NovelToon NovelToon
Takdir Paranormal Gadungan

Takdir Paranormal Gadungan

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Mata Batin / Iblis / Anak Yatim Piatu / Roh Supernatural
Popularitas:44
Nilai: 5
Nama Author: Princss Halu

Freen Sarocha adalah seorang penipu ulung yang hidup dari rasa takut orang lain. Berbekal minyak melati, bubuk kunyit, dan trik kabel listrik, ia sukses membangun reputasi sebagai "Paranormal Sakti" demi menguras dompet para orang kaya yang percaya takhayul. Baginya, hantu itu tidak nyata—mereka hanyalah peluang bisnis.
​Namun, keberuntungan Freen berakhir saat ia menginjakkan kaki di rumah tua milik sahabatnya, Nam.
​Di sana, ia bertemu dengan sesuatu yang tidak bisa ia tipu dengan trik pencahayaan. Sosok arwah bernama Chanya tidak hanya mengusir Freen, tapi juga memberikan hukuman paling kejam bagi seorang penipu: Membuka Mata Batinnya secara paksa.
​Kini, dunia Freen berubah menjadi mimpi buruk. Ia melihat sosok-sosok mengerikan di setiap sudut jalan, di punggung orang asing, dan di bawah lampu merah. Hanya ada satu cara agar ia bisa kembali menjadi "normal": Freen harus berhenti berpura-pura dan mulai menjadi paranormal sungguhan.
​Terjebak dalam konspirasi pembunuhan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princss Halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Takdir baru si Gadungan

Freen bereaksi secepat kilat. Ia menjatuhkan diri ke lantai, menggelinding di balik sofa tebal tepat sebelum peluru Jirayut menghantam dinding di belakangnya dengan bunyi DOR! yang memekakkan telinga. Debu dan serpihan cat berhamburan.

"Dia gila! Freen, cepat sembunyi!" seru Chanya, suaranya dipenuhi ketakutan.

Jirayut, yang panik karena tembakannya meleset, mulai menuruni tangga.

"Keluar kau, Freen! Aku akan menghabisi kalian berdua, sepertinya aku harus membersihkan rumah tua itu secepatnya!"

Tiba-tiba, suara sirene mobil polisi terdengar nyaring dari luar, semakin mendekat. Lampu biru dan merah berputar-putar menyorot jendela rumah Jirayut.

Wiu! Wiu! Wiu!

Jirayut terhenti di tengah tangga, wajahnya pucat pasi. "Polisi? Bagaimana bisa?"

Freen, yang masih bersembunyi di balik sofa, merasakan kehadiran Chanya di dekatnya.

"Nam! Pasti Nam yang melakukannya!" bisik Freen lega.

Ia ingat Freen meninggalkan pesan pada Nam untuk mencari informasi dan segera bertindak jika ada yang mencurigakan.

Freen teringat ponselnya. Ia merogoh saku jaketnya, memastikan gelang giok itu aman.

Di luar, suara pintu gerbang didobrak dan teriakan polisi meminta Jirayut untuk keluar terdengar jelas.

"Tuan Jirayut Sukhum! Kami dari Kepolisian! Keluar dengan tangan di atas!"

Jirayut panik. Ia segera berbalik, berlari menuju sebuah pintu di lantai atas, mungkin ruang rahasia.

"Jangan biarkan dia lari! Dia pasti menyimpan dokumen di sana!" teriak Chanya.

Freen segera keluar dari persembunyiannya. Ia berteriak sekeras-kerasnya ke arah tangga.

"Polisi! Tuan Jirayut menembakku! Dia menyimpan barang bukti pembunuhan di sini!"

Teriakan Freen berhasil membuat polisi bergerak cepat. Beberapa detik kemudian, dua orang petugas berseragam masuk dari pintu depan, pistol di tangan. Mereka melihat Freen yang meringkuk dan melihat lubang peluru di dinding.

"Nona, menjauhlah! Kami akan naik!" perintah salah satu polisi.

Saat petugas mengejar Jirayut ke lantai atas, Freen berjalan ke arah pintu depan, tubuhnya gemetar karena adrenalin dan ketakutan.

"Kau selamat, Freen. Syukurlah," bisik Chanya, suaranya terdengar lembut, sedikit lega.

Freen memegang gelang giok di sakunya. "Aku beruntung. Terima kasih, Nam," gumamnya.

Tak lama kemudian, terdengar suara keributan di lantai atas, lalu bunyi 'klik' borgol. Polisi membawa Jirayut turun. Wajah Jirayut terlihat hancur, ia tidak lagi tampak seperti pria sukses yang rapi.

"Aku dijebak! Perempuan gila ini perampok!" teriak Jirayut sambil meronta.

Freen berjalan mendekati petugas yang menginterogasinya. Ia menyerahkan gelang giok itu.

"Ini buktinya, Pak. Ini gelang giok milik Nona Chanya. Tuan Jirayut membunuh keponakannya sendiri agar bisa menguasai rumah warisan itu. Gelang ini adalah kunci perjanjian warisan yang sah," jelas Freen, suaranya tegas dan yakin.

Freen Sarocha, sang Paranormal Gadungan yang kini menjadi saksi kunci, menatap ke arah tempat Chanya berdiri—di samping petugas.

"Kau menepati janjimu, Freen. Terima kasih," suara Chanya terdengar, kali ini penuh kedamaian.

Freen menghela napas panjang. "Sekarang giliranku, Chanya. Penuhi janjimu. Tutup mataku."

Tiba-tiba, hawa dingin di sekitar Freen menghilang. Tubuhnya terasa ringan, dan pandangannya terasa... normal.

Freen melihat ke arah petugas dan Jirayut. Ia tidak melihat sosok Chanya lagi. Ia hanya melihat orang-orang biasa, tidak ada hantu, tidak ada anjing hantu.

"Sudah... tertutup," bisik Freen, lega.

Karma yang ia terima telah membawa kebaikan bagi arwah penasaran.

Keesokan harinya, Freen dan Nam berada di kantor polisi untuk memberikan keterangan.

Freen menceritakan semuanya, dari arwah Chanya hingga gelang giok, hanya saja ia menghilangkan bagian "mata batin" dan mengubahnya menjadi "intuisi yang kuat".

Polisi percaya, terutama setelah menemukan dokumen-dokumen mencurigakan di kantor Jirayut dan bukti bahwa Jirayut kecanduan judi dan terlilit utang.

Setelah semua urusan selesai, Freen dan Nam kembali ke rumah biru tua itu.

"Aku akan menjual rumah ini, Freen. Aku tidak bisa tinggal di sini," kata Nam.

"Jangan, Nam," sela Freen. "Chanya sudah bebas. Rumah ini sekarang sudah damai. Kau akan mendapatkan uangmu kembali. Dan aku... aku akan kembali ke pekerjaanku yang lama, tapi kali ini, aku akan lebih selektif."

Freen tersenyum pada Nam. Ia telah kembali menjadi paranormal gadungan, tetapi dengan satu pelajaran berharga: karma itu nyata, dan membantu orang meski itu hantu adalah harga yang harus dibayar.

***

Freen kembali ke rusunnya, disambut oleh Bibi Som yang cerewet.

"Freen! Kau punya urusan dengan polisi!" bentak Bibi Som.

"Tenang, Bibi Som," jawab Freen santai. "Aku baru saja menyelesaikan sebuah kasus. Dan sekarang, aku butuh tidur. Aku tidak mau tahu tentang sewa sampai empat bulan ke depan."

Freen menutup pintu. Ia tersenyum, lega bahwa ia tidak lagi melihat arwah di sekelilingnya. Meskipun ia tahu, pengalaman itu akan menjadi rahasia besarnya.

____________

Freen Sarocha terbangun pukul tujuh malam. Tidur siang yang panjang itu terasa seperti reset total bagi tubuh dan jiwanya. Perasaan ringan dan lega menyelimutinya—ia sudah bebas dari karma Chanya.

"Ah, nikmatnya kembali normal," gumam Freen sambil meregangkan badan di ranjangnya.

Ia menatap sudut-sudut kamar, tidak ada bayangan samar, tidak ada hawa dingin menusuk. Mata batin itu benar-benar tertutup.

Perutnya yang kosong langsung berbunyi keras, menuntut haknya. Freen tidak punya makanan instan, dan persediaan di kulkasnya hanya berisi air mineral dan beberapa bungkus sambal.

"Waktunya berburu," katanya.

Freen meraih jaket denim lusuhnya dan mengenakan helm di kepalanya. Ia keluar dari rusun, menuruni tangga menuju parkiran motor.

Ia masih menggunakan motor Nam yang ditinggalkan sementara. Malam sudah sepenuhnya pekat, tetapi jalanan di depan rusunnya, yang berbatasan dengan pasar kecil, justru ramai.

Freen menghidupkan motor, lampu motor menyala terang. Dia menarik gas perlahan dan melaju menuju keramaian.

Saat motornya memasuki pinggir pasar, Freen tiba-tiba menginjak rem mendadak. Ban motornya berdecit pelan.

Pandangannya membeku.

Jalanan yang ia kenal—tempat pedagang mie, penjual buah, dan warga yang lalu-lalang—kini tampak seperti persimpangan dua dunia yang bertabrakan secara brutal.

Sekitar 80% dari keramaian itu, yang ia anggap manusia, ternyata... bukan.

Mereka berjalan, berinteraksi, dan berbelanja seperti biasa, tetapi tubuh mereka transparan, berwarna kebiruan, dengan wajah yang pucat dan mata yang gelap.

Beberapa tampak normal, tetapi beberapa lainnya benar-benar mengerikan: seorang pria tanpa kaki berputar-putar di dekat tukang nasi goreng, seorang anak kecil dengan kepala yang miring melihat ke arahnya sambil tersenyum, dan seorang wanita paruh baya dengan separuh wajah yang hilang sedang mengais-ngais sampah di selokan.

Freen memejamkan mata erat-erat. Ia menghitung sampai sepuluh.

"Tidak. Ini hanya imajinasi. Hanya kelelahan,"bisiknya.

Ia membuka matanya kembali. Pemandangan itu tidak berubah. Justru, terasa lebih jelas, lebih nyata, lebih penuh detail. Dia bahkan bisa mendengar bisikan-bisikan samar, ratapan, dan rengekan yang bercampur dengan suara bising motor dan musik dangdut dari warung.

'Chanya berbohong! Mata ini tidak tertutup! Dia hanya membuatnya lebih buruk!'

Freen merasa dunianya runtuh. Ini bukan sekadar mata batin terbuka; ini adalah gerbang yang dibiarkan terbuka lebar. Ia tidak hanya melihat hantu yang terjebak, tetapi seluruh populasi arwah di sekitar kota.

Tiba-tiba, suara tawa yang dingin dan melodis terdengar persis di samping telinganya. Bukan suara Chanya yang serak dan penuh dendam, tapi suara seorang wanita muda yang elegan, namun sangat dingin.

"Mencari makanan, Nona Freen Sarocha?"

Freen menoleh ke samping.

Ia melihat sosok yang paling jelas dan indah yang pernah ia lihat—dan paling mengerikan. Seorang wanita tinggi, mengenakan kebaya sutra Thailand berwarna merah marun, rambutnya disanggul rapi.

Dia tersenyum, tetapi senyumnya tidak mencapai matanya yang hitam pekat dan memancarkan aura kekuasaan.

Wanita itu duduk di kursi belakang motor Nam, menyilangkan kaki, seolah sedang menunggunya.

"Si... siapa kamu?" tanya Freen, suaranya tercekat.

Wanita itu tertawa lagi. "Chanya hanyalah arwah level rendah, Freen. Dia hanya membuka kuncinya. Aku... aku adalah orang yang menjaganya tetap terbuka."

Wanita itu sedikit membungkuk ke depan, mendekatkan wajahnya ke telinga Freen. "Kau pikir karma mudah dilepas, Gadungan? Takdirmu telah berubah. Sekarang, kau adalah alat."

"Mulai sekarang, kau harus melayaniku. Jika kau ingin tetap waras, Nona Freen. Dan misi pertamamu..."

Ia menunjuk ke seorang pedagang mie yang sedang merapikan dagangannya.

"Lihat pedagang mie itu, Freen. Dia sedang dilanda bencana besar. Dan aku ingin kau yang mengurusnya."

Freen menatap pedagang mie itu. Dia hanya melihat seorang pria tua yang lelah.

"Bencana apa?"tanya Freen, gupup.

"Dia akan tewas dalam satu jam, Freen. Jika kau tidak ingin melihatnya tewas dan arwahnya tersesat, selamatkan dia."bisik hantu wanita itu.

Wanita itu menghilang secepat ia muncul, meninggalkan Freen sendirian, kaku di tengah keramaian. Perutnya yang lapar hilang ditelan ketakutan.

Freen Sarocha, yang baru saja menerima takdirnya sebagai Paranormal Dadakan, kini dihadapkan pada ultimatum yang tak terhindarkan: menyelamatkan nyawa manusia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!