Jelita pergi dari rumah dengan membawa pedih dan luka, setelah mendapati kenyataan pahit. Ayahnya telah mengkhianati sang ibu dengan menikahi wanita simpanannya dan membawa wanita itu beserta seorang putri hasil perselingkuhan mereka, yang termasuk saudara tiri Jelita.
Malam dimana Jelita seharusnya mendapat cinta penuh dan tanggung jawab dari Chandra Adi Prama, Nyatanya membuat Jelita makin terluka setelah dengan terang-terangan, Chandra, pria yang dicintainya itu, menyatakan akan menikahi saudara tiri Jelita.
Ditambah lagi dengan sang ibu yang juga telah berpulang ke pangkuan yang maha kuasa, membuat Jelita tepaksa membekukan hatinya.
Hingga jelita pergi membawa luka dan membawa satu-satunya keluarga yang akan menemani jelita selamanya, Membuat hati jelita terasa beku dan enggan mengakui memiliki keluarga.
~Penasaran kisahnya?
Jangan lupa dukung dengan tap love, like, comment and vote yaa....~
Mohon perhatian....
Bagi siapapun yang melihat karya saya di plagiat di aplikasi lain, mohon segera memberi tahu saya.
Kebijakan ini berdasarkan karya saya PESONA ANAK PEMBANTU pernah di plagiat di aplikasi lain dan saya tidak mau mengulangi hal serupa atas cerita ini.
Terima kasih🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istia akhtar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Di bawah pohon yang begitu rindang, dedaunan kering berguguran. Musim panas kembali menyapa, Suara gemericik air mancur kolam ikan di bawah pohon itu kian menambah kesyahduan suasana.
Sore ini, Chandra duduk di sebuah kursi kayu memanjang dengan cat putih yang melapisinya. Pikirannya tengah di penuhi dengan banyak rencana picik yang ia susun dalam otak nya.
Tujuannya hanya satu.....
Membawa pulang anak-anaknya dan membawa serta Jelita.
Tidak peduli rencananya ini kotor,
Tidak peduli banyak pihak menentangnya,
Tidak peduli dunia mengutuknya,
Tidak peduli berapa banyak harus berkorban,
Tidak peduli bila ia harus melawan dunia......
Chandra tetap akan memuluskan tujuannya.
Jelita adalah separuh hidupnya, Cintanya, dan nafas bagi kehidupannya.
Buta.....
Chandra buta mata hatinya.
Chandra lupa bahwa ia mempertaruhkan ikatan suci pernikahannya sendiri. Kebodohan sedang menyelimutinya.
Arlan dan Ariana......
Chandra begitu sangat ingin menyentuh lebih dekat kedua anaknya. Mendekapnya dan merengkuhnya dengan penuh cinta.
Sayang......
Dalam keadaan seperti ini, jelas Jelita tak akan mengabulkannya. Yang ada dia hanya akan menerima kalimat pedas jelita yang membaluri harga dirinya.
Jelita.....
Entah bagaimana awalnya, telah berhasil memenjarakan hati Chandra dalam pesonanya.
"Tuan....", Suara Sony membuyarkan lamunan Chandra. "Kabar baik, tuan. Saya sudah menemukan keberadaan anak-anak anda".
Mata indah Chandra berbinar. "Benarkah?".
Sony menanggung dalam dan merasa bangga.
"Bawa anak-anakku..... Jangan sampai mereka terluka sedikitpun. Jaga mereka hingga tiba di hadapanku. Ingat......! Hanya anak-anakku! Setelah itu, aku pastikan jelita sendiri yang akan datang padaku memohon-mohon untuk sebuah kebahagiaan".
Chandra memanglah tampan.....
Usianya yang menginjak angka dua puluh delapan tahun, nyatanya tidak membuatnya lebih dewasa.
Chandra terlalu mementingkan egonya. Ia melupakan bahwa dulu.......
Dewi ia perjuangkan mati-matian hingga Lita lah yang ia korbankan.
"Baik, tuan". Sony mundur beberapa langkah hingga akhirnya ia berbalik dan hilang dari pandangan Chandra.
Rencana demi rencana ia susun apik dalam memori kepalanya. Chandra hanya tak menyadari, bahwa sesungguhnya.......
Ini awal dari kehancurannya.
*****
Di sebuah rumah megah kediaman Radhi praja Bekti, Kara, Arlan dan Ariana yang tengah asik menyantap kudapan berupa puding coklat vanilla.
Beberapa jam lalu, mereka mendengar kabar bahwa sang mama telah melahirkan seorang putri cantik, anggota baru keluarga mereka.
Rasa senang tak dapat lagi terelakkan. Arlan dan Ariana serta kara begitu antusias untuk menyambut keluarga baru mereka.
Di seberang jalan sana......
Sebuah mobil mewah berwarna hitam metalik tengah memperhatikan gerak-gerik anak-anak Jelita.
Dua orang berbadan tinggi kekar tengah berjalan menghampiri halaman kediaman Radhi, tempat dimana anak-anak jelita bermain.
Seorang pria bertopeng membekap mulut dan hidung pengasuh Kara yang tak sempat memberi perlawanan.
Kejadiannya begitu cepat.
Hingga Arlan dan Ariana di bawa pergi oleh kedua pria bertopeng itu.
Belum sempat masuk ke mobil, security yang baru keluar dari kamar kecil belakang pos security, segera meneriaki mereka.
Cepat.....
Orang-orang bertopeng itu segera masuk mobil dan mobil mereka hilang dari pandangan.
Security yang berjaga itu begitu panik. Apalagi mendapati pengasuh Kara dan kara yang menangis di sisinya.
Security segera membawa kara dalam gendongannya dan menelepon Radhi dengan duduk di samping pengasuh Kara yang tergeletak.
******
Jelita tengah menimang bayinya dengan memberikan ASI-nya. Sore ini...... Entah mengapa perasaannya mendadak tak nyaman. Radhi..... baru saja memasuki kamar kecil di ruang rawat Jelita.
'Tuhan..... Ada apa dengan diriku?
Rasa tak nyaman ini mengapa kembali menyergapku?
Pada angin yang menghembuskan kebahagiaan.... datanglah padaku.
Pada hujan yang mengalirkan kedamaian dan ketentraman...... datanglah padaku.
Pada lautan yang menampung banyak kebaikan..... berbagilah dengan keluargaku.
Semoga saja, kebahagiaan keluargaku senantiasa bertahan setelah banyak badai yang aku lalui'
Batin Jelita penuh harap.
Ponsel radhi yang di letakkan diatas nakas, berdering keras. Sejenak Lita melihat anaknya terbangun karna bunyi ponsel Radhi.
Tanpa melihat nama yang tertera di layar, jelita pun memutuskan menerima panggilan itu.
"Ha...halo tuan...",
Suara security rumah jelita tengah gugup luar biasa.
"Hallo pak Dadang.... ada apa? apa ada masalah?", tanya jelita penasaran seraya menimang-nimang ringan bayinya yang membuka mata.
"I iya nyonya... masalah...".
"Katakan....".
"Aaa anu nyonya itu... anu..."
"Anu apa, pak? katakan saja", Jelita mulai tak sabar.
"Den Arlan dan non Ariana.....".
"Mengapa? Apa yang terjadi pada anak-anakku? Apa mereka terjatuh?", belum sempat melanjutkan pertanyaannya, ponselnya segera di ambil alih Radhi dan Radhi mell loud speaker panggilan.
"Den Arlan dan non Ariana di bawa pergi dua pria bertopeng, nya.",
Radhi menegang mendengarnya. Jelita tentu saja merasa syok luar biasa.
"Ini embak pengasuhnya den kara juga pingsan. Tapi, mereka hanya membawa den Arlan dan non Ariana. Sedang den Kara ada saya gendong ini, nya".
"Saya pulang". Suara Radhi begitu khawatir.
Sejenak, Radhi memandang istrinya.
Jelita begitu syok akan kabar ini. Radhi tak mungkin meninggalkan istrinya seorang diri. Bisa saja orang-orang Chandra juga menculik jelita.
Aku sial!
Radhi mengumpat dalam hati. Sungguh, ia merasa bingung. Ia raih ponselnya kembali dan segera menelepon Arman.
"Ya, mas. Aku sudah di beritahu security di rumahmu. Tenangkan jelita dulu. Aku yang akan mengurus Arlan dan Ariana. Fokuslah pada istri dan anakmu dulu",
Bagus, pikir Radhi. Arman memang bisa di andalkan. Dia selalu bertindak cepat. beruntung, hari ini, Ibu Radhi akan datang. Sepertinya, Radhi butuh seorang pengawal lagi untuk melindungi istri dan ibunya.
"Bagaimana degan Arlan dan Ariana, mas? Chandra..... Pastilah biadab itu yang menculik anak-anak ku. Temukan mereka dan bawa pulang Arlan dan Ariana, mas."
Jelita histeris.
Dalam hidup, Jelita baru kali ini merasa takut kehilangan. Arlan dan Ariana selalu Jelita perjuangkan mati-matian.
Bahkan dulu saat Chandra mencampakkannya.
Kini...... Chandra terang-terangan merebut anaknya. Jelita bisa gila jika ia berpisah terlalu lama dengan anak-anaknya.
"Sabar sayang. Arlan dan Ariana pasti kembali. Arman sudah mengurusnya, jadi jangan khawatir. Sekarang jaga dulu kondisimu. Kita tidak bisa gegabah menghadapi Adi Prama. Mereka memiliki kekuasaan jauh di atasku", Tukas Radhi begitu bijak.
Jelita benar-benar tak akan memaafkan Chandra bila itu memang Chandra di balik hilangnya Arlan dan Ariana.
Cukup sudah kesabaran Lita.
"Aku sendiri yang akan membalas Chandra bila sampai dia berani menyakiti anak-anakku!"Jelita berkata dengan gusar.
"Arlan dan Ariana adalah anak-anak Chandra. Tak akan mungkin Chandra menyakiti apalagi melukai darah dagingnya sendiri".
🍁🌺🍁
Aku kok Gedeg sendiri ya sama karakter tokoh yang bernama Chandra ini?
Pengen numpuk kepalanya pake batu, deh.
Hahahahhaha 😄
kakak-kakak readers jangan lupa tetep dukung neng tia, yah.....
Salam segalanya dari neng Tia❤️❤️❤️