Menceritakan kisah cinta seorang Guru Gen Z tampan bernama Dimas Aditya dengan janda muda cantik dan kaya raya bernama Wulan Anggraeni. Kedua nya di pertemukan oleh keadaan hingga akhirnya tumbuh gelombang cinta di hati mereka. Seiring berjalannya waktu, Dimas berhasil mencuri hati Wulan sekaligus menyembuhkan rasa traumanya atas kegagalannya di pernikahan pertama. Namun di satu sisi, sang mantan (Nayla) masih mengharapkan menikah dengan Dimas. Rasa sayangnya yang begitu dalam, membuat cinta segitiga di antara mereka tak terelakkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kukuh Basunanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suasana Bulan Ramadhan
Bulan suci Ramadhan telah tiba, semua orang menyambutnya dengan penuh suka cita. Bukan hanya kaum muslimin tapi juga non muslim. Tiap sore menjelang Adzan Maghrib, banyak pedagang takjil di pinggir jalan. Ada pula yang memberikan takjil dan menu berbuka puasa gratis , salah satu di antaranya adalah Wulan Anggraeni. Seorang janda muda cantik dan kaya raya dari Menteng.
Seperti biasanya, selama bulan ramadhan, ia membagikan 200 nasi box dan 200 takjil setiap sore menjelang maghrib.
"Mah, buat apa sih kita bersedekah makanan tiap menjelang buka puasa ?" tanya Azka kepada mamahnya.
"Keutamaannya banyak sekali sayang, salah satunya, pertama, Allah akan melipatkan gandakan pahala sedekah kita di bulan ramadhan dan yang kedua, orang yang memberikan makan untuk orang yang berbuka puasa, pahalanya sama seperti orang yang berpuasa tanpa mengurangi sedikit pun," ujar mamah Wulan kepada Azka.
"Mamah kok bisa pinter gitu ?" canda Azka.
"Ya mamah kan baca buku dan ikut pengajian sayang" jawab mamah Wulan.
Wulan membagikan takjil serta nasi box melalui tangannya sendiri di bantu Bandi, pak Dapu dan juga pak RT.
Banyak pengguna jalan yang mampir sejenak sekedar mengambil makanan dan minuman untuk berbuka puasa khususnya para driver ojol. Di antara mereka terlihat sumringah seraya bersyukur bisa memperoleh menu buka puasa gratis.
"Terimakasih banyak ya bu hajah, semoga rezekinya melimpah dan berkah," ujar salah satu driver ojek online kepada Wulan di hari pertama puasa.
"Aamiin, sama-sama ya pak" respon Wulan.
Seorang wanita paruh baya yang menggendong anak bayi ikut berdesakan di kerumunan demi mendapatkan menu buka puasa gratis namun sayangnya baik nasi box atau takjil telah habis. Melihat itu, Wulan merasa kasihan lalu mempersilahkan ibu itu berbuka puasa di rumahnya.
"Bu, maaf yah nasi box sama takjil nya sudah habis" ucap Wulan.
"Sebentar lagi kan buka puasa, bagaimana kalau ibu buka puasa di rumah saya aja bu ?" suara Wulan menawari wanita itu.
"Alhamdulillah, terimakasih mba, terimakasih" jawab wanita itu.
"Yuk bu kita masuk !" seru Wulan.
Suara Adzan maghrib mulai berkumandang, menandakan waktunya buka puasa. Wulan dan keluarga duduk di meja makan bersama wanita paruh baya tadi.
"Alhamdulillah," ucap Wulan.
"Bismillah," ucapnya lalu minum air putih dan makan sedikit kurma ajwa.
"Ayo bu, di minum, batalkan dulu puasanya !" seru Wulan kepada ibu itu.
"Dede bayinya biar sama bi Dijah dulu" ucap Wulan.
"Gak usah malu ya bu, anggap aja rumah sendiri"
"iya mba, terimakasih" jawab ibu itu.
"Oh ya ibu namanya siapa ?" tanya Wulan.
"Saya Tini mba" jawabnya.
"Ibu asli orang sini ?" tanya Wulan kembali.
"Saya dari Tasikmalaya mba, tadinya saya datang ke Jakarta buat cari kerjaan mba, ya siapa tau aja ada yang mau memperkerjakan saya jadi buruh cuci, tukang masak atau nyapu-nyapu tapi ternyata sama aja di Jakarta juga susah cari kerjaan bu", kata bu Tini.
"Kalau dede bayi tadi, anaknya ibu ?" tanya Wulan.
"Iya mba, anak saya 3, yang pertama SMP, yang kedua SD dan bayi tadi anak ketiga saya" jawab Bu Tini.
"Usia bayi nya berapa bulan bu ? Apa ibu gak kasihan Dede bayinya di bawa kemana-mana ?"
"Usianya baru 8 bulan mba, sebenarnya saya juga gak tega mba tapi mau gimana lagi ya mba, suami saya sudah meninggal dunia 3 bulan yang lalu, jadi saya juga harus bekerja buat nyambung hidup"
"Kalau anak saya yg pertama dan kedua sih bisa di titipkan ke adik saya di kampung tapi kalau dede bayi kan gak bisa, dia butuh ASI" ujar Bu Tini lebih lanjut.
"Bu Kita sholat Maghrib berjamaah dulu yuk !", seru Wulan.
Mereka melaksanakan sholat Maghrib berjamaah di mushola rumah Wulan yang di imami Bandi. Selepas sholat Mereka kembali lagi ke meja makan.
"Ayo bu makan yang banyak, biar ASI nya lancar !" seru Wulan kepada bu Tini.
"Ambil aja lawuk mana yang ibu suka, gak usah malu-malu bu !"
"Terimakasih ya mba, mba baik sekali, semoga kebaikannya di balas Allah" ucap bu Tini.
"Aamiin, yuk lanjut makan dulu !" seru Wulan kembali.
Usai berbuka puasa, Wulan mengajak bu Tini menuju taman di halaman rumahnya. Di tempat itu, ada kursi panjang, mereka duduk lalu berbincang kembali.
"Bu Tini, udah lama di Jakarta Bu ?" tanya Wulan.
"Baru 3 hari ini mba, sebentar lagi kan mau lebaran, saya sedang butuh kerjaan ya setidaknya biar anak-anak bisa makan dan bisa beli baju lebaran, makanya saya memilih merantau ke Jakarta bu" jawab bu Tini.
"Selama 3 hari di Jakarta, ibu tinggal dimana ?" tanya Wulan dengan serius.
"Saya tinggalnya pindah-pindah mba, biasanya tidur di masjid atau mushola, kalau makan ya seadanya bu, karna saya cuma bawa bekal uang pas-pasan" sahut bu Tini kembali.
"Kebetulan ada yang kasih info ke saya, tiap sore, selama bulan Ramadhan, ada bagi takjil dan nasi box gratis di rumah mba Wulan, jadi saya tadi ikut berdesakan, aku pikir kan bisa menghemat uang selama di Jakarta" ujar bu Tini lebih lanjut.
"Ya Allah Bu, kasihan banget dede bayinya" ucap Wulan.
"Bu Tini, bagaimana kalau ibu bekerja disini saja bu ?" tawaran Wulan kepada bu Tini.
"Yang bener mba ? Mba Wulan mau memperkerjakan saya disini ?", tanya bu Tini dengan ekspresi tersenyum bahagia.
Wulan menganggukan kepala sembari tersenyum.
"Iya, bu Tini, mulai besok sudah bisa bekerja di sini, nanti bu Tini bantu-bantu bi Dijah nyiapin sahur dan buka puasa ya bu selama bulan ramadhan" ucap Wulan.
"Kalau ada yang berantakan atau ada yg kotor di rumah ini, bu Tini langsung bersihkan ya bu, termasuk juga tugas bu Tini menyirami tanaman tiap pagi dan sore", perintah Wulan kepada bu Tini.
"Siap mba, terimakasih banyak ya mba Wulan, Alhamdulillah saya bisa ketemu dengan orang sebaik mba Wulan, semoga rezekinya bertambah berkah" ucap Bu Tini.
"Aamiin, oh ya mulai malam ini juga bu Tini bisa tidur di rumah ini, kebetulan di belakang ada satu kamar kosong, nanti Bu Tini beresin dulu yah !" seru Wulan.
"Terimakasih banyak mba Wulan, Ya Allah, terimakasih banyak akhirnya aku bisa ketemu orang baik di Jakarta", kata Bu Tini menatap wajah Wulan.
Suami mba Wulan pasti beruntung banget punya istri seperti mba Wulan, udah cantik , baik banget lagi" ucap bu Tini.
"Saya gak punya suami kok bu he.he.he", respon Wulan.
"Sama seperti Bu Tini, saya juga janda bu"
"Oh maaf ya mba, saya beneran gak tau" sahut Bu Tini.
"Gak papa kok"
"Saya cuma bisa doakan semoga Allah kasih jodoh yang terbaik untuk mba Wulan" ujar bu Tini.
"Aamiin, terimakasih doanya bu, oh ya sebentar lagi masuk waktu isya, yuk kita siap-siap buat sholat taraweh dulu !" seru Wulan.
***
Di rumah barunya, Hafidz dan Diana menjalani bulan Ramadhan perdana sebagai sepasang suami istri. Diana bangun lebih awal, ia memasak makanan kesukaan suaminya, sambal goreng tempe oreg, ayam semur dan sayur sop.
"Beb, bangun, udah jam 3, yuk Kita sahur !" seru Diana kepada suaminya.
"Eem..aku masih ngantuk beb, tapi bau nya enak banget yah, kaya ada masakan lezat nih" ujar Hafidz yang masih memejamkan mata.
"Makanya bangun sayang, aku udah masak loh masakan kesukaan kamu" ucap Diana.
Hafidz segera bangun lalu mencuci mukanya. Setelah itu, mereka menuju ke meja makan.
"Hemm .. kayanya enak nih, aku cobain yah" kata Hafidz.
"Hemm..enak banget masakan kamu sayang" puji Hafidz kepada istrinya.
"Jangan lupa, niat puasa beb !" seru Diana.
"Iya istriku sayang"
Diana mengambilkan nasi ke piring untuk suaminya.
"Ini beb, makan yang lahab ya biar puasanya lancar gak ingat yang aneh-aneh lagi" canda Diana ke suaminya.
"Oh iya lupa, aku belum mandi junub, kamu udah mandi belum beb ?" ucap Hafidz di sertai tawa kecil.
"Udah dong, tuh rambut ku masih basah, habis keramas tadi," kata Diana sembari menunjuk ke arah rambutnya yang panjang.
"Goyangan kamu enak juga ya beb, nanti malam habis sholat taraweh lagi yah" ujar Hafidz kepada istrinya.
"Udah beb, gak usah di bahas aku malu tau" jawab Diana sembari tersenyum malu.
"Nanti malam lagi yah yah yah" rayu hafidz kepada istrinya dengan mengedipkan satu matanya.
"Tapi pelan-pelan aja ya beb, sakit tau tapi enak sih"
respon Diana dengan senyum manisnya.
"Udah ah, yuk kita makan dulu nanti keburu imsak ! " seru Diana kembali.