NovelToon NovelToon
Maira, Maduku

Maira, Maduku

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Poligami / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Nikah Kontrak / Konflik etika
Popularitas:591
Nilai: 5
Nama Author: Tika Despita

Maira yang terbiasa hidup di dunia malam dan bekerja sebagai perempuan malam, harus menerima tawaran menjadi madu oleh seorang pemuda bernama Hazel Dinata, pengusaha ternama di kota tersebut.

Awalnya Maira menolak, karena baginya menjadi perempuan yang kedua dalam sebuah hubungan akan hanya saling menyakiti sesama hati perempuan. Tetapi karena alasan mendesak, Maira akhirnya menerima tawaran tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tika Despita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Sekali lagi Sarah mengayunkan telapak tangannya, berniat menampar Maira. Namun kali ini Hazel bergerak lebih cepat. Ia menangkap pergelangan tangan wanita itu dengan kuat, membuat gerakan Sarah terhenti di udara.

"Jangan ikut campur kamu!" bentak Sarah sambil menatap Hazel penuh tantangan, berusaha melepaskan tangannya.

Hazel tidak mundur sedikit pun. Tatapannya tetap dingin.

"Kamu kira mama gak tau, kalau kamu sudah memindahkan papa kamu ke rumah sakit lain?" lanjut Sarah, kini beralih menuding Maira dengan mata menyala marah.

"Sekarang kamu kasih tau, di mana si manusia cacat itu sekarang!"

"Ma!" Maira menegur dengan suara bergetar menahan amarah. Dadanya naik turun, napasnya terasa sesak.

"Mama boleh ngehina aku sesuka mama," ucap Maira tegas, matanya berkaca kaca namun sorotnya keras.

 "Tapi jangan pernah hina papa. Dan satu lagi, aku gak akan pernah ngasih tau di mana papa berada sekarang!"

Ucapan itu seperti menyulut api yang lebih besar. Sarah berteriak kesal dan berusaha menarik rambut Maira. Hazel langsung melangkah ke depan, berdiri tepat di hadapan Maira, menutupinya sepenuhnya. Tatapan Hazel mengeras, rahangnya mengatup kuat saat menatap Sarah.

"Kamu siapa sih, dari tadi ikut campur terus?" Sarah mendengus sinis.

"Dia anak saya. Jadi jangan sok jadi pahlawan!"

"Sekali lagi saya melihat anda main tangan dan bersikap kasar ke Maira," ucap Hazel dingin namun penuh tekanan.

 "Kalau saya lihat sekali lagi, saya pastikan anda masuk penjara."

"Penjara?" Sarah tertawa keras, seolah mendengar lelucon paling konyol.

 "Hei, wajar dong sikap saya begini. Dia anak saya."

Hazel tidak ikut tertawa. Suaranya justru makin tegas.

"Dan wajar saya melarang anda, karena saya suaminya. Saya berhak ikut campur urusan dia."

Kata itu membuat Sarah terdiam. Untuk sesaat, wajahnya tampak kosong. Ia menatap Maira, lalu menoleh ke Hazel dengan ekspresi bingung dan tidak percaya. Namun detik berikutnya, tawa keras kembali keluar dari mulutnya.

"Suami? Kamu?" Sarah menunjuk Hazel sambil terkekeh.

 "Palingan kamu cuma salah satu lelaki hidung belang yang kepincut dia. Ngaku ngaku jadi suami." Lalu pandangannya beralih tajam ke Maira.

"Dapat uang berapa kamu setelah melayani pria ini?"

"Ma..." suara Maira melemah, hatinya seperti diremas.

"Cukup!" Hazel membentak keras, suaranya menggema dan membuat Sarah tersentak.

"Ayo Pak Hazel, kita pergi," ucap Maira sambil menarik tangan Hazel dengan gemetar.

 "Gak perlu layani orang seperti dia."

Hazel menatap Maira sebentar, lalu mengangguk. Ia membuka pintu mobil dan mempersilakan Maira masuk lebih dulu. Setelah Maira duduk dan pintu tertutup, Hazel justru berbalik mendekati Sarah.

Tidak ada yang tahu apa yang Hazel katakan. Suaranya rendah, wajahnya dingin tanpa ekspresi. Namun perlahan, raut Sarah berubah. Wajahnya yang tadi penuh amarah kini tampak pucat. Matanya membesar, bibirnya bergetar. Tanpa berkata apa pun lagi, Sarah mundur beberapa langkah, lalu berbalik pergi dengan langkah tergesa.

Hazel kembali ke mobil. Ia masuk, menyalakan mesin, dan melajukan kendaraan itu menjauh dari tempat tersebut. Sepanjang perjalanan, Hazel tidak banyak bicara. Tangannya mencengkeram setir, sementara Maira menatap lurus ke depan, air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya dalam diam.

Mobil itu terus melaju menuju apartemen mereka, membawa luka yang belum sembuh dan hati yang masih bergetar di dalam diri maira.

-

-

“Kamu masuklah. Saya harus ke kantor,” ujar Hazel saat mobilnya berhenti tepat di depan gedung apartemen.

“Hm,” Maira hanya mengangguk singkat. Ia membuka pintu mobil, turun, lalu melangkah masuk ke dalam gedung tanpa menoleh lagi, tanpa sepatah kata pun.

Hazel memperhatikan punggung Maira yang menjauh sampai pintu otomatis tertutup. Ada rasa tidak nyaman yang tertinggal di dadanya, tapi ia memilih mengabaikannya. Mesin mobil kembali dinyalakan, lalu Hazel melajukan kendaraannya menuju kantor.

**

Beberapa jam berlalu. Setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan, fokus Hazel justru mulai buyar. Pikirannya terus kembali pada Maira. Wajahnya yang diam, sorot matanya yang terluka akibat perlakuan Sarah, semua terbayang jelas.

Hazel menghela napas pelan. Maira sekarang sendirian di apartemen. Dengan kondisi emosinya yang seperti itu, Hazel merasa ada sesuatu yang mengganjal.

Tanpa ragu, Hazel membuka ponselnya dan mengakses rekaman CCTV apartemen. Hampir seluruh sudut ruangan terpantau, kecuali kamar tidur dan kamar mandi. Itu memang sengaja ia atur.

Awalnya Hazel hanya ingin memastikan Maira baik baik saja. Namun matanya langsung membulat saat layar menampilkan sosok Maira di ruang tengah.

Wanita itu tampak menari nari tidak jelas, langkahnya sedikit sempoyongan. Mulutnya bergerak mengikuti lagu yang entah dari mana, suaranya samar namun terdengar riang. Hazel mengernyit saat menyadari beberapa kaleng minuman alkohol tergeletak di atas meja depan televisi.

“Apa dia mabuk?” gumam Hazel pelan, nyaris tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Belum sempat Hazel berpikir lebih jauh, sebuah suara tiba tiba muncul dari belakang.

“Siapa yang mabuk?”

Hazel tersentak dan refleks menurunkan ponselnya. Ia menoleh dan mendapati Devin berdiri di sana dengan senyum iseng di wajahnya.

“Itu istri baru kamu, Zel?” Devin melanjutkan sambil mendekat, melirik ke layar ponsel Hazel yang belum sepenuhnya mati.

“Apa sih,” jawab Hazel kesal sambil cepat cepat mematikan ponsel dan memasukkannya ke saku jas.

Devin tertawa kecil. “Cantik juga ya. Seksi pula,” godanya tanpa rasa bersalah.

Hazel mendengus keras. “Kenapa sih mulut lo gak ada remnya?”

“Kenapa kesal?” Devin menyeringai.

“Jangan jangan kamu cemburu.”

“Cemburu bapakmu!” bentak Hazel sambil berdiri dan melangkah pergi.

“Bapak gue udah mati, Zel!” teriak Devin sambil tertawa dan mengejar langkah Hazel.

Hazel tidak menjawab. Wajahnya tampak datar, tapi pikirannya kembali dipenuhi bayangan Maira yang tertawa, menari, dan minum sendirian di apartemen. Entah kenapa, kali ini perasaan itu bukan sekadar kesal, melainkan ada kekhawatiran yang pelan pelan merayap tanpa ia sadari terhadap perempuan yang ia sebut madu tersebut .

1
Qhaqha
Jangan lupa bintang dan ulasannya ya... 😊😊🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!