"Jika aku memang pembunuh yang kau cari, kenapa jantungmu berdetak begitu kencang saat aku menyentuhmu?"
Ghea, seorang detektif hebat, terbangun tanpa ingatan di sebuah villa mewah. Seorang pria tampan bernama Adrian mengaku sebagai tunangannya. Namun, Ghea menemukan sebuah lencana polisi berdarah di bawah bantalnya.
Saat ingatan mulai pulih, kenyataan pahit menghantam: Pria yang memeluknya setiap malam adalah psikopat yang selama ini ia buru. Terjebak dalam sangkar emas, apakah Ghea akan memilih tugasnya sebagai detektif atau justru jatuh cinta pada sang iblis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: BERDANSA DENGAN IBLIS
Kamar itu mendadak terasa mencekam, . Adrian berdiri di ambang pintu. Tangannya memainkan sebuah pisau kecil yang berkilau kena cahaya lampu kamar. Tatapannya yang tajam menatap Bi Inah, lalu perlahan beralih ke Ghea yang tengah terbaring lemah di atas kasur.
" Bi Inah," panggil Adrian dengan sudah rendah, tenang namun terdengar mengancam. "Kenapa masih di sini? Tugas mu cuma ganti perban, bukan mendongeng, kan?"
Ghea bisa melihat bahu pelayan tua itu merosot seketika. Tangan Bi Inah gemetar hebat saat ia buru-buru memasukkan kotak obat ke dalam nampan. "Ma-maaf, Tuan Adrian. Saya hanya... saya cuma mau memastikan Nona Ghea nyaman."
"Nyaman?" Adrian melangkah masuk. Suara langkah kakinya terasa seperti mencengkram di telinga Ghea. "Kehadiranmu justru mengganggunya. Keluar. Sekarang."
Tanpa berani mendongak, Bi Inah bergegas pergi. Ia bahkan tidak berani melirik Ghea untuk terakhir kalinya. Pintu tertutup dengan bunyi klik yang dingin, meninggalkan Ghea sendirian dengan pria itu.
Adrian duduk di pinggir ranjang, tepat di posisi yang sama seperti sebelumnya. Ia mulai mengupas sebuah apel. Kulit apel itu jatuh melingkar sempurna tanpa putus—sebuah gerakan yang menunjukkan betapa stabil dan mengerikannya kendali tangan pria ini.
"Sayang, apa saja yang pelayan itu bicarakan padamu?" tanya Adrian tanpa melepaskan pandangan dari pisaunya.
Jantung Ghea berdegup kencang hingga telinganya berdenging. Ia tahu, salah bicara sedikit saja bisa fatal. Ia harus berakting. Ia harus pura-pura lemah.
"Dia... dia cuma bilang aku harus banyak istirahat. Biar ingatanku cepat balik," jawab Ghea pelan, suaranya sengaja dibuat parau. Ia menatap Adrian dengan sorot mata yang dipaksa terlihat bingung. "Kenapa? Ada yang salah ya?"
Gerakan pisau Adrian terhenti. Ia menatap Ghea cukup lama. Keheningan di antara mereka terasa begitu berat, sampai-sampai Ghea bisa mendengar suara napasnya sendiri yang pendek-pendek.
Tiba-tiba, Adrian tersenyum. "Nggak ada. Hanya saja, Bi Inah sudah pikun. Suka bicara ngawur. Aku nggak mau ceritanya malah bikin proses pemulihanmu kacau."
Adrian memotong sepotong kecil apel, lalu menyodorkannya ke mulut Ghea menggunakan ujung pisau. Logam dingin itu menyentuh bibir Ghea. Sebuah ancaman yang dibungkus dengan perhatian palsu.
"Makanlah. Kamu butuh vitamin," perintahnya lembut, tapi matanya menuntut kepatuhan mutlak.
Ghea terpaksa membuka mulut, mengunyah potongan apel itu meski rasanya seperti menelan duri. Pikirannya berputar cepat. Ia butuh ponsel. Ia butuh kontak dengan dunia luar.
"Adrian," panggil Ghea lirih. "Boleh aku lihat ponselku? Siapa tahu foto-foto di sana bisa bantu aku ingat sesuatu."
Adrian meletakkan pisau dan sisa apelnya ke nampan. Ia mengusap pipi Ghea dengan punggung tangannya—sentuhan yang membuat Ghea ingin menjauh, tapi ia terpaksa diam.
"Ponselmu hancur waktu kecelakaan itu, Ghea. Benar-benar hancur," ucap Adrian dengan nada prihatin yang dibuat-buat. "Tapi tenang saja, aku sudah belikan yang baru. Nanti kalau kamu sudah mendingan, kamu bisa pakai."
Bohong, batin Ghea. Lencana polisi yang ia temukan di bawah bantal adalah buktinya. Jika kecelakaan itu menghancurkan ponsel, kenapa lencana yang hanya berbahan logam tipis itu masih utuh?
"Makasih," bisik Ghea. "Kamu baik sekali."
"Tentu saja. Aku akan lakukan apa pun untukmu," Adrian mendekat, mencium pelipis Ghea dan berbisik tepat di telinganya. "Karena kamu milikku. Satu-satunya yang berharga buatku. Aku nggak akan biarkan siapa pun atau ingatan apa pun merebut mu dariku lagi."
Kata-kata itu bukan janji cinta. Di telinga Ghea, itu adalah vonis penjara seumur hidup.
Ghea buru-buru menarik selimut hingga ke dada, mengatur napasnya yang menderu.
Jantungnya berdentum keras, seolah ingin menjebol tulang rusuknya sendiri. Belum genap semenit ia memejamkan mata, suara gerendel pintu yang berputar membuat bulu kuduknya berdiri.
Adrian masuk. Kali ini tangannya tidak membawa nampan, melainkan sebuah kotak musik perak usang. Ia tidak bicara. Langkah kakinya lambat, sengaja menekan lantai kayu hingga berderit, sebelum akhirnya duduk di tepi ranjang.
Lelaki itu memutar tuas kotak musik tersebut. Sebuah melodi klasik yang melankolis mulai mengalun, memenuhi kamar yang kedap suara itu dengan nada yang terdengar seperti rintihan.
"Ingat lagu ini?" tanya Adrian tanpa menoleh. Matanya terpaku pada penari plastik kecil yang berputar di dalam kotak. "Kita sering mendengarnya saat di universitas dulu. Kamu bilang, melodi ini terdengar seperti hujan yang jatuh di atas atap seng."
Ghea menelan ludah, tenggorokannya terasa kering seperti berpasir. "Maaf, Adrian... kepalaku masih sakit. Aku benar-benar tidak ingat."
Adrian terdiam. Keheningan setelah itu terasa lebih menyesakkan daripada musiknya. Perlahan, ia menoleh. Wajahnya yang semula tenang kini nampak kaku, dengan sorot mata yang mengunci pergerakan Ghea.
"Sampai kapan, Ghea?"
"Apa?"
Adrian terkekeh, suara tawa yang pendek dan hambar. Ia mencondongkan tubuh, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari Ghea hingga Ghea bisa mencium aroma mint dan besi yang samar.
"Sampai kapan kamu mau terus-terusan memakai topeng rapuh ini di depanku?" Adrian meraih tangan Ghea, mencengkeram pergelangan tangannya dengan kekuatan yang sanggup meremukkan tulang. "Apa akting 'amnesia' ini adalah bagian dari pembelajaran saat di sekolah kepolisian, Detektif Ghea Zanna?"
Dunia Ghea mendadak sunyi. Pasokan oksigen di paru-parunya seolah direnggut paksa.
"Wajahmu pucat sekali," Adrian mengusap pipi Ghea dengan ibu jarinya, gerakannya lembut namun penuh ancaman. "Kenapa? Kamu kaget karena aku tahu? Atau kamu kaget karena ternyata lencana polisi di bawah bantalmu itu sudah aku temukan sejak hari pertama?"
Adrian tersenyum lebar. Kali ini senyum itu tidak sampai ke mata. Itu adalah seringai predator yang baru saja selesai mempermainkan mangsanya. "Jangan takut. Aku tidak akan membunuhmu. Setidaknya... belum sekarang. Kita baru saja mulai berdansa, Sayang."
sarannya sebelum di update dibaca ulang yah thor....