Follow IG @Lala_Syalala13
Anya, seorang gadis miskin yang bekerja sebagai pelayan, tak sengaja menyelamatkan Marco Valerius, bos mafia kejam yang sedang sekarat akibat pengkhianatan.
Terpikat oleh kemurnian Anya yang tulus, Marco yang posesif memutuskan untuk "membeli" hidup gadis itu.
Ia menghancurkan dunia lama Anya dan mengurungnya dalam kemewahan sebagai bentuk perlindungan sekaligus kepemilikan.
Di tengah ancaman maut dari musuh-musuh Marco, Anya terjebak dalam sangkar emas, berjuang antara rasa takut dan ketertarikan pada pria yang terobsesi menjadikannya milik selamanya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya???
Yukkkk kepoin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OSRM BAB 25_Bersembunyi
"Segera. Tapi sampai saat itu tiba, kita harus tetap tidak terlihat," Marco menatap Anya dengan intensitas yang membuat napasnya tertahan.
"Kamu sudah melakukan lebih dari cukup, Anya. Jika mereka datang sebelum Bram sampai... serahkan aku pada mereka. Bilang kalau aku menculikmu dan mereka mungkin akan melepaskanmu." ucap Marco.
"Kamu.... Mereka tidak akan melakukannya, Marco!" bentak Anya pelan.
"Kamu tahu Antonio akan membunuh siapapun yang berhubungan denganmu, jangan berpura-pura menjadi martir sekarang, kita masuk ke lubang ini bersama-sama, dan kita akan keluar bersama-sama." seru Anya.
Marco terdiam, sebuah perasaan yang lebih kuat dari obsesi mulai menjalar di dadanya.
Ia menyadari bahwa ia tidak lagi hanya ingin memiliki Anya tapi ia ingin Anya bertahan hidup, bahkan jika itu berarti tanpa dirinya.
"Anya," panggil Marco lembut.
"Apa?"
"Mendekatlah."
Anya menurut, Marco mencium tangan Anya yang kasar karena bekerja hari itu.
"Aku mencintaimu, Anya. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa sangat menyesal karena telah membawamu ke dalam duniaku yang penuh darah ini." ucap Marco dari lubuk hati yng paling dalam.
Itu adalah pengakuan yang paling tulus yang pernah Marco ucapkan, tidak ada paksaan, tidak ada aura dominasi, hanya seorang pria yang menyadari kesalahannya di hadapan wanita yang ia puja.
Anya tidak menjawab dengan kata-kata, ia hanya menyandarkan kepalanya di bahu Marco yang tidak terluka, membiarkan keheningan malam dan suara hujan membungkus mereka.
Tiba-tiba, suara deru mesin mobil terdengar dari kejauhan, membelah kesunyian Muara Sunyi.
Cahaya lampu sorot terlihat menyapu pepohonan bakau dari arah jalan setapak menuju desa.
Anya dan Marco saling berpandangan. Ketegangan kembali memuncak.
"Mereka di sini," desis Marco.
Anya segera berdiri memadamkan lampu minyak di kamar itu, di tengah kegelapan ia menggenggam sebuah pisau dapur kecil yang diberikan Mak Salma tadi sore.
Ia tidak tahu apakah pisau itu bisa melawan senapan mesin, tapi ia tahu satu hal yaitu ia tidak akan membiarkan Marco diambil tanpa perlawanan.
Sangkarnya kini bukan lagi apartemen mewah atau pulau pribadi.
Sangkarnya adalah kesetiaan yang lahir dari tragedi dan malam ini di Muara Sunyi Anya Clarissa akan membuktikan bahwa cahaya yang paling terang sekalipun bisa menjadi sangat berbahaya ketika terdesak dalam kegelapan.
Suara deru mesin mobil itu bukan lagi sekadar halusinasi dari rasa takut Anya.
Cahaya lampu sorot yang tajam membelah kegelapan malam Muara Sunyi, menyapu jajaran pohon bakau dan memantul di atas permukaan air muara yang tenang.
Desa yang biasanya hanya mengenal suara deburan ombak dan jangkrik itu kini dipenuhi oleh kebisingan yang mengancam.
Anya berdiri mematung di tengah kegelapan kamar, jantungnya berdegup kencang, seolah-olah ingin melompat keluar dari dadanya.
Di atas kasur tipis Marco mencoba untuk bangkit, wajahnya meringis menahan sakit yang luar biasa saat luka-lukanya kembali tertarik, namun matanya memancarkan keganasan yang tak kunjung padam.
"Kamu dengar itu?" bisik Marco, suaranya parau.
"Kamu pergi sekarang Anya lewat jendela belakang dan turun ke air, Pak Yusuf pasti punya sampan kecil di bawah sana." seru Marco.
Anya menggeleng keras, ia mendekati Marco dan menekan bahunya agar pria itu tetap berbaring.
"Tidak. Aku tidak akan meninggalkanmu dalam kondisi seperti ini, kamu bahkan tidak bisa berdiri tanpa gemetar, Marco!"
"Jangan bodoh!" Marco mencengkeram lengan Anya, cukup kuat untuk menunjukkan urgensinya.
"Mereka tidak akan menunjukkan belas kasihan, jika mereka menemukanku maka mereka akan membunuh siapapun yang ada di rumah ini. Pergilah selagi mereka masih sibuk menggeledah dermaga depan!"
Anya menatap mata Marco dengan tatapan yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya yaitu sebuah tatapan penuh tekad yang lahir dari keputusasaan.
"Kalau kamu mati maka semua pengorbananku di pulau itu tidak ada artinya, aku sudah memilih untuk menyelamatkanmu sekali, dan aku tidak akan mengubah keputusan itu sekarang. Diamlah dan biarkan aku berpikir." seru Anya.
Di luar kepanikan mulai melanda, suara sepatu bot yang berat menghantam jalanan kayu desa terdengar bersahutan.
Mak Salma dan Pak Yusuf terdengar berbisik tegang di ruang depan, Anya tahu waktu mereka sangat singkat.
"Anya, Nak... mereka mulai masuk ke rumah-rumah!" suara Mak Salma terdengar bergetar dari balik pintu kamar.
Anya segera bertindak, ia melihat ke sekeliling ruangan yang sempit itu.
Tidak ada lemari besar untuk bersembunyi, satu-satunya celah adalah bagian bawah rumah panggung ini, namun air sedang pasang dan lumpurnya sangat dalam.
Marco dalam kondisi demam tinggi tidak akan bertahan di sana.
Mata Anya tertuju pada tumpukan jaring nelayan tua dan karung-karung goni berisi garam yang ada di sudut kamar.
"Marco, aku butuh kamu untuk tetap diam. Apa pun yang terjadi, jangan bersuara." perintah Anya.
Dengan sisa tenaganya, Anya membantu Marco turun dari kasur dan berbaring di sudut ruangan yang paling gelap.
Ia menumpuk karung-karung goni di sekeliling Marco, menciptakan semacam dinding penghalang, lalu menutupinya dengan jaring nelayan yang tebal dan berbau amis.
Anya sendiri segera mengambil sebuah sarung tua milik Mak Salma.
Ia melilitkan sarung itu di kepalanya, menutupi sebagian wajahnya, dan mengoleskan sedikit arang dari tungku dapur ke pipi dan dahinya.
Ia harus terlihat seperti gadis desa biasa yang sedang ketakutan.
Baru saja ia selesai, pintu depan rumah didobrak terbuka.
BRAKK!
"Mana dia?!" sebuah suara berat dan kasar menggelegar.
Anya keluar dari kamar dengan langkah gemetar yang dibuat-buat, kepalanya menunduk dalam.
Di ruang tamu ia melihat Pak Yusuf dan Mak Salma sedang dipaksa berlutut oleh dua pria berseragam hitam lengkap dengan senjata laras panjang.
Di tengah ruangan, berdiri seorang pria dengan bekas luka bakar di lehernya Siro, salah satu letnan kepercayaan Antonio yang dikenal kejam.
"Kami tidak tahu siapa yang Tuan cari!" isak Mak Salma, aktingnya sangat meyakinkan karena rasa takutnya memang nyata.
"Hanya ada kami dan keponakan kami di sini!" seru Mak Salma.
Siro mengalihkan pandangannya pada Anya, ia berjalan mendekat, setiap langkahnya membuat lantai kayu berderit ngeri.
Ia mengangkat dagu Anya dengan ujung laras pistolnya.
"Keponakan, ya?" desis Siro.
Matanya yang dingin menyisir wajah Anya yang kotor.
"Kenapa wajahmu tertutup seperti itu, Manis? Apa yang kamu sembunyikan?" serunya dengan curiga.
Anya tidak berani menatap mata pria itu, ia hanya terisak kecil, tubuhnya sengaja ia buat gemetar lebih hebat.
"Aku... Aku sakit kulit tuan, jangan dekati aku nanti Tuan tertular," jawab Anya dengan dialek lokal yang ia coba tiru sebisa mungkin.
Siro tertawa, suara tawa yang kering dan tanpa perasaan. "Sakit kulit? Atau mungkin kamu sedang menyembunyikan luka dari ledakan di pulau?"
Siro mendorong Anya ke samping dan melangkah menuju kamar belakang dimana kamar tempat Marco bersembunyi.
Anya merasa jantungnya berhenti berdetak, ia melirik ke arah tumpukan jaring di pojok kamar saat Siro masuk.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
tapi di sini yg bikin aku kesel Anya ngk mau dengerin omongan Marco
ceritanyabagus
ibu kasih bunga wes Thor 🌹lanjut lg seru nih salam👍💪