Alitza Zeefanya Bella, atau sering disapa Zee adalah seorang gadis cantik yang ceria. Seperti nama yang diberikan oleh orang tuanya yang berarti gadis cantik yang ceria yang selalu ada dalam lindungan Tuhan.
Hidupnya baik-baik saja, terlahir cantik serta besar di lingkungan keluarga kaya yang harmonis membuat dirinya tumbuh menjadi gadis ceria dan penuh kepedulian.
Semua baik-baik saja sampai dirinya harus kehilangan seluruh alasan kebahagiaan nya. Membuat dirinya harus bekerja untuk menghidupi dirinya dan seorang wanita tua yang menjadi pengasuhnya sejak bayi.
Bekerja didunia malam membuat dirinya dipandang miring oleh semua orang. Namun dirinya tak peduli, hanya dirinya yang tahu seperti apa sesungguhnya yang ia jalani.
Akankah nasib baik kembali berpihak padanya? atau justru kehidupannya semakin sulit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novia_dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Allitza Zeefanya Bella
Dentuman keras musik yang dimainkan oleh seorang DJ terasa memekakkan telinga bagi siapa saja yang baru menginjak kan kakinya masuk kedalam sebuah club malam yang cukup ternama di kota itu.
Seorang gadis cantik tengah berdiri dipembatas kaca lantai dua. Matanya menatap kosong kerumunan manusia yang tengah berjoget mengikuti alunan musik DJ yang menggema.
beberapa pasangan bahkan tak segan beradegan panas saling membagi ciuman dikeramaian. Hal itu sudah sangat lumrah dilihatnya selama 5tahun dirinya bekerja.
Tatapan matanya kosong dengan tangan yang berpegang pada kaca tebal yang membatasi.
Bahkan ia tak menyadari kehadiran sosok pria gemulai yang terlihat berkacak pinggang menatap dirinya sambil menggeleng berkali-kali.
"Astaga!! " Seru nya sambil berjingkat kaget saat sebuah tepukan lembut mendarat di pundaknya. Tangannya reflek mengelus dadanya yang berdebar cukup kencang lantaran terkejut.
"Kebiasaan kamu tuh ngelamun di pinggiran gini. Kalau ada yang nggak sengaja nyenggol kamu sudah dipastikan kamu akan jatuh ke bawah sana". Sang pria gemulai tampak mengomel pada gadis itu yang hanya tersenyum sembari menampakkan deretan giginya.
"Ada apa Ham? ". Pria kemayu itu mencebik sebal mendengar panggilan namanya.
" Aku sudah bilang padamu berapa kali sih Zee, panggil aku Maya. Kamu tuh ya Ham hem Ham hem aja terus". si pria yang mengaku bernama Maya itu kembali mengomel.
"Iya deh iya.. ada apa May?? ". Zee mengalah, menuruti keinginan pria kemayu itu. Senyum merekah di wajahnya yang tampan, namun juga cantik. Ah entahlah, Zee tak paham kemana arah kiblat lelaki itu. Seperti nya dia kehilangan arah.
Tiba-tiba Zee terkikik sendiri menyadari isi pikirannya tentang Maya. Membuat Maya mencebikkan bibirnya.
" Kamu mikir apa tentang aku, hmm?? ". Maya menjembel pipi gadis cantik di depannya dengan gemas
" Sebenernya kemana sih arah kiblat kamu?? kayanya kamu hilang arah deh May". Kembali terkikik saat apa yang tadi hanya ia pikirkan akhirnya ia lontarkan juga.
"Dasar kamu ya.. " Zee tertawa kecil, tawa yang membuat matanya sedikit menyipit dan itu semakin membuat nya terlihat cantik.
"Iih.. kamu tuh cantik banget sih. Kalo aku lempeng-lempeng aja nih, udah aku kokop itu bibir". Bahkan Maya yang notabene nya belok saja tetap mengakui kecantikan Zee.
" Astaga!! Kamu nih ngajakin aku ngobrol mulu! aku jadi lupa kan tadi nyari kamu buat apa". Alis Zee berkerut. Apa salahnya sampai Maya mengomel.
"Kok jadi aku yang salah? ". Tanya Zee tak digubris oleh Maya. Ia sudah ingat mengapa mencari temannya itu.
"Tuh dicariin si bos". Zee menegakkan tubuhnya, merapikan pakaian kerja nya yang sebenarnya masih rapi. Kemudian beralih pada rambutnya yang sudah digelung rapi.
" Yasudah aku ke bos dulu ya.. " Maya mengangguk sambil terus menatap Zee yang semakin menjauh. Baru kemudian ia kembali pada pekerjaan yang tadi ia kerjakan.
"Maaf lama pak.. " Ucap Zee pada sosok lelaki yang menatapnya dengan seulas senyum.
"It's ok Zee.. "
"Ada apa pak? ". Tanya Zee kemudian.
" VIP 5 ya.. " Zee sudah paham, ia mengangguk kemudian berlalu dari hadapan bos nya.
"Zee.. " Langkahnya terhenti saat bos nya kembali memanggil.
"Ya pak? ".
" Minumannya ambil dibawah ya, seperti biasa". Zee kembali mengangguk dan berlalu pergi.
Zee sudah hafal dan memang dirinya yang selalu diberi kepercayaan melayani tamu VIP bos nya itu. Entah teman, atau rekanan bisnis dari sang bos. Tapi selama 5tahun dirinya bekerja, ia sudah mengenal hampir semua rekanan bos nya.
Alitza Zeefanya Bella, gadis cantik dengan pesona yang melekat pada wajahnya. Mata bulat dengan bibir sensual serta kulit nya yang putih bersih.
Siapa yang tak akan jatuh hati padanya? Sikapnya yang ceria dan mudah membaur dimanapun ia berada. Hampir semua teman seprofesi nya menyukai Zee.
Sudah 5tahun lebih dirinya menggeluti pekerjaan didunia malam. Jangan tanyakan bagaimana orang dilingkungan tempat tinggal nya menilai dirinya.
Karena sudah pasti hanya penilaian negatif yang melekat sempurna pada dirinya. Ia pun tak berusaha menampik semua penilaian buruk tentangnya. Baginya itu hanya akan membuang tenaga nya saja.
Sekeras apapun kita menjelaskan tentang bagaimana diri kita, sekeras itu pula orang yang memang tak suka pada kita untuk mencari celah menghujat kita.
Maka cara satu-satunya yang Zee miliki hanya menulikan pendengarannya terhadap semua berita miring tentang dirinya dan kehidupan nya.
Kembali pada Zee, gadis itu sudah berdiri didepan bar yang memajang banyak minuman dengan berbagai merk.
"Mbak.. VIP 5". Sang bartender menatap sesaat kemudian tersenyum dan segera menyiapkan apa yang diminta Zee.
" Wiiih.. minuman mahal nih". Ucap Zee saat bartender meletakkan nampan dengan sebotol minuman yang ia tahu harga nya lebih mahal dibanding gajinya sebulan.
Kadang ia masih tidak habis pikir mengapa orang-orang kaya itu begitu royal untuk menghamburkan uang nya hanya untuk menikmati minuman yang bahkan katanya tidak enak.
Memang kadang aneh saja orang-orang kaya itu. Ia lupa jika dulunya, ia juga terlahir dari keluarga kaya raya. Namun itu dulu, sebelum takdir merenggut semuanya.
"iya nih. makanya hati-hati bawanya, dua kali gajian kita nih". Bartender memperingatkan membuat Zee mengangguk patuh.
Zee membawa minuman yang diminta tamu di ruang VIP 5 itu. Dengan penuh kehati-hatian ia membawanya menaiki tangga. Ia tak ingin jika minuman itu sampai jatuh.
Bibirnya melengkung saat didepan sana sudah terlihat ruangan VIP 5. Langkahnya semakin ringan.
Namun saat tinggal beberapa langkah untuk mengjangkau pintu ruangan, seseorang menyenggol pundaknya dengan cukup kuat.
Hampir saja botol kaca berisi minuman itu jatuh. Untung saja Zee bergerak cepat dan bisa menyelamatkan botol minuman itu.
" Usaha kamu masih kurang mbak. Besok dilatih lagi biar bisa bikin aku kena marah". Ucapan menohok Zee berikan pada orang yang menabraknya.
Ia tahu siapa pelakunya, karena hanya satu orang itu saja yang selalu iri dan membenci semua yang ada pada dirinya, semua yang ia dapatkan.
"Cih, kamu cuma beruntung aja. Dasar murahan! ". Zee tersenyum tipis, sesaat kemudian matanya menajam.
" Kita tahu pasti siapa yang murahan mbak! ". Sarkas Zee kemudian melenggang pergi meninggalkan sosok yang terlihat mengeraskan rahangnya, menatap benci pada Zee.
Zee menghela nafas nya panjang sebelum melangkah masuk kedalam ruangan. Ia tidak ingin jika ada yang melihat sisa kemarahan nya barusan.
Saat Zee masuk, semua obrolan terhenti. Semua yang ada di ruangan menatap Zee yang masuk membawa pesanan mereka.
" Aiiihhh.. semakin cantik saja kamu, Zee". Ucap seorang pria berperawakan tinggi dengan kulit kuning langsat.
"Dia sudah cantik sejak dulu, apa matamu baru terbuka? ". Timpal yang lain.
Didalam ruangan ada lima pria dewasa termasuk salah satunya sang bos. Zee mengenal empat di antaranya, namun yang satu? Zee baru pertama melihatnya.
Sosok pria tampan dengan mata berwarna hazel, wajah blasteran yang terlihat sangat.. tampan? Untuk sesaat pandangan mata mereka bertemu, Zee tersenyum ramah sambil menundukkan kepalanya tanda hormat.
" Ooh hooo.. jangan sama dia Zee. Dia bukan manusia". Zee langsung menoleh dengan wajah bingungnya.
"Sudahlah. Jangan ganggu adikku". Zee menoleh pada bos nya. Kemudian tersenyum lagi.
Leonardo, nama bos tempatnya bekerja. Laki-laki yang sering ia panggil bang Leon saat sedang berdua atau saat bersama teman-temannya seperti sekarang ini.
" Ish.. kami tidak menggoda. Hanya memuji, Zee sangat cantik".
"Pak David terlalu berlebihan memuji saya". Akhirnya Zee bersuara.
Sementara sejak tadi, sepasang mata hazel itu terus menatap Zee. Entah apa yang lelaki itu pikirkan, Zee tak tahu.
" Heii.. kau benar-benar tidak adil Zee. Kenapa kamu panggil Leon dengan sebutan abang. Tapi pada kami? kamu selalu memanggil bapak". Zee terkekeh pelan.
"Mana saya berani pak. Itu tidak sopan kalau saya memanggil bapak seperti itu".
" Aku tidak pernah menikah dengan ibumu Zee. Jangan panggil aku bapak". Akhirnya Zee tertawa renyah, membuat mata hazel yang sedari tadi menatapnya tertegun sesaat melihat senyum cantik Zee.
"Saya permisi pak. Saya ada diluar ruangan jika bapak membutuhkan sesuatu". Zee pamit setelah meletakkan botol minuman.
" Istirahat saja. Nanti aku akan panggil yang lain kalau memang membutuhkan sesuatu". Leon bersuara.
"Nggak bang.. Zee tunggu di luar saja. Nggak enak sama yang lain". Leon mengalah, ia mengangguk menuruti keinginan Zee.
...¥¥¥°°°¥¥¥...
...kasih tipis-tipis dulu ya gengs.. semoga suka pembukaannya ya🫰...
...happy reading semua🥰😍💋...
...jangan lupa tinggalkan jejak bestiee 💋💋😍🥰🫰❤❤ sarangheyo readers💋💋💋...