"Tugasmu sederhana: seduh kopi hitamku tepat pukul tujuh pagi, dan pastikan aku tidak mati hari ini."
Bagi Adinda Elizabeth (23), William Bagaskara adalah tiket keluar dari kemiskinan. Pria itu arogan, dingin, dan menyebalkan. Namun, Adinda tahu bagaimana cara mematahkan leher lawan secepat ia menyeduh kopi.
Bagi William (28), Adinda adalah anomali. Seorang gadis kecil yang berani menatap matanya tanpa rasa takut, sekaligus satu-satunya orang yang rela berdarah demi melindunginya.
Di tengah intrik bisnis yang kejam dan teror yang mengintai, sebuah kontrak kerja berubah menjadi pertaruhan hati. Bisakah sang CEO angkuh luluh pada gadis yang dibayarnya untuk terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Strategi Perang di Dapur
Seminggu tinggal di rumah kontrakan Cipete, lantai rumah itu sudah sangat mengkilap sampai lalat pun bisa terpeleset.
Masalahnya, Adinda Elizabeth tidak bisa diam.
Dia terbiasa dengan jadwal latihan fisik ketat, patroli, dan siaga 24 jam. Sekarang, jadwalnya hanya kuliah tiga hari seminggu dan melukis. Energi berlebihnya tidak tersalurkan. Dia sudah memangkas rumput, memperbaiki atap bocor, mengecat pagar, bahkan menyikat kamar mandi tiga kali sehari.
"Din, please deh. Lo ngepel lantai udah kayak mau ngapus dosa. Bersih banget ini," komentar Arthur yang sedang leyeh-leyeh di karpet ruang tengah.
Hari itu hari Minggu. Arthur, Siska, dan Reni datang untuk "syukuran rumah" kecil-kecilan.
Adinda meletakkan kain pel dengan napas memburu. Keringat membasahi kaos oblongnya.
"Gue gelisah, Thur," aku Adinda jujur. Dia duduk di lantai, menyandarkan punggung ke tembok. "Kalau gue diem, otak gue jalan ke mana-mana. Gue butuh capek. Gue butuh kesibukan yang bikin gue nggak sempet mikir."
"Kuliah kan sibuk?" tanya Siska sambil mengunyah keripik.
"Kurang," jawab Adinda cepat. "Tugas seni itu butuh perenungan. Gue nggak mau merenung. Gue mau gerak."
Arthur bangkit dari posisi tidurnya. Matanya berbinar, tanda ide liar sedang muncul di otaknya.
"Lo butuh duit nggak, Din?"
"Duit sih ada tabungan. Tapi ya nggak bakal cukup kalau gue nganggur dua tahun," jawab Adinda realistis. Biaya sewa rumah ini sudah memakan porsi besar tabungannya.
"Nah!" Arthur menjentikkan jari. "Gue punya ide brilian. Lo jago masak, kan? Masakan lo waktu itu pas kita ngerjain tugas di apartemen lo enak banget. Sambal matah buatan lo itu jahat, Din. Nagih."
Adinda mengernyit. "Terus? Lo mau gue buka katering? Males ah, ribet nganternya."
"Bukan katering, dan bukan buka resto diem," Arthur menggelengkan telunjuknya. "Kita jemput bola. Jakarta lagi gila event, Din. Tiap minggu ada aja festival musik, bazaar kampus, pameran seni, sampai Car Free Day."
Arthur mengambil kertas sketsa Adinda dan mulai mencoret-coret dengan semangat.
"Kita bikin pop-up booth. Bisnis makanan dan minuman portable. Kita buka lapak di event-event itu. Modalnya patungan, untungnya bagi hasil."
Adinda menatap coretan Arthur. Gambar sebuah booth sederhana dengan spanduk nyentrik.
"Kenapa event?" tanya Adinda, mulai tertarik.
"Karena di event, perputarannya cepet," jelas Arthur antusias. "Kerjanya fisik banget. Kita harus angkat barang, masak cepet, ngelayanin ratusan orang dalam beberapa jam, teriak-teriak promosi... Cocok banget buat lo yang butuh 'perang'."
Adinda membayangkan skenario itu.
Keriuhan. Tekanan waktu. Koordinasi tim. Strategi logistik.
Itu terdengar seperti operasi militer, tapi versinya adalah memberi makan orang lapar, bukan melumpuhkan musuh.
"Masakannya apa?" tanya Reni.
"Yang simpel, cepet, tapi nendang," jawab Arthur. Dia menatap Adinda. "Rice Bowl. Ayam Suwir Sambal Matah sama Ayam Krispi Saus Telur Asin. Minumannya Mojito leci sama lemon. Gimana?"
Adinda diam sejenak, otaknya langsung menghitung.
Analisis logistik: Bahan baku mudah didapat. Persiapan bisa dilakukan H-1. Penyajian di lokasi maksimal 30 detik per porsi. Resiko basi rendah jika manajemen stok benar.
Senyum tipis mulai terbit di bibir Adinda. Matanya menyala kembali.
"Oke," kata Adinda tegas. "Gue yang pegang dapur dan operasional. Gue pastikan rasanya konsisten dan penyajiannya secepat kilat."
"Gue urus branding, desain booth, sama cari info event!" seru Arthur semangat.
"Gue sama Reni bagian marketing sosmed sama kasir!" timpal Siska tidak mau kalah.
"Nama bisnisnya apa?" tanya Reni.
Arthur berpikir sejenak, lalu menatap Adinda.
"Gimana kalau... 'Dapur Gerilya'?" usul Arthur. "Filosofinya: muncul tiba-tiba, rasanya meledak, terus hilang ninggalin kesan, pindah ke tempat lain."
Adinda tertawa. Tawa yang lepas. "Gerilya? Cocok. Gue suka."
"Deal?" Arthur mengulurkan tangan.
"Deal," Adinda menyambut jabat tangan itu dengan cengkeraman yang mantap.
Sore itu, rumah kontrakan tua di Cipete berubah fungsi.
Bukan lagi tempat persembunyian seorang gadis yang patah hati, melainkan menjadi markas komando "Dapur Gerilya".
Adinda langsung bergerak. Dia mengeluarkan buku catatan, menulis daftar belanja, menghitung modal, dan membuat skema kerja dapur. Dia memperlakukan bisnis kecil ini seperti misi pengawalan VVIP. Tidak boleh ada kesalahan. Tidak boleh ada celah.
"Thur, besok subuh temenin gue ke pasar induk," perintah Adinda dengan nada komandan. "Kita butuh ayam segar dan cabai rawit terbaik."
"Siap, Komandan!" jawab Arthur sambil hormat.
Untuk pertama kalinya dalam sebulan terakhir, saat malam tiba, Adinda tidak langsung teringat pada William. Pikirannya penuh dengan harga cabai, resep marinasi ayam, dan desain logo.
Adinda Elizabeth telah menemukan medan tempur barunya. Dan kali ini, dia bertekad untuk menang bukan demi siapa-siapa, tapi demi dirinya sendiri.
lanjut thor
lanjuuut