NovelToon NovelToon
DARAH ASTRA

DARAH ASTRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Epik Petualangan
Popularitas:472
Nilai: 5
Nama Author: DragonLucifer

Di kota futuristik Astra City, manusia biasa dan mereka yang memiliki kekuatan super hidup berdampingan setelah munculnya fenomena langit merah misterius. Raka Mahendra, pemuda dengan energi kosmik yang tak terkendali, harus menghadapi takdirnya, menyelamatkan kota, dan mengungkap rahasia di balik kekuatannya. Bersama Kayla, pengendali gravitasi, dan Adrian, bayangan dari masa lalu, Raka akan menghadapi peperangan, pengkhianatan, dan takdir kosmik yang akan mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DragonLucifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 – Adrian Sang Pengkhianat

Asap masih menggantung di udara laboratorium bawah tanah.

Cairan Astra menetes dari pecahan tabung kaca, berkilau biru di lantai seperti serpihan langit yang jatuh.

Raka berdiri di tengah kehancuran.

Cahaya biru di tubuhnya belum sepenuhnya padam.

Sosok berjubah hitam di depannya perlahan menurunkan tangannya.

Tatapannya tajam. Tenang.

Seolah ledakan barusan hanyalah pemanasan.

“Energi mentahmu luar biasa,” katanya pelan. “Tapi kamu masih belum tahu cara menggunakannya.”

Raka menyipitkan mata.

“Siapa kamu?”

Pria itu mengangkat tangan dan melepas tudungnya.

Wajah yang muncul membuat Kayla tercekat.

“Tidak mungkin…”

Damar membeku.

“Komandan Adrian…?”

Nama itu seperti petir di kepala Raka.

Adrian.

Wakil komandan Helios Guard.

Orang yang selama ini berdiri di sisi Direktur.

Pria yang pernah menepuk bahunya dan berkata, “Kamu masa depan kota ini.”

Raka menatapnya dengan sorot yang berubah dingin.

“Jadi ini maksudnya Protokol Pemburuan?”

Adrian tersenyum tipis.

“Aku tidak memburu kamu, Raka.”

“Aku menjemputmu.”

Kayla berdiri di depan Raka. “Menjauh darinya!”

Adrian memiringkan kepala.

“Kayla. Pewaris gravitasi. Potensi 84%. Stabilitas emosional lemah.”

Ia tersenyum samar. “Kamu bukan ancaman.”

Damar melangkah maju.

“Kenapa, Adrian?” suaranya berat. “Kita membangun Helios bersama.”

Adrian menatapnya sekilas.

“Karena kamu terlalu puas dengan menjadi penjaga.”

“Aku ingin menjadi penguasa.”

Sunyi.

Lampu merah darurat terus berputar di langit-langit.

Raka mengangkat wajahnya.

“Eclipse,” gumamnya.

Adrian tidak menyangkal.

“Helios terlalu pengecut.”

“Mereka menemukan energi para dewa… tapi memilih membatasinya.”

“Kami di Eclipse tidak membatasi.”

Raka mengepal.

“Kamu membunuh orang tuaku?”

Tatapan Adrian berubah dingin.

“Mereka memilih berdiri di sisi yang salah.”

Jawaban itu cukup.

Cahaya biru di tubuh Raka melonjak lebih terang.

Damar cepat berteriak, “Raka! Jangan kehilangan kendali!”

Adrian mengangkat tangan.

Energi hitam berdenyut di sekelilingnya—gelap, berat, seperti lubang hitam kecil yang menelan cahaya.

“Kamu tahu kenapa kamu 98% sinkron?” tanya Adrian pelan.

“Karena aku yang menyempurnakan prosedurnya.”

Raka membeku sepersekian detik.

“Apa?”

Adrian melangkah maju.

“Ayahmu menemukan dasar resonansi Astra.”

“Ibumu menemukan cara menstabilkan gen.”

“Tapi aku yang menemukan cara menanamkannya ke janin tanpa menghancurkannya.”

Kayla menatap Raka tak percaya.

“Kamu… ikut menciptakannya…”

Adrian tersenyum.

“Aku menciptakan evolusi.”

Raka merasa darahnya membeku.

“Lalu kamu membunuh mereka.”

“Mereka mencoba menghentikan masa depan.”

Raka tertawa kecil—pahit.

“Kamu menyebut pembantaian sebagai masa depan?”

Adrian tak menjawab.

Ia mengangkat tangan.

Energi hitam membentuk tombak panjang di genggamannya.

“Kemarilah, Raka.”

“Bergabunglah dengan Eclipse.”

“Kita bisa menghancurkan batasan dunia lama.”

Damar langsung berdiri di depan Raka.

“Kalau mau dia, lewati aku dulu.”

Adrian mendesah.

“Kamu selalu emosional, Damar.”

Ia menghilang.

Dalam sekejap, ia muncul di belakang Damar dan menghantamnya dengan energi hitam.

Damar terpental menabrak dinding kaca.

Kayla berteriak, menciptakan medan gravitasi besar yang menekan Adrian ke lantai.

Lantai retak.

Tapi Adrian tersenyum.

Energi hitam di tubuhnya memutar, membelokkan gravitasi Kayla.

Ia berjalan keluar dari tekanan itu seolah melawan hukum fisika.

“Gravitasi hanyalah gaya,” katanya tenang. “Astra adalah hukum baru.”

Raka bergerak.

Ia melesat maju, meninju Adrian dengan energi biru penuh.

Ledakan cahaya dan kegelapan bertabrakan.

Laboratorium berguncang.

Dinding runtuh.

Debu berjatuhan dari langit-langit.

Raka dan Adrian saling dorong dengan kekuatan masing-masing.

Biru melawan hitam.

“Kenapa aku?” Raka berteriak di tengah tekanan energi.

“Karena kamu sempurna!” balas Adrian.

“Kamu adalah bukti bahwa manusia bisa menjadi lebih dari manusia!”

“Aku bukan percobaanmu!”

Ledakan kedua terjadi.

Keduanya terpental ke sisi berlawanan.

Raka terengah.

Darah menetes dari pelipisnya.

Adrian berdiri lebih tenang—meski jubahnya robek dan lengan kirinya berdarah.

“Masih mentah,” gumamnya. “Tapi luar biasa.”

Damar bangkit tertatih.

“Raka… dengarkan aku…” napasnya berat. “Dia mencoba memancing emosimu supaya sinkronisasimu meledak.”

Kayla mendekat ke sisi Raka.

“Kita bertiga,” katanya tegas. “Jangan lawan sendiri.”

Raka mengangguk pelan.

Cahaya biru di tubuhnya mulai stabil.

Tidak lagi liar.

Tidak lagi bergetar.

Terarah.

Adrian memperhatikan perubahan itu.

“Oh?”

Raka mengangkat tangan.

Cahaya biru membentuk lingkaran energi di belakangnya.

“Kalau kamu pikir aku akan bergabung dengan pembunuh orang tuaku…”

Ia menatap lurus ke mata Adrian.

“Kamu salah besar.”

Kayla meningkatkan gravitasi di sekeliling Adrian.

Damar menembakkan gelombang energi pelindung yang berubah menjadi penahan gerak.

Raka menggabungkan keduanya—

Energi biru membentuk pilar cahaya yang menghantam Adrian langsung.

Ledakan dahsyat mengguncang lantai -7.

Asap tebal menyelimuti semuanya.

Beberapa detik terasa seperti menit.

Lalu—

Angin dingin berhembus.

Asap terbelah.

Adrian berdiri.

Luka di tubuhnya lebih jelas.

Darah hitam menetes dari sudut bibirnya.

Namun ia masih tersenyum.

“Sempurna…”

Ia mengangkat tangannya ke langit-langit.

“Tapi belum cukup.”

Tiba-tiba seluruh laboratorium bergetar.

Sistem penghancur diri aktif.

Alarm berubah menjadi sirene panjang.

Kayla membelalak. “Dia mau meledakkan tempat ini!”

Adrian mundur perlahan.

“Ini bukan akhir, Raka.”

“Ini awal dari perang.”

Portal hitam terbuka di belakangnya.

Sebelum masuk, ia menatap Raka untuk terakhir kali.

“Ketika kamu siap menerima siapa dirimu sebenarnya… temui aku.”

Dan ia menghilang.

Portal menutup.

Sirene semakin keras.

Damar berteriak, “Kita harus keluar sekarang!”

Raka menatap layar yang mulai runtuh.

Proyek Astralis.

Rahasia orang tuanya.

Pengkhianatan.

Semua terbakar dalam satu malam.

Ia menggertakkan gigi.

“Perang ya…”

Cahaya biru menyala stabil di matanya.

“Kalau itu yang dia mau… aku akan mengakhirinya.”

Ledakan mulai terdengar dari lorong.

Kayla menarik lengannya.

“Raka! Fokus! Kita keluar dulu!”

Mereka bertiga berlari meninggalkan laboratorium yang runtuh.

Dan di atas kota—

Langit malam terasa lebih gelap dari biasanya.

Eclipse telah menyatakan perang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!