Dibuang karena bukan anak laki-laki, Sulastri dicap aib keluarga, lemah, sakit-sakitan, tak diinginkan.
Tak seorang pun tahu, dalam nadinya berdenyut kuasa Dewi Sri, sang Dewi Kehidupan. Setiap air matanya melayukan keserakahan, setiap langkah kecilnya menghidupkan tanah yang mati.
Saat ayahnya memilih ambisi dan menyingkirkan darah dagingnya sendiri, roda takdir pun mulai berputar.
Karena siapa pun yang membuang berkah, tak akan luput dari kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aduh, Ada Musibah Lagi
"Kalau keluar rumah itu sing ati-ati, mata dan telinga dipasang baik-baik. Jangan grusa-grusu. Kalau ada masalah yang sekiranya nggak bisa dilawan sendirian, mending pulang, lapor sama Abah. Jangan nekat nyetor nyawa konyol!"
Abah Kosasih menatap tajam putra sulungnya, Kang Jaka, sambil membetulkan letak peci hitamnya yang sudah agak lusuh.
Suara jangkrik di pekarangan rumah panggung mereka masih terdengar nyaring, menandakan hari masih buta.
"Nggih, Bah. Abah tenang saja. Jaka bukan anak kecil lagi. Jaka tahu mana yang bisa dihadapi, mana yang harus dihindari. Kalau Jaka nggak sanggup, Jaka pasti lari pulang minta petuah Abah," jawab Kang Jaka sambil mengangguk takzim.
Dia paham betul watak bapaknya yang selalu penuh perhitungan.
"Ya sudah, sana balik ke kamar. Tidur lagi sebentar biar badan seger pas berangkat nanti," ujar Abah Kosasih pelan.
Malam itu terasa berat.
Setelah semua rencana dibahas, hanya kepasrahan yang tersisa.
Kang Jaka kembali ke kamarnya, disusul istrinya, Mira, yang tampak cemas.
Di kamar sebelah, Kinar Hidayat duduk di tepi ranjang besi tua yang catnya mulai mengelupas.
Ia menatap putrinya, yang sedang tertidur pulas.
Kinar merebahkan tubuhnya perlahan, mengecup kening bocah lima tahun itu. Seolah merasakan kehadiran ibunya, Tari menggeliat kecil dan memeluk lengan Kinar erat-erat.
"Anakku sayang... Ibu bakal lindungi kamu, Nduk. Apapun caranya," bisik Kinar lirih sebelum matanya terpejam.
Malam itu, Tari bermimpi buruk. Dalam tidurnya, ia melihat bayangan hitam besar berbentuk macan dan ular berbisa yang hendak menerkamnya.
Namun, ada pelukan hangat yang menahannya, dan suara lembut membisikkan, 'Ojo wedi, Nduk. Jangan takut.'
Suara geraman binatang buas dalam mimpi itu membuatnya marah, bukan takut.
Langit di ufuk timur belum sepenuhnya terang ketika Tari terbangun.
Kokok ayam jantan baru terdengar satu-dua kali.
Dari balik dinding anyaman bambu, terdengar suara bisik-bisik di halaman depan.
Lalu, suara tapak kaki kuda beradu dengan tanah berbatu.
Tuk... tuk... tuk...
Tari turun dari ranjang, menyeret langkah kecilnya ke jendela nako yang sedikit terbuka.
Di keremangan subuh, ia melihat punggung Pakdhenya sedang memacu Jantur, menjauh dari desa.
Mata batin Tari yang bening tiba-tiba melihat kabut hitam pekat menghadang jalan Pakdhenya di kejauhan.
Ada marabahaya.
Ada jebakan.
Tanpa pikir panjang, Tari memejamkan mata.
Ia memusatkan rasa hangat di dadanya, membayangkan cahaya keemasan terbang menyusul Kang Jaka.
Gusti, lindungi Pakdhe... batinnya.
Seberkas cahaya tipis yang tak kasat mata melesat, menempel di punggung Kang Jaka.
Seketika itu juga, bunga melati di pot depan jendela yang tadinya kuncup, mendadak mekar sempurna, namun Tari langsung terduduk lemas.
Kepalanya pening, matanya berat sekali.
"Hoaaam..." Tari menguap lebar.
Ia teringat mimpinya semalam.
Dulu, saat masih tinggal di rumah gedong ayahnya di Jakarta Selatan, ia juga sering bermimpi Suryo Wibowo, ayah kandungnya, terluka.
Dulu ia selalu mengirim doa dan energi keberuntungan untuk ayahnya itu. Tapi sekarang, ia tahu Suryo Wibowo adalah orang jahat yang ingin menghancurkan hidup mereka.
Pasti ada yang nggak beres.
Pakdhe Jaka nggak mungkin pergi pagi buta kalau nggak ada masalah gawat.
Orang-orang dewasa ini menyembunyikan masalah darinya karena takut ia sakit lagi.
Tari memegangi dadanya yang berdegup kencang, lalu kembali naik ke kasur, pura-pura tidur.
Tak lama kemudian, Budhe Mira masuk.
"Nduk, bangun yuk. Udah siang."
Tari duduk manis, membiarkan rambutnya disisir. Diam-diam ia mengamati wajah Budhenya. Aman. Nggak ada tanda bahaya di wajah Budhe.
Pakdhe memang bakal susah, tapi berkahku tadi pasti bikin dia selamat.
Di luar, Kinar dan Abah Kosasih sibuk menaikkan dagangan ke atas gerobak sapi.
Panci berisi adonan baso ikan dan kerupuk tulang ikan sudah tertata rapi.
"Tari, ayo sarapan dulu," Mak Sari menyodorkan telur rebus hangat ke tangan cucunya.
"Hari ini ikut ke pasar ya."
Abah Kosasih mengangkat tubuh kecil Tari ke atas gerobak sapi yang dialasi jerami.
"Lho, Jantur mana, Bah? Kok naik sapi?" tanya Tari pura-pura polos.
"Jantur dipinjam orang sebentar, Nduk. Hari ini kita naik 'taksi' sapi dulu ya," jawab Kinar lembut, menutupi kenyataan yang sebenarnya.
Tari diam saja, tapi hatinya bergejolak.
Ayah jahat itu pasti lagi bikin ulah. Dia mau memutus rejeki Ibu, memaksa Ibu menyerah dan memulangkanku.
Dia mau pakai kekuasaan dan uangnya buat injak-injak keluarga Hidayat.
Bagus. Kita lihat saja nanti.
Menang mana, nasib baikku atau duit harammu.
Gerobak sapi bergoyang pelan menyusuri jalan desa yang berbatu.
Di atas tumpukan jerami tempat Tari bersandar, tanpa ada yang menyadari, batang-batang jerami kering itu perlahan berubah warna menjadi hijau segar kembali.
Sementara itu, di sebuah rumah mewah bergaya kolonial di kawasan elite Jakarta Selatan.
Seorang pria berjas rapi masuk ke ruang kerja Suryo Wibowo dengan tergesa-gesa.
Suryo sedang duduk di kursi kulitnya yang mahal, menyesap kopi sambil membaca koran.
"Lapor, Pak Bos. Kinar Hidayat hari ini tetap jualan seperti biasa di pasar kabupaten," lapor pria itu.
Wajah Suryo Wibowo mengeruh.
"Perempuan udik itu benar-benar keras kepala. Nggak punya otak."
Tak lama kemudian, ajudan lain masuk dengan napas ngos-ngosan, wajahnya pucat pasi.
Ia langsung berlutut di lantai marmer yang dingin.
"Maaf, Juragan! Lapor! Laki-laki yang bawa kuda Juragan... lolos."
"Apa?!" Suryo menggebrak meja mahoninya hingga cangkir kopinya bergetar.
"Goblok! Kalian itu preman bayaran atau kerupuk kena air?! Satu orang kampung saja nggak bisa ditangkap?!"
Suryo sudah mengatur semuanya.
Ia sudah menyuap oknum aparat di perbatasan kota.
Siapapun dari keluarga Hidayat yang lewat akan ditangkap dengan tuduhan mencuri kuda pacu miliknya , si Jantur.
"Dia... dia licin banget, Pak. Kudanya itu lho, Pak... kayak setan. Kayak ngerti kalau mau ditangkap, tiba-tiba nyeruduk dan lari kencang banget lewat jalan tikus," ajudan itu beralasan dengan suara gemetar.
Suryo memijat pelipisnya yang berdenyut.
Dua saudaranya, Bagyo dan Darso, yang ikut menumpang hidup di rumah itu, tampak cemas.
"Mas Suryo, dulu itu kuda pincang harusnya langsung dipotong aja jadi sate. Kalau mati kan nggak bakal jadi masalah kayak gini," gerutu Bagyo.
"Diam kamu!" bentak Suryo.
"Itu kuda kesayanganku biarpun pincang. Masalahnya bukan di kudanya, tapi di keluarga Hidayat yang maling! Kalau si Jaka itu lolos, dia bisa sembunyiin barang bukti. Rencanaku nekan Kinar jadi berantakan!"
Matanya menyipit, memancarkan aura kejam khas orang yang gila hormat.
"Tapi tenang saja. Perangkapku nggak cuma satu. Hari ini, suruh orang-orang yang di pasar bergerak. Bikin ribut. Aku mau nama Kinar hancur sehancur-hancurnya, sampai dia ngesot minta ampun di kakiku!"
"Mas Suryo yakin mau pakai cara kotor begitu? Kinar itu kan... ya bagaimanapun pernah jadi istrimu. Nanti kalau Mas menyesal, jangan salahin kita lho," tanya Bagyo ragu-ragu.
Ia tahu betul kakaknya ini posesif. Bekas miliknya, pantang dimiliki orang lain.
Suryo mendengus, asap rokok kretek mengepul dari mulutnya.
"Dia itu cuma orang asing sekarang. Jangan samakan dia dengan keluarga kita. Dia yang cari gara-gara. Dikasih enak malah milih hidup susah. Kalau dia jadi sukses dagang baso ikan itu, orang bakal ngetawain aku. Dikira aku yang nggak becus ngurus istri. Pokoknya, matikan usahanya!"
"Siap, Mas. Kalau Mas udah bilang begitu, beres. Kita bikin Kinar menyesal seumur hidup sudah melawan Keluarga Wibowo," sahut Darso sambil menyeringai licik.
Di perbatasan kota, di balik rimbunnya pohon jati.
Kang Jaka mengusap keringat dingin di dahinya. Ia bersembunyi di semak-semak.
Jantungnya berdegup kencang. Ia tak menyangka Suryo Wibowo sejahat ini. Ada razia di depan sana, dan dia dengar orang-orang itu mencari "pencuri kuda".
"Jelas ini jebakan..." gumam Jaka.
Kalau dia tertangkap membawa Jantur, tamat riwayatnya.
Masuk penjara, dan Kinar pasti dipaksa menyerahkan Tari sebagai jaminan.
Jaka menatap Jantur, kuda hitam yang kini napasnya juga tersengal.
"Tur, Jantur... Nasibmu kok ya apes. Tuanmu yang lama itu emang nggak punya hati," bisik Jaka sambil mengelus surai kuda itu.
Anehnya, Jantur menundukkan kepala, menggosokkan hidungnya ke telapak tangan Jaka, seolah mengerti ucapan itu.
"Tur, kamu tunggu di sini ya. Di balik bukit ini aman. Jangan bersuara. Nanti malam aku jemput lagi," pinta Jaka seolah bicara pada manusia.
Jantur mengangguk.
Benar-benar mengangguk.
Jaka terbelalak, tapi tak punya waktu untuk kaget.
Ia mengikat tali kekang Jantur longgar-longgar di pohon beringin, lalu menyelinap pergi lewat jalan setapak para pencari kayu bakar.
Matahari mulai condong ke barat. Pasar Kabupaten mulai sepi.
Tari duduk di bangku kecil dekat gerobak, matanya berat sekali menahan kantuk.
Energinya terkuras habis untuk melindungi Pakdhe Jaka dari jauh tadi pagi.
Samar-samar, ia melihat aura hitam pekat menyelimuti dahi ibunya.
Aduh, ada musibah lagi... batin Tari.
Tapi matanya tak sanggup lagi terbuka. Ia tertidur dengan kepala terkulai di meja lapak.
Kinar baru saja hendak membereskan panci dagangan ketika tiba-tiba suasana pasar menjadi gaduh.
"Minggir! Minggir!"
Sekelompok preman pasar bertampang garang datang membelah kerumunan.
Di tengah-tengah mereka, berjalan seorang pria gemuk pendek dengan kalung emas segede rantai kapal, diikuti seorang wanita bergincu tebal yang berpakaian norak.
Pria gemuk itu berhenti tepat di depan lapak Kinar.
"Nah, ini dia! Siap-siap, Bu Kinar! Ayo ikut abang pulang!" seru si pria gemuk sambil menyeringai, memamerkan gigi emasnya.
Wajah Kinar pucat.
"Maksudnya apa ini? Saya nggak kenal Situ!"
Abah Kosasih langsung pasang badan, menghalangi Kinar.
"Heh, jangan sembarangan ya! Ini negara hukum! Sampeyan mau apa ganggu anak saya?"
Pria gemuk itu tertawa mengejek, lalu membungkuk dengan gaya yang dibuat-buat.
"Waduh, Bapak Mertua... Kenalkan, nama saya Juragan Danang. Saya ke sini bukan mau jahat, Pak. Saya mau jemput calon istri saya."
"Gila kamu!" bentak Abah Kosasih.
"Siapa yang sudi jadi istrimu!"
"Lho, jangan galak-galak dong, Bah," sahut Juragan Danang santai.
Ia meludah ke tanah lalu berkata lantang agar seluruh pasar mendengar.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu! Dengar semua! Istri saya di rumah mati keracunan setelah makan baso ikan buatan perempuan ini!" telunjuknya menuding Kinar.
Orang-orang pasar terkesiap.
Bisik-bisik mulai terdengar.
"Saya sudah lapor polisi! Tapi saya ini orangnya baik hati," lanjut Danang sambil menepuk dadanya.
"Saya nggak minta ganti rugi uang. Tapi karena istri saya mati gara-gara dia, dan dia ini janda kembang yang belum punya laki, ya sudah! Sesuai hukum rimba, nyawa bayar nyawa! Atau... dia gantiin posisi istri saya di kasur! Kebetulan anak saya ada tiga, butuh emak baru!"
Juragan Danang menatap Kinar dengan tatapan menjijikkan.
Ia sudah lama mengincar janda cantik mantan istri pejabat ini.
"Mumpung dia janda, saya duda. Cocok kan? Ayo, Bu Kinar, jangan malu-malu. Di rumah sudah saya siapkan pelaminan!"
Juragan Danang mengeluarkan secarik kertas lecek dari sakunya.
"Nih, surat pernyataan saksi palsu, eh maksud saya, saksi mata. Kalau nggak mau ikut saya sekarang, kita ke kantor polisi. Pilih mana? Masuk penjara atau masuk kamar saya?"
Kinar gemetar hebat, air matanya hampir tumpah karena marah dan takut.
Abah Kosasih mengepalkan tangan tuanya, siap berkelahi meski tahu akan kalah.
Tiba-tiba, suara anak kecil terdengar lantang dan dingin, membelah ketegangan.
"Siapapun yang berani bawa Ibuku, langkahi dulu mayatku! Kamu pikir kamu siapa? Coba saja sentuh Ibuku seujung kuku, kalau nggak mau disambar petir sampai gosong, terus keturunanmu sial tujuh turunan!"
Sri Lestari berdiri di atas bangku kayu.
Wajahnya yang tadi mengantuk kini merah padam penuh amarah.
Matanya menatap tajam ke arah Juragan Danang.
Seketika itu juga, langit yang tadinya cerah mendadak berubah gelap gulita.
Awan hitam bergulung-gulung tepat di atas pasar.
Angin kencang bertiup, menerbangkan terpal-terpal pedagang.
Gledek!
Suara petir menggelegar dahsyat, membuat Juragan Danang dan para premannya melompat kaget dan mundur ketakutan.