Seorang murid sekte luar yang dianggap tidak berguna karena memiliki "Akar Spiritual Terkutuk" tanpa sengaja membangkitkan jiwa seorang jenius dari era kuno yang terperangkap dalam artefak misterius. Bersama, mereka merintis teknik kultivasi kuno yang membutuhkan perpaduan dua elemen yang saling bertentangan, menuntut mereka untuk menyatukan kekuatan dan hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Penjaga Ratusan Ribu Pedang Patah
Sebelum melangkah lebih jauh menuju ngarai raksasa itu, Li Jian berbalik. Matanya menatap bangkai Buaya Tulang Baja yang separuh kepalanya telah membeku dan hancur.
Bagi kultivator manapun, membiarkan Inti Monster Tingkat Tujuh membusuk di rawa adalah sebuah dosa besar.
Li Jian melompat ke atas bangkai raksasa itu. Ia mengangkat Gerhana dan menghantamkannya ke sisa tengkorak yang membeku. KRAK! Tengkorak itu pecah layaknya kaca, memperlihatkan sebuah kristal seukuran kepalan tangan bayi yang memancarkan pendaran kuning kecokelatan yang sangat pekat.
Hawa elemen tanah dan aura buas langsung menyeruak. Li Jian mengambilnya, merasakan betapa padatnya energi di dalam kristal tersebut, lalu melemparkannya ke dalam cincin penyimpanannya tanpa ekspresi.
"Ayo," kata Li Jian, melompat turun kembali ke akar bakau dan berjalan mendahului Xiao Ling.
Gadis itu menelan ludah, buru-buru menyusul. Semakin dekat mereka dengan mulut ngarai, udara terasa semakin menyayat. Ini bukan kiasan; angin yang berhembus dari dalam Makam Pedang Terlarang benar-benar setajam silet.
Jutaan pedang patah yang tertancap di tanah bebatuan hitam di sepanjang ngarai itu memancarkan sisa-sisa Sword Intent (Niat Pedang) dari para pemiliknya yang telah lama gugur. Ribuan tahun kebencian, penyesalan, dan kehausan akan darah bercampur menjadi satu pusaran energi yang menyesakkan dada.
Sreett!
Sebuah luka sayatan tipis tiba-tiba muncul di pipi Xiao Ling, meneteskan setitik darah. Gadis itu meringis, memegangi wajahnya. Padahal tidak ada senjata apapun yang menyentuhnya; murni karena tekanan Niat Pedang di udara.
Li Jian menghentikan langkahnya. Ia menoleh, melihat Xiao Ling yang kini pucat pasi dan kesulitan bernapas di bawah tekanan tersebut.
Li Jian melangkah mundur, memposisikan dirinya tepat di depan Xiao Ling. Ia menyalurkan cairan Qi peraknya ke dalam Gerhana. Seketika, pedang hitam tumpul itu mendengung keras. Bukan dengungan ketakutan, melainkan raungan arogansi.
Hawa Yin absolut meledak, menciptakan sebuah kubah pelindung transparan dengan radius dua meter di sekitar mereka. Begitu Niat Pedang liar dari ngarai itu menyentuh kubah Li Jian, niat itu langsung membeku dan hancur.
Bahkan, Gerhana tampak memancarkan aura hisap yang samar, menelan sisa-sisa energi pedang patah di sekitarnya seolah seorang raja lalim yang memungut pajak dari rakyat jelata.
"Tetap di belakangku. Jarakmu tidak boleh lebih dari tiga langkah," perintah Li Jian tanpa menoleh.
Xiao Ling mengangguk cepat, dadanya naik turun. "T-Terima kasih. Aku meremehkan tempat ini. Legenda mengatakan bahwa Niat Pedang di sini bisa mencabik-cabik jiwa mereka yang berada di bawah tahap Bina Pondasi."
"Bagi pedangku, ini hanyalah meja perjamuan," gumam Li Jian.
Mereka terus berjalan menyusuri ngarai hingga akhirnya berdiri tepat di bawah bayang-bayang Gerbang Makam. Gerbang batu hitam itu menjulang setinggi ratusan meter, diukir dengan relief tengkorak yang tampak seolah sedang menjerit dalam penderitaan abadi. Rantai-rantai besi raksasa berkarat melilit gerbang tersebut.
Saat Li Jian melangkah hingga jarak sepuluh meter dari gerbang, sesuatu yang mengerikan terjadi.
Trang... Trang... KRAAAK!
Ribuan pedang berkarat yang tertancap di tanah di sekitar gerbang tiba-tiba bergetar hebat. Pedang-pedang itu tercabut dengan sendirinya, melayang ke udara, dan mulai menyatu satu sama lain.
Dalam hitungan detik, tumpukan besi rongsok itu membentuk sesosok raksasa setinggi sepuluh meter. Sang Penjaga Gerbang. Makhluk itu tidak memiliki wajah, hanya helm baja berongga yang memancarkan api jiwa berwarna merah darah. Di tangannya, ia memegang sebuah pedang raksasa (Greatsword) yang terbuat dari ratusan bilah pedang patah yang disatukan oleh energi murni.
Tekanan kultivasinya tidak bisa diukur dengan alam fana, namun aura membunuhnya jauh melampaui monster buaya tadi.
"Mereka yang tidak memiliki Niat Pedang Sejati... akan menjadi besi tua di ngarai ini!" Suara Penjaga Gerbang itu terdengar seperti gesekan dua bilah logam berkarat, menggema langsung ke dalam pikiran Li Jian dan Xiao Ling.
Raksasa itu mengangkat pedang raksasanya. Langit di atas ngarai seakan terbelah. Bayangan pedang sepanjang puluhan meter terbentuk dari energi merah darah, bersiap menebas Li Jian dan Xiao Ling menjadi abu.
Xiao Ling jatuh terduduk, kakinya benar-benar lemas. Kematian terasa begitu pasti.
Namun di bawah bayangan pedang raksasa itu, Li Jian perlahan mendongak. Angin keras meniup rambut hitamnya. Bibirnya menyunggingkan senyuman yang sangat dingin dan kejam.
"Tunjukkan pada kumpulan rongsokan itu, bocah," bisik Yueyin, suaranya dipenuhi arogansi seorang kaisar yang tak terbantahkan. "Ajari mereka apa itu Niat Pedang yang mampu menelan langit."
"Sesuai perintahmu, Senior."
Li Jian menggenggam Gerhana dengan kedua tangan. Cairan Qi peraknya mendidih. Urat-urat biru di bilah pedang hitam itu menyala terang benderang.
Li Jian tidak menghindar. Ia menekuk lututnya, menendang tanah hingga lantai batu ngarai hancur, dan melesat ke atas menyongsong pedang raksasa sang Penjaga Gerbang.
"Tebasan Gerhana: Bintang Pembelah Kehampaan!"
Pedang tumpul seberat gunung berbenturan langsung dengan bayangan pedang raksasa berwarna merah darah di udara.
BOOOOOOM!
Bukan suara dentingan, melainkan ledakan yang memekakkan telinga. Gelombang kejutnya menyapu ngarai, mencabut ribuan pedang patah lainnya dari tanah dan menerbangkannya ke segala arah.
Pedang merah darah sang Penjaga terhenti. Niat Pedang jutaan jiwa yang terkandung di dalamnya mencoba merobek tubuh Li Jian, namun Gerhana mengaum. Sifat "Pemakan Langit" dari pedang dan Dantian Li Jian meledak.
Hawa Yin ekstrem membekukan energi merah tersebut, sementara Gerhana dengan rakus melahap Niat Pedang kuno itu layaknya lubang hitam.
KRAK... PRANG!
Pedang raksasa sang Penjaga hancur berkeping-keping menjadi serpihan es darah. Momentum tebasan Li Jian tidak berhenti; ia berputar di udara dan menghantamkan ujung tumpul Gerhana tepat ke dada sang raksasa pedang.
Api jiwa di balik helm Penjaga itu berkedip panik sebelum akhirnya padam sepenuhnya oleh ledakan hawa es. Tubuh raksasa yang terbuat dari ribuan pedang itu runtuh, berjatuhan ke tanah sebagai tumpukan besi berkarat yang tak lagi bernyawa.
Li Jian mendarat dengan elegan di atas tumpukan besi tersebut. Ia mengibaskan Gerhana, yang kini berpendar semakin terang, seolah baru saja menikmati hidangan lezat.
Saat sang Penjaga runtuh, rantai-rantai raksasa yang melilit Gerbang Makam mulai bergetar dan terlepas satu per satu dengan suara berdentang keras.
GROAAAAR...
Pintu gerbang batu raksasa itu bergeser terbuka secara perlahan, melepaskan hembusan angin kuno yang membawa aroma darah yang telah mengering ribuan tahun lalu. Di balik gerbang, hanya ada kegelapan absolut yang pekat, seolah mengundang mereka masuk ke mulut neraka.
Li Jian menoleh ke belakang, menatap Xiao Ling yang masih syok di atas tanah.
"Berdiri," ucap Li Jian. "Kita masuk ke dalam."
novel silat dari author yg kereen kapan nyambung nya
ayo ... semangat doong thor
semangat & lanjuuuut thor
pinginnya dihancurin pusat meridiannya kyk suruhannya biar jd sampah selama hidupnya
nanya bukan protes loo.. 🤭🙏