Berlatarkan masa kejayaan Kerajaan Panjalu (Singhasari) di wilayah Pasuruan, sebuah prasasti kuno yang ditemukan oleh Gadis nelayan, Mira, mengungkap rahasia pelabuhan perdagangan rempah-rempah yang hilang selama berabad-abad. Bersama dengan Jaka, seorang budak kerajaan yang ahli membaca naskah kuno, keduanya harus mengurai misteri di balik prasasti tersebut sebelum kekayaan dan sejarah kerajaan jatuh ke tangan yang salah. Di tengah ombak laut dan rahasia yang terpendam, apakah mereka berhasil menyelamatkan warisan leluhur?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kristinawati Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: PERTEMPURAN PERTAMA DI PINTU ANTAR DUNIA
Setelah melalui bab-bab sebelumnya yang penuh dengan rahasia dan pengungkapan—mulai dari saat Rara menyadari hubungan nyata antara dirinya dengan dunia pararel yang dia tulis, hingga ketika Dika berhasil mengumpulkan tiga dari lima benda sakti yang diperlukan untuk mengontrol pintu antar dunia—kini bab ini akan membawa cerita ke puncak konflik pertama yang sangat menentukan nasib kedua dunia tersebut.
Di dunia nyata, Rara sedang berada di rumah neneknya yang sudah ditinggalkan lama di desa Sukamaju, tepat di belakang pohon beringin tua yang dulu jadi tempat dia bertemu Dika saat kecil. Bersama Pak Joko, mereka sedang mempersiapkan alat-alat yang diperlukan untuk membuka pintu antar dunia secara terkontrol—karena informasi terbaru yang mereka dapatkan menunjukkan bahwa kelompok jahat bernama "Pasukan Bayangan" sudah berhasil menemukan lokasi pintu utama dan akan mencoba membukanya secara paksa dalam waktu kurang dari 24 jam.
Rumah neneknya ternyata menyimpan banyak rahasia yang belum pernah dia ketahui. Di dalam ruang bawah tanah yang tersembunyi di bawah lantai kamar tidur neneknya, mereka menemukan ruang rahasia yang penuh dengan buku-buku tua tentang ilmu sihir kuno, peta-peta dunia pararel yang lebih rinci, dan juga senjata-senjata khusus yang hanya bisa digunakan oleh penjaga pintu antar dunia. Pak Joko mulai menjelaskan setiap detail dengan sangat cermat:
"Ini adalah Pedang Cahaya—senjata yang bisa menghancurkan makhluk bayangan yang dibuat oleh Pasukan Bayangan. Dan ini adalah Kalung Perlindungan yang dulu milik Lia—nenek buyut kamu yang juga pernah menjadi penjaga pintu. Dengan kalung ini, kamu bisa masuk ke dunia pararel tanpa harus khawatir kehilangan ingatan atau kekuatanmu di sana," ujar Pak Joko sambil menunjukkan setiap benda dengan hati-hati.
Rara menyentuh Pedang Cahaya dan langsung merasakan getaran hangat yang mengalir dari ujung gagang hingga ke ujung jari-jarinya. Di dalam hatinya, dia merasakan bahwa senjata ini sudah menunggu dirinya sejak lama. Sementara itu, dia juga melihat foto lama yang terpaku di dinding ruang rahasia—foto neneknya bersama seorang wanita yang sangat mirip dengan dirinya, dan di belakang mereka tampaklah pintu cahaya yang sama persis dengan yang dia gambarkan di cerita.
Sementara itu di dunia pararel, Dika sedang berada di kerajaan Astronia yang kini sudah dalam keadaan darurat. Pasukan Bayangan yang dipimpin oleh sosok misterius bernama Lord Kael sudah menyerbu perbatasan utara kerajaan dan berhasil menghancurkan beberapa desa kecil yang berada di sana. Bersama dengan pasukan kerajaan yang dipimpin oleh Putri Liana (karakter pendukung yang jadi sahabat Dika), mereka sedang merencanakan strategi untuk menghadang serangan besar yang akan datang.
Di istana kerajaan yang megah dengan kubah-kubah yang bersinar seperti bintang, mereka berkumpul di ruang rapat besar yang dikelilingi oleh peta perang dunia pararel. Dika sedang menjelaskan tentang benda sakti yang sudah dia kumpulkan:
"Kita sudah punya Batu Pemersatu, Permata Cahaya, dan Genta Keseimbangan. Kita hanya perlu mencari dua benda sakti lagi—Pena Kebenaran dan Topi Penglihatan—untuk bisa mengontrol pintu antar dunia dengan sempurna. Tapi Lord Kael tidak akan memberi kita waktu untuk mencarinya. Dia pasti akan mencoba membuka pintu secara paksa besok pagi saat energi matahari dan bulan bertemu di titik yang sama," jelas Dika dengan wajah yang sangat serius.
Putri Liana yang mengenakan baju perang berwarna ungu muda dengan simbol burung elang di dadanya, segera menanggapi: "Kita punya pasukan yang siap bertempur, tapi makhluk bayangan yang diciptakan Lord Kael sangat sulit dikalahkan. Mereka tidak bisa terluka oleh senjata biasa. Kita harus mencari cara untuk membuat senjata kita bisa menyentuh mereka seperti yang kamu katakan dari informasi yang datang dari dunia nyata."
Tak lama setelah itu, seorang utusan datang berlari dengan tergesa-gesa dan melaporkan bahwa Pasukan Bayangan sudah mulai mendekati gerbang utama kerajaan. Dika dan Putri Liana segera memimpin pasukan kerajaan untuk menghadang mereka. Saat mereka tiba di gerbang utama, langit yang tadinya cerah tiba-tiba menjadi gelap gulita dan angin kencang mulai bertiup dengan membawa debu dan pasir yang menyilaukan mata.
Dari tengah kabut debu tersebut muncul sosok tinggi Lord Kael yang mengenakan baju besi hitam dengan tudung yang menutupi wajahnya. Di sekelilingnya berdiri ratusan makhluk bayangan yang bentuknya menyerupai manusia tapi tanpa wajah dan hanya memiliki mata berwarna merah menyala. Lord Kael membuka mulutnya dan suara nya terdengar seperti guntur yang menggema:
"Dika, kamu tidak bisa menghalangi aku! Aku akan membuka pintu antar dunia dan menguasai kedua dunia tersebut! Segera serahkan benda sakti yang kamu punya jika kamu ingin kerajaan ini selamat!"
Tanpa banyak bicara, Dika mengambil Batu Pemersatu yang ada di kalungnya dan segera cahaya keemasan menyala terang dari batu tersebut. Pasukan kerajaan mulai menyerang, tapi seperti yang dikhawatirkan, senjata mereka tidak bisa menyentuh makhluk bayangan. Beberapa prajurit kerajaan bahkan sudah terjatuh karena diserang dari belakang oleh makhluk-makhluk itu.
Kembali ke dunia nyata, Rara dan Pak Joko merasakan getaran kuat dari bawah tanah yang menunjukkan bahwa pertempuran sudah mulai terjadi di dunia pararel. Pak Joko segera mengambil alat khusus yang bisa membuat mereka melihat apa yang terjadi di sana. Rara melihat bagaimana pasukan kerajaan Astronia sedang terdesak dan hati nya merasa sangat khawatir akan keselamatan Dika.
"Kita harus segera membuka pintu dan membantu mereka! Aku tidak bisa tinggal diam melihat mereka terluka!" ujar Rara dengan penuh semangat.
Pak Joko mengangguk dan mulai melakukan ritual untuk membuka pintu antar dunia. Dia mengambil beberapa ramuan khusus yang sudah disiapkan, membakarnya di atas tungku kecil, dan mulai mengucapkan mantra kuno yang terdengar seperti lagu kuno yang merdu namun kuat. Sementara itu, Rara memegang Pedang Cahaya dan Kalung Perlindungan dengan erat, siap untuk memasuki dunia pararel yang sudah dia kenal melalui tulisannya tapi belum pernah dia kunjungi secara langsung.
Setelah beberapa menit, cahaya terang mulai muncul dari tengah ruang rahasia dan membentuk pintu cahaya yang tinggi sekitar tiga meter dengan simbol bintang delapan di tengahnya. Suara gemuruh semakin kuat dan Pak Joko berkata dengan suara yang penuh tekad:
"Waktunya sudah tiba! Ingat, kamu hanya punya waktu terbatas di sana. Setelah kita menghentikan serangan ini, kita harus segera mencari dua benda sakti yang tersisa sebelum Lord Kael menemukannya duluan!"
Rara mengangguk dan tanpa ragu lagi melangkah ke dalam pintu cahaya tersebut. Saat tubuhnya memasuki pintu, dia merasakan sensasi yang sangat unik—seperti sedang terbang di atas awan tapi juga seperti tenggelam di dalam air yang hangat. Dalam sekejap mata, dia sudah berada di dunia pararel yang dia ciptakan dengan tangannya sendiri.
Langit yang gelap gulita di kerajaan Astronia segera sedikit menerangi ketika cahaya dari pintu antar dunia muncul. Dika yang sedang bertempur dengan beberapa makhluk bayangan segera melihat Rara yang berdiri dengan gagah bersama Pak Joko di belakangnya. Wajahnya penuh dengan kejutan dan kegembiraan:
"Rara! Kamu benar-benar datang!" ujar Dika dengan senyum lebar.
Rara mengambil Pedang Cahaya yang segera menyala dengan cahaya terang ketika dia memasuki dunia pararel. Dia berlari cepat menuju Dika dan dengan satu lompatan, dia menghancurkan makhluk bayangan yang sedang menyerang Dika dari belakang. Senjata nya berhasil menyentuh makhluk itu dan dengan cepat makhluk bayangan tersebut menghilang seperti asap yang terbawa angin.
"Aku akan membantu kamu menghentikan Lord Kael! Bersama kita bisa menyelamatkan kedua dunia ini!" ujar Rara dengan suara yang kuat dan jelas terdengar di tengah kebisingan pertempuran.
Putri Liana dan pasukan kerajaan yang melihatnya segera merasa semangat kembali. Mereka melihat bahwa senjata yang dibawa oleh Rara bisa menghancurkan makhluk bayangan, jadi mereka segera mengelilingi Rara dan Dika untuk membentuk garis pertahanan yang lebih kuat.
Lord Kael yang melihat hal ini menjadi sangat marah. Dia mengangkat tangan kanannya dan mulai mengucapkan mantra yang membuat tanah mulai berguncang dan dari bawah tanah muncul makhluk bayangan yang lebih besar dan lebih mengerikan dari yang lain—seperti raksasa dengan tangan yang panjang dan bergigi tajam.
"Jika kamu tidak mau menyerah, maka aku akan menghancurkan kamu semua beserta kerajaan ini!" ujar Lord Kael dengan suara yang penuh kebencian.
Rara, Dika, dan Putri Liana saling melihat satu sama lain dengan wajah yang penuh tekad. Mereka tahu bahwa pertempuran yang akan datang ini akan menjadi yang paling sulit dalam hidup mereka, tapi mereka juga tahu bahwa mereka tidak bisa menyerah—karena nasib kedua dunia ada di tangan mereka.
Dika mengambil Permata Cahaya dan Genta Keseimbangan, menyatukannya dengan Batu Pemersatu yang ada di kalungnya. Ketika tiga benda sakti tersebut bersatu, cahaya yang sangat terang menyala dan membentuk perisai cahaya yang melindungi pasukan kerajaan dari serangan makhluk raksasa tersebut. Rara dengan cepat mengambil Pedang Cahaya dan mulai berlari menuju Lord Kael sambil menghancurkan setiap makhluk bayangan yang menghalanginya. Pak Joko juga tidak tinggal diam—dia menggunakan ilmu sihir kuno nya untuk membuat medan perang menjadi lebih menguntungkan bagi mereka.
Di tengah pertempuran yang sangat sengit itu, Rara merasakan bahwa ada sesuatu yang spesial tentang dirinya dan Dika—ketika mereka bekerja sama, kekuatan mereka menjadi jauh lebih kuat dari biasanya. Dia juga menyadari bahwa cerita yang dia tulis tidak hanya sekadar cerita—melainkan sebuah takdir yang sudah ditentukan jauh sebelum dia lahir.
Pertempuran masih berlangsung dengan sangat sengit. Banyak prajurit kerajaan yang terjatuh, tapi juga banyak makhluk bayangan yang berhasil dihancurkan. Rara sudah hampir mencapai Lord Kael ketika tiba-tiba makhluk raksasa tersebut menyerangnya dari belakang. Dika dengan cepat berlari untuk menyelamatkannya dan bersama-sama mereka berhasil menghancurkan makhluk raksasa tersebut dengan kombinasi kekuatan dari benda sakti dan Pedang Cahaya.
Sekarang hanya tinggal Lord Kael yang tersisa. Dia melihat bahwa kekuatan nya mulai menurun karena banyak makhluk bayangan nya yang sudah dihancurkan. Tanpa berpikir panjang, dia mengambil batu gelap yang ada di saku nya—batu yang ternyata adalah bagian dari benda sakti yang hilang dan sudah dia dapatkan dengan cara yang tidak benar. Dia mulai mengucapkan mantra untuk menggunakan kekuatan batu tersebut, tapi sebelum dia bisa menyelesaikannya, Rara dengan cepat menghampirinya dan menusuk Pedang Cahaya nya ke arah batu gelap tersebut.
Dengan suara ledakan yang tidak terlalu keras tapi sangat kuat, batu gelap tersebut hancur berkeping-keping dan kekuatan yang terkandung di dalamnya menyebar ke seluruh medan perang. Lord Kael yang kehilangan sumber kekuatannya mulai menjadi lemah dan akhirnya jatuh ke tanah. Pasukan Bayangan yang tersisa segera menghilang seperti asap karena tidak ada lagi yang mengendalikan mereka.
Setelah itu, langit mulai kembali cerah dan matahari mulai muncul dari balik awan gelap. Pasukan kerajaan mulai bersorak kegembiraan karena mereka berhasil mengalahkan Pasukan Bayangan. Dika mendekati Rara dan mengucapkan terima kasih dengan penuh perasaan:
"Terima kasih sudah datang membantu kita. Tanpamu, kita tidak akan bisa mengalahkan Lord Kael dan Pasukan Bayangan nya."
"Kita adalah satu tim kan? Kita akan selalu saling membantu satu sama lain," jawab Rara dengan senyum hangat.
Pak Joko kemudian mendekati mereka dan berkata:
"Kita memang berhasil mengalahkan mereka kali ini, tapi perjuangan kita belum selesai. Lord Kael pasti akan kembali dan mencari cara untuk mendapatkan kekuatan yang lebih besar. Kita harus segera mencari Pena Kebenaran dan Topi Penglihatan sebelum dia menemukannya duluan. Menurut informasi yang aku dapatkan, kedua benda sakti tersebut berada di tempat yang sangat misterius dan penuh dengan rintangan—Hutan Mimpi dan Mimpi Buruk yang berada di ujung dunia pararel ini."
Putri Liana segera mengangkat suaranya:
"Aku akan mengirimkan pasukan terbaik untuk menemani kalian dalam perjalanan berikutnya. Kita tidak bisa mengambil risiko lagi setelah apa yang baru saja terjadi."
Rara dan Dika saling melihat dan mengangguk. Mereka tahu bahwa perjalanan berikutnya akan lebih sulit dan penuh dengan bahaya, tapi mereka juga siap untuk menghadapinya—karena mereka sudah tahu bahwa mereka bukan sendirian dalam perjuangan ini. Selain itu, Rara juga menyadari bahwa semakin banyak dia menulis cerita dan semakin banyak dia terlibat dalam dunia pararel tersebut, semakin erat hubungan antara kedua dunia tersebut menjadi—dan dia harus memastikan bahwa hubungan itu tetap seimbang agar tidak ada salah satu dunia yang harus menderita.
Saat matahari mulai terbenam dan memberikan warna jingga yang indah di langit kerajaan Astronia, mereka mulai merencanakan perjalanan berikutnya. Rara juga merasa bahwa dia perlu kembali ke dunia nyata sebentar untuk menulis bab-bab selanjutnya yang akan membantu mereka dalam perjalanan mencari benda sakti yang tersisa. Dia tahu bahwa setiap kata yang dia tulis akan memiliki dampak langsung pada dunia pararel tersebut—dan dia harus menulis dengan sangat hati-hati agar tidak ada kesalahan yang bisa membahayakan kedua dunia tersebut.
Di dunia nyata, waktu hanya berlalu beberapa menit saja sejak Rara dan Pak Joko memasuki pintu antar dunia. Tapi bagi mereka yang berada di dunia pararel, waktu sudah berlalu berjam-jam penuh dengan pertempuran dan perjuangan. Rara merasa bahwa dia sudah menemukan tujuan hidup nya—yaitu menjadi penjaga pintu antar dunia dan menyelamatkan kedua dunia tersebut dari bahaya yang mengancam. Dan dia siap untuk menghadapi segala rintangan yang akan datang bersama teman-temannya di dunia pararel tersebut.