Aira Wibisono, Baru Kehilangan Seluruh Keluarganya, Kisah tragisnya di mulai saat Kakaknya Arya meninggal karena kecelakaan, Ayahnya sangat terpukul dengan kepergian Arya, Arya merupaka ke banggan keluarga, Arya baik, pintar, dan tampan, Arya kuliah di FK UGM Orang tua Aira menaruh harapan yang besar kepada Arya, Cinta mereka sangat besar kepada Arya, Semenjak kepergian Arya Ayahnya Aira jadi sakit sakitan dan tak lama Ayah Aira meniggal, Setelah itu Ibu Aira mulai defresi dan meninggal satu tahun kemudian. Akhirnya Aira memutuskan tinggal di rumah Tante Mala sahabat ibunya, Tante Mala mempunyai anak Laki-laki bernama Damar, dia populer di sekolah, pintar, tampan mirip dengan kakaknya Aira di sana lah kisah Aira di mulai...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Undangan Makan Di Rumah Tante Mala.
Ruang makan rumah Tante Mala terasa lebih ramai dari biasanya.
Aira duduk kaku di kursinya, matanya bolak-balik antara piring di depannya dan lima orang teman yang duduk bersamanya.
Naya.
Susan.
Nona.
Nina.
Dan Bambang.
“Ih, Ra,” bisik Naya sambil mencubit lengannya pelan.
“Rumah sepupumu gede banget.”
“Eh, fokus,” sahut Susan setengah berbisik.
“Lihat itu."
Aira mengikuti arah tatapan mereka, Damar baru saja keluar dari dapur.
Kaos hitam polos. Rambut sedikit basah. Ekspresi datar seperti biasa.
Dan Kelima temannya langsung membeku.
Mulut terbuka.
Mata melotot.
Tidak ada yang berkedip, bahkan Bambang.
“Aku mimpi nggak sih?” gumam Nona lirih.
“Kenapa idol sekolah ada di sini?”
“Ra,” bisik Nina dengan suara hampir tak terdengar,
“Damar makan sama kita?”
Aira mengangguk pelan.
“Iya.”
Susan menelan ludah.
“Kita… satu meja makan sama Damar?”
Bambang menutup mulutnya dengan kedua tangan.
“Ya Tuhan, aku belum siap secara mental.”
Mereka saling pandang.
“Mimpi apa kita,” bisik Nina tak percaya,
“Bisa semeja makan sama Damar?”
Damar melirik sekilas ke arah mereka.
Hening.
Kelima orang itu langsung duduk lebih tegak.
Senyum kaku serempak.
Damar menarik kursi dan duduk.
“Kenapa kalian menatapku seperti itu?”
Tak ada jawaban.
Aira tersenyum canggung.
“Maaf… mereka kaget.”
“Oh,” sahut Damar datar.
Damar mengambil sendok.
Di bawah meja, kaki Nina menendang kaki Aira pelan.
Bambang condong ke depan, berbisik dramatis.
“Ra… aku merasa seperti masuk fans meeting.”
Aira hampir tersedak.
Tante Mala keluar membawa sup.
“Sudah, sudah,” katanya ceria.
“Makan dulu. Jangan dilihatin terus, nanti makanannya dingin.”
Kelima tamu mengangguk patuh.
Masih melirik, masih kagum.
Damar makan seperti biasa,tenang, dingin.
Tidak tahu atau pura-pura tidak tahu bahwa di meja itu,
lima murid kelas E baru saja mengalami momen bersejarah dalam hidup mereka.
Dan Aira?
Dia menunduk sambil tersenyum kecil, entah kenapa,
Ini pertama kalinya Damar duduk cukup lama bersama anak-anak kelas E.
Bukan karena terpaksa.
Di meja makan itu, suara tawa terdengar ringan, tidak dibuat-buat, tidak ada nada pamer atau saling menjatuhkan.
“Eh, Bambang, kamu kok lebih anggun dari aku sih?” canda Susan.
“Namaku boleh Bambang,” sahutnya bangga, “tapi jiwaku lembut.”
Mereka tertawa, Nina sampai menepuk meja, Nona hampir tersedak minum.
Damar memperhatikan mereka diam-diam. Dulu, kelas E baginya hanyalah kumpulan masalah.
Nilai rendah.
Tidak fokus.
Tidak ambisius.
Tidak berguna.
Namun sekarang mereka bercanda tanpa takut terlihat bodoh, menertawakan diri sendiri tanpa malu.
Bersikap jujur tanpa topeng.
“Ra,” kata Naya sambil tertawa,
“kalau aku jadi kamu, aku udah pingsan belajar sama Damar.”
Aira nyengir.
“Aku juga hampir.” Tawa meledak lagi.
Damar menunduk, mengaduk makanannya pelan.
Aneh, batinnya, mereka tidak cerdas menurut standar sekolah
Tapi… mereka tampak lebih hidup.
Tidak tegang.
Tidak saling bersaing.
Tidak sibuk membuktikan siapa paling pintar, mereka bahagia dengan cara yang sederhana.
Konyol, mungkin tapi nyata.
Damar melirik teman-temannya sendiri dalam bayangannya kelas akselerasi.
Wajah serius.
Perhitungan.
Sunyi meski ramai.
Lalu ia kembali menatap meja ini.
Bambang sedang bercerita dramatis tentang jatuh dari motor karena menghindari kucing.
Susan menimpali dengan ekspresi lebay.
Naya tertawa sampai matanya berair.
Dan Aira ...
Aira duduk di tengah mereka, tertawa tanpa beban.
Untuk pertama kalinya, Damar merasa… tenang.
Mungkin, yang selama ini bermasalah bukan kelas E.
Mungkin, dia saja yang terlalu tinggi berdiri sampai lupa caranya melihat manusia.
Damar menghembuskan napas pelan.terima kasih, Aira, tanpanya dia tidak akan pernah duduk di sini.
Dan tidak akan pernah belajar bahwa kerendahan hati
jauh lebih sulit daripada kepintaran.
“Dam ...”
“Damar!”
Naya, Susan, Nona, Nina, dan tentu saja Bambang.
“Ajari kami juga dong,” kata Naya tanpa basa-basi.
“Aira aja bisa. Masa kami nggak?”
“Iya,” sambung Susan cepat.
“Cuma dasar-dasar aja.”
Bambang mengatupkan kedua tangan dramatis.
“Aku janji nggak akan nangis… mungkin.”
Damar menghela napas panjang.
“Nggak bisa,” jawabnya tegas.
Serempak mereka merengut.
“Aku harus fokus persiapan ujian universitas,” lanjut Damar datar.
“Aku masuk lebih cepat dari kalian.”
“Aku nggak punya waktu.”
Hening sesaat.
Aira menatap mereka dengan rasa bersalah.
“Maaf…”
Namun Damar berhenti melangkah.
Ia menoleh.
“Bukan berarti kalian nggak boleh dibantu.”
Semua mata langsung berbinar.
“Apa maksudmu?” tanya Nina hati-hati.
Damar berpikir sebentar.
“Yoan dan Dinan biasa jadi guru les privat,” katanya akhirnya.
“Mereka sahabatku. Nilainya stabil. Cara ngajarnya lebih sabar.”
“Nanti Aku minta mereka buat bantu.”
Hening berubah jadi ledakan kecil.
“SERIOOOS?!”
“YA AMPUN!”
“Beneran?!” Bambang hampir melonjak.“Aku rela traktir bakso sebulan!”
Damar mendecak, “Nggak perlu berlebihan.” Namun sudut bibirnya bergerak tipis.
Dari kejauhan, Tante Mala menyaksikan semuanya, dia tidak ikut campur.
Hanya mengamati dengan mata berkaca-kaca.
Damar yang dulu dingin, tertutup, dan hidup dalam dunianya sendiri…
Sekarang berubah, mendengar,mencari solusi.
Bukan hanya untuk dirinya,ternyata… dia bisa berempati.
Tante Mala menoleh ke arah Aira, yang sedang tersenyum canggung sambil dipelu teman-temannya.
Terima kasih, Nak, batinnya. Walau tak ada hubungan darah, kehadiranmu mengubah anakku.
Dia menghela napas pelan, penuh syukur.
Aira… Kamu sudah seperti keponakanku sendiri.Dan mungkin lebih dari itu.