(WARISAN MUTIARA HITAM SEASON 4)
Chen Kai kini telah menapakkan kaki di Sembilan Surga, namun kisahnya di Alam Bawah belum sepenuhnya usai. Ia mempercayakan Wilayah Selatan ke tangan Chen Ling, Zhuge Ming, dan Gui. Sepuluh ribu prajurit elit yang berhutang nyawa padanya kini berdiri tegak sebagai benteng yang tak tergoyahkan.
Sebuah petualangan baru telah menanti. Sembilan Surga bukanlah surga penuh kedamaian seperti bayangan orang awam; itu adalah medan perang kuno para Kaisar Agung, tempat di mana Mutiara Hitam menjadi incaran seluruh Dewa.
Di Sembilan Surga, hukum duniawi tak lagi berlaku. Di sana, yang berkuasa hanyalah Kehendak Mutlak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gerbang Bayangan
Meninggalkan Paviliun Angin Istirahat terasa seperti berjalan menjauh dari setitik cahaya di tengah samudera kabut. Kelompok kecil yang dipimpin Chen Kai kini bergerak lebih cepat, menyisir tepian Nadi Angin yang semakin lama semakin menurun tajam menuju fondasi terapung Kota Awan Putih yang masif.
Di depan mereka, Kota Awan Putih menjulang bukan sekadar sebagai kota, melainkan sebagai sebuah mahakarya Dao yang menantang akal sehat. Istana-istana marmer putih bertengger di atas bongkahan-bongkahan kristal raksasa yang melayang statis, dihubungkan oleh jembatan cahaya yang melengkung agung. Namun, di bawah kemegahan itu, terdapat bayangan raksasa yang menutupi lembah di bawahnya—akar-akar dan organik dari kota melayang yang dikenal sebagai Distrik Bawah.
"Lihatlah ke atas, Chen Kai," suara Kaisar Yao bergema pelan di dalam Mutiara Hitam. "Jaring Takdir di sana begitu rapat hingga bahkan serangga esensi pun tidak bisa lewat tanpa dicatat. Para Kaisar benar-benar paranoid setelah pengkhianatanku ribuan tahun lalu."
"Itulah sebabnya kita butuh pintu belakang, Guru," jawab Chen Kai dalam batin.
Mo Yan, sang alkemis pelarian, berjalan dengan napas yang tersengal. Luka jiwanya tampak berdenyut setiap kali tekanan atmosfir kota meningkat. "Tuan... kita hampir sampai di 'Akar Langit'. Itu adalah pintu masuk para penyelundup. Tapi waspadalah, penjaganya bukan dari militer resmi, melainkan dari Klan Lintah Bayangan."
Mereka sampai di sebuah celah di tebing kristal yang terletak tepat di bawah bayangan jembatan utama kota. Di sana, sebuah pintu perunggu raksasa yang sudah berkarat tertanam di dinding batu. Pintu itu dikelilingi oleh lumut hitam yang memancarkan aroma pahit.
Sesosok pria jangkung dengan pakaian yang tampak menyatu dengan bayangan dinding muncul dari kegelapan. Matanya tidak memiliki putih, hanya hitam pekat yang dingin.
"Arah angin tidak membawa tamu tanpa nama ke sini," suara pria itu terdengar seperti gesekan kertas kering.
Mo Yan maju selangkah, tangannya gemetar namun ia mencoba menegakkan punggungnya. "Aku Mo Yan... dan aku membawa 'Bahan Hidup' yang dijanjikan."
Si penjaga melirik Chen Kai dan Ah-Gou dengan pandangan meremehkan. "Bahan hidup? Mereka tampak lebih seperti pengungsi kelaparan."
Chen Kai melangkah maju, membiarkan auranya yang padat namun terkompresi bocor sedikit melalui Cincin Kerudung Malam. Ia tidak melepaskan kekuatan penuhnya, melainkan hanya satu frekuensi kecil yang bergetar dengan kemurnian Esensi Dewa.
WUNG.
Udara di sekitar pintu perunggu itu mendadak menjadi tenang. Si penjaga terbelalak, langkahnya mundur secara naluriah. Di matanya yang hitam, sosok Chen Kai yang kuyu tiba-tiba tampak seperti raksasa yang sedang menyamar.
"Cukup murni?" tanya Chen Kai datar.
Si penjaga menelan ludah, ketakutannya mengalahkan kesombongannya. Di Sembilan Surga, kualitas esensi bicara lebih keras daripada kata-kata. "Murni... sangat murni. Silakan masuk. Penjual Bayangan sedang menunggu di 'Pasar Akar'."
Pintu perunggu itu berderit terbuka, menyingkap lorong panjang yang menurun ke dalam perut kota melayang. Tidak ada lampu cahaya di sini; hanya jamur-jamur esensi yang berpendar ungu tua yang menerangi jalan.
Saat mereka berjalan menyusuri lorong, Mo Yan berbisik pada Chen Kai. "Tuan... Anda baru saja menunjukkan terlalu banyak. Klan Lintah Bayangan akan melaporkan aura Anda ke bos mereka."
"Biarkan saja," kata Chen Kai, matanya menatap tajam ke dalam kegelapan. "Aku butuh mereka tahu bahwa aku bukan mangsa yang mudah. Kita tidak datang ke sini untuk bersembunyi selamanya, Mo Yan. Kita datang untuk mengambil apa yang kita butuhkan dan membakar jaring mereka jika perlu."
"Hahaha, itulah muridku," Yao terkekeh di dalam Dantian. "Jangan biarkan tempat sampah ini menumpulkan taringmu. Distrik Bawah ini adalah tempat yang sempurna untuk memanen 'Bunga Jiwa Hitam' yang kau butuhkan untuk menyembuhkan si alkemis sialan ini."
Setelah berjalan selama beberapa kilometer di dalam terowongan, lorong itu tiba-tiba terbuka luas.
Pemandangan di hadapan mereka adalah distrik yang kacau namun luar biasa. Rumah-rumah kayu dan logam menggantung di akar-akar raksasa yang menyangga Kota Awan Putih di atasnya. Ribuan lampion merah redup menerangi pasar-pasar gelap yang menjual segala sesuatu yang dilarang di Sembilan Surga: mulai dari racun jiwa, teknik terlarang, hingga informasi tentang pergerakan para Kaisar.
Inilah Distrik Bawah, usus besar dari keagungan Sembilan Surga.
"Selamat datang di neraka yang indah, Tuan," bisik Ah-Gou, yang tampak lebih betah di sini dibandingkan di atas awan yang cerah.
Chen Kai menarik tudungnya. Ia bisa merasakan ribuan mata sedang mengawasinya dari kegelapan. Di bawah telapak kakinya, ia merasakan denyut nadi dari formasi raksasa kota di atas.
"Mo Yan," panggil Chen Kai. "Bawa aku ke Penjual Bayangan itu. Sekarang."
Perburuan informasi sesungguhnya telah dimulai. Raja Hitam telah menyusup ke jantung musuh, bukan lewat gerbang kemenangan, melainkan melalui akar yang terlupakan.
dan semoga kedepannya lebih bagus lagi
Kai.... sikat semua dewa2 palsu nya
BTW.... pasti dewa2 Asli nya jadi tahanan mereka ya ?.......... 💪💪💪💪