NovelToon NovelToon
Exclusive My Executor

Exclusive My Executor

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Mengubah Takdir
Popularitas:95
Nilai: 5
Nama Author: Karamellatee

​Di dunia bawah yang kelam, nama Reggiano Herbert adalah eksekutor paling mematikan yang dikenal karena ketenangannya. Seorang pria yang akan memperbaiki kerah bajunya dan tidak mungkin menutup mata sebentar sebelum mengakhiri nyawa targetnya.

Baginya, hidup hanyalah rangkaian tugas yang dingin, hingga ia menemukan "Flower's Patiserie".

​Toko itu sangat berwarna-warni di tengah kota yang keras, tempat di mana aroma Strawberry Tart yang manis berpadu dengan keharuman mawar segar. Sang pemilik, Seraphine Florence, adalah wanita dengan senyum sehangat musim semi yang tidak mengetahui bahwa pelanggan setianya yang selalu berpakaian rapi dan bertutur kata manis itu baru saja mencuci noda darah dari jas abu-abunya sebelum mampir.

Tetapi, apakah itu benar-benar sebuah toko biasa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# Bab 22: Pembantaian satu arah

Reggiano Herbert berdiri di balik meja kasir, matanya yang tajam seperti elang terus mengawasi setiap pergerakan di luar jendela toko. Meskipun ia kini mengenakan celemek kain dan tangannya berlumuran tepung, identitas aslinya sebagai Eksekutor Exclusive tidak pernah benar-benar tanggal.

Di dunia bawah, pangkat "Exclusive" bukan sekadar gelar, itu adalah pengakuan bahwa ia adalah instrumen kematian yang hanya bergerak untuk target-target yang dianggap mustahil oleh orang lain. Ia telah membunuh jenderal, menghapus jejak politisi korup, dan meruntuhkan faksi-faksi kecil hanya dengan kekuatan nya sendiri tanpa ada keajaiban seperti sekarang.

Namun, pengangkatan pangkat ini membawa harga yang mahal. Sebuah amplop hitam tanpa pengirim tiba di meja kasir pagi tadi, berisi selembar foto toko roti Flower’s Patisserie yang dibidik dari jarak jauh, dengan tanda silang merah tepat di atas kepala Elena.

"Reggiano, kau meremas adonan itu seolah-olah itu adalah leher musuhmu," suara Caspian memecah keheningan.

Pria misterius itu sedang asyik memutar-mutar koin peraknya di depan seorang pelanggan anak-anak yang terpukau.

Reggiano tidak menoleh. "Ancaman ini berbeda, Caspian. Mereka tidak hanya mengincar nyawaku. Mereka tahu tentang tempat ini. Mereka tahu tentang Elena."

Caspian menyimpan koinnya, lalu mendekat dengan langkah tanpa suara. Senyum jenakanya menghilang, digantikan oleh tatapan dingin yang menunjukkan bahwa dia pun memiliki sisi gelap yang setara dengan Reggiano.

"Menjadi Eksekutor Exclusive berarti kau adalah trofi paling berharga di kota ini. Siapa pun yang menjatuhkan mu akan menjadi raja baru, loh... Siapa menurutmu yang cukup berani mengirimkan surat itu? faksi Utara yang mulai frustrasi?"

"Siapa pun mereka," Reggiano meletakkan adonan roti dengan perlahan, namun aura di sekelilingnya mendadak menjadi sangat berat hingga suhu di dalam toko terasa turun beberapa derajat.

"Mereka telah membuat kesalahan fatal. Mereka menganggap status 'Penjaga' membuatku melunak. Mereka lupa bahwa alasan aku terpilih menjadi Penjaga adalah karena aku bisa membunuh siapa pun yang mengganggu ketenangan. "

Seraphine muncul dari balik tirai dapur, wajahnya yang abadi tampak tenang namun ada kilat peringatan di matanya.

"Tuan Herbert, ancaman ini adalah ujian pertama bagi kedudukan baru anda. Mereka akan mengirimkan sesuatu yang tidak bisa dihadapi hanya dengan peluru atau sabit, mereka akan mencoba meracuni dari dalam."

Tepat saat Seraphine selesai berbicara, lonceng pintu berdenting. Seorang pria dengan jas hujan panjang berwarna abu-abu masuk. Ia tidak memesan roti. Ia hanya berdiri di tengah ruangan, melepaskan topinya, dan menatap langsung ke arah Reggiano.

Di kerahnya, tersemat lencana perak berbentuk tengkorak yang dibalut duri, simbol dari Unit Eliminasi Internal, faksi elit dari Organisasi lama Reggiano yang bertugas menghapus para eksekutor yang "terlalu kuat".

"Reggiano Herbert," suara pria itu dingin dan monoton.

"Kau telah banyak membunuh orang-orang Organisasi. Sebagai gantinya, mereka mengeluarkan perintah eksekusi mati atas namamu karena dianggap telah terkontaminasi oleh energi Eden. Menyerah lah, atau toko ini akan menjadi kuburan massal sebelum matahari terbenam."

Reggiano melangkah keluar dari balik meja kasir. Ia tidak lagi peduli dengan penyamarannya. Tanda mawar di tangannya mulai berpendar emas dengan intensitas yang menyakitkan mata. Caspian di sampingnya mulai melipat lengan kemejanya, bersiap membuka celah dimensi untuk mendukung rekannya.

"Caspian, bawa Elena ke ruang belakang. Pastikan Seraphine menjaganya," perintah Reggiano tanpa menoleh.

"Ya, lalu??" tanya Caspian.

Reggiano memanggil sabit emasnya, The Reaper’s Thorn, yang muncul dengan denting logam yang memekakkan telinga. Bilahnya kini lebih panjang, dilapisi oleh api hijau yang haus akan darah.

"Aku akan mengingatkan mereka mengapa aku mendapatkan pangkat Eksekutor," jawab Reggiano dingin.

"Aku tidak hanya membunuh siapa pun yang menghalangi jalanku. Aku menghapus keberadaan mereka dari dunia ini."

Reggiano kini berhadapan langsung dengan utusan dari Unit Eliminasi Internal, sementara di luar toko, beberapa kendaraan berat mulai mengepung area tersebut.

Udara di dalam Flower’s Patisserie mendadak membeku. Pria dengan lencana tengkorak itu belum sempat menyelesaikan napas berikutnya ketika atmosfer di ruangan itu berubah menjadi medan pembantaian yang sunyi. Reggiano tidak lagi bergerak sebagai manusia, ia bergerak sebagai perwujudan murka alam yang telah lama dipendam.

"Satu jalur," bisik Reggiano, suaranya lebih dingin dari kematian itu sendiri.

Dalam satu kedipan mata, Reggiano menghilang dari pandangan. Yang tersisa hanyalah garis lurus cahaya emas yang membelah ruangan secara horizontal.

Slash.

Pria di tengah ruangan itu terhenti. Ekspresinya masih menunjukkan kecongkakannya yang dingin, namun sebuah garis merah halus muncul di lehernya sebelum kepalanya merosot jatuh ke lantai tanpa suara. Namun, Reggiano tidak berhenti di sana. Tubuhnya meluncur seperti peluru kendali, menembus pintu kaca depan yang hancur berkeping-keping menjadi ribuan kristal tajam.

Di luar, Unit Eliminasi Internal telah memposisikan diri dalam formasi tempur di seberang jalan. Mereka adalah elit, manusia-manusia mesin yang telah dimodifikasi secara genetik untuk tidak mengenal rasa takut. Tapi mereka belum pernah menghadapi seorang Eksekutor Exclusive yang didukung oleh kekuatan Eden.

Reggiano mendarat di tengah aspal, dan saat kakinya menyentuh tanah, ia mengayunkan sabit raksasanya dalam satu putaran penuh yang mematikan.

Akar-akar emas raksasa meledak dari bawah aspal secara cepat, mengikuti jalur ayunan sabitnya.

Akar-akar itu bukan sekadar tanaman, mereka adalah tombak-tombak cahaya yang bergerak secepat kilat.

Dalam satu garis lurus yang memanjang hingga lima puluh meter, segala sesuatu yang menghalangi jalan Reggiano hancur berantakan.

Kendaraan model baja terbelah menjadi dua bagian yang simetris, mesinnya meledak sebelum sempat menembakkan satu peluru pun. Sepuluh anggota pasukan elit yang berada di jalur tersebut bahkan tidak sempat mengangkat senjata mereka, tubuh mereka terpotong-potong oleh bilah energi hijau dan emas yang lewat secepat pikiran.

Bangunan tua di ujung jalan runtuh sebagian, teriris oleh sisa energi yang dilepaskan dari sabit Reggiano.

Darah hitam dan oli mesin menyemprot ke udara, namun tidak setetes pun yang menyentuh celemek hijau yang masih dikenakan Reggiano. Ia berdiri di tengah reruntuhan, di antara potongan-potongan tubuh dan logam yang masih membara. Seluruh pasukan yang dikirim untuk mengepungnya musnah dalam satu serangan tunggal yang efisien dan tanpa ampun.

Caspian melangkah keluar dari toko yang hancur bagian depannya, memegang sekeping croissant yang masih utuh di tangannya. Ia menatap jalur kehancuran yang ditinggalkan Reggiano dengan mata terbelalak.

"Yah... kurasa aku tidak perlu membantu sama sekali," gumam Caspian sambil menelan ludah.

"Oyy! kau tidak hanya membunuh mereka. Kau menghisap arwah mereka semua dari akhirat."

Reggiano berdiri tegak, napasnya tenang.

Api hijau di sabitnya perlahan memudar, namun tanda mawar di tangannya kini berwarna merah pekat, tanda bahwa ia baru saja memanen nyawa dalam jumlah besar. Ia menatap ke arah bayangan di kejauhan, tempat sisa-sisa pengintai mungkin masih bersembunyi.

"Katakan pada Tuan kalian," ucap Reggiano dengan suara yang bergema di seluruh distrik.

"Jika mereka mengirimkan satu orang lagi, aku tidak akan berhenti di jalan ini. Aku akan berjalan dalam satu jalur lurus menuju markas pusat mereka, dan tidak akan ada yang tersisa di belakangku selain abu."

Pembantaian Selesai.

Pesan Telah Disampaikan.

Seluruh unit elit itu musnah dalam sekejap. Kota terdiam, menyaksikan kekuatan seorang Eksekutor Exclusive yang sebenarnya.

Reggiano memutar sabitnya, membiarkan sisa energi hijau memudar ke dalam udara sebelum senjata itu lenyap kembali menjadi tanda mawar di pergelangan tangannya. Tanpa mempedulikan mayat-mayat yang berserakan atau kendaraan taktis yang masih terbakar di jalanan, ia berbalik. Langkah kakinya yang tadinya berat dan mematikan, seketika berubah menjadi ringan dan penuh kecemasan saat ia melintasi reruntuhan pintu kaca toko.

Ia mengabaikan Caspian yang kesana kemari menggeledah barang-barang berharga ketika melihat kehancuran di luar.

Sekarang tujuan Reggiano mulai bergerak, ruang belakang.

Di sana, di balik pintu kayu ek yang dilindungi oleh sulur-sulur pelindung milik Seraphine, Reggiano menemukan adiknya. Elena sedang duduk di kursi kecil, kedua tangannya memegang erat bunga lili putih yang berpendar lembut. Di sampingnya, Seraphine berdiri tegak, tangannya diletakkan di atas kepala Elena seolah sedang menyalurkan gelombang ketenangan yang menidurkan semua suara kebisingan dari luar.

"Elena?" suara Reggiano pecah, kehilangan semua nada dingin sang Eksekutor Exclusive.

Elena menoleh. Matanya yang jernih menatap Reggiano. Tidak ada air mata, tidak ada teriakan histeris. Berkat sihir Seraphine, Elena tampaknya tidak mendengar suara logam yang terbelah atau jeritan kematian para pasukan elit itu. Yang ia tahu hanyalah Kak Reggiano baru saja "mengusir tamu yang tidak sopan."

"Kak Reggi! Kakak tidak apa-apa?" Elena melompat turun dan memeluk pinggang Reggiano dengan erat.

"Nona Florence bilang Kakak sedang membersihkan debu jahat di depan toko."

Reggiano berlutut, mensejajarkan tingginya dengan adiknya. Ia memeriksa setiap inci wajah Elena, memastikan tidak ada goresan atau trauma yang terpancar di matanya. Tangannya yang baru saja melakukan pembantaian massal kini menyentuh pipi Elena dengan kelembutan yang mustahil dipercaya.

"Ya, debunya sudah hilang, Elena. Semuanya sudah bersih," bisik Reggiano. Ia melirik ke arah Seraphine, memberikan tatapan terima kasih yang tulus.

Seraphine mengangguk pelan. "Aku telah menyaring frekuensi suara dan aura di ruangan ini, Tuan Herbert. Baginya, dunia luar hanya terasa seperti badai kecil yang lewat di balik jendela. Dia aman."

Reggiano menghela napas panjang, kepalanya disandarkan sejenak ke bahu mungil adiknya. Beban menjadi seorang eksekutor elite sering kali membuatnya merasa seperti monster, namun di depan Elena, ia hanya ingin menjadi pelindung. Ia menyadari bahwa setiap nyawa yang ia cabut dalam "satu jalur" tadi adalah tumbal agar mata jernih ini tidak perlu melihat kegelapan dunia.

Caspian muncul di ambang pintu, menyandarkan tubuhnya di bingkai kayu sambil melipat tangan. Ia melihat pemandangan itu dengan senyum tipis yang sulit diartikan.

"Dia kuat, Reggi. Sama sepertimu," ucap Caspian pelan.

"Tapi kita tidak bisa terus-menerus mengandalkan sihir Seraphine untuk menutup matanya. Mereka akan datang lagi dengan cara yang lebih licik."

Reggiano berdiri, menggendong Elena dalam dekapan satu lengannya yang kokoh. Matanya kembali menajam saat menatap Caspian, namun kali ini ada tekad yang lebih tenang. "Aku tahu. Itulah sebabnya jalan ini tidak boleh berhenti di sini."

Ia mencium kening Elena, lalu menurunkannya kembali. "Elena, bermainlah di taman dalam sebentar bersama Nona Florence. Kakak harus bicara sebentar dengan Kak Caspian tentang... menu roti baru."

Setelah Elena dan Seraphine pergi menuju taman belakang, Reggiano berbalik menghadap Caspian. Suasananya berubah drastis. Ruang belakang yang hangat itu mendadak terasa seperti ruang strategi perang.

"Caspian," ucap Reggiano dengan nada perintah.

"Lacak siapa yang memberikan perintah eksekusi dari dewan. Aku tidak peduli seberapa tinggi jabatan mereka. Jika mereka berani mencantumkan nama Elena dalam daftar target mereka, aku akan memastikan 'satu jalur' berikutnya berakhir tepat di leher mereka."

Caspian menyeringai, mengeluarkan koin peraknya.

"Sudah kulakukan sejak kau menebas mobil baja tadi, kawan. Jejaknya mengarah ke Distrik Pusat, Laboratorium 09. Musuh tidak sendirian di sana, dia bersama beberapa petinggi Organisasi yang ketakutan."

Reggiano mengepalkan tangannya. "Bagus. Kita berangkat malam ini. Aku ingin mereka tahu bahwa mengirim pasukan ke toko roti ini adalah kesalahan terakhir yang pernah mereka buat."

Reggiano telah memastikan Elena aman, dan kini fokusnya beralih sepenuhnya untuk memburu mereka yang berani mengancam keluarganya.

Reggiano memandangi punggung Elena yang sedang asyik memperhatikan kupu-kupu di taman belakang melalui kaca jendela. Meskipun ia telah menghapus ancaman di depan toko, Reggiano tahu bahwa sebagai Eksekutor Exclusive, ia tidak bisa terus-menerus berada di sisi adiknya setiap detik. Bayang-bayang Organisasi akan terus merayap seperti jamur di kegelapan.

Ia berpaling kepada Seraphine, yang sedang berdiri di antara rimbunnya tanaman mawar yang seolah tunduk pada kehadirannya.

"Nona Florence," suara Reggiano rendah, namun mengandung desakan yang dalam.

"Saya akan pergi ke jantung sarang mereka. Saya akan meratakan Laboratorium 09 hingga tidak ada satu batu pun yang tersisa di atas batu lainnya. Namun, saya tidak bisa melangkah dengan tenang jika satu-satunya titik lemah saya masih terbuka lebar. Saya butuh perlindungan untuk Elena, sesuatu yang lebih kuat dari sekadar dinding kayu dan sihir sementara."

Seraphine menatap Reggiano dengan mata hijaunya yang dalam, memahami beban yang dipikul pria itu. Ia melangkah menuju sebuah pohon mawar putih yang paling tua di sudut taman. Dengan gerakan yang sangat anggun, ia memetik satu kelopak yang paling bening, lalu menggenggamnya di antara kedua telapak tangannya.

"Tuan Herbert, anda meminta sesuatu yang mengikat nyawa taman ini dengan nyawa adik anda," bisik Seraphine. Ia mulai merapal mantra dalam bahasa kuno yang terdengar seperti gesekan dedaunan.

Cahaya hijau zamrud mulai memancar dari celah jemari Seraphine, menyatu dengan esensi "Tuan Bumi". Saat ia membuka tangannya, kelopak mawar itu telah berubah menjadi sebuah kalung dengan liontin kristal mawar transparan yang di dalamnya terdapat setitik cahaya emas yang terus berputar.

"Ini adalah The Eternal Blossom's Heart," ucap Seraphine sambil menyerahkan perhiasan itu kepada Reggiano.

"Jimat ini terhubung langsung dengan detak jantung Yggdrasil. Jika bahaya mendekati Elena, jimat ini akan menciptakan kubah perlindungan yang tidak bisa ditembus oleh ledakan termal maupun frekuensi sihir apa pun. Dan yang paling penting... jika jimat ini aktif, anda akan merasakannya di dalam aliran darah anda, di mana pun anda berada."

Reggiano menerima kalung itu dengan tangan yang gemetar. Ia menghampiri Elena, lalu memakaikannya dengan lembut di leher adiknya.

"Elena, janji pada Kakak, jangan pernah lepaskan kalung ini, ya?" ucap Reggiano sambil mencium keningnya.

"Cantik sekali, Kak! Seperti mawar di toko Nona Florence," jawab Elena dengan senyum polosnya.

Setelah memastikan jimat itu bersinar tanda telah aktif, Reggiano berdiri dan berbalik. Wajahnya yang tadi lembut seketika berubah menjadi topeng kematian yang dingin.

Kekhawatirannya telah sirna, yang tersisa hanyalah niat membunuh yang murni.

Caspian, yang sejak tadi menunggu sambil bersandar pada pohon, menjentikkan koin peraknya ke udara.

"Sekarang kau sudah tidak punya beban, Reggiano. Siap untuk membuat Distrik Pusat berubah menjadi warna merah?"

Reggiano tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menggerakkan tangannya, dan sabit raksasa The Reaper’s Thorn termanifestasi kembali, kali ini dengan aura hitam-emas yang lebih pekat karena dipicu oleh amarah yang terfokus.

"Caspian, buka celahnya," perintah Reggiano.

"Kita akan masuk ke Laboratorium 09 melalui jalur yang paling menyakitkan bagi mereka."

Dengan Elena yang kini terlindungi oleh sihir permanen Seraphine, Reggiano siap melepaskan seluruh kekuatannya sebagai Eksekutor Exclusive.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!