kasih, Miranda,” ucap Raka.

“Maafkan aku, Miranda, merepotkan kamu terus, besok aku akan kembali bekerja dan aku akan mencari baby sitter sehingga tidak merepotkan kamu terus.”

Dari nadanya Miranda tahu kalau Raka sedang menyinggung dirinya.

Padahal Miranda sama sekali tidak direpotkan, dia malah senang mengurus Amora, dan tentu saja ini pasti ada yang menghasut Raka, siapa lagi orangnya kalau bukan Saras.

1
partini
beguna lah banyak video itu
partini
wow bisa bela diri teryata Very good 👍👍👍👍
partini
OMG mau eksekusi
Ma Em
Miranda makanya kamu hrs pintar dan cerdas jgn mau di manfaatkan .
partini
good story
partini
OMG kadal semua
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!