Kisah ini tidak menawarkan jawaban tentang apakah Great Reset benar-benar dirancang oleh elite global. Yang dihadirkan justru sesuatu yang lebih mengganggu: bagaimana bahasa, teknologi, dan kebijakan modern membentuk kepatuhan tanpa paksaan, membuat pilihan terasa semakin sempit, dan menjadikan penyesuaian sebagai satu-satunya cara untuk tetap dianggap “normal”.
Kita yang Tidak Pernah Diundang bukan dongeng tentang konspirasi besar, melainkan tentang manusia-manusia biasa yang hidup di dalamnya… tanpa sadar, tanpa persetujuan, dan tanpa kepastian apakah kesadaran akan menyelamatkan atau justru menyulitkan.
Sebuah kontemplasi gelap-reflektif tentang sistem yang tidak memaksa, dunia yang terlalu tertib, dan pertanyaan sederhana yang terus menghantui:
…jika semuanya sudah diputuskan, apa arti menjadi manusia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Timotius Safari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suspensi Tanpa Pemberitahuan
Malang pagi itu terasa lebih sempit dari biasanya.
Kusuma keluar dari kontrakan kecilnya di pinggiran kota tanpa rencana jelas, hanya karena tubuhnya tidak tahan diam terlalu lama.
Kusuma tahu ada yang salah sejak motornya berhenti di pinggir jalan tanpa alasan yang bisa ia jelaskan dengan logika kerja.
Bukan karena mesin. Bukan karena hujan. Bukan karena ia kelelahan. Semua terasa normal sampai ponselnya bergetar pendek, bunyi notifikasi yang terlalu akrab untuk diabaikan.
Ia menepi di bawah pohon besar, membuka helm, mengusap wajah dengan tangan yang masih hangat oleh setang kemudi. Keringat bercampur debu. Nafasnya belum sepenuhnya turun ketika ia membuka aplikasi pengiriman.
Layar tidak menampilkan peta.
Yang muncul hanya satu kalimat pendek, rapi, dan dingin.
Akun Anda sedang dalam peninjauan sementara.
Kusuma menatap layar itu lama. Tidak ada tombol bantuan. Tidak ada estimasi waktu. Tidak ada penjelasan tambahan. Hanya satu tautan kecil bertuliskan kebijakan.
Ia menekan tautan itu. Layar memuat teks panjang yang tidak ia baca seluruhnya. Kalimat-kalimatnya generik, penuh istilah kepatuhan, kualitas layanan, dan keamanan ekosistem. Tidak ada satu pun kalimat yang menyebut apa yang sebenarnya ia lakukan.
Ia tertawa kecil tanpa suara.
“Peninjauan,” gumamnya.
Kata itu terdengar seperti jeda yang netral. Seolah-olah ini bukan hukuman. Seolah-olah ia hanya diminta menunggu, tanpa perlu merasa bersalah atau marah. Tapi tubuhnya tahu, jeda seperti ini selalu berarti satu hal. Ia dihentikan tanpa pernah diberi kesempatan bertanya.
Ia menutup aplikasi, lalu membukanya lagi. Hasilnya sama.
Di jalanan, kendaraan tetap melintas. Seorang pengendara meliriknya sekilas. Kusuma memasang helm kembali, lalu melepasnya lagi. Gerakannya tidak pasti. Ada kegelisahan kecil yang tidak bisa ia salurkan ke mana pun.
Ia memeriksa pesan masuk. Tidak ada peringatan sebelumnya. Tidak ada email. Tidak ada notifikasi dini. Semua datang sekaligus, di tengah hari kerja, di saat tubuhnya masih siap melaju.
Ia mematikan mesin motor, lalu menyalakannya lagi, seolah-olah masalah ini bisa diselesaikan dengan kebiasaan mekanis.
Tidak berubah.
Kusuma duduk di jok, menunduk. Di kepalanya, potongan-potongan hari-hari sebelumnya muncul berurutan. Rute yang memanjang. Peringkat yang turun. Penyimpangan kecil yang ia lakukan dengan sadar. Jalur yang tidak direkomendasikan.
“Jadi ini,” gumamnya pelan.
Ia tidak merasa bersalah. Ia juga tidak merasa heroik. Yang ia rasakan lebih sederhana dan lebih menyakitkan. Ia merasa dikeluarkan dari alur tanpa pernah diajak bicara.
Ponselnya bergetar. Pesan dari nomor tak dikenal.
Mohon menunggu proses evaluasi. Jangan menghubungi layanan pelanggan untuk mempercepat proses.
Kusuma menghembuskan napas panjang. Ia membaca kalimat itu berulang kali. Nada sopan. Tidak memerintah. Tapi jelas menutup pintu.
Ia membuka grup Random. Jarinya berhenti beberapa detik sebelum mengetik.
Kusuma:
Akun gue ditinjau.
Tanpa peringatan.
Pesan terkirim. Ia tidak menunggu balasan.
Ia menatap jalanan lagi. Waktu masih siang. Biasanya jam-jam seperti ini ia sudah menyelesaikan beberapa pengantaran. Tubuhnya masih siap. Motornya masih hangat. Tapi sistem telah memutuskan bahwa hari ini, ia tidak bergerak.
Ia teringat Doli. Catatan. Penolakan. Kalimat yang ditulis dengan hati-hati. Kusuma tidak tahu detailnya, tapi ia tahu satu hal. Sesuatu yang terjadi jauh dari tubuhnya kini menekan tubuhnya langsung.
Ia berdiri, berjalan beberapa langkah, lalu kembali duduk. Gerakannya canggung, seperti seseorang yang kehilangan fungsi utama tanpa persiapan. Ia membuka tas kecil, memeriksa dompet. Tidak kosong, tapi tidak cukup untuk merasa aman jika ini berlangsung lama.
Ponselnya kembali bergetar. Kali ini dari Wawan.
Wawan:
Sum,
lo aman?
Kusuma membaca pesan itu lama sebelum membalas.
Kusuma:
Badan gue aman.
Kerjaan gue enggak.
Ia menyimpan ponsel, menatap langit yang cerah tanpa peduli. Tidak ada tanda badai. Tidak ada peringatan. Hari terlalu normal untuk sesuatu yang terasa seperti awal dari masalah panjang.
Ia mengenakan helm, menyalakan motor, lalu melaju pelan. Tidak ke rute pengantaran. Hanya bergerak agar tubuhnya tidak diam terlalu lama. Bergerak agar ia tidak merasa sepenuhnya diberhentikan.
Di satu lampu merah, ia berhenti. Lampu masih merah lama. Kusuma menunggu, menatap lurus ke depan. Ia menyadari, mungkin inilah bentuk baru dari hukuman. Bukan dikeluarkan secara kasar, tapi dibuat menunggu tanpa waktu.
Dan menunggu, bagi orang yang hidup dari gerak, adalah cara paling efektif untuk melemahkan.
Hari pertama Kusuma menunggu, ia masih merasa itu hanya kesalahan teknis.
Ia pulang lebih cepat dari biasanya, memarkir motor di depan rumah kontrakan, lalu duduk di lantai tanpa menyalakan kipas. Helm diletakkan sembarangan. Jaket tidak digantung. Semua dibiarkan seperti itu, seolah ia akan keluar lagi sebentar.
Ia membuka aplikasi setiap dua puluh menit. Menutupnya. Membuka lagi. Kalimatnya tidak berubah.
Akun Anda sedang dalam peninjauan sementara.
Kata sementara itu menipu. Ia terdengar ramah. Seolah-olah waktu berada di pihaknya.
Kusuma membuka menu bantuan, menelusuri jalur pengaduan yang berlapis. Ia mengisi formulir singkat, memilih kategori yang paling mendekati, lalu menekan kirim. Tidak ada konfirmasi selain pesan otomatis yang menyuruhnya menunggu.
Ia bangkit, berjalan mondar-mandir di kamar sempit itu. Tubuhnya masih membawa ingatan bergerak. Otot-otot kakinya tegang, seolah siap menginjak pedal gas. Tapi tidak ada tujuan.
Sore hari, ia menerima balasan singkat.
Permintaan Anda telah diterima. Mohon menunggu proses evaluasi.
Tidak ada nama. Tidak ada nomor. Tidak ada tenggat.
Hari kedua, Kusuma mencoba cara lain.
Ia menghubungi sesama kurir yang ia kenal dari pangkalan tidak resmi. Bertanya pelan. Tidak langsung. Dari obrolan ringan sampai akhirnya menyinggung soal peninjauan akun.
“Biasa,” kata seseorang di ujung telepon. “Kadang cepet, kadang lama.”
“Lama itu berapa?” tanya Kusuma.
“Tergantung.”
Kata itu menggantung. Tidak ada yang benar-benar tahu tergantung pada apa.
Ia mencoba menyesuaikan diri. Menghapus beberapa catatan rute pribadi. Menonaktifkan fitur yang jarang ia pakai. Membaca ulang kebijakan yang sebelumnya ia lewati. Ia berharap ada sesuatu yang bisa ia perbaiki, sesuatu yang konkret.
Tidak ada.
Hari ketiga, menunggu mulai berubah rasa.
Bukan lagi sekadar jeda, tapi ketiadaan ritme. Kusuma bangun pagi dengan tubuh yang masih siap bekerja, lalu menyadari tidak ada alasan untuk keluar rumah. Ia duduk di tepi kasur lebih lama, menatap lantai, merasakan kekosongan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Ia keluar rumah hanya untuk bergerak. Menyalakan motor, berkeliling tanpa tujuan, kembali lagi. Bensin habis tanpa pendapatan. Ia tertawa kecil ketika menyadarinya, lalu berhenti tertawa.
Ponselnya jarang bergetar sekarang. Grup Random sunyi. Mungkin mereka sibuk. Mungkin mereka tidak tahu harus berkata apa. Kusuma tidak menyalahkan siapa pun.
Ia mencoba menghubungi layanan pelanggan lewat jalur lain. Menunggu musik otomatis. Mendengar suara manusia di ujung sana.
“Mohon maaf, Pak. Kami tidak bisa mempercepat proses.”
“Prosesnya apa?” tanya Kusuma.
“Evaluasi sistem.”
“Evaluasi apa?”
“Tidak bisa kami jelaskan secara detail.”
Pembicaraan berakhir dengan sopan. Kusuma mematikan telepon, menatap layar hitam beberapa detik lebih lama dari yang perlu.
Ia duduk di lantai, bersandar ke dinding. Ada rasa marah yang muncul, lalu padam sebelum sempat membesar. Marah membutuhkan sasaran. Yang ia hadapi tidak punya wajah.
Hari keempat, Kusuma mulai menghitung.
Bukan jarak. Bukan rute. Tapi uang. Hari tanpa pemasukan. Pengeluaran kecil yang tidak bisa ia hindari. Rokok. Kopi. Bensin. Ia menyadari betapa hidupnya selama ini ditopang oleh kelancaran gerak. Ketika gerak dihentikan, semua terlihat rapuh.
Ia menulis pesan panjang ke sistem. Menghapusnya. Menulis ulang dengan nada lebih sopan. Menghapus lagi. Akhirnya ia mengirim pesan pendek, netral, tanpa emosi.
Tidak ada balasan.
Menunggu mulai memakan hal-hal kecil. Tidurnya tidak nyenyak. Mimpinya pendek-pendek. Ia terbangun dengan sensasi harus segera pergi, lalu mengingat tidak ada tempat untuk dituju.
Ia membuka grup Random lagi.
Kusuma:
Masih ditinjau.
Belum ada kabar.
Balasan datang dari Doli.
Doli:
Lo jangan nyalahin diri lo dulu.
Yang kayak gini jarang soal salah-benar.
Kusuma membaca pesan itu lama. Ia tidak membalas. Ia tahu Doli benar, tapi itu tidak membuat menunggu lebih ringan.
Hari kelima, ia mencoba melawan dengan cara paling kecil yang ia punya.
Ia mendatangi kantor perantara. Berdiri di antrean. Menjawab pertanyaan yang sama. Menunjukkan identitas. Menandatangani daftar hadir. Wajah-wajah di sana tampak lelah dengan cara yang sama.
Petugas melihat datanya di layar.
“Masih proses,” katanya.
“Berapa lama?” tanya Kusuma.
Petugas mengangkat bahu. “Sistem yang tentuin.”
Kata itu lagi.
Sistem.
Kusuma keluar dari gedung dengan langkah pelan. Di luar, matahari terik. Jalanan ramai. Ia merasa aneh berada di tengah keramaian tanpa peran.
Ia duduk di trotoar, menyalakan rokok, lalu mematikannya sebelum habis. Tangannya gemetar sedikit. Bukan karena takut, tapi karena tubuhnya kehilangan fungsi.
Menunggu bukan hanya soal waktu. Menunggu adalah dihilangkan dari perhitungan.
Malam itu, Kusuma menyalakan motor lagi. Ia berkendara tanpa aplikasi. Tanpa target. Hanya untuk memastikan bahwa ia masih bisa bergerak jika mau. Angin malam menyentuh wajahnya. Mesin motor berdengung stabil.
Ia berhenti di lampu merah. Menunggu lagi.
Lampu akhirnya hijau. Ia melaju.
Untuk pertama kalinya sejak peninjauan itu, Kusuma merasa sedikit lebih tenang. Bukan karena masalahnya selesai, tapi karena ia menyadari satu hal yang tidak bisa diambil sistem darinya dengan notifikasi.
Tubuhnya masih miliknya.
Dan selama itu masih benar, ia tahu menunggu ini tidak akan sepenuhnya menghabiskannya. Tapi ia juga tahu, jika peninjauan ini berlarut, ia tidak hanya akan kehilangan pekerjaan. Ia bisa kehilangan cara ia mengenali dirinya sendiri.