NovelToon NovelToon
The Director’S Secret: Menikahi Iblis Berwajah Malaikat

The Director’S Secret: Menikahi Iblis Berwajah Malaikat

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / CEO / Dark Romance
Popularitas:154
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Kau bisa memiliki segalanya di dunia ini, Arunika. Kecuali satu hal: Kebebasan."
Arunika mengira menikah dengan Adrian Valerius, sang Direktur jenius yang tampan, adalah keberuntungan. Namun di balik wajah malaikatnya, Adrian adalah seorang psikopat dingin yang terobsesi pada kendali.
Di mansion mewah yang menjadi penjara kaca, setiap napas Arunika diawasi, dan setiap pembangkangan ada harganya. Arunika bukan lagi seorang istri, melainkan "proyek" untuk memuaskan obsesi gelap sang suami.
Mampukah Arunika melarikan diri, atau justru terjerat selamanya dalam cinta yang beracun?
"Jangan mencoba lari, Sayang. Karena sejauh apa pun kamu melangkah, kamu tetap milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: HUKUMAN UNTUK SANG PEMBANGKANG

Suasana di dalam mansion malam itu terasa begitu berat, seolah oksigen telah diisap keluar dari ruangan. Arunika duduk di tepi tempat tidur yang kini berantakan. Sprei sutra yang harganya mungkin setara dengan gaji setahun buruh pabrik itu kini tergantung compang-camping, tercabik-cabik oleh tangannya sendiri. Gunting kecil yang ia gunakan masih tergeletak di lantai, berkilau dingin di bawah lampu kristal.

Arunika menunggu. Setiap detik terasa seperti tetesan air yang jatuh di atas dahi dalam sebuah penyiksaan kuno. Ia tahu Adrian sedang dalam perjalanan pulang. Ia tahu pria itu telah melihat segalanya melalui lensa-lensa tersembunyi yang tertanam di dinding.

Klek.

Suara pintu kamar yang terbuka membuat bulu kuduk Arunika berdiri. Ia tidak menoleh. Ia tetap menatap lurus ke arah jendela besar yang menampilkan kegelapan malam hutan pinus di luar sana.

Langkah kaki Adrian terdengar tenang. Sangat tenang hingga terdengar mengerikan. Tidak ada suara langkah yang terburu-buru karena marah. Hanya irama sepatu kulit yang mantap dan berwibawa.

"Kau menghancurkan hadiahku, Arunika," suara Adrian terdengar sangat dekat.

Arunika akhirnya menoleh. Adrian berdiri di sana, masih mengenakan setelan jas lengkapnya. Wajahnya tidak merah padam. Dia tidak berteriak. Dia justru tersenyum tipis—jenis senyum yang biasa ia gunakan saat menyapa tamu-tamu kehormatan di pesta bisnis.

"Sutra itu diimpor langsung dari Lyon. Butuh waktu tiga bulan untuk menenunnya sesuai dengan seleraku," Adrian berjalan mengitari tempat tidur, mengamati robekan kain itu dengan saksama. "Tindakan yang sangat impulsif. Sangat... emosional."

"Itu hanya kain, Adrian! Sama seperti kau menganggapku hanya sepotong properti!" suara Arunika bergetar, mencoba menyembunyikan rasa takut yang mulai menguasai dirinya.

Adrian berhenti tepat di depan Arunika. Ia membungkuk, menyejajarkan wajahnya dengan wajah istrinya. Ia bisa mencium aroma parfum mahal Arunika yang bercampur dengan keringat dingin.

"Bagi orang sepertiku, properti harus dijaga. Dan jika properti itu mulai merusak dirinya sendiri, maka ia butuh... pengingat," bisik Adrian. Tangannya yang dingin mengusap pipi Arunika dengan lembut, namun cengkeramannya di rahang wanita itu perlahan mengeras.

"Apa yang akan kau lakukan? Memukulku?" tantang Arunika, meski air mata sudah mulai menggenang di pelupuk matanya.

Adrian tertawa kecil, suara tawa yang kering. "Kekerasan fisik itu kuno, Sayang. Itu hanya untuk orang-orang yang tidak memiliki kecerdasan. Aku tidak akan menyentuh kulitmu yang cantik ini dengan amarah."

Adrian menegakkan tubuhnya dan menjentikkan jarinya. Sesaat kemudian, pintu kamar terbuka lebar. Dua orang pengawal masuk sambil membawa sebuah kotak kayu tua yang sangat dikenal oleh Arunika.

Jantung Arunika seolah berhenti berdetak. "Itu... itu milikku!"

Kotak itu adalah satu-satunya benda yang ia bawa dari rumah lamanya. Isinya bukan emas atau berlian. Di dalamnya hanya ada koleksi buku catatan harian almarhumah ibunya, beberapa foto masa kecil yang sudah menguning, dan sebuah boneka kain lusuh yang ia peluk setiap malam saat ia merasa kesepian setelah ibunya meninggal.

"Letakkan di sini," perintah Adrian dingin, menunjuk ke arah meja rias yang tadi digunakan Arunika untuk mematut diri.

"Adrian, jangan! Aku mohon!" Arunika melompat berdiri, mencoba meraih kotak itu, namun tangan Adrian yang kuat segera menahannya. Adrian memeluknya dari belakang, mengunci kedua tangan Arunika di depan perutnya.

"Kau menghancurkan sesuatu yang berharga bagiku, Arunika. Jadi, adil rasanya jika aku melakukan hal yang sama," bisik Adrian tepat di telinga Arunika.

Salah satu pengawal mengeluarkan sebuah pemantik api besar berjenis torch. Adrian memberi isyarat dengan anggukan kecil.

"TIDAK! ADRIAN, AKU MINTA MAAF! JANGAN!" Arunika berteriak histeris. Ia meronta, mencoba melepaskan diri dari dekapan Adrian yang sekuat baja. "Aku tidak akan melakukannya lagi! Aku janji! Aku akan patuh! Aku akan mengikuti semua aturanmu!"

"Janji yang lahir dari keputusasaan biasanya tidak bertahan lama," sahut Adrian tanpa emosi.

Pengawal itu mulai menyulut api. Lidah api biru yang panas itu pertama-tama menyentuh foto masa kecil Arunika. Gambar Arunika kecil yang sedang tersenyum di pelukan ibunya perlahan mengerut, menghitam, dan menjadi abu dalam hitungan detik.

"IBU!" jerit Arunika. Suaranya pecah, memenuhi ruangan itu dengan penderitaan yang tak terlukiskan.

Berikutnya adalah buku catatan harian ibunya. Lembar demi lembar kata-kata penuh kasih sayang, resep masakan lama, dan tulisan tangan yang rapuh itu dimakan oleh api. Abu hitam beterbangan di kamar mewah itu, mendarat di atas sprei sutra yang robek.

Arunika lemas. Kakinya tidak lagi sanggup menopang tubuhnya. Jika bukan karena pegangan Adrian, ia pasti sudah jatuh ke lantai. Ia hanya bisa menonton dengan mata yang membelalak lebar saat boneka kain lusuhnya—satu-satunya benda yang masih memiliki aroma ibunya—mulai terbakar.

"Kau melihatnya, Sayang?" bisik Adrian, suaranya terdengar sangat lembut, kontras dengan kengerian yang sedang terjadi. "Inilah yang terjadi jika kau mencoba bermain api denganku. Kau tidak hanya membakar milikku, kau akan membakar duniamu sendiri."

Setelah semua isi kotak itu menjadi abu, Adrian memberi isyarat agar pengawalnya keluar. Ruangan itu kini hanya menyisakan bau kertas terbakar dan suara isak tangis Arunika yang menyayat hati.

Adrian melepaskan pegangannya dan membiarkan Arunika jatuh berlutut di lantai. Pria itu ikut berlutut di depannya, mengangkat dagu Arunika agar mereka saling bertatapan.

"Kau tahu kenapa aku melakukan ini?" tanya Adrian.

Arunika hanya menggeleng lemah, air matanya membasahi lantai marmer.

"Karena kau masih terlalu terikat pada masa lalu. Kenangan-kenangan itu membuatmu lemah. Mereka membuatmu berpikir bahwa ada tempat untuk pulang selain rumah ini. Sekarang, kenangan itu sudah tidak ada. Kau tidak punya masa lalu. Kau hanya punya aku. Aku adalah masa depanmu. Aku adalah rumahmu."

Adrian mencium kening Arunika dengan sangat lama dan penuh perasaan. Bagi siapa pun yang melihat dari jauh, itu tampak seperti seorang suami yang sedang menenangkan istrinya yang berduka. Namun bagi Arunika, itu adalah ciuman kematian bagi kewarasannya.

"Bersihkan dirimu. Sandra akan membawakan gaun baru. Kita akan makan malam di ruang bawah tanah hari ini. Aku ingin kau belajar menghargai suasana yang tenang," kata Adrian sambil berdiri dan merapikan jasnya.

Sebelum keluar dari kamar, Adrian berhenti di ambang pintu tanpa menoleh. "Oh, satu lagi. Aturan No. 100: Jangan pernah menyimpan rahasia atau benda dari masa lalu tanpa izinku. Aku harap kau mengerti sekarang."

Pintu tertutup dan terkunci secara otomatis.

Arunika meringkuk di lantai di antara abu foto ibunya. Ia tidak lagi berteriak. Ia tidak lagi meronta. Di dalam kegelapan kamarnya yang penuh dengan mata tersembunyi, sebuah bagian dari dirinya baru saja mati.

Ia menyadari bahwa Adrian tidak ingin menyakitinya secara fisik karena luka fisik bisa sembuh. Adrian ingin menghancurkan identitasnya. Pria itu ingin menghapus setiap inci dari dirinya sampai yang tersisa hanyalah "Arunika milik Adrian".

Namun, di tengah keputusasaan itu, tangan Arunika meraba ke dalam saku jubah mandinya. Di sana, terselip sebuah serpihan kecil dari foto ibunya yang sempat jatuh saat pengawal tadi mengeluarkan isi kotak. Sebuah potongan kecil yang hanya menampilkan mata ibunya yang teduh.

Arunika menggenggam serpihan itu dengan sangat erat hingga kukunya memutih.

Aku akan menghancurkanmu, Adrian, batinnya dalam kesunyian yang mencekam. Meskipun aku harus membakar seluruh mansion ini bersamamu di dalamnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!