NovelToon NovelToon
PULANG UNTUK SESUATU YANG TAK PERNAH PERGI

PULANG UNTUK SESUATU YANG TAK PERNAH PERGI

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Berbaikan / Tamat
Popularitas:76
Nilai: 5
Nama Author: ilonksrcc

Raka pulang setelah delapan tahun menghilang di Singapura. Bukan karena rindu kampung halaman, tapi karena mimpi yang terus berulang mimpi tentang Maya, sepupunya yang dulu selalu jadi lawan debatnya, teman sekaligus musuh dalam satu tubuh.

Tapi yang dia temukan bukan Maya yang dia kenal. Maya yang dulu ceplas-ceplos kini diam seperti kuburan. Maya yang dulu penuh api kini hanya menyisakan abu. Ditinggal suami tanpa penjelasan, harus membesarkan dua anak sendirian, dan terjebak dalam kesendirian yang dia jaga ketat seperti benteng.

Raka datang dengan niat hanya sebentar. Cukup untuk memastikan sepupunya baik-baik saja. Cukup untuk menghilangkan rasa bersalah karena pergi tanpa pamit delapan tahun lalu. Tapi hidup punya rencana lain.

"Kadang, yang paling kita hindari adalah tempat kita seharusnya kembali. Dan orang yang paling kita lawan adalah cinta yang tak pernah benar-benar pergi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: DI ANTARA DINGINNYA TEMBOK-TEMBOK ASING

Jakarta menyambut kami dengan nuansanya sendiri: suara klakson yang tak henti, udara yang terasa kental oleh polusi, dan langit yang selalu kelabu meski hujan tak kunjung tiba. Apartemen kecil yang disewa Rangga untuk kami dua kamar, satu ruang tamu mini terasa seperti sangkar yang rapi tapi sesak. Semua barang kami yang dari Makassar terlihat asing di sini, seperti pengunjung yang salah alamat.

Tapi yang paling asing adalah Maya.

Di hari pertama terapi eksperimental suntikan yang katanya bisa "memperbaiki koneksi saraf" dia menatap jarum dengan ketakutan murni seorang anak. Kinan yang memegangi tangannya, Bima berdiri tegang di sebelahku, Aisyah digendong perawat.

"Tidak, jangan," Maya merengek, menarik tangannya.

"Ini untuk membuat mu lebih baik, Sayang," bisikku, tapi kata-kata itu hampa. Karena apa arti "lebih baik" ketika yang dihadapi adalah penyakit tanpa obat pasti?

Setelah suntikan, efek samping datang cepat. Maya muntah-muntah. Kemudian menggigil. Lalu diam membeku, mata terpaku pada langit-langit, seperti orang yang melihat sesuatu di antara dunia kita dan dunia lain.

"Dokter bilang ini normal," kata perawat, tapi matanya menghindar. "Tubuh sedang menyesuaikan."

Bima menarikku ke koridor. "Om, ini benar tidak? Mama keliatan kesakitan."

"Aku juga tidak tahu, Bima. Tapi kita sudah di sini. Harus coba."

"Tapi kalau salah? Kalau malah bikin Mama lebih sakit?"

Pertanyaan itu menggelayut sepanjang malam. Sementara Maya tertidur gelisah, Kinan duduk di samping tempat tidurnya, memegangi boneka dan sesekali mengusap kaki ibunya seperti menenangkan bayi.

---

Minggu pertama di Jakarta adalah neraca antara harapan dan keputusasaan. Pagi: terapi. Siang: Maya lemas. Sore: anak-anak mencoba beradaptasi dengan sekolah baru yang membuat mereka merasa seperti ikan di darat.

Bima, yang di Makassar adalah juara matematika, di sini hanya jadi satu dari banyak anak pintar. Bahkan lebih buruk dia tertinggal dalam pelajaran lain karena fokusnya terpecah antara sekolah dan mengurus keluarga.

"Guru bahasa Inggris bilang aku perlu les privat," lapornya suatu malam, wajah lelah. "Tapi kita tidak punya uang untuk itu."

Kinan, yang biasanya riang, jadi pendiam. Di sekolah, dia diejek karena logat Makassarnya yang kental. "Mereka bilang aku kampungan," katanya sambil menangis di kamar mandi. "Bilang baju aku jelek."

Dan aku? Aku merasa seperti gagal total. Gagal sebagai suami karena membawa Maya ke sini hanya untuk melihatnya menderita. Gagal sebagai ayah karena tidak bisa melindungi anak-anak dari kekejaman dunia baru ini. Gagal sebagai manusia karena setiap malam, ketika semua tidur, aku berdiri di balkon apartemen lantai sembilan ini dan mempertimbangkan untuk melompat.

Tapi tidak. Karena di dalam, ada Bima yang baru sembilan tahun tapi sudah jadi tulang punggung. Ada Kinan yang masih percaya bahwa pelukan bisa menyembuhkan segalanya. Ada Aisyah yang baru belajar berjalan dan membutuhkan tangan untuk berpegangan.

Dan ada Maya. Yang meski tidak lagi mengenaliku, masih mencari tanganku ketika ketakutan.

---

Puncak kehancuran terjadi di akhir minggu kedua.

Maya mengalami reaksi parah terhadap terapi. Kejang. Kami harus membawanya ke IGD tengah malam. Di ambulans yang melaju kencang menerobos lampu merah Jakarta, Bima memegangi tangan ibunya yang dingin, Kinan menangis histeris, Aisyah terbangun dan ikut menangis.

"Tahan, Ma," bisik Bima, air mata mengalir di pipinya. "Tahan."

Di rumah sakit, dokter dengan wajah lelah berkata: "Kami harus hentikan terapi. Tubuhnya tidak kuat."

"Tapi tanpa terapi"

"Dengan terapi, dia mungkin tidak akan bertahan seminggu lagi."

Dunia runtuh. Pelan tapi pasti. Seperti pasir yang merembes melalui jari-jari yang mencoba menggenggam terlalu banyak.

Kami pulang dengan Maya yang masih lemas, dengan harapan yang mati, dengan pertanyaan: untuk apa semua ini? Untuk apa meninggalkan Makassar? Untuk apa membuat anak-anak menderita?

Malam itu, Bima tidak bisa tidur. Dia duduk di lantai balkon, menatap kota Jakarta yang berkedip-kedip seperti bintang palsu.

"Om," bisiknya, suara serak. "Aku mau pulang."

"Aku juga, Nak."

"Tapi kalau pulang, Mama..."

"Dia akan semakin sakit. Tapi setidaknya... di rumahnya sendiri."

Bima menangis pelan. "Aku capek, Om. Capek lihat Mama sakit. Capek harus kuat. Capek... jadi anak."

Aku duduk di sampingnya, memeluknya. "Kamu tidak harus selalu kuat, Bima. Kamu boleh lelah. Kamu boleh menangis."

"Tapi siapa yang jaga Kinan kalau aku lelah? Siapa yang jaga Aisyah? Siapa yang jaga Mama?"

"Aku, Bima. Aku yang akan jaga."

"Tapi Om juga capek. Aku lihat."

Benar. Kami semua capek. Capek berperang melawan penyakit yang tidak bisa dikalahkan. Capek beradaptasi dengan kota yang tidak ramah. Capek menjadi keluarga yang terus-menerus diuji.

---

Kinan, di keesokan harinya, melakukan sesuatu yang tidak terduga.

Dia mengambil kertas dan pensil warna, duduk di samping tempat tidur Maya yang sedang terbaring lemah.

"Ma, Adek mau gambar."

Maya memandanginya dengan mata kosong.

"Gambar keluarga kita. Seperti dulu."

Dia mulai menggambar. Lima orang. Tapi yang mengejutkan: di gambarnya, Maya berada di tengah, tersenyum besar. Dan dari tangan Maya, ada garis-garis warna-warni yang menghubungkannya ke semua orang.

"Garis apa itu, Kinan?" tanyaku.

"Cinta, Om. Kata Mama dulu, cinta itu seperti benang tak terlihat yang menghubungkan keluarga. Meski mata tidak lihat, hati bisa rasakan."

Maya melihat gambar itu. Lama. Lalu tangannya bergerak pelan, menyentuh gambar dirinya sendiri.

"Indah," bisiknya.

"Karena Mama indah," balas Kinan, tersenyum melalui air mata.

Itu momen kecil. Seperti lilin di ruangan gelap. Tapi cukup untuk mengingatkan kami: meski ingatan pergi, meski kata-kata hilang, meski penyakit merenggut segalanya masih ada benang tak terlihat itu. Masih ada koneksi yang tidak bisa diputus oleh apa pun.

---

Keputusan dibuat: pulang. Tidak ada lagi terapi. Tidak ada lagi harapan medis. Hanya sisa waktu. Dan kami ingin menghabiskannya di rumah.

Rangga, ketika mendengar, datang ke apartemen. Dia terlihat lebih tua dari usia sebenarnya.

"Aku minta maaf," katanya, suara berat. "Aku pikir ini bisa membantu."

"Kamu sudah berusaha," jawabku. "Tapi beberapa hal... tidak bisa diperbaiki."

"Biayanya... aku akan tanggung. Untuk pulang. Dan... untuk apa pun yang dibutuhkan setelahnya."

Tidak ada lagi negosiasi. Tidak ada lagi syarat. Hanya pengakuan bahwa perang sudah kalah, dan yang tersisa adalah memberi martabat pada kekalahan.

Bima mendekati ayahnya. "Papa, terima kasih sudah mencoba."

Rangga memeluk anaknya pelukan pertama yang tulus sejak lama. "Kamu anak yang hebat, Bima. Lebih hebat dari ayahmu."

"Bukan hebat, Papa. Hanya... bertahan."

"Bertahan itu lebih dari hebat."

---

Penerbangan pulang terasa seperti prosesi pemakaman. Maya tidur hampir sepanjang perjalanan, tubuhnya semakin ringan, seperti semakin dekat dengan sesuatu yang tidak kita mengerti.

Bima memegangi tangan ibunya. Kinan bersandar di bahuku. Aisyah tertidur di pangkuanku.

Dan aku... aku menatap awan-awan di luar jendela, bertanya pada sesuatu yang tidak memiliki jawaban: apakah semua ini sia-sia? Delapan tahun yang terbuang, kemudian pertemuan kembali, kemudian pernikahan, kemudian bayi, kemudian penyakit, kemudian perjuangan apakah semuanya hanya untuk sampai pada akhir yang sama?

Tapi kemudian Bima berkata: "Om, lihat."

Dia menunjukkan jari-jari Maya yang bergerak pelan, memegangi jarinya. Meski tertidur, meski tidak sadar, tangannya masih mencari anaknya.

"Masih ada, Om," bisik Bima. "Cintanya masih ada."

Mungkin itulah pelajaran terbesar dari semua ini: cinta tidak membutuhkan kesadaran. Tidak membutuhkan ingatan. Tidak membutuhkan kata-kata.

Cinta hanya ada. Seperti udara. Seperti detak jantung. Seperti benang tak terlihat yang menghubungkan seorang ibu pada anaknya, meski otaknya sudah lupa menjadi ibu, meski mulutnya sudah lupa nama anaknya, meski matanya sudah tidak mengenali wajah mereka.

Cinta tetap ada.

Di dalam genggaman tangan yang lemah.

Di dalam sentuhan pelan di tengah malam.

Di dalam naluri untuk melindungi, meski tidak mengerti apa yang dilindungi.

---

Makassar menyambut kami dengan hujan. Hujan yang menyegarkan, yang membasahi tanah kering, yang membawa aroma bumi yang kami kenal.

Rumah kami kecil, sederhana, dengan atap yang masih bocor terasa seperti istana. Karena di sini, setiap sudut berisi kenangan. Di sini, Maya masih menjadi Maya, meski versi yang berbeda.

Kami menempatkannya di kamar dengan jendela menghadap taman kecil. Di mana dia bisa melihat pohon mangga yang dulu dia tanam ketika Bima lahir. Di mana dia bisa mendengar burung-burung di pagi hari.

Dan di malam pertama kembali, sesuatu terjadi.

Maya bangun, duduk di tempat tidur. Kinan, yang tidur di kasur kecil di sampingnya, terbangun.

"Ma?"

Maya menatap Kinan. Lalu, dengan suara yang jernih, jernih seperti sebelum penyakit dia berkata:

"Kinan. Anakku."

Kinan terpana. "Mama... ingat?"

"Tidak. Tapi... aku tahu. Di sini." Maya menepuk dadanya. "Aku tahu kamu anakku."

Itu mungkin tidak masuk akal secara medis. Tapi secara manusiawi, itu segalanya.

Kinan memeluk ibunya, menangis. "Iya, Ma. Adek anak Mama."

"Dan aku... mencintaimu."

"Kita semua mencintai Mama."

Maya memandang sekeliling kamar, kamar yang penuh dengan foto-foto, gambar anak-anak, kenangan yang dia sendiri tidak ingat membuatnya.

"Rumah," bisiknya. "Ini rumah."

"Ya, Ma. Ini rumah kita."

Dan untuk pertama kalinya sejak lama, Maya tersenyum, senyum damai, senyum penerimaan. Seperti seseorang yang setelah lama tersesat, akhirnya menemukan jalan pulang.

Mungkin itu yang terakhir. Mungkin besok dia akan lupa lagi. Tapi malam ini, di rumahnya, dengan anak-anaknya, dia tahu.

Dia tahu dia dicintai.

Dia tahu dia berada di rumah.

Dia tahu dia adalah ibu.

Dan untuk seorang ibu, meski ingatannya hanya bertahan semalam, itu sudah cukup.

Cukup untuk sebuah kehidupan.

Cukup untuk sebuah cerita.

Cukup untuk cinta yang tetap hidup, meski segalanya yang lain perlahan pergi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!