NovelToon NovelToon
Istri Sementara Di Bawah Hujan Luka

Istri Sementara Di Bawah Hujan Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Balas Dendam
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Di malam ketika hujan mengguyur tanpa ampun, Raya diusir dari rumah yang dulu ia sebut surga. Suaminya menolak kehadirannya hanya karena ia tak mampu memenuhi harapan keluarga—seorang anak laki-laki. Dengan hati hancur dan tubuh gemetar, Raya berjalan tanpa tujuan hingga akhirnya tersungkur di trotoar. Di ambang putus asa, sebuah mobil berhenti di depannya. Pria asing bernama Arya menawarkan sesuatu yang terdengar tak masuk akal: sebuah pernikahan pura-pura sebagai solusi bagi masalah mereka masing-masing.
Arya membutuhkan seorang istri untuk meredam tekanan keluarganya, sementara Raya membutuhkan tempat berlindung dari dunia yang telah menolaknya. Tanpa cinta, tanpa janji manis, hanya sebuah kesepakatan dingin yang mengikat dua jiwa terluka. Namun di balik perjanjian tanpa perasaan itu, perlahan mereka mulai menemukan kehangatan yang tak direncanakan. Dari hubungan yang semula sekadar sandiwara, tumbuh benih perasaan yang menguji batas antara kewajiban dan cinta sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14

Raya menggenggam ujung jilbabnya dengan erat, dadanya terasa sesak, tatapannya menerawang pada rerumputan di taman belakang yang mulai basah oleh embun sore. Udara senja begitu tenang, kontras dengan gejolak yang ada di dalam dirinya.

Perlahan ia membuka suara, suaranya bergetar.

"Aku tetap merasa bersalah, Arya..." katanya lirih.

Arya yang duduk di sampingnya menoleh. "Kan sudah kubilang kamu nggak salah, aku yang salah dalam hal ini. Jadi jangan menyalahkan dirimu."

"Aku... menipu Bu Atika dan Pak Harun,"

lanjutnya, menatap Arya dengan mata berkaca-kaca.

"Aku berpura-pura menjadi orang yang dihamili olehmu. Padahal... anak ini bukan darah daging keluarga Atmajaya. Mereka menyambutku dengan hangat, bahkan seperti anak sendiri. Tapi aku..."

Raya menunduk, tangisnya pecah perlahan.

"Aku nggak bisa terus begini. Aku nggak mau lanjutkan permainan ini."

Arya terdiam. Wajahnya mendadak kaku, seolah kalimat itu memukulnya dengan keras. "Apa maksudmu?" tanyanya dingin.

Raya mengusap air mata yang jatuh di pipinya.

"Aku mau berhenti. Aku akan pergi dari rumah ini. Rencana balas dendam itu... biar aku hadapi sendiri.

Tanpa melibatkan kamu, atau orang tuamu."

Arya mengerutkan kening, nadanya meninggi. "Kamu lupa siapa yang awalnya ingin membalas dendam? Kamu sendiri, Raya!"

"Aku tahu!" sergah Raya cepat. "Tapi aku sadar, aku nggak bisa menghancurkan kebaikan orang lain hanya demi membalas luka yang aku punya."

Arya menggeleng, lalu bangkit berdiri dengan napas tersengal. "Kamu mau nyerah sekarang? Setelah sejauh ini?"

"Aku nggak nyerah. Aku cuma sadar aku nggak bisa nginjak-injak hati orang sebaik orang tua kamu," jawab Raya tegas. "Mereka nggak pantas dibohongi."

Mata Arya menajam. "Kalau gitu... kamu melanggar perjanjian."

Raya terdiam, matanya menatap tajam ke arah Arya, seolah tak percaya pria itu akan sejauh ini.

"Aku dan kamu sudah sepakat. Hitam di atas putih, kamu tanda tangan," Arya berkata dengan nada tajam. "Kalau kamu melanggar, kamu tahu konsekuensinya, 'kan?"

"Kamu mengancamku sekarang?" bisik Raya dengan suara tercekat.

"Aku nggak mengancam. Aku mengingatkan," ujar Arya dingin. "Kalau kamu mundur sekarang, aku bisa laporkan kamu atas penipuan. Aku punya bukti. Perjanjian. Tanda tangan."

Wajah Raya memucat. Hatinya yang baru saja tenang, kini kembali bergemuruh. Ia tak menyangka Arya akan sekejam itu meski bagian dirinya tahu, ini mungkin hanya reaksi emosi.

"Kenapa kamu jadi begini?" suara Raya lirih, gemetar.

Arya memalingkan wajah, tatapannya keras.

"Karena aku nggak mau semua ini berakhir sia-sia. Karena aku..."

Ia menggigit bibir, menahan sesuatu yang tak sanggup ia katakan. Ia ingin berkata bahwa ia takut kehilangan Raya. Tapi ego menahannya.

Tanpa berkata apa pun lagi, Arya berbalik dan melangkah cepat meninggalkan taman belakang. Suara langkahnya semakin menjauh, menyisakan keheningan.

Raya jatuh terduduk di bangku taman, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tangisnya pecah bukan hanya karena ancaman Arya, tapi juga karena hatinya remuk. Dalam diam, ia berbisik pelan sambil mengelus perutnya.

"Maafkan Ibu, Nak... Ibu terlalu lemah..."

Arya membuka pintu kamarnya dengan kasar, lalu membanting pintu hingga terdengar suara dentuman pelan. Ia berdiri sejenak di tengah ruangan, membiarkan pikirannya beradu satu sama lain. Ia meremas rambutnya frustrasi.

"Kenapa aku malah ngomong kayak gitu?"

gumamnya, mengingat tatapan Raya yang penuh luka saat ia mengancam akan melaporkannya.

Ia menghempaskan diri ke atas ranjang, memandang langit-langit kamar yang kosong. Hatinya tidak tenang. Wajah Raya yang menangis terus terbayang dalam benaknya. Ada bagian dari dirinya yang terasa menyesal. Ia tahu, ancamannya tadi terlalu kejam. Tapi di sisi lain, ia juga takut. Takut kalau Raya benar-benar pergi... dan semua rencana hancur.

Lebih dari itu... entah kenapa, ia merasa takut kehilangan Raya.

"Aku cuma... nggak mau semuanya gagal," bisiknya lirih. Tapi ia pun tahu, itu bukan satu-satunya alasan.

Tiba-tiba, rasa sesak muncul di dadanya. Ia duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke lantai. Kepalanya penuh dengan pertanyaan.

"Kenapa aku peduli sejauh ini?" tanyanya dalam Hati.

Di sela diam itu, suara Irsyad kembali terngiang di benaknya.

"Jangan-jangan bos emang udah jatuh cinta, cuma gengsi aja ngakuinnya."

Arya mendengus. "Dasar mulut Irsyad, asal ngomong."

Tapi semakin ia menepis, semakin kata-kata itu menusuk. Ia tahu Irsyad mungkin benar.

Perasaannya ke Raya bukan cuma karena rencana dan misi balas dendam. Ada sesuatu yang tumbuh...

dan itu bukan bagian dari kesepakatan mereka.

"Ah nggak mungkin jatuh cinta. Kalau jatuh cinta aku--?"

Tok tok tok...

Arya menoleh cepat ke arah pintu. Ia bangkit, membuka dengan cepat. Di balik pintu berdiri salah satu asisten rumah tangga.

"Maaf mengganggu, Pak Arya. Tadi Nyonya besar memanggil dokter untuk memeriksa Nona Raya, tapi... Nona Raya tidak ada di kamarnya."

Arya terkejut. "Apa? Coba cari di taman belakang. Aku dan dia tadi duduk di taman belakang."

"Kami sudah cari ke taman belakang juga, Pak... tapi tidak ada."

Jantung Arya berdegup kencang. "Tunggu, dia nggak di taman?"

"Tidak, Pak."

Sekejap rasa khawatir menyergapnya. 'Jangan-jangan dia benar-benar pergi...' pikir Arya panik. Tanpa menjawab lagi, ia langsung melesat ke ruang kerjanya. Ia membuka laptop dan mengakses rekaman CCTV rumah.

Namun, Arya tidak menemukan apa-apa di rekaman CCTV-nya. Hatinya makin gelisah. Ia menutup laptopnya dengan kasar, bangkit dari kursi dan berlari keluar dari ruang kerja. Setibanya di pos penjagaan, Arya langsung menghampiri satpam yang berjaga.

"Pak, lihat Nona Raya keluar rumah?" tanyanya cepat, napasnya memburu.

Pak satpam menggeleng mantap. "Tidak, Pak Arya. Sejak tadi sore saya berjaga di sini, tidak ada siapa pun yang keluar dari gerbang, apalagi Nona Raya."

Arya mengusap wajahnya frustasi. "Oke... oke."

Ia berbalik dan langsung menuju pintu utama rumah. Di ambang pintu, ia bertemu Bi Tati yang terlihat cemas.

"Pak Arya, saya sudah periksa kamar Nona Raya, tapi kosong. Kami benar-benar tidak tahu ke mana dia."

Arya mendongak, matanya penuh tekanan. "Kumpulkan semua orang rumah. Semua sistem, penjaga, siapa pun. Suruh mereka cari ke seluruh sudut rumah. Dia tidak keluar, berarti masih di dalam. Periksa taman, dapur belakang, ruang penyimpanan, bahkan loteng!"

Bi Tati langsung mengangguk dan bergerak cepat, menyebar instruksi. Beberapa saat kemudian, suasana rumah berubah sibuk. Semua sistem rumah tangga berpencar, menyisir setiap sudut rumah. Ada yang ke dapur, ke kebun kecil di sisi timur, ada pula yang menuju ruang musik tempat keluarga biasa menghabiskan waktu.

Arya sendiri langsung menuju taman belakang, tempat terakhir ia melihat Raya. Namun, bangku taman yang tadi menjadi saksi perdebatan mereka kini kosong. Angin berhembus lembut, membawa aroma bunga melati dari semak-semak.

"Raya..." gumam Arya lirih, matanya menyapu seluruh taman.

Ia berlari ke arah kolam kecil, memeriksa sisi gazebo, hingga ke rumah kaca tempat ibunya menyimpan tanaman hias langka. Tapi tak ada tanda-tanda keberadaan perempuan itu.

Rasa panik perlahan berubah jadi ketakutan.

Apa Raya benar-benar memutuskan untuk pergi?

Tapi bagaimana caranya? Tidak mungkin tanpa diketahui oleh siapa pun.

Langkah Arya terhenti ketika matanya menangkap pintu kecil menuju taman bunga milik Bu Atika yang berada agak terpisah dari taman utama. Pintu itu jarang dibuka, hanya digunakan jika Bu Atika sedang ingin menanam atau memanen bunga-bunga kesayangannya.

Dengan napas yang tertahan, Arya mendorong pintu itu perlahan. Suara engsel berderit menyambutnya. Dan di sana, di antara barisan bunga mawar putih dan lavender yang bermekaran, terlihat sosok yang sedang duduk diam dengan kepala tertunduk.

Raya.

Arya menghela napas panjang, seakan baru saja bisa bernapas kembali setelah sekian lama menahan sesak.

"Raya..." panggilnya pelan.

Raya menoleh. Matanya tampak merah dan sembap, hidungnya pun sedikit memerah. Ia langsung berdiri begitu melihat Arya mendekat.

"Kamu ke mana aja?" suara Arya terdengar tegas, tapi sarat kekhawatiran. "Kita semua cari kamu. Aku pikir kamu..."

"Aku cuma butuh sendiri," potong Raya lirih.

"Aku nggak pergi ke mana-mana. Aku cuma ke sini. Tempat ini... tenang."

Arya menatapnya dalam-dalam. "Kamu tahu nggak, aku panik setengah mati. Aku pikir kamu benar-benar kabur."

Raya menunduk. "Maaf, Arya. Aku nggak bermaksud buat kamu khawatir. Aku juga nggak ingin kita bertengkar."

Hening sesaat.

"Aku tahu kamu merasa bersalah. Tapi kamu nggak sendiri, Ray," ucap Arya, suaranya lebih lembut kini. "Aku juga bingung. Aku juga... takut."

Raya mengerutkan dahi. "Takut?"

Arya menatap ke arah taman bunga, lalu kembali menatap Raya. "Takut kalau semuanya berakhir sebelum aku bisa jujur sepenuhnya. Sebelum aku bisa bilang kalau mungkin... mungkin Irsyad nggak sepenuhnya salah."

Raya menatapnya bingung.

"Apa maksudmu?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!