NovelToon NovelToon
Cinta Kontrak Seorang CEO

Cinta Kontrak Seorang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ana Sutiana

Ketika hidupmu dipenuhi dengan rutinitas dan kesibukan, tiba-tiba sebuah kontrak cinta muncul di depan mata. Sakira Anindya, seorang wanita muda yang mandiri, harus menjalani perjanjian unik dengan seorang CEO tampan dan misterius, Rafael Pratama. Awal dari perjanjian itu hanyalah formalitas, tapi hati tak pernah bisa diajak kompromi.

bisakah Sakira menjaga jarak tanpa terjerat perasaan? Ataukah kontrak ini justru membuka jalan bagi cinta yang tak pernah ia duga? Drama, romansa, dan rahasia CEO menanti untuk mengubah hidup Sakira selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Sutiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 15. Tanpa kontrak, tanpa takut

Pagi itu, Sakira datang ke kantor dengan langkah ringan.

Ia tidak lagi menghitung hari berdasarkan rasa cemas, tidak lagi menoleh ke belakang setiap kali pintu tertutup. Hidupnya mulai menemukan ritme—pekerjaan yang menuntut fokus, rekan kerja yang ramah, dan malam-malam yang ia habiskan untuk dirinya sendiri.

Namun tetap saja, ada satu hal yang membuat dadanya berdebar setiap kali jam makan siang mendekat.

Bukan karena lapar.

Melainkan karena kemungkinan—yang tidak pernah dijanjikan—bahwa Rafael akan muncul dengan caranya yang tenang, tanpa mengusik.

Hari itu, ia tidak datang. Sakira tersenyum kecil pada dirinya sendiri, merasa konyol karena sempat berharap. Ia membuka bekalnya dan mulai makan sambil membaca catatan kerja.

Dan justru saat itulah, pesan masuk ke ponselnya.

Jika kamu tidak sibuk malam ini, maukah kamu minum teh denganku? Tidak sebagai suami. Tidak sebagai CEO. Hanya Rafael.

Sakira menatap layar itu lama.

Tidak ada kata harus.

Tidak ada tekanan.

Ia menarik napas dan membalas singkat.

Aku mau.

Malam turun dengan lembut.

Sakira berjalan ke sebuah kedai teh kecil di sudut kota—tempat sederhana dengan lampu temaram dan aroma melati yang menenangkan. Ia memilih meja dekat jendela, meletakkan tas di kursi kosong di depannya.

Beberapa menit kemudian, Rafael datang.

Tanpa jas. Tanpa pengawal. Hanya kemeja lengan panjang yang digulung rapi dan senyum yang… gugup.

“Terima kasih sudah datang,” katanya.

Sakira mengangguk. “Terima kasih sudah mengundang tanpa tuntutan.”

Mereka tersenyum kecil—canggung, tapi jujur.

Rafael memesan teh hangat untuk mereka berdua. Tidak ada pembicaraan besar di awal. Mereka membahas hal-hal sederhana—

tentang pekerjaan Sakira, tentang buku yang sedang ia baca, tentang bagaimana Rafael mulai kembali berolahraga pagi.

“Aku lupa rasanya hidup tanpa jadwal yang dikunci,” ujar Rafael sambil mengaduk tehnya.

“Ternyata… tidak menakutkan.”

Sakira menatapnya. “Kadang yang menakutkan bukan perubahan. Tapi keberanian untuk memilih.”

Rafael mengangguk, seolah menyimpan kalimat itu.

Mereka tertawa pelan. Tidak ada drama. Tidak ada pengakuan.

Dan justru itulah yang membuat Sakira merasa aman.

Di rumah besar keluarga Rafael, suasana malam itu jauh dari tenang.

Ratna duduk di ruang keluarga, menatap layar ponselnya dengan rahang mengeras. Di depannya, Alya berdiri dengan raut wajah tak sabar.

“Kamu membiarkannya mendekati Rafael lagi?” tanya Alya.

Ratna menghela napas. “Aku tidak membiarkan apa pun. Rafael memilih jalannya sendiri.”

Dan Ibu diam saja?” Alya menekan.

Ratna menatap Alya tajam. “Aku sudah terlalu jauh mencampuri hidupnya.”

Alya terdiam sejenak, lalu tertawa kecil. “Jadi perempuan itu menang?”

“Ini bukan tentang menang atau kalah,” jawab Ratna. “Ini tentang anakku yang akhirnya berani.”

Alya mengepalkan tangan. “Kalau begitu izinkan aku bicara langsung dengan Sakira.”

Ratna berdiri. “Jangan.”

Namun Alya sudah melangkah pergi.

Beberapa hari setelah kencan sederhana itu, Sakira menerima undangan tak terduga.

Alya.

Mengajak bertemu.

Sakira menimbang lama sebelum menyetujui. Kali ini, ia tidak merasa gentar. Ia datang bukan sebagai istri kontrak, bukan sebagai perempuan yang ragu—melainkan sebagai dirinya sendiri.

Mereka bertemu di kafe yang sama, namun suasananya berbeda.

“Aku tidak akan berputar-putar,” kata Alya. “Aku ingin Rafael kembali.”

Sakira mengangguk pelan. “Aku tidak menghalangimu.”

Alya terkejut. “Apa?”

“Aku tidak memegang siapa pun,” lanjut Sakira tenang. “Jika Rafael memilihmu, itu keputusannya.”

“Kamu pikir semudah itu?” Alya menyipitkan mata.

Cinta seharusnya memang tidak rumit,” jawab Sakira. “Yang rumit adalah ego.”

Alya terdiam.

Aku tidak datang untuk bersaing,” lanjut Sakira. “Aku hanya memastikan satu hal—aku tidak lagi mengecilkan diriku sendiri.”

Alya bangkit, menatap Sakira lama. “Kamu berubah.”

Sakira tersenyum kecil. “Aku tumbuh.”

Malam itu, Rafael mengetahui pertemuan tersebut.

“Kamu tidak seharusnya menghadapi Alya sendirian,” katanya.

“Aku tidak sendirian,” jawab Sakira. “Aku punya diriku sendiri.”

Rafael tersenyum—bangga, lega.

Mereka berjalan menyusuri trotoar malam, berdampingan tanpa bergandengan tangan.

“Sakira,” ucap Rafael pelan. “Aku tidak akan memintamu apa pun.”

Sakira menoleh. “Lalu?”

“Aku hanya ingin mengatakan—aku mencintaimu. Tanpa kontrak. Tanpa janji kosong.”

Sakira berhenti melangkah.

Rafael ikut berhenti, menunggu. Tidak mendekat. Tidak memaksa.

“Aku tidak butuh jawaban sekarang,” lanjutnya. “Aku hanya ingin jujur.”

Sakira menatapnya lama. Di matanya tidak ada ketakutan—hanya ketulusan.

“Aku juga mencintaimu,” katanya akhirnya. “Tapi aku tidak ingin kembali pada versi lama kita.”

Tidak akan,” jawab Rafael cepat. “Aku juga tidak mau.”

Sakira tersenyum. “Kalau begitu… mari berjalan perlahan.”

Rafael mengangguk. “Aku akan menyesuaikan langkah.”

Mereka melanjutkan langkah, kali ini lebih dekat—tanpa menyentuh, namun seirama.

Beberapa minggu berlalu.

Hubungan mereka tidak diberi label. Tidak ada status resmi. Namun ada konsistensi—pesan singkat yang tidak menuntut, pertemuan sederhana, dan ruang untuk masing-masing bernapas.

Rafael menghadapi keluarganya dengan tenang. Tidak melawan, tidak tunduk—hanya menetapkan batas.

Sakira berkembang di pekerjaannya. Ia belajar percaya pada kemampuannya sendiri, bukan pada perlindungan siapa pun.

Dan di antara semua itu, cinta tumbuh—pelan, namun kokoh.

Suatu sore, Rafael berdiri di depan Sakira dengan ekspresi serius.

Aku ingin bertanya satu hal,” katanya.

Sakira tersenyum. “Apa?”

“Bolehkah aku memulai lagi?” tanya Rafael. “Bukan sebagai suami kontrak. Tapi sebagai laki-laki yang ingin berjalan di sampingmu.”

Sakira terdiam sejenak.

Lalu ia mengangguk. “Boleh.”

Rafael tersenyum—lega, bahagia.

Tidak ada cincin.

Tidak ada janji besar.

Hanya dua orang yang memilih satu sama lain, tanpa rasa takut.

Malam itu, Sakira menulis di buku catatannya:

Jika cinta datang dengan tenang, jangan curigai.

Mungkin itu bukan badai—melainkan rumah.

Ia menutup buku itu dengan senyum.

Kontrak telah berakhir.

Namun cerita mereka… baru saja dimulai.

Malam semakin larut ketika Rafael mengantar Sakira pulang.

Tidak ada kata pamungkas, tidak ada janji untuk esok hari. Hanya tatapan yang saling mengerti bahwa mereka sedang berada di fase yang sama—fase saling menjaga jarak yang sehat.

Sakira berdiri di depan pintu apartemennya, memegang gagang pintu sambil menoleh.

“Terima kasih,” katanya pelan. “Bukan karena kamu mencintaiku.”

Rafael mengangkat alis, menunggu.

“Karena kamu memberiku pilihan,” lanjut Sakira. “Itu sesuatu yang jarang kudapatkan.”

Rafael tersenyum tipis. “Aku belajar dengan cara yang tidak mudah.”

Sakira mengangguk, lalu masuk ke dalam. Pintu tertutup perlahan, meninggalkan Rafael berdiri sendiri di koridor yang sunyi.

Namun untuk pertama kalinya… ia tidak merasa ditinggalkan.

Di dalam apartemen, Sakira bersandar di pintu. Dadanya terasa hangat, bukan bergejolak. Ia membuka ponsel, melihat pesan dari ibunya yang masuk beberapa menit lalu.

Kamu kelihatan lebih tenang akhir-akhir ini. Ibu senang.

Sakira tersenyum kecil. Ia mengetik balasan singkat, lalu meletakkan ponsel dan menatap langit-langit.

Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa hidupnya ditentukan oleh siapa yang bersamanya.

Ia hidup karena ia memilih.

Sementara itu, di rumah keluarga besar Rafael, suasana makan malam berlangsung kaku.

Rafael duduk di ujung meja, berhadapan dengan Ratna. Alya tidak hadir malam itu—entah sengaja, entah menghindar.

“Kamu terlihat berbeda,” ujar Ratna akhirnya.

“Karena aku berhenti berpura-pura,” jawab Rafael tenang.

Ratna meletakkan sendoknya. “Kamu sungguh serius dengan Sakira?”

Rafael tidak langsung menjawab. Ia menatap ibunya, lalu berkata, “Aku serius dengan diriku sendiri. Dan Sakira adalah bagian dari pilihan itu.”

Ratna terdiam lama.

“Aku tidak akan memaksamu menikah,” lanjut Rafael. “Aku juga tidak meminta restu sekarang. Aku hanya ingin hidup tanpa dikendalikan rasa takut.”

Ratna menunduk. Untuk pertama kalinya, ia melihat putranya bukan sebagai penerus bisnis, melainkan sebagai laki-laki dewasa.

“Aku butuh waktu,” kata Ratna lirih.

“Aku tahu,” jawab Rafael. “Aku akan menunggu. Tapi aku tidak akan mundur.”

Hari-hari berikutnya berjalan lebih sunyi, namun penuh makna.

Rafael dan Sakira tidak bertemu setiap hari. Kadang hanya pesan singkat, kadang hanya emoji sederhana. Tidak ada tuntutan kehadiran, tidak ada rasa bersalah jika salah satu sibuk.

Justru di situlah cinta mereka tumbuh—di ruang yang tidak memenjarakan.

Suatu sore, Sakira menerima kiriman kecil ke kantornya. Sebuah buku catatan dengan sampul polos. Di halaman pertama, tertulis tulisan tangan Rafael:

Aku tahu kamu suka menulis.

Jika suatu hari kamu ragu, tulislah—bukan untukku, tapi untuk dirimu sendiri.

Sakira memejamkan mata sejenak, menahan senyum yang hampir jatuh menjadi air mata.

bersambung...

1
Ana Sutiana
bagus dan menarik ceritanya untuk di baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!