Seorang pembaca muak dengan novel bacaannya yang dimana para antagonis jenius dengan latar belakang tragis selalu kalah konyol oleh Long Tian, protagonis yang menang hanya bermodal "Keberuntungan Langit".
Saat bertransmigrasi ke dalam novel, dia menjadi Han Luo, NPC tanpa nama yang ditakdirkan mati di bab awal, ia menolak mengikuti naskah. Berbekal pengetahuan masa depan, Han Luo mendirikan "Aliansi Gerhana". Ia tidak memilih jalan pahlawan. Ia mengumpulkan para villain yang seharusnya mati dan mengubah mereka menjadi senjata mematikan.
Tujuannya satu: Mencuri setiap peluang, harta, dan sekutu Long Tian sebelum sang protagonis menyadarinya.
"Jika Langit bertindak tidak adil, maka kami akan menjadi Gerhana yang menelan Langit itu sendiri." Ini adalah kisah tentang strategi melawan takdir, di mana Penjahat menjadi Pahlawan bagi satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Topeng Kulit Hantu
Satu bulan berlalu seperti kilatan pedang.
Sekte Pedang Awan berubah menjadi kawah bertekanan tinggi. Di setiap sudut, murid-murid berlatih dengan mata merah kurang tidur. Suara benturan logam dan teriakan latihan bergema dari pagi hingga malam. Tidak ada yang mau kehilangan kesempatan masuk ke Lembah Naga.
Bagi Han Luo, satu bulan ini adalah siklus neraka yang terukur.
Minggu 1: Dia menghabiskan 30 Batu Roh untuk membeli bahan Pil Penembus Qi dari pasar gelap. Dia meraciknya sendiri di Ruang Alkimia No. 7. Karena ini pertama kalinya, 3 tungku meledak. Wajahnya hangus selama seminggu, tapi dia berhasil membuat 5 butir pil kualitas rendah. Cukup.
Minggu 2: Dia menelan kelima pil itu sekaligus. Kegilaan. Rasa sakitnya membuat dia muntah darah hitam selama dua hari, tapi dinding penghalang kultivasi Tingkat 5 hancur berkeping-keping. Status: Pembentukan Qi Tingkat 6.
Minggu 3: Dia fokus melatih Tarian Naga Merah. Dia menemukan cara untuk memadatkan Api Bumi ke dalam botol giok khusus (hasil modifikasi botol racun) agar bisa dibawa-bawa. Sekarang dia punya "Tangki Bahan Bakar Portabel" untuk cambuk apinya, meski hanya bertahan 3 kali serangan.
Minggu 4: Ini adalah minggu terpenting. Anggrek Wajah Hantu di markas alkimia akhirnya mekar sempurna.
Bunganya berwarna hitam legam dengan corak merah darah yang membentuk wajah tersenyum mengerikan. Baunya seperti besi.
Han Luo tidak memetik bunganya. Sesuai instruksi Sutra Seribu Wajah yang baru terbuka di ingatannya, dia harus memakan Kelopak Hantu.
Malam sebelum turnamen, Han Luo duduk di markas rahasianya.
Dia memetik satu kelopak hitam itu. Teksturnya licin dan dingin seperti kulit manusia basah.
"Demi penyamaran sempurna," bisik Han Luo, lalu memasukkannya ke mulut.
Rasanya pahit, lalu pedas, lalu... mati rasa.
Lidah, tenggorokan, dan wajahnya kehilangan sensasi.
Tiba-tiba, kulit wajahnya terasa "terlepas". Bukan secara harfiah, tapi secara konsep. Wajahnya menjadi seperti kanvas kosong yang bisa dia lukis sesuka hati tanpa perlu menahan rasa sakit pergeseran tulang lagi.
Dia memvisualisasikan wajah baru: Seorang pemuda tampan dengan mata tajam dan aura dingin. Wush. Dalam satu detik, wajahnya berubah. Tanpa rasa sakit. Tanpa konsumsi Qi yang boros.
"Durasi: 24 Jam penuh tanpa henti," Han Luo menyentuh pipi barunya yang halus. "Dan aura kultivasiku bisa disembunyikan hingga dua tingkat di bawah aslinya secara permanen."
Dia mengembalikan wajahnya ke bentuk Han Luo yang asli (biasa saja, agak pucat).
Sekarang, dia siap.
Hari H - Arena Utama Sekte Pedang Awan.
Matahari terbit di ufuk timur, menyinari arena batu raksasa yang dikelilingi oleh ribuan kursi penonton. Bendera sekte berkibar gagah. Ratusan murid luar berbaris di lapangan, aura mereka bercampur aduk menciptakan tekanan udara yang berat.
Di tribun utama, para Tetua duduk dengan wajah serius. Di tengah-tengah mereka, duduk Tetua Agung Feng (Kakek Sapu yang dulu) yang menatap ke bawah dengan mata tajam. Di sebelahnya, berdiri Peri Lin yang cantik dan dingin.
"Banyak bibit bagus tahun ini," komentar Tetua Feng.
Han Luo berdiri di barisan belakang, berbaur dengan massa. Dia menekan auranya agar terlihat stabil di Tingkat 4 (sebenarnya Tingkat 6).
Di depannya, dia melihat punggung yang familiar.
Long Tian.
Aura pemuda itu tebal dan stabil. Tingkat 4 Puncak.
"Dia naik tingkat lagi," batin Han Luo. "Obat Peri Lin dan latihan gilanya membuahkan hasil. Fisiknya mungkin setara dengan Tingkat 5."
Di sisi lain lapangan, Liu Feng berdiri dikelilingi pengawal. Dia memegang pedang barunya yang berkilau (yang sudah diolesi Minyak Api Ular buatan Han Luo). Wajahnya penuh percaya diri.
Dan di sudut yang agak terpencil, Han Luo melihat seorang pelayan yang membawa nampan minuman untuk para peserta. Pelayan itu berjalan pincang sedikit.
Mata Han Luo menyipit. Pelayan itu memakai topeng kulit manusia kualitas rendah.
Itu Fang Yu.
"Dia benar-benar menyusup ke sini," Han Luo menahan tawa. "Tuan Muda Sekte Iblis jadi tukang air di turnamen sekte lurus. Jika ayahnya tahu, dia akan muntah darah."
Fang Yu tampaknya sedang mencoba mendekati Long Tian, mungkin untuk memberikan dukungan moral atau informasi.
TENG!
Gong raksasa dipukul.
Seorang wasit terbang ke tengah arena.
"TURNAMEN DIMULAI!"
Suara wasit menggelegar.
"Aturannya sederhana! 500 orang di atas panggung! Bertarunglah sampai tersisa 50 orang! Siapapun yang jatuh dari panggung atau pingsan, GUGUR!"
Kerumunan menjadi riuh. Battle Royale adalah cara tercepat dan terbrutal untuk membuang sampah.
"MULAI!"
BOOM!
Dalam sekejap, arena meledak menjadi kekacauan. Bola api, bilah angin, dan teriakan kesakitan memenuhi udara.
Han Luo tidak bergerak. Dia berdiri diam di tengah badai serangan.
Seorang murid bertubuh besar dengan kapak berlari ke arahnya. "Mati kau, Han Luo si Lemah!"
Han Luo hanya menggeser kakinya satu inci ke kiri. Kapak itu menghantam lantai batu di sampingnya.
Han Luo tidak mencabut pedang. Dia hanya mengulurkan tangan, menepuk punggung murid itu.
Sentuhan Lumpuh.
Murid itu tiba-tiba kaku, matanya melotot, lalu jatuh tersungkur seperti batang kayu.
Han Luo terus bergerak santai, menghindari setiap serangan dengan margin tipis, membuat lawannya terlihat bodoh karena selalu meleset sedikit. Dia tidak menyerang secara mencolok. Dia hanya... ada di sana, mengalir seperti air di antara batu.
Sementara itu, di sisi lain arena, Long Tian sedang mengamuk.
"Haaa!"
Long Tian memutar pedang besinya, menciptakan angin puyuh yang melempar tiga musuh sekaligus. Dia bertarung seperti banteng. Jujur, keras, dan penuh tenaga.
"Hebat!" sorak murid-murid pekerja yang menonton.
Dan Liu Feng?
Dia sedang pamer. Setiap kali pedangnya beradu, ledakan api kecil (efek minyak Han Luo) muncul, membuat lawannya panik.
"Lihat! Pedang Api Kakak Liu Feng!" "Sangat kuat!"
Liu Feng tertawa sombong. "Siapa lagi yang berani melawanku?!"
Han Luo melihat semua itu dari sudut matanya sambil menghindari tendangan nyasar.
"Nikmatilah panggungmu, badut-badut," batin Han Luo. "Tunggu sampai asap mulai mengepul."
Dia merogoh sakunya. Dia mengambil satu butir Bola Hantu kecil.
Dia menjentikkannya ke tengah kerumunan yang paling padat, tepat di antara kelompok Liu Feng dan kelompok Long Tian yang mulai mendekat.
POOF!
Asap hitam pekat meledak di tengah arena.
"Ugh! Apa ini?!" "Serangan racun?!" "Mataku!"
Kekacauan meningkat sepuluh kali lipat. Di dalam asap itu, tidak ada kawan atau lawan. Semua orang mulai memukul membabi buta.
Han Luo tersenyum di balik lengan bajunya.
"Saatnya memancing di air keruh."
Dia meluncur masuk ke dalam asap. Targetnya bukan menang. Targetnya adalah mengambil kantong penyimpanan murid-murid kaya yang lengah di dalam asap itu.
Turnamen ini bukan tentang kejayaan bagi Han Luo. Ini adalah Panen Raya.