Lanjutan dari novel Reinkarnasi Pendekar Dewa
Boqin Changing, pendekar terkuat yang pernah menguasai zamannya, memilih kembali ke masa lalu untuk menebus kegagalan dan kehancuran yang ia saksikan di kehidupan pertamanya. Berbekal ingatan masa depan, ia berhasil mengubah takdir, melindungi orang-orang yang ia cintai, dan menghancurkan ancaman besar yang seharusnya merenggut segalanya.
Namun, perubahan itu tidak menghadirkan kedamaian mutlak. Dunia yang kini ia jalani bukan lagi dunia yang ia kenal. Setiap keputusan yang ia buat melahirkan jalur sejarah baru, membuat ingatan masa lalunya tak lagi sepenuhnya dapat dipercaya. Sekutu bisa berubah, rahasia tersembunyi bermunculan, dan ancaman baru yang lebih licik mulai bergerak di balik bayang-bayang.
Kini, di dunia yang telah ia ubah dengan tangannya sendiri, Boqin Changing harus melangkah maju tanpa kepastian. Bukan lagi untuk memperbaiki masa lalu, melainkan untuk menghadapi masa depan yang belum pernah ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menemui Keluarga Ma
Rombongan itu akhirnya meninggalkan penginapan dan bergerak menyusuri jalan kota dengan dua kereta kuda. Roda kayu berderak pelan di atas batuan jalan yang mulai aus, sementara warga yang kebetulan melintas hanya berani melirik sekilas, lalu menunduk cepat. Ada firasat aneh yang membuat mereka enggan menatap terlalu lama.
Tak lama kemudian, kedua kereta kuda berhenti di depan sebuah gerbang besar dari kayu tua yang warnanya telah memudar dimakan waktu. Mereka telah tiba di kediaman Keluarga Ma.
Boqin Changing duduk di sisi kusir kereta pertama, tepat di samping Wu Ping yang memegang tali kendali kuda dengan wajah serius. Di kereta kedua, Sha Nuo duduk santai di samping Ru Rang, satu kaki disilangkan, seolah perjalanan ini hanyalah kunjungan biasa, bukan langkah awal perubahan besar.
Kediaman Keluarga Ma tampak sederhana, nyaris bersahaja untuk ukuran keluarga bangsawan lama. Dinding luarnya masih kokoh, namun jelas menua. Pilar-pilar batu menunjukkan retakan halus, dan atap gentengnya berlumut di beberapa bagian. Tidak ada ornamen berlebihan, tidak ada lambang kekuasaan yang mencolok. Justru itulah yang membuatnya terasa… asli.
Di depan gerbang, dua orang penjaga bersenjata tombak berdiri tegak. Saat melihat dua kereta kuda datang bersamaan, keduanya langsung menegang. Mata mereka membelalak, jelas terkejut.
Selama bertahun-tahun, hampir tak pernah ada tamu datang ke kediaman ini, terlebih dengan dua kereta sekaligus.
Sejak lengsernya Kaisar Shang Mu, posisi Keluarga Ma tertekan. Mereka memilih menutup diri, menjaga jarak dari dunia luar, seolah berharap badai politik akan berlalu tanpa menyeret nama mereka.
Boqin Changing dan Sha Nuo turun hampir bersamaan. Keduanya berdiri tenang di depan gerbang, menatap ke dalam kompleks kediaman dengan ekspresi berbeda. Boqin Changing mengamati dengan mata tajam dan tenang, seolah menilai fondasi sebuah bangunan yang kelak akan menanggung beban besar. Sha Nuo menyeringai tipis, matanya berkilat penuh minat.
Saat itu, pintu kereta kuda pertama terbuka. Shang Mu melangkah turun. Jubah kekaisaran dengan bordir naga emas terurai rapi di tubuhnya. Rambut panjangnya tergerai dengan ikat giok sederhana, jenggotnya tebal dan tertata. Wibawa yang selama ini terkubur seolah kembali hidup hanya dengan satu langkah kaki.
Dua penjaga itu terpaku. Napas mereka tercekat. Tombak di tangan bergetar. Mereka tahu wajah itu. Tak mungkin salah.
“Yang Mulia Ka-Kaisar…?” salah satu penjaga berbisik gemetar.
Detik berikutnya, keduanya menjatuhkan diri berlutut bersamaan, dahi mereka menyentuh tanah batu di depan gerbang.
“Hormat kepada Yang Mulia!” teriak mereka nyaring, suara penuh keterkejutan dan ketundukan.
Pintu kereta kuda kedua pun terbuka. Zhiang Chi turun lebih dulu. Penampilannya anggun, setiap gerakan mencerminkan martabat seorang ratu. Wajahnya dirias sederhana namun berkelas, tatapannya tenang, punggungnya tegak. Sosok yang pernah berdiri di puncak kekaisaran kini kembali menjejakkan kaki ke dunia yang telah berubah.
Di belakangnya, Shang Ni melangkah turun perlahan. Ia mengenakan riasan ringan yang membuat wajah cantiknya tampak pucat. Aura dingin samar menguar dari tubuhnya, halus namun nyata, seolah energi yin murni itu masih bersemayam di dalam dirinya. Mata Shang Ni tenang, namun terlalu tenang untuk gadis seusianya. Ia memakai riasan model ini sesuai arahan dari Boqin Changing.
Kedua penjaga itu semakin gemetar. Pemandangan di hadapan mereka terasa seperti mimpi yang mustahil. Shang Mu melangkah maju satu langkah dan berbicara dengan suara tenang, namun mengandung wibawa yang tak bisa ditolak.
“Bangkitlah.”
Kedua penjaga segera berdiri, kepala masih tertunduk rendah.
“Aku ingin bertemu Patriark Keluarga Ma, Ma Shoude” lanjut Shang Mu. “Sampaikan bahwa… Shang Mu datang berkunjung.”
Nama itu jatuh seperti petir di siang bolong.
Salah satu penjaga menelan ludah, lalu membungkuk dalam-dalam.
“Baik, Yang Mulia! Hamba akan segera melapor!”
Ia berbalik dan berlari masuk ke dalam kediaman, sementara penjaga satunya tetap berdiri kaku di tempat, berusaha menenangkan jantungnya yang berdegup liar. Ia lalu mempersilahkan Shang Mu dan rombongan masuk ke dalam kediaman.
Penjaga itu berlari menembus halaman dalam dengan napas tersengal. Beberapa anggota Keluarga Ma yang sedang berbincang di serambi tengah menoleh heran, namun sebelum sempat bertanya, suara penjaga itu sudah lebih dulu pecah oleh kepanikan.
“Patriark! Patriark Shou!” serunya nyaring. “Kaisar… Kaisar Shang Mu datang berkunjung!”
Nama itu membuat udara seakan membeku.
Ma Shoude, yang tengah duduk dengan tenang sambil memegang cangkir teh, seketika membeku. Wajahnya berubah pucat, lalu seketika berdiri begitu cepat hingga kursinya terjungkal ke belakang. Cangkir teh di tangannya terjatuh, pecah berkeping-keping di lantai batu, namun tak seorang pun berani menegur.
“Apa yang kau katakan?” suara Ma Shoude bergetar.
“Yang Mulia Shang Mu… ada di depan gerbang!” jawab penjaga itu sambil berlutut, dahinya menyentuh lantai.
Tanpa berkata apa pun lagi, Ma Shoude segera melangkah cepat, hampir berlari, diikuti para anggota keluarganya. Jubah panjangnya berkibar tertiup angin saat ia melewati lorong-lorong kediaman menuju halaman depan.
Begitu rombongan Keluarga Ma tiba di halaman, pemandangan di depan mata mereka membuat lutut seolah kehilangan tenaga. Shang Mu berdiri tegak di sana, dengan jubah kekaisaran dan wibawa yang tak pernah benar-benar pudar. Di sisinya berdiri Zhiang Chi dan Shang Ni, sementara sedikit ke belakang, Boqin Changing dan Sha Nuo berdiri tenang, seolah hanya penonton yang menyaksikan arus sejarah bergerak.
Tanpa ragu sedikit pun, Ma Shoude menjatuhkan diri berlutut. Anggota keluarganya mengikuti serempak.
“Hamba Ma Shoude beserta seluruh keluarga menyambut Yang Mulia!” ucapnya lantang namun penuh ketundukan. “Ampun seribu ampun karena hamba tidak mengetahui kedatangan Yang Mulia dan gagal menyambut dengan layak!”
Dahi mereka menyentuh tanah, sikap hormat yang tak mungkin dipalsukan.
Shang Mu memandang mereka sejenak, lalu melangkah maju satu langkah. Suaranya tenang, tanpa sedikit pun nada menyalahkan.
“Bangkitlah. Aku tidak datang untuk mencari kesalahan.”
Ma Shoude mengangkat kepalanya dengan hati-hati, lalu berdiri bersama keluarganya. Wajahnya masih tegang, namun matanya kini dipenuhi kehati-hatian dan rasa hormat yang mendalam.
“Aku datang hari ini,” lanjut Shang Mu, “karena ada hal penting yang ingin kubicarakan denganmu secara pribadi.”
Jantung Ma Shoude berdegup kencang. Ia menunduk dalam-dalam.
“Merupakan kehormatan besar bagi Keluarga Ma. Silakan, Yang Mulia.”
Ia segera memberi isyarat, lalu mengajak rombongan itu masuk ke dalam kediaman, melewati lorong-lorong tenang hingga akhirnya tiba di sebuah ruang pribadi yang tertutup dan sederhana, namun bersih dan rapi.
Di dalam ruangan itu, para pelayan bergerak cepat namun hening. Mereka menuangkan minuman hangat ke dalam cangkir porselen, menyajikan makanan ringan, lalu membungkuk hormat sebelum pergi dan menutup pintu dengan rapat.
Kini, di dalam ruang itu, hanya tersisa enam orang.
Ma Shoude duduk dengan punggung tegak, kedua tangannya terlipat di atas meja. Di seberangnya, Shang Mu duduk tenang, dengan Zhiang Chi dan Shang Ni di sisi kanan dan kirinya. Boqin Changing bersandar ringan di kursinya, matanya mengamati setiap perubahan ekspresi Ma Shoude, sementara Sha Nuo duduk santai, namun aura tajamnya terasa samar mengisi ruangan.
Shang Mu meletakkan cangkirnya, lalu langsung ke inti pembicaraan.
“Patriak Shou,” katanya perlahan, “aku datang ke sini bukan sebagai mantan kaisar yang ingin bernostalgia. Aku datang untuk membicarakan masa depan kota ini.”
Ma Shoude menegang, namun tetap diam.
“Pemegang kekuasaan saat ini,” lanjut Shang Mu, “tidak lagi layak memimpin. Rakyat menderita, kota ini stagnan, dan hukum hanya berpihak pada mereka yang dekat dengan istana.”
Tatapan Ma Shoude meredup. Ia tentu tahu semua itu. Selama bertahun-tahun, Keluarga Ma memilih menutup diri justru karena menyadari busuknya keadaan.
“Aku ingin merebut kembali tahtaku. Dan semua akan dimulai dari kota ini. Aku ingin kau,” ucap Shang Mu tegas, “menjadi Tuan Kota baru nantinya. Menggantikan mereka.”
Terimakasih thor.