Kaisar Pramudya, berandal kampus berusia 23 tahun, hidupnya berantakan antara skripsi yang tak kunjung selesai dan ancaman orang tua yang ingin menikahkannya secepat mungkin.
Namun, semua berubah dalam satu hari paling kacau dalam hidupnya. Di sebuah rumah sakit, Kaisar dipaksa menikahi seorang wanita berusia 32 tahun, wanita yang dingin, tegas, dan nyaris tak tersentuh emosi. Shelina Santosa, Dosen killer yang paling ditakuti di kampusnya.
Pernikahan itu terjadi di depan ayah Shelina yang sekarat. Dan tepat setelah ijab kabul terucap, pria itu mengembuskan napas terakhirnya.
Akankah, Kaisar bertahan dalam hubungan
tanpa cinta, atau memilih mengakhiri sebelum semuanya berubah menjadi cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Besok harinya.
Benar saja seperti ucapannya saat di kampus lagi tadi, Kaisar tak benar-benar melepas Shelina.
Sejak matahari belum sepenuhnya tinggi, Shelina masih terkurung dalam pelukan itu. Lengan Kaisar melingkar erat di pinggangnya, seolah tubuhnya adalah satu-satunya tempat aman yang tak ingin ia lepaskan. Bahkan, ketika Shelina mencoba bergeser, hanya sejengkal, pelukan itu justru mengencang.
“Kai…” rengek Shelina pelan, suaranya serak karena lelah bercampur malu.
“Aku mau turun sebentar.”
Kaisar menggumam pelan, wajahnya menyusup ke ceruk leher Shelina, napas hangatnya membuat Shelina refleks menegang.
“Nggak,” jawabnya singkat, malas tapi penuh kepemilikan.
Shelina mendesah kecil. Sejak tadi malam mereka nyaris tak meninggalkan ranjang waktu terasa berhenti, dunia seolah menyempit hanya berisi detak jantung dan napas mereka berdua. Kaisar terlalu protektif pagi ini, berbeda dari biasanya. Ada sisi posesif yang lembut, tapi tak bisa diabaikan.
“Kai, aku serius…” Shelina mencoba lagi, tangannya mendorong dada Kaisar pelan.
Namun, Kaisar hanya mengangkat wajahnya, menatap Shelina dari jarak sangat dekat. Tatapan itu membuat semua kalimat protes Shelina runtuh sebelum sempat keluar. Ada sorot nakal bercampur puas di mata pria itu, seolah berkata, kamu milikku, setidaknya pagi ini.
“Semalam kamu yang nggak mau aku lepas,” katanya lirih, bibirnya melengkung tipis. “Sekarang gantian.”
Shelina terdiam, wajahnya memanas, antara kesal dan pasrah. Ia tahu betul dan membuat Kaisar kesal sekarang bukan pilihan bijak. Pria itu bisa berubah makin menyebalkan, makin lengket, dan Shelina belum cukup kuat untuk melawan.
Akhirnya Shelina hanya menghela napas, membiarkan kepalanya bersandar di dada Kaisar. Detak jantung itu masih kuat, stabil, menenangkan. Tangannya menggenggam kaus Kaisar tanpa sadar, seolah menerima kekalahannya pagi itu.
“Dasar…” gumam Shelina pelan.
Kaisar tersenyum puas, mengecup puncak kepala Shelina singkat dan gestur kecil yang sarat makna.
Mereka tetap di sana, berdua, dalam hangat yang malas dan intim, hingga waktu perlahan mengingatkan bahwa dunia luar tak bisa ditunda selamanya.
Beberapa menit kemudian, suasana kamar mulai kembali normal. Shelina bangkit lebih dulu, meski gerakannya masih pelan. Ia meraih pakaian dengan wajah sedikit memerah, sementara Kaisar duduk di tepi ranjang, menatapnya tanpa berkedip dan tatapan yang membuat Shelina merasa diperhatikan sekaligus dijaga.
“Kamu ada kelas di fakultas sebelah, kan?” tanya Kaisar sambil berdiri dan meraih jaketnya.
Shelina mengangguk. “Iya, hari ini ngajar di kelas lain.”
Mereka bersiap hampir bersamaan, namun suasana di antara mereka berbeda dari pagi-pagi sebelumnya. Ada rasa saling memiliki yang belum lama ini tumbuh, tapi akarnya sudah terasa kuat.
Saat hendak keluar kamar, Kaisar tiba-tiba menghentikan langkah Shelina dengan menggenggam pergelangan tangannya lembut, namun tegas.
“Shel,” panggilnya, suaranya lebih serius dari biasanya.
Shelina berbalik. “Kenapa?”
Kaisar menarik napas sejenak, lalu menatap wajah istrinya dalam-dalam. “Aku nggak suka kamu terlalu dekat sama Pak Rangga. Aku nggak nyaman.”
Shelina terdiam sebentar. Ia bisa melihat kecemburuan itu jelas dan bukan pura-pura, tapi tertahan, lahir dari rasa takut kehilangan. Tanpa berkata apa pun, Shelina melangkah mendekat, lalu memeluk Kaisar sekilas. Pelukan singkat, tapi cukup untuk membuat Kaisar terdiam.
“Yang aku cintai itu kamu,” ucap Shelina pelan, suaranya mantap.
“Bukan orang lain. Pak Rangga cuma teman, sebatas rekan kerja dan nggak lebih.”
Kaisar memejamkan mata sesaat, lalu mengangguk kecil. Tangannya naik ke punggung Shelina, membalas pelukan itu meski hanya sebentar.
“Janji,” katanya singkat.
“Janji,” jawab Shelina tanpa ragu.
Mereka pun melangkah keluar kamar bersama, berdampingan.
Tiba di kampus, mobil Shelina dan langkah Kaisar akhirnya berpisah arah. Shelina menuju gedung fakultasnya, sementara Kaisar berjalan ke arah parkiran motor dan area mahasiswa. Langkahnya santai, namun pikirannya belum sepenuhnya lepas dari pagi yang hangat tadi.
Baru beberapa langkah, suara yang sudah sangat ia kenal memanggil namanya.
“Kai.”
Kaisar menoleh, di sana berdiri Bima, Sakti, dan Alex. Tiga orang yang dulu selalu ada di sampingnya dan di jalanan malam, di arena balap, juga di setiap kekacauan yang mereka ciptakan bersama. Wajah mereka tak lagi sok garang seperti biasanya.
Kaisar tidak langsung mendekat. Tangannya masuk ke saku celana, sorot matanya datar.
“Ada apa?” tanyanya singkat.
Bima melangkah maju satu langkah. “Kami mau minta maaf.”
Kaisar terdiam.
Sakti mengusap tengkuknya, jelas tak nyaman.
“Sejak lo pergi, Kai … markas sepi. Nggak ada yang ngatur. Nggak ada yang ribut. Nggak ada lo.”
Alex menambahkan pelan, “Geng Kobra itu bukan apa-apa tanpa lo. Persahabatan kita juga jadi berantakan cuma gara-gara debat kemarin.”
Kaisar menghembuskan napas panjang. Ada sesuatu yang menekan dadanya dan bukan marah, tapi sisa-sisa luka yang belum sepenuhnya hilang.
“Gue nggak pergi tanpa alasan,” ucapnya akhirnya. “Gue capek. Sama balapan, sama ribut, sama hidup yang muter di situ-situ aja.”
Bima menunduk. “Kami salah ninggalin lo malam itu.”
Kalimat itu membuat Kaisar menatap mereka lagi.
“Yang bikin gue sakit bukan cuma itu,” katanya jujur.
“Tapi karena kalian nggak dengerin gue. Padahal gue lagi berusaha berubah.”
Hening sejenak tercipta di antara mereka. Suara langkah mahasiswa lain terasa jauh.
“Kami kangen lo, Kai,” ucap Sakti lirih. “Bukan sebagai ketua. Tapi sebagai temen.”
“Aku nggak bisa balik jadi Kaisar yang dulu,” katanya akhirnya, suaranya lebih tenang. “Tapi gue juga nggak mau musuhan.”
Bima mengangguk cepat. “Itu aja cukup.”
Kaisar melangkah mendekat, lalu menepuk bahu Bima sekali.
“Kita temenan. Tapi soal geng … biarin itu jadi cerita lama.”
Kaisar lalu melangkah pergi menuju gedung kelas.
trs sepupunya yg bawa amira nikah ga thor?
jd penasaran sm kisah mereka
kasian dirimu rico,niat hati ingin menjatuhkan kaisar dan shelin,kamu sendiri yg ketakutan,takut ketahuan kesalahanmu.