"DAVINNNN!" Suara lantang Leora memenuhi seisi kamar.
Ia terbangun dengan kepala berat dan tubuh yang terasa aneh.
Selimut tebal melilit rapat di tubuhnya, dan ketika ia sadar… sesuatu sudah berubah. Bajunya tak lagi terpasang. Davin menoleh dari kursi dekat jendela,
"Kenapa. Kaget?"
"Semalem, lo apain gue. Hah?!!"
"Nggak, ngapa-ngapain sih. Cuma, 'masuk sedikit'. Gak papa, 'kan?"
"Dasaaar Cowok Gila!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raey Luma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semuanya, Davin!
Sementara itu, koridor sekolah terasa lebih riuh dari biasanya. Langkah Leora menyusuri lantai ubin dingin dengan perasaan yang sedikit lebih ringan.
Angin segar, begitu yang ia rasakan. Setelah kejadian di rumah sakit dan percakapan semalam, ia pikir setidaknya hari ini akan berjalan normal.
Atau… setidaknya ia berharap begitu.
Namun begitu memasuki kelas, semua rencana itu runtuh, bukan karena sesuatu terjadi.
Melainkan karena… semua orang membicarakan Davin. Seolah dunia tak bisa membiarkan Leora lepas darinya satu hari saja.
“Eh, kalian lihat postingan di grup sekolah? Davin katanya bakal hiatus untuk beberapa saat sampai kesehatannya pulih.”
“Yang kemarin cedera tangan itu kan?”
“Iya, iya — Davin. Kasian banget ya dia.”
Leora berhenti di ambang pintu.
Davin. Lagi.
Nama itu seolah jadi gema.
Semua meja. Semua sudut. Bahkan semua bibir seolah hanya punya satu topik.
Ia melangkah masuk, berpura-pura santai. Senyum tipis seperti topeng yang sudah terlalu sering ia pakai.
Namun obrolan itu hanya semakin keras.
“Katanya dia tinggal sama kerabatnya di kota sini.”
“Aku denger dia juga anak orang kaya. Tapi, kok bisa rajin banget, ya.”
“Pria bertanggung jawab gitu… tipe idaman banget gak sih?”
Ada yang memandang kagum. Ada yang ikut iba, ada juga yang terang-terangan… jatuh hati.
Leora menarik kursinya, duduk pelan. Tasnya ia letakkan di meja, namun telinganya tetap tak bisa menghindar.
“Kalau dilihat-lihat, wajahnya tuh… dewasa banget ya.”
“Aura cowok yang siap diajak nikah.”
“Iya — berasa aman aja kalo deket dia.”
Leora refleks mengepalkan jemarinya di bawah meja.
Siap nikah?
Kalau saja mereka tahu pria yang mereka kagumi itu bukan sekadar pria keren yang lewat, melainkan suami rahasianya.
Dan kini, semua orang memuja-muja Davin… seolah ia patung emas yang baru digali dari tanah.
Dan yang paling membuat Leora kesal? Mereka benar benar memuja Davin, alih-alih memuja Rey, sang kekasih.
Tiba-tiba seorang teman menepuk bahunya.
“Kok diem aja. Menurut lo gimana? Anak baru itu kelihatan keren banget kan?”
Leora mengangkat wajahnya.
Detik itu, hatinya berkecamuk.
Ia tahu semua tentang Davin, tentang masa lalunya, tentang caranya bertahan hidup, tentang luka-lukanya.
Ia tahu sisi yang tak pernah dilihat orang. Namun semakin banyak orang memuji Davin, semakin kuat rasa tak nyaman menusuk dadanya.
Bukan cemburu. Lebih seperti dorongan naluriah untuk menjaga jarak. Dan… untuk memastikan bahwa Davin tidak boleh lebih bersinar dari Rey.
Maka ia memilih jalan paling aman.
Ia tersenyum miring… lalu bersuara santai.
“Ah… orang kayak gitu ngapain sih diidolakan?”
“Gitu-gitu aja kan. Asal usulnya aja gak jelas.”
Kelas langsung hening sepersekian detik.
Beberapa temannya saling pandang.
“Loh? Rugi banget kalo lo gak suka.”
“Padahal kelihatan baik loh orangnya.”
Leora menunduk sedikit… menutupi semburat getir di matanya.
"Tadi, nanyain pendapat gue. Giliran udah gue jawab, kalian malah respon kayak gitu. Maunya apa sih?"
"Gak usah ngambek juga. Ya udah deh, gak papa kalo lo enggak suka. Seenggaknya kita enggak nambah saingan" kata salah satu temannya.
"Nah. Iya, bener banget tuh"
"Of course. Kejar aja tuh cowok kesukaan kalian. Gue sih ogah ya, udah punya Rey juga. Ngapain idolakan orang gak jelas asa usulnya." ucap Leora mengakhiri.
Bel tanda masuk, berbunyi. Beberapa siswa yang masih berada diluar berhamburan masuk.
Mereka dengan tegap menyambut guru pelajaran pertama. Bahasa Inggris.
Lima menit berlalu, akan tetapi guru itu tak muncul juga. Sekretaris kelas segera berdiri dari kursinya untuk memastikan. Namun, baru juga satu langkah, tedengar suara kepala sekolah dari sudut kelas.
Semua murid di sana terdiam, hening. Tak ada yang berani bicara, atau bergurau setidaknya.
Gemanya terdengar jelas ke seluruh koridor sekolah.
> “Perhatian untuk seluruh siswa dan siswi…
hari ini beberapa jam pelajaran akan dikosongkan.”
Seluruh kelas otomatis diam. Beberapa murid menyandar santai, mengira itu kabar biasa.
Namun nada suara yang melanjutkan…
> “Guru-guru akan menghadiri rapat internal sekaligus memberikan dukungan kepada Davin, siswa kita yang telah mengharumkan nama sekolah
dalam ajang kejuaraan basket.”
Ucap kepala sekolah langsung. Formal.
Nama Davin menggema lagi.
Di dalam kepala Leora. Rasanya seperti batang besi menancap di tenggorokannya.
Davin. Lagi.
Selalu Davin. Seolah dunia memang berputar di sekelilingnya. Padahal Leora baru saja berharap bisa bernapas. Namun ternyata… bahkan sekolah juga bukan lagi tempat aman untuknya.
> “Kami juga mengajak seluruh siswa
yang ingin memberikan dukungan atau semangat untuk Davin, agar segera melapor ke lobby utama.”
Nada suaranya penuh kebanggaan.
Kepala sekolah melanjutkan:
> “Silakan bagi yang ingin mengirimkan doa, pesan, atau bentuk perhatian lainnya. Kita harap Davin dapat segera pulih dan kembali berprestasi.”
Pengeras suara terdiam.
Namun kelas tidak.
Justru meledak, bukan histeris melainkan riuh. Penuh antusias.
“Eh, gue udah siapin cokelat kemarin…”
“Aku bikin kartu ucapan tadi malam.”
“Gue patungan jersey sama anak sebelah kelas.”
Beberapa anak membuka tas.
Bukan dadakan. Mereka sudah menyiapkannya.
Sejak kapan?
Entahlah.
Namun satu hal jelas:
Davin bukan cuma topik…
ia sudah jadi simbol.
Simbol kebanggaan dan harapan. Simbol yang semua orang dukung tanpa ragu.
Leora terdiam. Matanya menatap tumpukan barang di meja-meja sekitar.
Buket kecil. Snack pack. Uang yang dimasukkan ke amplop. Gantungan mini bola basket. Bahkan ada alat latihan pergelangan tangan.
Sebagian sudah dipersiapkan jauh sebelum pengumuman barusan.
Seolah mereka semua menunggu momen ini.
Seseorang berkata pelan,
> “Gue enggak nyangka, tapi… dia beneran jadi idola sekolah sekarang ya.”
Yang lain menjawab,
> “Dari awal masuk juga auranya udah beda.”
Tawa kecil terdengar.
Namun bagi Leora itu seperti tamparan.
Ia membeku. Punggungnya kaku. Tangan yang menggenggam pulpen terasa dingin.
Rey dan dirinya. Selama ini merekalah pasangan yang dikenal. Yang digadang-gadang dan dianggap menonjol.
Tetapi sekarang bayangan itu runtuh begitu saja.
Davin naik lebih tinggi daripada yang pernah ia bayangkan.
"Leora... Lo mau ngasih apa?" tanya teman di sebelahnya.
"Ah. Berisik banget kalian. Gue gak ada waktu buat ngasih hal begituan ke orang gak jelas" gerutu Leora kesal.
Ia segera beranjak dari bangkunya, memilih untuk keluar dari kelas itu tanpa basa basi.
Dan tepat ketika ia keluar, Rey sudah ada di sana seakan menunggunya. Wajahnya datar dan penuh tekanan.
Sepertinya ...
Rey juga merasakan hal yang sama.
"Rey?" tanya Leora.
Pria itu diam untuk sesaat, lalu berkata begini:
"Bawa tasmu" ucapnya datar, dingin.
Ada yang tidak beres. Leora tau itu.
"Tapi... Kita–"
"Hari ini jam kosong. Kita bebas pergi kemana aja" ajaknya tegas, seolah tak terima penolakan.
"Okey. Wait. Aku bawa dulu"
Leora segera masuk ke kelasnya. Ia membawa tas, menerobos ke kerumuman orang orang yang sedang menyiapkan hadiah bagi idola sekolah, katanya.
"Leora, lo mau kemana?" tanya temannya lagi.
"Ada deh. Kepo banget"
banyak" in update kak
*kenapa di novel2 pernikahan paksa dan sang suami masih punya pacar, maka kalian tegas anggap itu selingkuh, dan pacar suami kalian anggap wanita murahana, dan suami kalian anggap melakukan kesalahan paling fatal karena tidak menghargai pernikahan dan tidak menghargai istrinya, kalian akan buat suami dapat karma, menyesal, dan mengemis maaf, istri kalian buat tegas pergi dan tidak mudah memaafkan, dan satu lagi kalian pasti hadirkan lelaki lain yang jadi pahlawan bagi sang istri
*tapi sangat berbanding terbalik dengan novel2 pernikahan paksa tapi sang istri yang masih punya pacar, kalian bukan anggap itu selingkuh, pacar istri kalian anggap korban yang harus diperlakukan sangat2 lembut, kalian membenarkan kelakuan istri dan anggap itu bukan kesalahan serius, nanti semudah itu dimaafkan dan sang suami kalian buat kayak budak cinta dan kayak boneka yang Terima saja diperlakukan kayak gitu oleh istrinya, dan dia akan nerima begitu saja dan mudah sekali memaafkan, dan kalian tidak akan berani hadirkan wanita lain yang baik dan bak pahlawan bagi suami kalau pun kalian hadirkan tetap saja kalian perlakuan kayak pelakor dan wanita murahan, dan yang paling parah di novel2 kayak gini ada yang malah memutar balik fakta jadi suami yang salah karena tidak sabar dan tidak bisa mengerti perasaan istri yang masih mencintai pria lain
tolong Thor tanggapan dan jawaban?