Darren adalah anak yatim piatu yang diangkat anak oleh Jhon Meyer, Owner XpostOne. Prestasinya sangat gemilang sehingga dia sering di perintahkan oleh Jhon Meyer untuk bertugas di daerah konflik.
Umurnya sudah dua puluh delapan tahun dan belum menikah. Ia berjanji sebelum bisa membalaskan sakit hatinya kepada keluarga Blossom, ia tak mau menikah. Dulu saat berumur sepuluh tahun orang tua dan kakaknya di bakar hidup-hidup oleh keluarga Blossom.
Suatu hari ia di perintahkan oleh Jhon Meyer untuk menyelamatkan tiga orang gadis yang terperangkap didesa Beduwi. Dengan berat hati ia pergi ke Bali, tapi apa yang dia temukan di desa itu? Ilmu hitam atau Le-ak. Sangat mengerikan dan hampir saja ia menjadi tumbal.
Saat mengetahui salah satu dari ke tiga gadis itu adalah putri keluarga Blossom, ia pun membuat rencana jahat untuk menyiksa gadis itu.
Apakah yang direncanakan oleh Darren? silahkan baca sampai tamat.
Trimakasih, jangan lupa like, coment***
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB.15. KE JAKARTA
"Beli makanan yang murah dua bungkus, sekalian air mineral, aku akan meminjam hape untuk menghubungi teman." ucap Intan memberi uang seratus ribu kepada Yudi.
"Terimakasih Bee..." ucap Yudi tersenyum.
"What??"
Intan kaget dipanggil Bee. Apa Yudi ada hati dengannya? Tak mungkin, pasti ia salah ucap. Amit-amit jabang bayi, Yudi bukan tipenya, tidak level. Mana mungkin dokter sepertinya bersanding dengan orang kampung yang tak sekolah.
Apa Yudi salah mengerti dengan ucapannya, ia memang akan meluluskan permintaan Yudi untuk balas budi. Tapi tidak untuk berpacaran atau menikah, ia cuma ingin membantu dalam finansial.
Intan memandang punggung Yudi yang menjauh, ia sudah punya angan-angan mengangkat Yudi menjadi pengelola di apotik yang berada di Cengkareng.
Baru sehari bertemu ia sudah yakin, Yudi orangnya tekun bekerja dan jujur. Semoga kedepannya bisa mandiri punya usaha sendiri untuk masa depannya.
Intan cepat mencari orang yang kira-kira bisa di pinjam hapenya. Ia melihat tukang parkir dan mendekatinya.
"Maaf pak saya pinjam hapenya sebentar untuk menghubungi keluarga saya, tas saya dirampok orang." ucap Intan bohong.
Tukang parkir menatapnya naik turun, ia pasti curiga karena banyak penipuan yang sering terjadi. Tapi melihat penampilan Intan yang pucat dan lusuh, tukang parkir segera menyodorkan hapenya.
Dengan tangan gemetar Intan mengambil hape itu, sesaat ia bingung, siapa yang harus di telpon? Yang paling cepat bisa menolongnya.
Setelah lama berpikir terbesit nama pak Cahya Mulyadi Blossom. Bapaknya Aluna, seorang konglomerat yang sukses dalam perminyakan. Ia mengeruk minyak bumi pertiwi ini. Bisnisnya menggurita sampai ke negara tetangga.
[Halo om... saya Intan teman Aluna, tolong saya om...]
[Halo...halo..posisimu dimana, diam disitu akan ada orang yang menjemputmu]
[Saya tidak tahu dimana ini yang jelas ada di kota Denpasar. Hape ini bukan milik saya, tolong cepat om.. ..]
[Katakan bahwa kamu akan membayarnya asal dikasi pinjam hapenya]
[Baik om..]
Dada pak Cahya bergemuruh, harapannya kembali muncul. Tumben ada yang berani memerintahnya, tapi tidak apa yang penting putrinya selamat.
Ia merespon dengan baik telepon dari Intan dan berharap putrinya juga ikut selamat. Perasaan Intan lega, ia kembali ke tempat Yudi yang menunggunya.q
"Bagaimana sudah menelpon keluarga?" tanya Yudi seraya menyodorkan nasi jinggo dan sebotol air mineral.
"Sudah, aku menelpon papa, dan mereka akan menjemput ku." Intan berbohong lagi dan ia menganggap cuma iseng.
Mereka makan nasi jinggo dengan lahap, harga nasi lima ribu, isinya tidak banyak tapi cukup untuk mengganjal perut. Saat lapar apapun terasa enak.
Sedang enak-enaknya makan, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh beberapa orang berseragam yang menghampirinya.
"Nona, kami diperintahkan menjemput dan mengajak pulang. Papa anda telah menunggu."
"Haa...apa kalian dari pak Cahya?" tanya Intan kaget. Ia membuang nasinya dan menarik Yudi untuk ikut serta.
"Mari cepat pergi..." ucap Intan gembira.
Semua mata melotot melihat beberapa pengawal hormat dengan seorang gadis lusuh. Yudi juga heran ternyata gadis yang ditolong adalah putri orang penting.
Intan sendiri merasa bangga ia mengaku kepada Yudi bahwa ayahnya konglomerat.
Mereka dikawal sampai bandara dan naik privat jet. Bahagianya. Intan tersanjung diperlakukan seperti putri. Seandainya Aluna sudah meninggal pasti ia diangkat anak oleh pak Cahya. Bathinnya.
Hatinya berbunga-bunga dan berharap supaya ia bisa menggantikan Aluna dan berdoa supaya Aluna tidak kembali. Otak liciknya menari-nari memenuhi sanubari.
Nanti kalau bertemu orang tua Luna ia harus drama dan punya akal bulus. Dari dulu ia sudah iri melihat kebahagiaan Luna, yang mempunyai orang tua lengkap dan kekayaannya tidak habis tujuh turunan.
Mereka disuruh membersihkan diri dan berpakaian rapi. Pakaiannya disiapkan oleh pramugari. Walaupun tidak secantik Aluna, Intan tetap mempesona. Yudi yang melihatnya memuji dalam hati.
"Bee.. aku mohon jangan tinggalkan aku. Hidupku sebatang-kara." bisik Yudi saat berada di pesawat.
"Oke..aku akan menanggung hidupmu sebatas teman. Asal kamu menolongku jika ada kendala."
"Aku akan selalu membantumu, nanti kalau ditanya jangan katakan kalau aku dari desa Beduwi."
"Tenang saja, aku akan mengatakan kau juga korban dan kau pahlawanku."
Mereka saling sepakat dan sehati. Yudi lebih condong menutup.diri dan berlagak lupa akan kejadian di desa Beduwi.
Penyambutan yang dipersiapkan oleh pak Cahya sungguh meriah. Mereka mengira Aluna ada bersama Intan. Semua sanak saudara dan para pencari berita berjejer dengan rapi.
Para wartawan menunggu korban dari desa Beduwi, mereka ingin mematahkan anggapan orang, bahwa tidak ada yang bisa selamat dari cengkraman Le-ak.
"Hallo Intan, bagaimana keadaan anda saat ini?"
"Selain anda berdua, apakah ada kirban lain yang selamat."
"Dimana Aluna?"
Pertanyaan pertama yang meluncur dari bibir pak Cahya. Daripada menjawab lebih baik pura-pura pingsan begitu pikir Intan. Dengan gaya lunglai ia menjatuhkan diri dan Yudi sebagai penyangga tubuhnya.
"Cepat ajak ke kamar panggil dokter." pak Cahya panik. Semua kalang kabut, ribut dan ketakutan.
Pak Cahyo memang mempersiapkan dokter ia jaga-jaga kalau kondisi putrinya skan berbahaya.
"Saat dokter memeriksa Intan, pak Cahya menarik Yudi keluar. Ia mengajak Yudi ke ruang tunggu. Nyonya Yunita Blossom juga ikut.
"Dimana putri saya?"
"Di dalam pak." ucap Yudi heran.
Akhirnya bu Yunita bercerita putrinya Aluna bukan Intan. Kebetulan bu Yunita tau keberangkatan Aluna dan temannya ke Bali atas kesepakatan mereka bertiga.
"Tapi kenapa Intan mengaku putri bapak?" tanya Yudi pelan.
"Karena kami juga menganggap mereka anak sendiri. Intan dan Katrin teman Aluna dari SMA, sudah seperti saudara."
"Kenapa kamu berdua yang datang, Aluna dan Katrin kemana?"
"Maaf bu, Katrin sudah menin66al dan Aluna hilang mungkin sudah jadi tumbal. Saya hanya bisa menyelamatkan Intan. Waktu itu saya menggendongnya dari desa Beduwi ke desa Loloan, sekitar dua kilo meter.
Nyonya Yunita menangis histeris saat mendengar putrinya hilang dan tidak ada harapan kembali.
"Kenapa kamu tidak menolong putriku?"
"Maaf nyonya saat itu gelap gulita, kami semua mau dit*mbalkan di kub*ran, saya menyelinap saat yang lain di g*rok leh*rnya." ucap Yudi menunduk, ia takut ketahuan bohong.
"Berapa orang yang menin66al?" tanya pak Cahya sedih.
"Banyak, saya hanya bisa menyelamatkan Intan, karena yang lain tidak bergerak."
"Aku ingin mengirim pasukan kesana, desa itu harus du bumi hanguskan!!"
"Sabar pak, masih banyak korban yang terperangkap disana, kalau sudah tenang saya akan kembali untuk mengeluarkan mereka." sahut Yudi tenang.
Ia berusaha berperan sebagai pahlawan supaya pak Cahya mengangkatnya sebagai salah satu karyawan atau apapun di rumah ini. Walaupun Intan berjanji akan membantunya, kalau dapat rekomendasi dari pak Cahya itu lebih bagus.
"Jika kamu sampai bisa menolong putriku, aku akan memberikan sebagian hartaku." ucap Cahya membuat Yudi melonjak kaget.
*****

YUDI