NovelToon NovelToon
Obsesi Rahasia Pak Dosen

Obsesi Rahasia Pak Dosen

Status: tamat
Genre:Obsesi / Dosen / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:29.2k
Nilai: 5
Nama Author: shadirazahran23

Lima tahun lalu, Zora hanyalah mahasiswi biasa di mata Dimas. Kini, ia adalah obsesi yang tak bisa ia lepaskan.

Dimas adalah dosen Ekonomi yang kaku dan dingin. Baginya, segala sesuatu harus terukur secara matematis. Namun, rumusnya berantakan saat sang ibu memboyong Zora,mantan mahasiswi yang kini sukses menjadi juragan kain untuk tinggal di rumah mereka setelah sebuah kecelakaan hebat.

Niat awal Dimas hanya ingin membalas budi karena Zora telah mempertaruhkan nyawa demi ibunya. Namun, melihat kedewasaan dan ketangguhan Zora setiap hari mulai merusak kontrol diri Dimas. Ia tidak lagi melihat Zora sebagai mahasiswi yang duduk di bangku kelasnya, melainkan seorang wanita yang ingin ia miliki seutuhnya.

Zora mengira Dimas masih dosen yang sama dingin dan formal. Ia tidak tahu, di balik sikap tenang itu, Dimas sedang merencanakan cara agar Zora tidak pernah keluar dari rumahnya.

"Kau satu-satunya yang tak bisa kulogikakan,Zora!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 Rumah Bagi Orang Ketiga

Suara tawa itu seketika mati, tersedot oleh keheningan yang menyesakkan saat mata Dimas dan Wulan beralih pada sosok Zora yang berdiri mematung di ambang pintu.

Dimas perlahan menurunkan gadis kecil itu dari gendongannya. Ekspresi wajahnya yang tadi hangat berubah datar dalam sekejap,sebuah topeng dingin yang sulit ditembus.

"Zora," suara Dimas terdengar rendah, seolah mencoba menekan ketegangan yang mulai menguar.

Wulan, yang berdiri di sana dengan keanggunan yang menyakitkan mata, justru mengulas senyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata, namun penuh dengan kilat kemenangan. "Ini siapa, Dim?" tanyanya dengan suara lembut yang dibuat-buat.

Zora merasa lidahnya kelu. Ia menatap gadis kecil yang kini bersembunyi di balik kaki Wulan, lalu beralih pada Dimas yang masih berdiri kaku.

"Mas... siapa mereka?" tanya Zora. Suaranya bergetar hebat meski ia berusaha keras mencengkeram jemarinya sendiri agar tetap tenang.

Dimas melangkah mendekat, hendak menyentuh bahu Zora, namun Zora refleks mundur satu langkah. Penolakan itu membuat rahang Dimas mengeras, kilat tak suka melintas di matanya.

"Zora, ini Wulan. Dan itu... Safira," ucap Dimas singkat, tanpa penjelasan lebih jauh. Ia melirik ke arah Wulan, sebuah kode tersembunyi yang membuat suasana kian ganjil.

Wulan melangkah maju, tangannya terjulur elegan. "Halo, aku Wulan," ucapnya dengan nada yang sangat ramah, seolah mereka hanya sedang berkenalan di sebuah pesta.

Jantung Zora rasanya berhenti berdetak. Ia menatap Dimas sebentar, mencari kejujuran di mata suaminya, namun yang ia temukan hanyalah kekosongan. Dengan tangan yang terasa dingin membeku, Zora nyaris menyambut uluran tangan itu saat suara kecil memecah segalanya.

"Papa..." Gadis kecil itu menarik pelan ujung kemeja Dimas, menatap pria itu dengan binar rindu.

Dunia Zora runtuh saat itu juga. Panggilan itu,satu kata sederhana yang menghantam dadanya lebih keras daripada hantaman benda tumpul mana pun.

"Papa?" Zora mengulang kata itu dengan tawa getir yang dipaksakan. Matanya mulai berkaca-kaca, namun ia menolak untuk menangis di depan wanita itu. "Mas, apa aku tidak salah dengar? Anak ini... memanggilmu apa?"

Dimas menarik napas panjang. Ia menatap Zora dengan tatapan tajam,intensitas yang sama saat ia mencium Zora tadi, namun kini terasa begitu asing dan mengancam.

"Zora, kita bicarakan ini di dalam. Sekarang," ucap Dimas. Bukan sebuah ajakan, melainkan titah yang tak boleh dibantah.

*

Kini, ketiga orang dewasa itu terjebak dalam keheningan yang menyesakkan di ruang tamu. Zora hanya bisa terpaku, matanya tak lepas dari gadis kecil yang sejak tadi bergelayut manja di lengan Dimas. Di sisi lain gadis itu, Wulan duduk dengan tenang, menciptakan sebuah potret keluarga kecil yang sempurna,sebuah ironi yang menghunjam jantung Zora hingga ke dasarnya.

Zora merasa dunianya terbalik; seolah dialah orang asing, orang ketiga yang mengganggu kebahagiaan mereka.

"Aku tidak bisa lama-lama di sini, Dim. Aku harus segera pergi. Semua kebutuhan Safira sudah kusiapkan di dalam koper," ucap Wulan memecah keheningan dengan nada santai, seakan menitipkan barang, bukan seorang anak.

Wulan kemudian menoleh pada Zora, melempar senyum yang terlihat penuh simpati namun terasa merendahkan. "Oh ya, Zora... maafkan aku. Aku tahu kehadiranku mungkin membuatmu tidak nyaman. Tapi kuharap kau bisa mengerti, karena bagaimanapun... Safira adalah anak Dimas."

"Wulan, cukup. Jangan bercanda," potong Dimas dengan nada berat, ada peringatan dalam suaranya.

"Lho, menurutmu aku sedang bercanda?" Wulan tertawa renyah, sebuah tawa yang terdengar sangat menyakitkan di telinga Zora. "Oke, oke, Dim. Ya sudah, aku pergi sekarang."

Tanpa basa-basi, tanpa penjelasan lebih lanjut, dan bahkan tanpa secuil kata maaf yang tulus, Wulan beranjak begitu saja. Ia melangkah keluar dengan ringan, meninggalkan Safira di rumah itu, membiarkan Zora tenggelam dalam badai pertanyaan yang tak terjawab.

Sepeninggal Wulan yang meninggalkan tanya tanpa penjelasan, Zora masih berdiri mematung. Matanya menatap tajam ke arah Dimas yang masih digelayuti manja oleh Safira.

"Mas, bisa jelaskan padaku sekarang? Apa semua yang dikatakan Wulan itu benar?" tanya Zora. Suaranya bergetar, selapis bening mulai menggenang di pelupuk matanya.

Ia beralih menatap gadis kecil berambut keriting itu. Tatapannya sulit diartikan,ada perih yang menghunjam, namun ada iba yang terselip. Ingin marah, tapi ia tahu gadis itu tak berdosa. Bagaimanapun, Safira hanyalah seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa tentang badai yang ia bawa.

Namun, hati Zora tak bisa berbohong. Ribuan pertanyaan berputar di kepalanya, menuntut jawaban yang sejak tadi disembunyikan.

"Tenanglah dulu. Aku akan jelaskan semuanya," ucap Dimas, mencoba mendekat dengan nada tenang yang justru terdengar menyebalkan di telinga Zora. "Yang jelas, ini tidak seperti yang kamu pikirkan, Zora. Antara aku dan Wulan... kami tidak ada apa-apa. Safira itu..."

"Semua sudah jelas, Mas," potong Zora cepat, memutus kalimat Dimas sebelum pria itu sempat mengarang alasan. "Aku sudah tahu siapa Safira. Kamu tidak perlu repot-repot menjelaskan bagian itu lagi."

Dimas tertegun. Rahangnya mengeras, dan sorot matanya yang tenang seketika berubah tegang. "Apa maksudmu?"

"Maksudku... hubungan kita sepertinya harus dipikirkan lagi. Aku tidak mau merusak kebahagiaan sebuah keluarga kecil hanya karena aku menjadi orang ketiga di dalamnya. Aku menyerah, Mas."

Deg.

Jantung Dimas seakan berhenti berdetak saat itu juga. Dunianya yang selama ini ia kendalikan dengan sempurna, mendadak runtuh di depan mata.

"Apa maksudmu, Zora? Aku benar-benar tidak mengerti!" suara Dimas meninggi, ada nada kepanikan yang jarang ia tunjukkan.

"Semuanya berakhir di sini, Mas. Cukup."

Zora langsung berbalik dan berlari dengan linangan air mata yang tak terbendung lagi menuju kamar. Setiap langkahnya terasa berat, seolah ia sedang menginjak serpihan hatinya sendiri yang baru saja hancur.

"Sayang! Tunggu! Dengarkan penjelasanku dulu!" teriak Dimas. Ia melepaskan pegangan Safira dan bergegas mengejar istrinya.

Namun, ia terlambat.

BRAK!

Pintu kayu itu terbanting keras tepat di depan wajah Dimas, menciptakan sekat tebal yang tak kasat mata di antara mereka. Dimas mematung di depan pintu yang terkunci rapat, sementara dari dalam kamar, suara isak tangis Zora pecah,menyayat kesunyian rumah yang kini terasa asing.

Di luar, Safira kecil hanya bisa menatap punggung ayahnya dengan bingung, sementara di dalam kamar, Zora merosot di balik pintu, memeluk lututnya dalam kegelapan. Kebahagiaan yang mereka rajut saat makan siang tadi, kini benar-benar menjadi abu.

Bersambung...

Apa yang akan kalian lakukan kalau jadi Zora?

1
Ila Aisyah
penggelapan uang perusahaan, pembunuhan berencana ayah dimas
Shifa Burhan
inilah enak pemeran utama wanita, berbuat salah tapi segampang itu dimaafkan dan kesalahan hal sepele

zora
*pergi (minggat) dari rumah tampa izin dan sepengetahuan suami kesalahan fatal
*lebih percaya orang lain dari pada suami, ingat asas kepercayaan wanita yang lebih berkoar2
*membuat suami cemas, bingung, khawatir,
*dia enakan tidur, suami tapi suami dia biarkan kayak orang bodoh, alasan HP mati, tinggal colok cas, hidupkan hubungi suami, ini malah enak2an tidur, kayak tidak ada beban sama sekali
*setelah melakukan banyak kesalahan dengan enteng dia merasa aman saja, zora pakai otak kau tidak mau memaafkan dengan mudah kesalahan suami tapi ketika kau salah kau semudah itu dimaafkan

thor mohon lah berlaku adil, jika sang suami buat salah tidak mudah dimaafkan dan dibuat berjuang dulu baru dimaafkan maka adil lah juga ketika sang istri melakukan kesalahan buat juga tidak semudah itu dimaafkan buat juga berjuang,

buang jauh jauh pemikiran yang selalu menormalisasi semua kesalahan pemeran utama wanita,


adil tidak membuat novel jelek tapi malah membuat novel bertambah berkelas
Shifa Burhan: dan thor jangan sepelekan kesalahn zora karena ini adalah kesalahan yang berulang2, zora bukan belajar dari kesalahan sebelum nya tapi malah makin jadi seenak karena dia merasa author membela dia dengan membuat dimas selalu jadi budak cinta yang Terima saja diperlakukan seperti apa saja

thor adil terhadap sang wanita dan sang pria, berlalu netral lah, author harus berdiri adil, buang jauh2 sudut pandang wanita saja
total 1 replies
Dodoi Memey
Dimas maen cium aja cepet banget nyosornya
Dodoi Memey
Thor keren banget dimasnya calon suami siaga
Dodoi Memey
sepertinya Dimas blom pernah berdekatan sama cewek
shadirazahran23: dia pernah naksir sahabatnya Zora lo 🤣
total 1 replies
Dodoi Memey
tambah seru lanjutkan
Dodoi Memey
asyiikkk seru
Wiwi Sukaesih
kebiasaan Zora kalau ad apa" g pernh nanya lngsung
g bljr dr msalt kemarin
Rahayu Ayu
Kalau Zora srkalu berasumsi buruk senditi tanpa bertanya dan mendengarkan apapun alasan dari Dimas,
itu membuat Zora terlihat kekanakan dan selalu mendrama.
Acih Sukarsih
mulai konflik
Tamirah Spd
Thor kalau ingin menciptakan konflik Dimas dan Zora, kenapa hrs ada akta dlm dompet yg tertera namae Wulan anak Wulan dan Dimas ....?.yg sama sama nama Dimas beda nama belakang .Kan Janggal Dimas menyimpan akta sahabat nya dlm dompet mereka hanya sahabat.walau kesannya jadi salah paham dikira Dimas punya anak dgn Wulan.Tetap gak etis nyimpan akta org lain dalam dompet apa lagi anak nya Wulan panggil papa..... wesss angelllll.
Rahayu Ayu
Aq kira yg datang mengganggu Nesa atau Wulan, ternyata malah Mira si biang kerok, mungkin harapan Mira bisa bekerja di perusahaan Dimas, agar bisa mendekati Dimas lagi,
tapi entah peketjaan apa yg sudah di siapkan sandi, jadi tukang fotokopi atau malah jadi cleaning servis.
Rahayu Ayu: Ga terlalu penasaran amat sih kak.
yg penting jangan ada lagi gangguan buat RT mereka.
total 2 replies
Rahayu Ayu
Antara Nesa atau Wulan
soalnya keduanya ada hubungannya dengan Dimas,
Nesa sepupunya Dimas,
sedangkan Wulan walaupun teman yg baik tapi teman lucnat juga🤭
Rahayu Ayu
Posesif boleh, itu menandakan kalau kamu adalah orang yg sangat mencintai dan menjaga pasangan mu,
tapi, jangan sampai keposesif an mu ,malah membuat pasangan mu ilfil.
Ila Aisyah
loooo,,, iku yg membuat merinding disko 😛,,,
Wiwi Sukaesih
nah Lo ad LG penggemar zora.😁
Wiwi Sukaesih
ahh dkra spa yg bela Zora dh parno aj
ternyata paksu Dimas 😍
shadirazahran23: Matanya Dimas kaya Elang
total 1 replies
Marini Suhendar
Bos Dimas 🤭
Acih Sukarsih
dimas
Wiwi Sukaesih
pelajaran untuk Zora klw bertanya itu jgn dlm hati y sung tny k.orgny.jgn suudzon...
y Dimas persiapan 👍
shadirazahran23: Ia betul.Setelah ini Insya Allah Zor lebih dewasa dalam bersikap
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!