Di tengah beban hidup yang menghimpit, Xiao Han— pemuda 22 tahun yang menjadi tulang punggung keluarga, berjuang mati-matian menghidupi ibunya yang lumpuh serta membiayai pendidikan adik perempuannya yang baru kelas 1 SMP. Gaji sebagai tukang antar surat tak pernah cukup untuk menutupi biaya pengobatan dan kebutuhan sehari-hari.
Dengan putus asa namun tekad kuat, Xiao Han akhirnya membuka jasa panggilan pria, dan mempromosikannya secara diam-diam di media sosial. Awalnya hanya sebagai cara bertahan hidup, layanan ini perlahan membawanya masuk ke dunia yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya: pertemuan-pertemuan rahasia, rahasia klien, dan batasan moral yang terus diuji.
Hingga suatu malam, satu panggilan khusus datang, sebuah pengalaman yang tak terduga, penuh risiko, dan emosi yang mengubah segalanya. Pertemuan itu bukan hanya mengguncang hidupnya saat ini, melainkan juga membuka pintu menuju masa depan yang akan mengubah kehidupannya secara drastis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon APRILAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Pagi menyingsing di rumah besar Rina Wijaya, cahaya matahari pagi menyusup lewat celah tirai ruang tamu. Xiao Han duduk di sofa, tubuhnya masih tegang setelah malam yang panjang dan penuh gejolak. Bibirnya sudah dibersihkan Rina dengan obat luka kecil dari lemari obat, tapi bekasnya masih terasa nyeri samar. Jam dinding menunjukkan pukul 05:45—dia harus pulang segera, mandi cepat, dan siap jemput Lin Qing jam 7 pagi.
Rina muncul dari dapur dengan dua cangkir teh hangat, masih mengenakan kimono sutra biru dongker yang tipis, rambut hitam panjangnya sedikit acak-acakan tapi tetap berkilau. Wajahnya lebih segar sekarang, tapi matanya masih membara dengan hasrat yang belum padam dari malam tadi.
“Kak Xiao Han… sebelum kamu pergi, ini buat kamu,” katanya pelan, menyerahkan amplop tebal berisi uang. “5 juta lagi. Bonus untuk malam ini. Dan… untuk menyelesaikan apa yang tertunda tadi malam.”
Xiao Han menatap amplop itu, jantungnya berdegup kencang lagi. “Mbak Rina… saya sudah dapat bonus 10 juta tadi. Ini terlalu banyak.”
Rina tersenyum genit, tapi senyum itu penuh keganasan yang tersembunyi. Dia meletakkan teh di meja, lalu mendekat, tangannya menyentuh dada Xiao Han melalui kemeja yang masih setengah terbuka.
“Bukan terlalu banyak. Ini untuk kamu. Dan aku ingin… tuntaskan sekarang. Aku janda, Kak. Sudah bertahun-tahun tidak merasakan pria. Malam tadi hampir saja… tapi sekarang, rumah masih sepi. Hanya kita berdua. Jangan tolak lagi.”
Xiao Han ragu, tapi mata Rina yang membara membuatnya tidak bisa mundur. Tubuh wanita itu luar biasa—kulit putih mulus seperti sutra, terawat dengan spa dan krim mahal setiap hari, membuatnya tampak seperti wanita 30-an meski usianya 40 tahun. Payudaranya penuh dan tegas, naik-turun cepat mengikuti napasnya yang haus, dengan pucuk gunung hitam yang mengeras dan menggoda, kontras dengan kulit cerahnya. Pinggang ramping melengkung sempurna ke pinggul berisi tapi kencang, paha panjang atletis dengan otot halus dari yoga rutin, dan danau surganya rapi terawat, basah dan siap karena hasrat yang lama terpendam. Rambut hitam panjangnya menyapu bahu saat dia bergerak, menambah aura feminin yang ganas dan mendominasi.
Rina tidak menunggu jawaban. Dengan gerakan agresif, dia mendorong dada Xiao Han kuat-kuat, membuat pria itu mundur sampai punggungnya menyentuh dinding batu tepi kolam. Mata Rina membara, seperti singa betina yang lapar.
“Jangan bicara. Kamu sudah dibayar. Sekarang biar aku yang kendalikan.”
Dia menekan tubuhnya ke tubuh Xiao Han, payudaranya yang penuh menekan dada pria itu, pucuk gunung hitam itu menggesek kulit yang panas. Tangan Rina turun cepat, menggenggam buah pisang Xiao Han dengan kuat, mengelusnya naik-turun dengan ritme kasar tapi ahli. Xiao Han mengerang pelan, tubuhnya bereaksi meski pikirannya berjuang.
Rina mendorongnya lebih keras lagi, membuat Xiao Han duduk di tepi kolam, kakinya menyentuh air dingin. Wanita itu naik ke pangkuannya dengan cepat, kakinya membuka lebar, danau surganya langsung menekan buah pisang Xiao Han. Dia bergoyang pelan dulu, menggesek dengan ganas, napasnya terengah di telinga pria itu.
“Kamu kuat, ya? Tubuhmu enak sekali disentuh. Aku suka pria seperti kamu—muda, atletis, tapi bisa dikendalikan.”
Rina menekan bibirnya ke bibir Xiao Han, ciuman yang kasar dan mendominasi, giginya menggigit bibir bawah pria itu pelan tapi sakit. Tangan satunya meremas dada Xiao Han, kuku-kukunya meninggalkan bekas merah tipis. Dia naik-turun lebih cepat, danau surganya basah dan panas, siap menelan buah pisang itu sepenuhnya.
Dengan satu dorongan kuat, Rina menurunkan tubuhnya, menelan Xiao Han sepenuhnya dalam sekali gerak. Tubuhnya melengkung, payudaranya bergoyang liar, pucuk gunung hitam itu menggesek dada Xiao Han setiap dorongan.
Rina mengendalikan segalanya—pinggulnya berputar agresif, naik-turun dengan ritme cepat dan mendominasi, tangannya mencakar punggung Xiao Han meninggalkan bekas merah. Sebagai janda yang lama tidak berhubungan, keganasannya luar biasa; dia mengerang keras, tubuhnya berkeringat berkilau, payudaranya memantul penuh, pucuk gunung hitam itu seperti titik fokus yang menggoda mata. Dia membalikkan posisi dengan dorongan kuat, membuat Xiao Han telentang di tepi kolam, lalu naik lagi, tangannya menekan dada pria itu seperti menahan mangsa.
“Lebih keras… aku mau rasain semuanya!” perintahnya, suaranya pecah karena nafsu. Pinggulnya bergerak lebih liar, danau surganya berdenyut kuat di sekitar Xiao Han, tubuhnya menegang mendekati puncak.
Rina mempercepat gerakan, naik-turun dengan ritme ganas, payudaranya bergoyang liar, pucuk gunung hitam itu menggesek dada Xiao Han setiap dorongan. Tubuhnya berkeringat, kulitnya berkilau di bawah cahaya pagi yang mulai terang. Dia mencakar punggung Xiao Han lebih dalam, kuku-kukunya meninggalkan garis merah panjang, sementara mulutnya menggigit leher pria itu, meninggalkan tanda merah. Napasnya semakin cepat, tubuhnya menegang keras, dan akhirnya dia mencapai puncak dengan jeritan panjang yang memenuhi halaman belakang.
Xiao Han ikut terbawa, melepaskan di dalamnya dengan napas tersengal. Rina ambruk di atas dada Xiao Han, tubuhnya masih bergetar, payudaranya menekan dada pria itu, pucuk gunung hitam itu masih mengeras karena sisa ekstasi.
Mereka diam beberapa menit, hanya suara napas saling bercampur dan air kolam yang bergoyang pelan.
Rina akhirnya mengangkat kepala, tersenyum puas dan genit.
“Kamu luar biasa, Kak. Lama sekali aku nggak merasakan seperti ini.”
Xiao Han hanya diam, matanya menatap langit pagi. Dadanya penuh campuran rasa—lega karena uang itu akan membantu keluarganya, tapi juga bersalah yang semakin dalam.
Rina bangun pelan, kimono sutranya jatuh kembali menutupi tubuhnya. Dia mengulurkan tangan membantu Xiao Han berdiri.
“Pergi dulu. Mandi di kamar mandi lantai 1 kalau mau. Aku tunggu kamu lagi malam ini.”
Xiao Han mengangguk pelan, mengambil baju basahnya, dan berjalan ke pintu samping tanpa banyak bicara.
Di luar, matahari sudah terbit penuh. Dia menstarter motor, melaju meninggalkan rumah besar itu dengan pikiran yang semakin berat.