Ruby, gadis cantik berusia 27 tahun terpaksa harus menikah dengan seorang pria dingin dan kejam bernama Arkana Rafassya, pria yang memiliki paras yang sangat tampan dan idaman para kaum hawa. Arka, begitulah dia biasa dipanggil, sebenarnya sudah memiliki seorang kekasih yang juga sangat cantik jelita seperti namanya, yaitu Jelita. Arka sangat mencintai Jelita, tapi karena sebuah insiden di mana dia ditemukan sedang berduaan di sebuah kamar dengan Ruby, terpaksa dia harus menikah dengan gadis itu dan berpisah dengan Jelita. Arka menuduh insiden itu adalah rencana licik Ruby agar bisa menikah dengannya, karena dia yakin kalau Ruby itu wanita yang haus akan kekayaan dan ingin hidup mewah. Karena alasan itu, membuat Arka sangat membenci Ruby dan sama sekali tidak pernah menghargai wanita yang sudah menjadi istrinya itu. Pria itu bahkan masih berharap ingin kembali pada Jelita. Bagaimana kelanjutannya? apa benar Ruby seperti yang dipikirkan oleh Arka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosma Sri Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takut
Waktu berjalan begitu cepat, tidak terasa sudah hampir 3 minggu Ruby meninggalkan kediaman Arka. Tubuh pria itu terlihat sedikit kurus karena selama tiga minggu itu, pria itu kehilangan selera makannya. Bahkan pria itu juga sering tidak fokus dalam bekerja sehingga pekerjaan semua banyak diserahkan pada sang asisten dan Adijaya kembali ikut turun tangan.
"Sayang, bagaimana keadaanmu?" tanya Jelita, dari jarak yang sedikit jauh, karena sampai sekarang Arka selalu merasa mual dekat dengannya, padahal dia juga sudah mengganti parfum yang dia pakai, berulangkali. Wanita itu, sekarang sudah berani memanggil Arka dengan sebutan sayang, sama seperti dulu.
"Sudah agak mendingan," sahut Arka, melihat ke arah Jelita sekilas kemudian kembali menatap dokumen yang ada di depannya. Entah kenapa, di mata pria itu tidak tampak adanya rasa cinta lagi saat menatap Jelita.
"Bagaimana dengan masalah perceraianmu dengan Ruby? apa kamu sudah mengajukannya ke pengadilan?" seperti biasa, Jelita tidak pernah bosan untuk menanyakan hal itu.
"Bisa tidak kita bicarakan hal itu lain kali? kamu tahu sendiri bagaimana kondisiku belakangan ini kan? please jangan terus mendesakku!" Arka yang sudah mulai merasa jengah dengan pertanyaan Jelita, menutup dokumen dengan sedikit kasar, dan nada suara yang kesal. Reaksi Arka tentu saja membuat Jelita terkesiap kaget.
"Kenapa kamu jadi marah? aku pantas kan menanyakan hal itu? Kamu sendiri yang memberikan hari lagi padaku, padahal aku sudah hampir bisa melupakan kejadian itu. Sekarang,rasa cintaku sudah kembali dan justru semakin besar padamu,tapi kamu bersikap seakan-akan tidak peduli lagi padaku. Apa kamu ingin kembali menyakitiku?" jurus yang sama kembali dimainkan oleh Jelita. Karena dia tahu, kalau dirinya mengungkit kisah lalu, Arka akan merasa bersalah.
Benar saja, sesuai dugaan Jelita, Arka terlihat mengusap wajahnya dengan kasar dan terlihat menyesal sudah bersikap sedikit kasar pada Jelita.
"Maaf, Sayang. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya sedang pusing, karena banyak hal yang terjadi belakangan ini ditambah dengan Perusahaan yang juga mengalami kerugian yang tidak sedikit karena kondisiku. Jadinya aku gampang marah," ujar Arka dengan nada lirih.
"Ya udah, aku maafin kamu. Entah kenapa aku selalu tidak bisa lama-lama marah padamu," Jelita tersenyum manis dan disambut dengan senyum manis pula dari Arka.
"Tapi, bagaimanapun aku butuh kepastian dari kamu, Sayang. Kalau kamu belum menceraikan Ruby, bagaimana kita bisa menikah?" Jelita kembali memasang wajah sedih.
Arka menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali ke udara. "Baiklah! secepatnya aku akan urus ya!" pungkas Arka akhirnya, hingga membuat senyum Jelita semakin berkembang sempurna.
"Yes, akhirnya. Tidak sia-sia aku pintar berakting," bisik Jelita pada dirinya sendiri.
"Terima kasih, Sayang!" ucap Jelita, bahagia.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, Ruby dan Tiara baru saja selesai makan malam bersama di restoran milik Tiara. Berbanding terbalik dengan Arka, Ruby kini terlihat sedikit gemukan, dan itu dapat dilihat dari pipi wanita itu yang sedikit chubby. Perut Ruby juga terlihat sudah sedikit membuncit mengingat usia kandungannya sudah memasuki usia dua bulan dan ada tiga bayi di dalamnya. Namun, perut Ruby tidak terlihat karena wanita itu sengaja memakai pakaian yang cukup besar.
"Ayo, Ruby aku antarkan kamu pulang. Kamu butuh istirahat!" Tiara berdiri dari tempat duduknya dan meraih tangan sahabatnya itu.
"Emm, kamu nggak capek ya! aku pulang sendiri aja ya! aku bisa kok," tolak Ruby, merasa tidak enak pada sahabat yang sudah banyak membantunya itu.
"Kamu ini macam siapa saja. Ayo aku antar. Kamu nggak boleh membantah!"tegas Tiara tak terbantahkan.
"Ya udah deh,ayo. Ruby akhirnya tidak bisa membantah, karena dia tahu kalau Tiara pasti akan marah kalau dia masih bersikeras untuk membantah.
Kedua sahabat itu akhirnya melangkah bersama menuju tempat di mana mobil Tiara terparkir.
"Bagaimana, keadaan keponakan-keponakanku di dalam sana? apa mereka nakal?" Tiara mencoba mengajak Ruby untuk bercanda sembari melajukan mobilnya.
"Kami baik-baik saja, Tante. Kami kan sayang sama Mama, jadi kami tidak mau menyusahkan, Mama," sahut Ruby, dengan menggunakan bahasa anak kecil seakan bayinya yang menjawab pertanyaan Tiara tadi.
"Anak-anak pintar," ucap Tiara sembari mengusap perut Ruby.
"Ra,coba lihat rumah kosong itu!" Ruby tiba-tiba menunjukkan sebuah rumah kosong, yang di pekarangannya sudah dipenuhi dengan rumput yang memanjang.
"Kenapa emangnya dengan rumah itu?" Tiara mengrenyitkan keningnya.
"Kalau dilihat itu sepertinya angker, tapi ternyata setelah aku pikir-pikir, dompet kosong itu lebih angker," sahut Ruby, membuat tawa Tiara pecah.
"Kamu lagi nggak punya uang ya? pakai muter-muter segala mau bilang tidak punya duit," ucap Tiara di sela-sela tawanya.
"Aku merasa tidak enak padamu, Ra. Kamu sudah banyak membantuku. Aku sudah meminta, agar aku bisa bekerja di restoranmu, tapi kamu menolak. Jadi, bagaimana aku bisa dapat uang? Kalau aku melamar pekerjaan di tempat lain, Emangnya siapa yang mau menerima wanita hamil sepertiku?" raut wajah Ruby kini kembali terlihat sedih.
"Sebenarnya, aku juga sangat ingin pergi jauh dari kota ini, Ra.Tapi, aku sama sekali tidak punya uang. Kalau aku meminta padamu, aku benar-benar seperti orang yang tidak tahu diri," ucap Ruby yang tentu saja hanya berani dia ucapkan dalam hati.
"Ruby, bukannya aku sudah mengatakan kalau kamu butuh sesuatu, kamu bicara aja padaku. Untuk sekarang, kenapa aku tidak mengizinkan kamu bekerja di restoranku, itu karena kandunganmu masih muda. Aku tidak mau, terjadi sesuatu apapun pada kandunganmu. Jadi, tunggu kandunganmu kuat ya, baru kamu bekerja dan itupun hanya yang ringan-ringan saja.
Ruby tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih ya,Tante!" ucap Ruby kembali menirukan suara anak kecil.
"Sama-sama, Sayang Tante," sahut Tiara, kembali mengusap perut Ruby.
Sekitar 15 menit kemudian, mobil yang dikemudikan oleh Tiara berhenti di depan rumah yang ditempati oleh Ruby.
"Nah, sekarang kita sudah sampai. Ayo kita turun!" ucap Tiara dengan riang sembari membuka sabuk pengamannya. Namun sama sekali tidak ada respon dari Ruby.
"Ruby kamu kenapa?" tanya Tiara, begitu melihat wajah sahabatnya yang sekarang terlihat pucat melihat ke depan.
"Ra, i-itu ada Mas Arka dan Jelita!" Tiara sontak melihat ke arah Ruby menatap. Mata wanita itu, juga membesar melihat dua orang yang disebutkan oleh Ruby.
"Mau apa mereka berdua ke sini? dari mana mereka tahu kamu tinggal di sini?" Tiara mencengkram kuat kemudi.
"A-aku tidak mempermasalahkan hal itu. Yang aku takutkan adalah mereka tahu aku hamil. Coba kamu lihat, apa perutku sangat terlihat buncitnya?" tanya Ruby, sembari menahan tangis. Wanita itu benar-benar takut sekarang.
"Tidak sama sekali. Beruntung kamu memakai pakaian yang besar ini. Sekarang ayo kita turun. Kamu jangan tunjukkan kalau kamu sedang ketakutan, agar mereka tidak curiga. Kamu tenang saja, ada aku yang akan melindungimu," ucap Tiara dengan tegas dan berapi-api.
Tbc