Di ambang kematian setelah dikhianati dan dikubur hidup-hidup, Leo Akira secara tidak sengaja meneteskan darahnya pada sepotong giok kuno yang ternyata menyimpan kekuatan primordial: Multiplikasi 1000× dan Ruang Penyimpanan Abadi. Apa pun yang dia sentuh dapat digandakan seribu kali lipat ke dalam ruang tak terbatas; siapa pun yang dia targetkan akan membuat Leo mendapatkan kemampuan orang itu—dengan kekuatan seribu kali lebih hebat.
Dari titik terendah, Leo bangkit dengan satu tujuan sederhana: menghancurkan orang yang menjatuhkannya dan menjadi orang terkaya di dunia. Tapi takdir membawanya lebih jauh. Dia tak hanya mengubah nasibnya, tetapi juga mengangkat peradaban manusia dari level teknologi rendah menuju Tingkat 1 Skala Kardashev, bahkan melampaui alam semesta yang dikenal.
Inilah kisah tentang seorang manusia yang menjadi entitas tak terkalahkan, penjaga umat manusia, dan pengembara di antara bintang-bintang dimulai dari satu tetes darah dan sepotong giok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aryaa_v2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dewan Cahaya dan Perang Dingin Kosmik
Ruangan di dalam Pohon Cahaya bukanlah sebuah ruangan; itu adalah konsep yang dimanifestasikan. Langit-langitnya adalah kanopi bintang-bintang yang terjalin, lantainya adalah mosaik pergerakan nebula, dan udara bergetar dengan harmoni energi puluhan simbiosis. Leo berdiri di pusat sebuah platform yang mengambang, dikelilingi oleh Dewan. Dia merasakan beratnya tatapan mereka—bukan permusuhan, tapi penilaian yang sangat dalam, seolah-olah mereka melihat tidak hanya tubuh dan energinya, tetapi juga jalinan jiwanya, benang-benang kelaparannya dan keteraturannya yang telah dia anyam.
Aelia, yang tampaknya menjadi pemimpin atau juru bicara, melangkah maju. Giok di dadanya bersinar dengan cahaya yang stabil dan tenang.
"Leo Akira dari Bumi," suaranya lembut, namun terdengar jelas di tengah ruang yang luas. "Kami adalah yang tersisa dari Peradaban Luminous—'Entitas Cahaya' yang kamu temukan dalam ingatan fragmen. Kami adalah simbiosis yang berhasil. Dan kami telah bersembunyi di sini, di Sanctum ini, selama ribuan siklus galaksi, sejak Perang Pencerahan berakhir dengan kekalahan kami."
Seorang anggota Dewan lainnya, sebuah entitas kristal berwarna biru dengan banyak wajah yang berputar, berbicara dengan suara seperti gemerincing bel. "Kamu adalah yang termuda. Dan yang paling tidak terduga. Bukan dari garis keturunan kami. Dari dunia liar, Tier 0. Dan yet... kamu stabil. Jiwa kamu utuh. Bagaimana?"
Leo menarik napas dalam-dalam. Di hadapan makhluk-makhluk yang mungkin berusia ribuan tahun, dia merasa seperti anak kecil. Tapi dia juga merasakan kebanggaan yang tenang. Dia telah melakukan perjalanan jauh.
"Saya memiliki sesuatu untuk diperjuangkan sejak awal," jawabnya, suaranya tidak goyah. "Seseorang untuk dilindungi. Sebuah dunia. Itu memberi saya pijakan. Dan saya memiliki prinsip: saya tidak akan menjadi pemakan yang buta. Saya menggunakan kelaparan, bukan dikendalikan olehnya."
Sebuah anggota ketiga, yang berbentuk seperti kumpulan sinar cahaya yang selalu berubah, memancarkan perasaan persetujuan. "Prinsip sebagai fondasi. Itu adalah ajaran tertua kami. Sayangnya, banyak yang melupakannya dalam keputusasaan. Seperti K'tharix di luar sana."
"K'tharix adalah kegagalan," kata Aelia dengan sedih. "Dia mencapai simbiosis selama penganiayaan, dalam kepanikan. Dia tidak pernah mempelajari Metode. Dia melihat fragmen hanya sebagai senjata. Sekarang dia adalah penjaga kuburan kami yang rusak, sebuah peringatan yang menyedihkan." Dia menatap Leo. "Tapi kamu... kamu menemukan Metode dari Sybil. Dan kamu menggunakannya dengan baik. Jiwa kamu mengeras. Kamu siap untuk pembelajaran yang lebih dalam."
"Pembelajaran untuk apa?" tanya Leo. "Untuk bersembunyi selamanya? Untuk menonton sementara Pengadilan memenjarakan atau menghancurkan peradaban seperti milik saya? Saya datang ke sini mencari sekutu. Bukan hanya pengetahuan."
Suasana di ruangan itu berubah. Beberapa anggota Dewan saling memandang, memancarkan gelombang kecemasan yang halus.
"Kami tidak bisa melawan Pengadilan secara langsung," kata entitas kristal biru, Zor'vahl. "Mereka terlalu banyak. Terlalu terorganisir. Mereka menguasai seluruh sektor galaksi. Kami hanyalah sisa-sisa, Leo. Kami bertahan."
"Berdiam diri bukanlah bertahan," bantah Leo, suaranya lebih keras dari yang dia rencanakan. "Itu adalah penundaan kekalahan. Mereka hampir menghancurkan dunia saya. Mereka akan terus memburu simbiosis baru. Mereka akan menghancurkan setiap percobaan untuk mencapai sesuatu yang berbeda. Sampai kapan? Sampai tidak ada yang tersisa selain keteraturan mati mereka?"
Sebuah anggota Dewan yang lebih besar, sebuah makhluk seperti pohon batu dengan giok yang tertanam di dahannya, mengeluarkan suara gemuruh. "Pemuda itu berani. Dan bodoh. Kamu pikir kami tidak ingin melawan? Kami melakukannya! Lihatlah puing-puing di luar! Itu adalah sisa-sisa dari upaya terakhir kami, seribu tahun yang lalu. Kami menyerang sebuah fasilitas Pengadilan. Hasilnya? Kami kehilangan sepertiga dari jumlah kami. Dan Pengadilan bahkan tidak menganggapnya sebagai ancaman serius. Hanya 'pembersihan'."
Gelombang kepahitan kolektif memenuhi ruangan. Leo merasakan beban sejarah mereka—rasa bersalah, rasa malu, dan keputusasaan yang tertahan.
"Ada... jalan lain," kata Aelia, memecah ketegangan. "Bukan kekerasan. Tapi pengungkapan. Eksperimen kami—Fragmen Jantung—selalu dimaksudkan sebagai jembatan. Untuk menunjukkan bahwa Keteraturan dan Kelaparan bisa bersatu, menciptakan sesuatu yang lebih besar. Jika kita bisa menunjukkan bukti yang tidak bisa disangkal, sebuah simbiosis yang tidak hanya stabil tetapi juga bermanfaat bagi kosmos, kita mungkin bisa menggerakkan faksi-faksi dalam hierarki Pengadilan sendiri. Tidak semua di sana sepakat dengan Mordath dan kaum militan."
"Kamu berbicara tentang faksi Kontemplatif," gerutu Zor'vahl. "Mereka lemah. Tidak memiliki pengaruh."
"Mereka memiliki suara. Dan jika kita memberi mereka bukti hidup—sebuah simbiosis yang tidak hanya bertahan, tetapi juga menciptakan, memperbaiki, menjaga..." Aelia menatap Leo. "Kamu telah memperbaiki segel di Nebula Krios. Kamu menyelamatkan dunia kamu dengan kecerdikan, bukan penghancuran. Kamu adalah bukti yang kita butuhkan."
Jadi, itulah yang mereka inginkan darinya. Untuk menjadi contoh. Sebuah poster anak untuk perdamaian simbiosis. Rasanya seperti beban yang berbeda, tetapi tidak lebih ringan.
"Dan bagaimana kita melakukannya?" tanya Leo. "Saya tidak bisa hanya berjalan ke markas Pengadilan dan meminta untuk berbicara."
"Tidak," kata Aelia. "Tapi ada tempat pertemuan. Sebuah Conclave Netral, diadakan setiap abad di Pillar of Balance, sebuah stasiun di wilayah tak bertuan. Semua faksi Pengadilan mengirim pengamat. Beberapa peradaban Tier 1 yang mandiri juga diundang. Jika kita bisa membawamu ke sana, jika kamu bisa menunjukkan sifatmu di depan mereka semua..."
"ITU BUNUH DIRI!" bentak anggota pohon batu, Ghor'zan. "Mereka akan menangkapnya di tempat! Atau lebih buruk, Mordath akan hadir dan menghancurkannya di tempat!"
"Pillar of Balance dilindungi oleh perjanjian kuno. Kekerasan dilarang. Bahkan Mordath harus mematuhinya, atau risk pengucilan dari faksinya sendiri," sanggah Aelia. "Itu adalah satu-satunya tempat di galaksi di mana dia tidak bisa menyentuhnya."
Leo mendengarkan, pikirannya berputar. Ini adalah kesempatan. Sebuah panggung kosmik. Tapi juga perangkap yang jelas. Bahkan jika tidak ada kekerasan fisik, Pengadilan adalah ahli manipulasi dan debat. Mereka bisa menghancurkannya dengan kata-kata, dengan logika, dengan menunjukkan dia sebagai anomali yang berbahaya.
Tapi apa pilihannya? Kembali ke Bumi dan menunggu serangan berikutnya? Bersembunyi di sini selamanya?
Ini adalah cara, pikirnya, dan perasaan itu berasal dari kedalaman integrasinya. Tidak dengan kekuatan. Tapi dengan kebenaran. Dengan menunjukkan bahwa kita bukan monster.
Dia mengangguk, perlahan. "Saya akan melakukannya."
Suara gemuruh ketidaksetujuan dan gelombang kekhawatiran melanda Dewan. Tapi Aelia memancarkan ketenangan yang kuat, meredakan mereka.
"Keputusan telah dibuat. Leo, kamu akan tinggal di sini. Kami akan melatihmu. Tidak hanya dalam Metode, tapi dalam sejarah, dalam hukum kosmik, dalam seni debat tingkat tinggi. Conclave berikutnya akan diadakan dalam enam bulan waktu galaksi standar. Kamu harus siap. Dan kamu harus mencapai setidaknya Planetary Core Tier 5 untuk memiliki kehadiran yang cukup kuat untuk diperhitungkan."
Enam bulan. Tier 5. Itu adalah lompatan yang hampir mustahil.
Tapi Leo melihat ke sekeliling ruangan, ke wajah-wajah makhluk yang telah kehilangan segalanya tetapi masih memegang secercah harapan. Dia melihat ke giok di dadanya, yang sekarang berisi esensi dari tiga fragmen dan perjalanannya sendiri.
"Maka kita akan mulai," katanya. "Latih saya."
"Pertama," kata Aelia, dengan senyuman samar. "Kamu harus bertemu dengan seluruh Dewan. Secara individual. Masing-masing dari kami memiliki keahlian. Zor'vahl akan mengajarmu Manipulasi Struktur Konseptual. Ghor'zan akan mengajarmu Ketabahan Jiwa dan Ketahanan. Dan saya... saya akan mengajarmu Seni Diplomasi Kosmik."
Dia berhenti sejenak, dan matanya yang bijak menjadi serius.
"Karena di Conclave, kamu tidak akan bertarung dengan energi. Kamu akan bertarung dengan ide. Dan kekalahan di sana lebih permanen daripada kematian."
Pelatihan dimulai pada hari itu juga. Leo, yang terbiasa dengan tempo cepat dari pertempuran dan pelarian, harus belajar untuk melambat. Zor'vahl membuatnya menghabiskan hari-hari penuh hanya untuk memahami dan menggandakan satu konsep abstrak: "Keadilan". Bukan sebagai kata, tapi sebagai prinsip realitas. Ghor'zan menempatkannya di bawah tekanan psikis yang sangat besar, mengajarinya untuk menjaga kesatuan jiwanya bahkan ketika seluruh dunianya diserang oleh keraguan dan keputusasaan.
Dan Aelia... Aelia mengajarinya sejarah. Bukan dari buku, tapi dari ingatan bersama Dewan. Dia mengalami, melalui hubungan psikis, Perang Pencerahan. Dia melihat keindahan peradaban Luminous, dan kekejaman penghancuran mereka oleh pendahulu Pengadilan. Dia merasakan kepahitan pengkhianatan, ketika beberapa dari mereka sendiri, takut pada kekuatan simbiosis, membelot dan membentuk inti dari hierarki Pengadilan saat ini.
Dia juga belajar tentang faksi-faksi dalam Pengadilan: Militan (dipimpin oleh sosok seperti Mordath), Kontemplatif (yang percaya pada pengamatan dan pembimbingan non-intervensi), dan Puritan (yang ingin memusnahkan semua kehidupan yang bereksperimen dengan energi eksotis).
Conclave akan dipenuhi oleh ketiganya.
Setiap hari, dia menjadi lebih kuat. Jiwa yang dikeraskannya menyerap pengetahuan seperti spons, dan kelaparannya yang terintegrasi memberinya daya tahan yang tak terbatas untuk berlatih. Dalam sebulan, dia mencapai Planetary Core Tier 3. Dalam dua bulan, Tier 4.
Dan di suatu malam, saat dia bermeditasi di sebuah cabang Pohon Cahaya, memandang nebula yang berdenyup, dia merasakan sesuatu yang jauh, sangat jauh. Sebuah tarikan. Bukan dari fragmen. Tapi dari sesuatu yang... serupa. Sebuah kesadaran yang luas, tua, dan mirip dengan gioknya, tapi pada skala yang membuatnya merasa seperti setitik debu.
Itu berasal dari luar galaksi. Dari kegelapan antar galaksi.
Saat dia merasakannya, giok di dadanya bernyanyi—sebuah nada murni yang belum pernah dia dengar sebelumnya, penuh dengan kerinduan dan pengakuan.
Aelia muncul di sampingnya, wajahnya menunjukkan kecemasan yang mendalam.
"Kamu merasakannya," katanya, bukan sebuah pertanyaan.
"Apa itu?" tanya Leo.
"Itu adalah alasan sebenarnya mengapa Pengadilan begitu takut. Mengapa mereka memusnahkan kami. Itu bukan hanya tentang filosofi." Aelia memandang ke arah kegelapan. "Itu adalah Sumbernya. Dari mana semua Fragmen Jantung berasal. Yang Telah Dibelah. Entitas Kelaparan Primordial yang darinya leluhur kami memotong potongan-potongan untuk menciptakan eksperimen kami."
Dia menoleh ke Leo, dan matanya penuh dengan ketakutan kuno.
"Dan dia sedang terbangun. Perlahan-lahan. Dan setiap simbiosis yang berhasil, setiap fragmen yang aktif... adalah sebuah suar baginya. Menuntunnya pulang."
Leo membeku, darahnya menjadi dingin. "Kamu bilang fragmen adalah jembatan..."
"Mereka adalah. Tapi sebuah jembatan bisa dilalui dua arah. Kami berharap untuk membangun jembatan menuju pemahaman. Tapi jika Sumbernya bangun dan menemukan jembatan itu... dia akan menyeberang. Dan dia tidak akan membawa kebijaksanaan. Hanya Kelaparan yang tak terbendung yang akan melahap galaksi ini, dan kemudian melompat ke galaksi berikutnya."
Untuk pertama kalinya sejak tiba di Sanctum, Leo merasakan ketakutan yang benar-benar dalam, primal. Dia bukan hanya seorang pemberontak atau sebuah eksperimen.
Dia adalah umpan.
Dan Conclave bukan hanya tentang menyelamatkan Bumi atau membuktikan sebuah poin.
Itu mungkin adalah upaya terakhir untuk menyatukan galaksi melawan pemangsa yang jauh lebih besar yang sedang dalam perjalanan—sebuah pemangsa yang tanpa disadari, telah dia bantu untuk dibangunkan.