NovelToon NovelToon
SALAH TARGET! AKU MALAH DINIKAHI SANG MAFIA

SALAH TARGET! AKU MALAH DINIKAHI SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Action / Dark Romance / Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

Alana, agen intelijen terbaik, melakukan kesalahan fatal saat menyamar. Bukannya mendapatkan data rahasia, ia malah tertangkap basah oleh Arkano Dirgantara, raja mafia paling berbahaya.
Hanya ada dua pilihan bagi Alana: Mati di tangan Arkano, atau menjadi istrinya.
Terjebak dalam pernikahan kontrak yang penuh intrik, Alana harus berpura-pura menjadi istri yang patuh sambil terus menjalankan misinya. Namun, saat Arkano mulai menunjukkan sisi posesif yang gelap sekaligus mempesona, Alana terjebak di antara tugas negara atau perasaan hatinya.
"Kau mangsaku, Alana. Dan seorang predator tidak akan pernah melepaskan tangkapannya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: PERMAINAN DI RUANG TERLARANG

Pagi itu, mansion Dirgantara terasa lebih sunyi dari biasanya. Alana berdiri di depan cermin, merapikan gaun sutra berwarna marun yang melekat pas di tubuhnya. Kalung berlian biru pemberian Arkano masih melingkar di lehernya, terasa seperti rantai yang tak terlihat.

Sesuai janjinya semalam, Arkano benar-benar mengizinkannya masuk ke area yang selama ini menjadi zona terlarang bagi siapa pun: ruang kerja pribadinya.

"Sudah siap?"

Arkano muncul di ambang pintu dengan setelan jas abu-abu gelap. Wajahnya datar, sulit dibaca. Alana mengangguk pelan, mencoba menyembunyikan detak jantungnya yang berpacu kencang. Hari ini adalah kesempatannya untuk mengambil daftar pembeli senjata yang diminta Hendra.

Mereka berjalan menyusuri koridor lantai dua. Di depan sebuah pintu kayu jati besar dengan pengunci elektronik mutakhir, Arkano berhenti. Ia menempelkan telapak tangannya ke panel sensor.

Beep! Access Granted.

Pintu terbuka perlahan. Ruangan itu luas, penuh dengan rak buku setinggi langit-langit dan sebuah meja kerja besar dari marmer hitam di tengahnya. Di atas meja itu, sebuah laptop dengan logo klan Dirgantara menyala dalam mode standby.

"Kau bisa duduk di sana sementara aku menyelesaikan beberapa dokumen," ujar Arkano sambil menunjuk sofa kulit di sudut ruangan.

Alana duduk dengan kaku. Matanya terus melirik ke arah laptop. Arkano duduk di kursi kebesarannya, tampak sibuk dengan tumpukan berkas. Selama tiga puluh menit, hanya suara gesekan bolpoin dan detak jam dinding yang terdengar.

"Aku butuh kopi," gumam Arkano tiba-tiba. Ia menekan tombol interkom di mejanya. "Marco, bawakan kopi hitam ke ruanganku. Jangan biarkan pelayan lain masuk."

"Baik, Tuan," sahut suara Marco dari seberang.

Beberapa menit kemudian, Marco masuk membawa nampan. Saat Marco sedang menaruh kopi, Arkano bangkit berdiri. "Marco, ikut aku ke ruang arsip sebentar. Ada berkas pengiriman pelabuhan yang harus kau periksa sekarang juga."

Arkano menoleh ke arah Alana. "Jangan sentuh apa pun, Alana. Aku hanya pergi lima menit."

Begitu pintu tertutup dan suara langkah kaki mereka menjauh, Alana langsung melompat dari sofa. Ini dia. Kesempatannya.

Ia berlari kecil menuju meja kerja Arkano. Jantungnya berdegup hingga ke tenggorokan. Ia membuka laci meja, mencari flashdisk atau catatan manual. Kosong. Pandangannya beralih ke laptop yang masih menyala.

Ia mencoba menggerakkan mouse. Layar terkunci. Password.

"Sial," umpat Alana pelan. Ia mengeluarkan sebuah perangkat kecil berbentuk chip dari balik ikat pinggang gaunnya—alat peretas portabel milik kepolisian. Ia memasukkannya ke port USB laptop tersebut.

Indikator di chip itu mulai berkedip merah. Processing... 20%... 40%...

Alana terus melirik ke arah pintu. Setiap detik terasa seperti satu jam. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.

60%... 80%...

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari koridor. Bukan langkah Marco yang berat, tapi langkah sepatu pantofel yang tegas. Itu Arkano!

95%... Complete!

Alana dengan cepat mencabut chip itu dan menyembunyikannya di dalam belahan dadanya tepat saat gagang pintu bergerak. Ia tidak punya waktu untuk kembali ke sofa. Dengan gerakan refleks, ia menjatuhkan sebuah vas bunga kecil di dekat meja kerja hingga pecah berkeping-keping.

PRANK!

Pintu terbuka. Arkano berdiri di sana, matanya langsung tertuju pada Alana yang sedang berjongkok di dekat pecahan vas, tampak panik.

"Apa yang terjadi?" suara Arkano terdengar tajam dan penuh selidik.

"Ma-maaf," ucap Alana dengan suara bergetar yang dibuat-buat. "Aku... aku hanya ingin melihat foto di atas mejamu, lalu tidak sengaja menyenggol vas ini. Aku akan membereskannya."

Arkano melangkah mendekat. Ia tidak melihat ke arah vas, melainkan ke arah laptopnya. Alana menahan napas. Apakah ia menyadari posisi laptopnya sedikit bergeser? Arkano meletakkan tangannya di atas meja, tepat di samping laptop.

"Kau sangat ceroboh, Alana," ujar Arkano pelan. Ia menarik tangan Alana agar berdiri, mengabaikan serpihan kaca di bawah mereka.

Arkano menatap mata Alana dalam-dalam. "Atau kau memang sengaja membuat keributan untuk menutupi sesuatu?"

Alana memaksakan senyum tipis, mencoba menggunakan taktik rayuan yang ia rencanakan. Ia melingkarkan tangannya di leher Arkano, mendekatkan tubuhnya hingga mereka tidak berjarak.

"Kau terlalu curiga padaku, Arkano. Apa kau pikir aku seberani itu melakukan sesuatu di bawah hidungmu?" bisik Alana.

Arkano tidak melepaskan pandangannya. Tangannya merayap ke pinggang Alana, menariknya semakin rapat. "Kau agen terbaik Hendra. Keberanian adalah makanan sehari-harimu."

Tangan Arkano tiba-tiba bergerak naik, menyentuh leher Alana, lalu turun ke arah dadanya—tempat chip itu disembunyikan. Alana membeku. Jika Arkano merogoh lebih dalam, tamatlah riwayatnya.

"Jantungmu berdetak sangat kencang, Alana. Kau takut?" tanya Arkano, bibirnya hanya beberapa senti dari telinga Alana.

"Aku... aku hanya terkejut karena kau membentakku tadi," alibi Alana. Ia segera membenamkan wajahnya di dada Arkano, mencoba mengalihkan perhatian pria itu. "Aku lelah dicurigai terus menerus. Jika kau memang tidak percaya, kenapa kau menikahiku?"

Arkano terdiam sejenak. Ia menghela napas panjang, lalu mengusap rambut Alana dengan gerakan yang hampir terlihat tulus. "Karena aku ingin memilikimu, bukan hanya identitasmu."

Arkano melepaskan pelukannya. "Keluar. Biar Marco yang membersihkan pecahannya. Dan jangan pernah masuk ke ruangan ini lagi tanpa aku."

Alana segera berjalan keluar dengan langkah cepat, mencoba bersikap normal meski lututnya terasa lemas. Begitu sampai di kamarnya dan mengunci pintu, ia langsung mengeluarkan chip itu. Berhasil. Ia mendapatkan datanya.

Namun, di dalam ruang kerja, Arkano tidak memanggil Marco. Ia justru duduk di kursinya dan membuka laptopnya. Ia mengetikkan sesuatu, lalu sebuah layar peringatan muncul: External Hardware Detected at 10:42 AM.

Arkano menyeringai tipis. Seringai yang tidak menunjukkan kemarahan, melainkan kepuasan seorang pemburu yang melihat mangsanya masuk ke dalam perangkap.

Ia meraih ponselnya dan melakukan panggilan. "Hendra... agenmu baru saja mengambil data palsu yang aku siapkan. Sekarang, saatnya kita mulai babak selanjutnya dari permainan ini."

Sementara itu, di dalam kamarnya, Alana baru saja menyalakan lipstik pemancarnya. "Silent Cat melapor. Data berhasil didapatkan. Aku akan mengirimkannya melalui jalur aman malam ini."

Alana tidak tahu bahwa data yang ia pegang adalah bom waktu yang justru akan menghancurkan kepercayaannya pada kepolisian, sekaligus mengikatnya lebih dalam pada dunia Arkano yang gelap.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!