NovelToon NovelToon
Harmoni Lembah Biru "Kazumi Flora"

Harmoni Lembah Biru "Kazumi Flora"

Status: tamat
Genre:Romansa / Fantasi Wanita / Tamat
Popularitas:46
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Namaku Kazumi Flora. Dengan tinggi 154 cm, aku mungkin tampak mungil di tengah megahnya Lembah Biru, namun jiwaku seluas dan sedalam danau ini. Sejak kecil, alam adalah rumahku, dan bunga-bunga adalah sahabatku. Setiap helai kelopak, setiap hembusan angin, dan setiap riak air danau menyimpan cerita yang tak pernah usai aku dengarkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 11

Langkahku terasa berat saat memasuki pelataran Menara Sunyi. Udara di sini begitu hampa, seolah-olah kebahagiaan adalah konsep yang tidak pernah ada. Di depan gerbang besi yang menjulang, Sang Raja berdiri dengan keangkuhan yang mutlak. Rantai biru di tangannya berdenyut menyakitkan, dan aku bisa merasakan rintihan Kaelen di dalam jiwaku setiap kali rantai itu ditarik.

Aku menatap Ren dan memberikan isyarat mata yang sangat tipis. Ren mengangguk kecil, jemarinya bergerak cepat di balik punggungnya, memutar kuas ajaibnya dengan presisi seorang maestro.

"Berhenti!" teriakku, melangkah maju ke hadapan Sang Raja. "Lepaskan Kaelen. Kau menginginkan inti cahaya Penjaga Bunga, bukan? Ambillah aku, dan biarkan putra yang kau benci itu pergi."

Sang Raja menyipitkan mata, senyum meremehkan tersungging di bibirnya. "Sebuah pengorbanan cinta yang klise. Kau yakin, Gadis Kecil?"

"Aku yakin," ucapku mantap. Aku membiarkan Pedang Bunga Perakku menghilang dan berlutut, menundukkan kepala seolah menyerah.

Namun, itu adalah tipu muslihat. Saat Sang Raja melangkah mendekat untuk mencengkeram leherku, Ren menyelesaikan lukisannya. Wush! Sebuah ilusi Kaelen yang tampak sangat nyata muncul di sisi kiri menara, berteriak memanggil ayahnya. Sang Raja terkejut dan mengalihkan perhatiannya selama satu detik yang sangat krusial.

"Sekarang, Kazumi!" teriak Ren.

Aku melompat berdiri, namun sasaranku bukan Sang Raja. Aku melesat menuju rantai cahaya yang terhubung ke jantung Kaelen. Dengan sisa tenaga dari sayap cahaya Pippin, aku mengayunkan tinjuku yang sudah dilapisi energi bunga Han murni untuk memutus ikatan itu.

Tiba-tiba, ruang di antara kami bergetar. Sebuah retakan cahaya muncul di udara, dan dari dalamnya, sosok yang sangat kukenal melangkah keluar. Ibu.

Ia tidak lagi mengenakan daster rumah yang sederhana, melainkan jubah putih bersulam bunga Han emas, persis seperti dalam lukisan di gua. Di tangannya, ia membawa sebuah cermin perak kecil yang memancarkan cahaya suci.

"Sudah cukup, Malakor!" suara Ibu menggema, menyebut nama asli Sang Raja. "Kau sudah mencuri satu pangeran dari duniaku, kau tidak akan mendapatkan yang kedua!"

Ibu mengarahkan cermin itu ke arah Sang Raja. Cahaya yang terpantul dari cermin itu bukanlah cahaya biasa, melainkan proyeksi dari semua kasih sayang dan kehidupan di Lembah Biru. Sang Raja berteriak kesakitan, zirah hitamnya mulai retak terkena cahaya murni tersebut.

"Kazumi! Gunakan darahmu pada rantai itu! Hanya cinta dari keturunan Penjaga yang bisa memutus kutukan keluarga mereka!" seru Ibu.

Aku tidak ragu lagi. Aku menggigit ujung jariku hingga mengeluarkan setetes darah merah yang berpendar kebiruan, lalu menyentuhkannya pada rantai yang menahan Kaelen.

TINGG!

Rantai itu pecah menjadi ribuan kepingan kristal. Di puncak menara, suara dentuman keras terdengar saat pintu sel Kaelen hancur. Sebuah bayangan biru melesat jatuh dari ketinggian, mendarat tepat di antara aku dan Sang Raja.

Itu Kaelen. Meskipun tubuhnya penuh luka dan napasnya tersengal, matanya bersinar dengan api biru yang tak terkendali. Ia segera menarikku ke dalam pelukannya, melindungiku dari ledakan amarah ayahnya.

"Ibu... kau datang?" bisikku tak percaya.

"Ibu tidak pernah benar-benar meninggalkanmu, Nak," Ibu tersenyum, meski peluh membanjiri wajahnya. "Tapi Raja ini... dia tidak bisa dibunuh di dunianya. Kita harus menyeretnya kembali ke gerbang dan menyegelnya di sana selamanya!"

Sang Raja menggeram, tubuhnya mulai membesar, berubah menjadi wujud monster bayangan yang jauh lebih mengerikan dari Shadow Golem tadi. "KALIAN SEMUA AKAN MATI DI SINI!"

Kaelen berdiri di sampingku, menggenggam tanganku erat. Kekuatan bayangannya dan kekuatan bungaku menyatu, menciptakan aura ungu yang luar biasa kuat.

"Bersiaplah, Kazumi," bisik Kaelen, suaranya kembali dalam dan penuh wibawa. "Ini adalah tarian terakhir kita di dunia ini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!