NovelToon NovelToon
Immortal Emperor: Dao Abadi

Immortal Emperor: Dao Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Mengubah Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Epik Petualangan / Perperangan / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:18k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di Benua Timur, di mana pegunungan menusuk awan dan kabut spiritual menyelimuti hutan purba, nyawa manusia biasa seringkali tidak lebih berharga daripada rumput di tepi jalan.

Desa Sungai Jernih adalah tempat yang damai, tersembunyi di lembah kecil di kaki Pegunungan Kabut Hijau. Penduduknya hidup sederhana bertani, berburu, dan menyembah "Para Abadi" yang terkadang terlihat terbang melintasi langit dengan pedang cahaya. Bagi mereka, para kultivator itu adalah dewa pelindung.

Namun bagi Li Wei, hari ini, dewa-dewa itu membawa neraka.

Li Wei, pemuda berusia lima belas tahun dengan tubuh kurus namun sorot mata tajam, sedang menuruni bukit dengan keranjang anyaman di punggungnya. Ia baru saja selesai mencari tanaman obat liar. Ibunya sakit batuk sejak musim dingin lalu, dan tabib desa berkata akar Ginseng Roh tingkat rendah mungkin bisa membantu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 17: Hadiah Sang Juara

Aroma obat-obatan herbal yang pahit namun menenangkan menyambut indra penciuman Li Wei saat ia membuka mata.

Ia tidak lagi berada di gubuk reyot Lembah Abu, melainkan di sebuah kamar yang luas, bersih, dan terang. Dindingnya terbuat dari kayu cendana yang harum, dan kasurnya empuk, dilapisi sutra berkualitas tinggi.

"Kau sudah sadar?"

Suara lembut menyapa dari samping tempat tidur. Xiao Lan sedang duduk di sana, mengaduk mangkuk berisi bubur obat. Matanya sembab, tanda ia kurang tidur dan banyak menangis.

Li Wei mencoba duduk. Tubuhnya terasa kaku. Rasa sakit dari pukulan Wang Jian masih tersisa di tulang rusuknya, tapi meridiannya terasa hangat dan lancar.

"Sudah berapa lama aku pingsan?" tanya Li Wei, suaranya serak.

"Tiga hari," jawab Xiao Lan, menyodorkan mangkuk bubur. "Kau sekarang berada di Paviliun Perawatan Puncak Pengobatan. Tetua Puncakku secara pribadi merawat luka-lukamu."

Li Wei terdiam sejenak, mencerna informasi itu. Tetua Puncak Pengobatan turun tangan? Itu berarti nilainya di mata sekte telah berubah drastis.

"Wang Jian?" tanya Li Wei singkat.

Wajah Xiao Lan mengeras. "Dia dibawa kembali ke kediaman Klan Wang malam itu juga. Tabib terbaik sekte mengatakan Dantian-nya hancur total, tidak bisa diperbaiki bahkan dengan pil tingkat dewa. Dia... sudah menjadi orang cacat."

Li Wei mengangguk pelan. Tidak ada rasa penyesalan. Di dunia ini, jika dia kalah, nasibnya akan jauh lebih buruk.

"Ayahnya, Tetua Wang Lie dari Puncak Api, mengamuk," lanjut Xiao Lan dengan suara bergetar. "Dia mencoba menyerangmu saat kau pingsan di panggung. Untungnya, Ketua Sekte dan Tetua Disiplin menghentikannya. Aturan Panggung Hidup Mati adalah mutlak."

"Tapi hati-hati, Li Wei. Tatapan Tetua Wang... dia ingin memakanmu hidup-hidup."

Li Wei tersenyum tipis. "Biarkan saja. Anjing tua yang menggonggong tidak bisa menggigit selama rantainya dipegang oleh Ketua Sekte."

Tiba-tiba, pintu kamar terbuka.

Seorang murid senior dengan jubah ungu tanda murid langsung Ketua Sekte,masuk dengan wajah hormat.

"Saudara Li Wei," sapa murid itu, nadanya jauh lebih sopan daripada siapapun yang pernah bicara pada Li Wei sebelumnya. "Ketua Sekte memanggilmu ke Aula Utama. Beliau ingin memberikan hadiah kemenangan secara resmi."

Li Wei memaksakan diri turun dari kasur. "Aku akan pergi."

Xiao Lan mencoba membantunya, tapi Li Wei mengangkat tangan. "Aku bisa jalan sendiri. Seorang juara tidak boleh terlihat lemah."

Li Wei berjalan keluar, langkahnya masih sedikit pincang, tapi punggungnya tegak lurus seperti pedang.

Aula Utama Sekte Langit Biru adalah tempat yang megah, dengan pilar-pilar emas setinggi dua puluh meter yang menopang langit-langit bergambar naga dan phoenix.

Di ujung ruangan, di atas takhta batu giok putih, duduk seorang pria paruh baya dengan jubah biru langit yang dihiasi awan perak. Auranya tenang namun dalam seperti samudra tak berdasar.

Ketua Sekte: Feng Tian (Kultivasi: Nascent Soul Awal).

Di sisi kiri dan kanannya, duduk enam Tetua Puncak. Salah satunya adalah pria berjanggut merah api yang menatap Li Wei dengan kebencian murni yang tak ditutupi. Itu adalah Tetua Wang Lie, ayah Wang Jian.

Li Wei berjalan ke tengah aula, merasakan tekanan aura dari para raksasa ini. Bagi murid biasa, tekanan ini cukup untuk membuat lutut lemas. Tapi Li Wei, yang telah menyerap Vena Naga dan memiliki Hati Dao yang kokoh, tetap berdiri tegak.

Ia membungkuk hormat. "Murid Li Wei, menghadap Ketua Sekte dan para Tetua."

"Berani sekali kau!"

Sebuah bentakan menggelegar. Tetua Wang Lie memukul sandaran kursinya hingga retak.

"Kau anak yang kejam! Turnamen adalah ajang latih tanding, tapi kau dengan sengaja menghancurkan masa depan sesama murid! Kau pantas dihukum mati!"

Aura panas menyambar ke arah Li Wei.

Li Wei tidak bergerak. Ia tidak membela diri.

"Cukup, Tetua Wang," suara Ketua Sekte Feng Tian terdengar pelan, tapi seketika memadamkan aura panas itu. "Wang Jian sendiri yang mengusulkan Panggung Hidup Mati. Dia juga yang melanggar aturan dengan menggunakan Pil Terlarang. Li Wei hanya membela diri. Jika Li Wei kalah, apakah kau akan menuntut Wang Jian dihukum mati?"

Tetua Wang terdiam, wajahnya merah padam. Ia mendengus kasar dan memalingkan wajah, tapi tangannya mengepal erat di balik jubah.

Ketua Sekte menatap Li Wei. Tatapannya tajam, seolah menembus kulit dan melihat tulang emas Li Wei.

"Li Wei," kata Ketua Sekte. "Kau telah menunjukkan bakat yang luar biasa. Dari murid pelayan menjadi juara turnamen. Sekte menghargai kekuatan."

"Mulai hari ini, kau dipromosikan menjadi Murid Inti (Core Disciple). Kau bebas memilih salah satu dari Tujuh Puncak Utama untuk bernaung."

Murid Inti! Itu adalah lompatan dua tingkat. Dari Pelayan -> Murid Luar -> Murid Dalam -> Murid Inti. Biasanya butuh sepuluh tahun untuk mencapai posisi itu.

"Selain itu," lanjut Ketua Sekte, "Sebagai hadiah juara pertama, kau mendapatkan:

1000 Batu Roh.

Akses satu kali ke Paviliun Harta Karun Langit untuk memilih satu artefak atau teknik.

Tempat tinggal pribadi (Gua Kultivasi) di Puncak pilihanmu."

Hadiah yang luar biasa. 1000 Batu Roh adalah kekayaan kecil. Dan Paviliun Harta Karun Langit berisi peninggalan pendiri sekte.

"Li Wei, Puncak mana yang kau pilih?" tanya Ketua Sekte.

Semua Tetua menatapnya penuh harap (kecuali Tetua Wang). Tetua Puncak Bunga (wanita yang memperhatikannya di Hutan Ilusi) tersenyum mengundang. Tetua Puncak Besi mengangguk setuju melihat fisik Li Wei.

Li Wei berpikir cepat.

Masuk ke Puncak Utama akan memberinya perlindungan, tapi juga pengawasan ketat. Masuk ke Puncak lain akan membuatnya terlibat politik faksi.

Dia butuh kebebasan. Dia butuh tempat sepi seperti Lembah Abu, tapi dengan fasilitas Murid Inti.

"Murid berterima kasih atas kemurahan hati Sekte," kata Li Wei lantang. "Namun, Murid memiliki permintaan khusus."

"Katakan."

"Murid tidak ingin bergabung dengan Puncak manapun. Murid memohon izin untuk tetap tinggal di Lembah Abu dan mengubahnya menjadi Gua Kultivasi pribadi saya. Sebagai gantinya, saya tidak akan meminta jatah pil bulanan dari sekte."

Keheningan melanda aula.

"Lembah Abu?" Tetua Puncak Bunga mengerutkan kening. "Tempat itu tandus. Tidak ada Qi. Kau akan menghancurkan masa depanmu sendiri."

"Murid memiliki metode kultivasi sendiri yang cocok dengan ketenangan," jawab Li Wei diplomatis. Tentu saja, dia tidak akan bilang ada Vena Naga di sana.

Ketua Sekte menatap Li Wei lama, lalu tersenyum misterius.

"Menarik. Kau menyembunyikan rahasia, dan kau ingin menjaganya. Baiklah. Sekte tidak akan mencampuri jalan Dao muridnya selama murid itu setia."

"Permintaan dikabulkan. Lembah Abu sekarang adalah wilayah terlarang pribadi Li Wei. Siapa pun yang masuk tanpa izin akan dihukum sesuai aturan penerobosan kediaman Murid Inti."

Keputusan ini sangat menguntungkan. Status "Wilayah Terlarang" memberikan perlindungan hukum. Jika Tetua Wang mengirim pembunuh ke sana, itu sama dengan menyerang sekte secara langsung.

"Terima kasih, Ketua Sekte!"

"Pergilah. Diaken akan mengantarmu ke Paviliun Harta Karun."

Li Wei membungkuk dan mundur. Saat ia berbalik, ia sempat bertatapan dengan Tetua Wang Lie.

Mata tua itu memancarkan pesan jelas: Sekte melindungimu di siang hari. Tapi tunggu sampai malam tiba.

Li Wei membalas tatapan itu dengan dingin, lalu berjalan keluar.

Satu jam kemudian, Li Wei berdiri di depan gerbang Paviliun Harta Karun Langit.

Tempat ini dijaga oleh formasi kuno yang sangat kuat. Di dalamnya, ribuan artefak melayang dalam gelembung energi. Ada pedang terbang, lonceng pembunuh jiwa, jubah pertahanan, dan gulungan teknik kuno.

Mata Li Wei berbinar. Dia butuh pedang baru. Pedang Baja Hitam-nya hancur. Dia butuh senjata yang bisa menahan kekuatan Tubuh Lima Elemen-nya.

Namun, saat ia berjalan melewati deretan pedang berkilau, Giok Dao Abadi di dadanya tiba-tiba bergetar.

Bukan getaran biasa. Getaran ini... sedih?

Giok itu menariknya bukan ke arah rak senjata tingkat tinggi, melainkan ke sudut ruangan yang berdebu, tempat barang-barang "rusak" atau "tak dikenal" disimpan.

Di sana, tergeletak sebuah benda hitam panjang yang tertutup karat.

Itu terlihat seperti tongkat besi, atau mungkin gagang tombak yang patah. Tidak ada aura, tidak ada kilau. Benar-benar besi rongsokan.

Tapi Giok di dada Li Wei berteriak: [Ambil Ini!]

Li Wei ragu. "Kau yakin? Aku bisa mengambil Pedang Tingkat Tinggi di sana..."

Giok itu mengirimkan impuls panas. [Ambil!]

Li Wei menghela napas. Insting Giok belum pernah salah (kecuali soal rasa sakit).

Ia mengambil batang besi berkarat itu. Berat. Sangat berat. Setidaknya 500 jin. Untuk benda sekecil ini, kepadatan massanya luar biasa.

"Apa ini?" gumam Li Wei, mengusap karat di permukaannya. Sedikit karat rontok, memperlihatkan logam hitam pekat dengan ukiran samar yang menyerap cahaya.

"Pilihan yang aneh," suara penjaga paviliun, seorang lelaki tua bungkuk, terdengar dari belakang. "Itu adalah 'Fragmen Tombak Penembus Langit'. Ditemukan di reruntuhan kuno 300 tahun lalu. Tidak ada yang bisa menggunakannya. Tidak bisa dialiri Qi, tidak bisa dilebur. Hanya berat dan keras."

"Saya ambil ini," kata Li Wei mantap.

Lelaki tua itu mengangkat bahu. "Terserah. Jangan menyesal nanti."

Li Wei membawa batang besi itu keluar. Di bawah sinar matahari, ia merasakan koneksi samar antara darahnya, Giok, dan batang besi itu.

Senjatanya mungkin terlihat seperti rongsokan, tempat tinggalnya terlihat seperti tanah tandus, dan bakatnya terlihat seperti sampah.

"Sempurna," Li Wei menyeringai. "Semua adalah penyamaran."

Saat Li Wei kembali ke Lembah Abu dengan status barunya, angin dingin berhembus dari Selatan. Langit di kejauhan tampak sedikit lebih merah dari biasanya.

1
MyOne
Ⓜ️🔜🆙🔜Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️💪🏻💪🏻💪🏻Ⓜ️
Tatmani Oniaka
👍👍👍👍
Tatmani Oniaka
👍👍👍
Tatmani Oniaka
👍👍👍👍👍
Tatmani Oniaka
👍👍👍
MyOne
Ⓜ️👀👀👀Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️😯😯😯Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️💥💥💥Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️👣👣👣Ⓜ️
Sahrul Akbar
keren
MyOne
Ⓜ️🔜⏩🔜Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️😵‍💫😵‍💫😵‍💫Ⓜ️
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very very very nice Thor
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!