"Apakah kamu kira tempurung pantas merangkai permata? Mana mungkin anakku pantas bersanding dengan gadis miskin tak berpunya seperti dirimu!"
Runi ternhenyak menahan segala rasa akit di hatinya atas hinaan yang di lontarkan oleh nenek dari bayi yang di kandungnya.
"Mas, kamu akan bertanggung jawab 'kan?" tanya runi pada lelaki yang telah menodai dirinya. meskipun ia sangat mencintai lelaki itu, tetapi tak pernah ada niat sedikitpun untuk melakukan perbuatan dosa. semua yang terjadi karena paksaan oleh lelaki itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di bela suami
"Kamu mau ngapain, Runi?" Tanya Bik Sumi saat melihat Runi ikut sibuk di dapur.
"Ah, aku mau membuatkan sarapan untuk mas Yandra, Bik," jawabnya dengan senyuman.
"Lho, nggak usah. Biar Bibik saja yang melakukannya. Kamu istirahat saja di kamar," ujar Bibik merasa tidak enak. Karena sekarang Runi bukan lagi pembantu di rumah ini. Di tambah peringatan dari tuan Saga. Tak ada yang boleh memerintah Runi sebagai pembantu. Karena sekarang Runi sudah menjadi menantu dari tuan majikan.
"Nggak pa-pa, Bik. Aku hanya melakukan tugasku sebagai seorang istri. Lagian cuma kerja seperti ini tidak berat sama sekali," jawab Runi santai.
"Tapi Bibik takut di marahi sama Ibu atau mas Yandra."
Runi tersenyum mendengar ucapan Bik Sumi. "Nggak perlu takut seperti itu, Bik. Sejak kapan Mama dan mas Yandra peduli sama aku? Kecuali Papa, dan Papa juga tidak pulang kesini 'kan?" Ujar Runi. Ia sudah hafal sekali jadwal pulang ayah mertuanya itu. Maklum saja memiliki istri dua, maka harus bisa membagi waktu dan bersikap adil.
"Baguslah jika kamu sadar diri. Makanya jadi istri itu nggak usah manja dan suka mengeluh," sahut nyonya Emeli yang sudah ada di belakang Runi.
"Eh, ada Mama. Mama mau aku buatkan sarapan sekalian?" Sapa Runi tersenyum manis menghadapi ibu mertuanya yang julid.
"Nggak usah, nggak sudi mama makan masakan kamu," jawabnya sinis.
"Yakin mama nggak sudi? Padahal sebelum aku nikah sama mas Yandra, mama suka banget dengan masakan aku?" Sahut Runi menanggapi santai.
"Ya itu kan kemarin-kemarin. Sekarang nggak mau lagi."
"Iya deh, besok-besok aku masakin untuk Mommy Amira saja. Kayaknya sekarang Papa lebih sering pulang ke rumah mommy Amira. Mungkin pelayanan mommy lebih baik dari mama. Hehe," ujar Runi membuat mata Nyonya Emeli membola.
"Apa maksud kamu bicara seperti itu hah? Kamu mau jadi kompor di hubungan kami?"
"Aish, santai dong, Ma. Cepat sekali meradang. Aku aja santai meskipun di perlakukan tidak baik oleh suami dan ibu mertua."
"Ada apa ini ribut-ribut?" Tanya Yandra ikut melipir karena mendengar suara berisik di dapur.
"Wanita ini semakin hari semakin berani sama Mama. Mimpi apa aku mempunyai menantu modelan seperti kamu ini?" Ujar wanita itu menatap garang pada Runi.
Runi hanya terkekeh kecil mendengarnya. Ia kembali fokus menyeduh secangkir kopi hitam untuk suaminya.
"Aku itu tidak akan berani bicara nyeleneh bila tidak di pancing duluan, Ma. Sikap aku tergantung bagaimana orang memperlakukan aku. Nggak peduli dia siapa. Walaupun ibu mertuaku sekalian!" Tekan Runi seraya berjalan melewati suami dan ibu mertuanya.
Nyonya Emeli menatap Yandra dengan tatapan ingin meminta keadilan. Namun, yang di tatap hanya berwajah acuh.
"Kamu hanya bisa diam saja saat istrimu bersikap tidak sopan pada Mama? Mama minta setelah anak itu lahir kamu segera menceraikannya," ujarnya kesal sekali.
Yandra menghela nafas dalam. "Sudahlah, Ma. Ini masih terlalu pagi untuk berdebat." Yandra segera berlalu dari hadapan sang Mama.
"Itu kopinya, Mas," ucap Runi berdiri dan hendak melayani Yandra di meja makan.
"Aku bisa ambil sendiri," tolak Yandra mengambil alih piring di tangan Runi.
Runi hanya mengangguk dan kembali duduk di kursi semula. Ia memperhatikan wajah Yandra yang tengah serius dengan makanan di hadapannya. Tak berminat untuk makan juga.
"Kamu nggak makan?" Tanya Yandra demi melihat wanita itu hanya memperhatikan dirinya.
Runi menggelengkan kepala. "Nggak selera makan."
"Makan sedikit saja. Jangan di turutkan segala malas kamu," intrupsi Yandra.
"Nanti saja," jawabnya masih enggan.
Yandra tak lagi menggubris. Setelah selesai sarapan ia pamit pada Runi.
"Aku berangkat dulu. Nanti jangan mangkir lagi dari kesepakatan kita," ujarnya yang di jawab dengan anggukan oleh Runi.
"Mas?" Panggil wanita itu membuat Yandra kembali memutar tubuhnya.
"Ada apa?"
"Jika bayi yang aku kandung terbukti anak kamu, apa yang akan kamu lakukan?" Tanyanya ingin tahu.
"Tentunya akan bertanggung jawab terhadap bayi itu," jawab Yandra datar.
"Apakah kamu akan menyayanginya?"
"Pertanyaan seperti apa itu? Tentu saja aku akan menyayanginya. Sudahlah, aku tidak ingin mendengar pertanyaan anehmu setiap pagi." Yandra segera beranjak meninggalkan Runi yang masih terpaku di tempat duduknya.
Bersambung....