Seorang pemuda yang sejak lahir telah ditakdirkan menderita. Bakatnya dicuri, keluarganya dihancurkan, ia dijual sebagai budak. Namun dari abu kehancuran itu, ia bangkit sebagai api yang membakar segalanya.
Xu Hao bukan pahlawan biasa. Ia adalah pemberontak sejati, seseorang yang menolak takdir, menentang kehendak Langit, dan menempuh jalannya sendiri: Dao Pemberontakan. Dengan kekuatan ini, ia mampu melampaui batas-batas kultivasi konvensional, menghancurkan hukum alam, dan bahkan melukai makhluk yang dianggap dewa.
Namun di balik keganasannya, tersimpan luka yang tak pernah sembuh. Cintanya pada Lianxue, gadis yang setia menanti ribuan tahun, menjadi satu-satunya cahaya dalam kegelapan. Dan saat cahaya itu padam, Xu Hao kehilangan segalanya. Enam ribu tahun ia terpuruk dalam kegilaan, hanya mampu menyebut satu nama: Xue'er.
"Ayah ibuku dibunuh. Cintaku mati di pelukanku. Takdir telah mempermainkanku! Kini giliranku mempermainkan takdir."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjalanan Menuju Kota Changyuan
Setelah obrolan cukup panjang dan banyak informasi terkait Kota Changyuan dan Jurang Kesengsaraan serta keseluruhan Alam Satu, Xu Hao akhirnya bertanya lagi.
"Dimana posisi Dewa Takdir? Dimana posisi Dewa yang mengatur petir kesengsaraan Dunia Fana?"
Zhang Hu tersenyum lebar dan mengangguk angguk. Matanya berbinar seolah baru menemukan teman seperjuangan.
"Tampaknya Tuan Muda Xu mengagumi sosok yang sangat terkenal di seluruh Alam Dewa. Selera Tuan Muda Xu sangat bagus di tingkat ini. Dewa Takdir adalah sosok yang sangat disegani, banyak kultivator yang memuja beliau karena dianggap mengatur jalan hidup setiap makhluk di alam semesta."
Istri Zhang Hu ikut tersenyum. "Benar, benar. Banyak orang ingin bertemu beliau, meminta petunjuk tentang takdir mereka."
Xu Hao menjawab dingin. Wajahnya tetap datar seperti batu.
"Aku ingin membunuh mereka."
Zhang Hu yang sedang menyeduh araknya langsung tersedak keras. Arak menyembur dari mulutnya, mengenai meja dan hidangan di depannya. Matanya membelalak, wajahnya merah padam.
"Hekh! Hekh! Hekh!"
Istrinya panik, menepuk nepuk punggung Zhang Hu dengan kuat. Beberapa tepukan terdengar...
Bugh Bugh Bugh
Membuat tubuh Zhang Hu terhuyung.
"Kau ini kenapa tersedak-sedak? Minum pelan pelan!" omel istrinya.
Zhang Hu mengangkat tangan, memberi isyarat bahwa dia baik baik saja. Setelah batuknya reda, dia menatap Xu Hao dengan tatapan dalam. Matanya menyipit, mencoba melihat apakah ada secercah gurauan di wajah Xu Hao.
Namun dia tidak menemukannya.
"Kau serius tentang itu?" tanya Zhang Hu dengan suara serak.
Xu Hao mengangguk pelan. Sekali. Tegas.
Zhang Hu dan istrinya saling berpandangan. Alis mereka terangkat, bibir mereka bergerak sedikit, seolah berkomunikasi tanpa suara. Lalu mereka tersenyum geli. Bukan senyum mengejek, tapi senyum orang dewasa melihat anak kecil yang bicara mau menjadi dewa.
Mereka berusaha menahan tawa. Bibir mereka mengerut, pipi mereka sedikit bergetar. Zhang Hu bahkan sampai menutup mulutnya dengan tangan, berpura pura membersihkan sisa arak.
Setelah beberapa detik, Zhang Hu menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Dia menatap Xu Hao dengan tatapan seorang tetua yang bijak.
"Baiklah, anggap saja itu hanya lelucon kecil. Mungkin nanti setelah Tuan Muda Xu mencapai level yang lebih tinggi, kau akan mengerti."
Xu Hao diam saja. Tidak membantah, tidak menjelaskan. Hanya diam.
Zhang Hu menghela nafas lagi, lalu wajahnya berubah serius. Dia mencondongkan tubuh ke depan.
"Dewa Takdir adalah seorang dewa yang sangat disegani. Tingkat kultivasinya adalah Dewa Pencipta. Dan aku tidak tahu keberadaan tepatnya. Yang pasti, dia berada di Alam ke Enam."
Xu Hao mengernyitkan dahi. "Kenapa sosok sekuat dia tidak di Alam Tujuh? Bukankah itu alam tertinggi?"
Zhang Hu menjelaskan, "Itu karena mulai dari Alam Lima sampai Alam Tujuh, sebenarnya sama saja kekuatannya. Tidak ada batasan kultivasi, seperti di Alam Satu sampai Empat. Di tiga alam atas, semua level dewa bisa eksis. Dewa Pencipta, Dewa Asal, bahkan Dewa Primordial pun mungkin ada di sana. Jadi Dewa Takdir bebas memilih tinggal di alam mana pun. Dia memilih Alam Enam."
Xu Hao mengangguk mengerti. Informasi ini berharga.
Lalu Zhang Hu menambahkan, "Kalau Dewa yang memberikan kesengsaraan surgawi pada manusia fana, itu adalah Hakim Dewa. Tingkatnya juga Dewa Pencipta. Dan posisinya tidak di ketujuh alam."
Xu Hao menyipitkan mata. Matanya memancarkan cahaya ungu redup.
"Dimana?"
Zhang Hu menjawab dengan suara sedikit berbisik, seolah takut didengar makhluk lain.
"Di antara Alam Enam dan Alam Tujuh ada sebuah tempat yang dikenal sebagai... Alam Surgawi! Itu adalah domain khusus, tempat para dewa yang mengatur hukum alam bersemayam. Mereka tidak campur tangan urusan alam biasa, hanya fokus pada tugas mereka. Salah satunya adalah memberikan kesengsaraan pada kultivator dunia fana yang akan naik level."
Xu Hao terdiam. Matanya menerawang jauh. Dalam pikirannya, bayangan Lianxue muncul. Wajah cantik itu tersenyum padanya, lalu menghilang menjadi partikel cahaya. Api membara di hatinya. Dewa Takdir dan Hakim Dewa adalah bagian dari rantai takdir yang merenggut kebahagiaannya. Mereka harus menerima konsekuensinya.
Tapi itu nanti. Dirinya masih terlalu lemah saat ini. Dewa Bumi bintang delapan. Bahkan tidak layak menjadi budak di hadapan Dewa Pencipta.
Xu Hao mengangguk pelan. "Baiklah, sekarang tidak perlu membahas tentang itu."
Zhang Hu dan istrinya menghela nafas lega bersamaan. Ekspresi tegang di wajah mereka luntur.
Xu Hao kemudian bertanya, "Apakah identitas ini berlaku juga untuk alam lainnya?"
Istri Zhang Hu menjawab dengan sigap. "Berguna. Karena setidaknya orang akan tahu asalmu dari Alam Satu. Itu memberi mu identitas dasar, bukti bahwa kau bukan makhluk liar tanpa asal usul. Tapi dengan identitas yang diluar alam, tokenmu itu tidak akan berlaku untuk perlindungan. Berbeda wilayah, berbeda aturan. Jika kau masuk ke Alam Dua, kau dianggap pendatang, bukan warga. Tidak ada yang akan melindungimu jika kau bermasalah."
Xu Hao mengangguk pelan. Itu sudah cukup untuknya. Dia tidak butuh perlindungan. Dia hanya butuh pintu masuk.
Xu Hao kemudian berdiri. Gerakannya tegas, tanpa keraguan.
"Terima kasih sudah membantu. Karena tidak ada urusan lagi, aku akan pergi."
Zhang Hu dan istrinya ikut berdiri. Zhang Hu sedikit ragu, mulutnya terbuka lalu tertutup lagi. Akhirnya dia bertanya.
"Pergi ke mana?"
Xu Hao menjawab singkat, "Kota Changyuan."
Zhang Hu menghela nafas. Dia tahu tujuan itu. Tangan kanannya mengibas, dan sebuah kantong kecil muncul dari cincin penyimpanannya. Kantong itu melayang ke arah Xu Hao.
"Ini sedikit dari keuntungan taruhan. Tuan Muda Xu berhak mendapatkan ini. Kristal ilahi sekitar lima puluh ribu, campuran rendah dan tinggi. Bukan jika untuk bangsawan dewa, tapi untuk pengembara, ini sangat banyak"
Xu Hao menangkap kantong itu dan memasukkannya ke dalam cincin penyimpanannya tanpa memeriksa isinya.
"Terima kasih."
Zhang Hu mengangguk. Dia lalu mengantar Xu Hao keluar dari kediaman, melewati halaman tempat para pemuda masih berlatih, melewati taman dengan bunga bercahaya, hingga sampai di gerbang kota.
Di bawah cahaya bintang yang redup, Zhang Hu berdiri di depan gerbang. Wajahnya serius.
"Apakah Tuan Muda Xu ingin naik alam melalui Jurang Kesengsaraan?"
Xu Hao mengangguk.
Zhang Hu menghela nafas panjang. "Aku sebenarnya sangat khawatir. Tempat itu sangat berbahaya. Ribuan Dewa Bumi mencoba setiap tahun, dan hanya segelintir yang berhasil. Tapi aku juga tidak bisa menghalangi mu. Karena itu aku hanya bisa bilang. Hati hati. Semoga kau selamat sampai tujuan."
Xu Hao menatapnya. Mata dinginnya sedikit melunak. Lalu dia melayang pelan, tubuhnya terangkat beberapa meter dari tanah.
"Terima kasih. Kebaikanmu akan kuingat. Di masa depan, saat aku menghancurkan ketujuh alam, ku pastikan kota ini dan keluargamu tetap aman. Aku pergi!"
Wush!
Tubuh Xu Hao menghilang. Beberapa detik kemudian, di kejauhan, sosoknya muncul kembali. Lalu menghilang lagi. Setiap kemunculan jaraknya semakin jauh.
Di gerbang kota, Zhang Hu mengernyitkan dahi. Dia menatap istrinya yang tiba tiba muncul di sampingnya.
"Istri, apa maksud perkataan Tuan Muda Xu tadi? Menghancurkan ketujuh alam? Dia hanya Dewa Bumi. Mimpi apa itu?"
Istrinya menggeleng. "Mungkin hanya gaya bicara anak muda. Kau juga dulu suka bicara besar."
Zhang Hu tersenyum kecut. "Mungkin kau benar. Tapi... ada sesuatu di matanya. Bukan omong kosong. Aku bisa merasakannya."
Mereka berdua terdiam, menatap ke langit malam di mana Xu Hao telah menghilang.
Di atas angkasa Alam Satu, Xu Hao melesat dengan kecepatan luar biasa. Tubuhnya seperti anak panah yang melesat meninggalkan jejak cahaya ungu redup. Di bawahnya, daratan bergulir seperti lukisan yang terus berganti.
Dalam pikirannya, bayangan Lianxue terus berputar. Senyum lembut di wajah cantiknya. Tatapan matanya yang penuh cinta saat mengorbankan diri. Kata kata terakhirnya yang menusuk jantung.
"Jika ada kehidupan lagi untuk kujalani, aku akan memilih untuk tetap mencintaimu..."
Xu Hao mengepalkan tinjunya. Tulang tulangnya berbunyi. Matanya memancarkan kilat ungu.
Tiba tiba!
Tekanan kuat menghadang jalannya. Ruang di depan Xu Hao bergetar, lalu dua sosok muncul dari balik celah dimensi. Dua pria tua dengan jubah hitam. Di dahi mereka, sembilan bintang bersinar terang. Dewa Bumi bintang sembilan, keduanya.
dan Tahta tertinggi untuk Cinta adalah Cinta kpd Tuhan
"...sepertinya pertarungan kita setahun yang lalu tidak memberikan efek jera padamu"