Kusuma Pawening, gadis remaja yang masih duduk di bangku SMA itu tiba-tiba harus menjadi seorang istri pria dewasa yang dingin dan arogan. Seno Ardiguna.
Semua itu terjadi lantaran harus menggantikan kakanya yang gagal menikah akibat sudah berbadan dua.
"Om, yakin tidak tertarik padaku?"
"Jangan coba-coba menggodaku, dasar bocah!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asri Faris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Gadis itu berwajah murung saat keluar dari rumah yang telah membesarkannya selama hampir delapan belas tahun itu. Ia tidak menyangka pernikahan kakaknya berakhir menjadikannya seorang istri dengan menggantikannya.
"Sudah, Nduk, jangan bersedih seperti itu, cepat sedikit suamimu sudah terlalu lama menunggu," ujar Bu Ana terlihat tegar. Padahal sisi lain dari nalurinya menjerit ingin menangis.
"Bu, Pak, Wening pamit ya, kabari selalu keadaan rumah, aku pasti akan sangat merindukan Ibu dan Bapak," ujarnya memeluk kembali. Perpisahan itu terlalu mendadak dan terlalu berat.
"Hati-hati Nak, pasti Ibu akan selalu berkabar, jangan begitu khawatir dengan keadaan kami. Jaga diri baik-baik sayang, doa kami menyertaimu." Ibu merasakan perasaan campur aduk melepas kepergian putrinya. Beliau menahan tangis yang dibalut senyum perpisahan.
Sementara Rara mengintip di balik korden, menyaksikan dengan jelas raut muka adiknya yang mendung. Rasa bersalah bercampur kesedihan membumbung hatinya. Ia marah dengan diri sendiri, merenungi nasib yang telah menghampiri.
Lambaian tangan Wening memungkasi perpisahan mereka. Tangis gadis itu pecah setelah memasuki mobil suaminya.
"Haish ... cengeng banget sih pakai acara nangis segala. Dasar bocah!" cibir Seno dingin. Pria itu duduk di jok depan sebelah kemudi.
"Wening!" Tiba-tiba suara bariton itu menyapa semua pasang telinga yang ada di sana. Gadis itu menoleh, menemukan seorang pria yang begitu dekat dengannya berlari ke arahnya.
"Jalan Yu!" titah pria itu tanpa peduli kesedihan Wening saat ini.
"Eh, tunggu-tunggu, itu ada teman aku, sembarangan main jalan aja. Tunggu sebentar, kalau tidak mau menunggu dan cukup buru-buru sebaiknya tinggal saja aku," ucapnya sembari membuka pintu keluar.
Wahyu dibuat speechless dengan istri kecil tuannya yang sepertinya terlihat tangguh.
"Bagaimana Tuan?"
Seno menghela napas jengkel, belum genap dua hari menjadi istrinya, gadis kecil itu sudah banyak tingkah yang menjengkelkan.
"Lima menit, nggak usah lebay!" ujarnya dingin.
Wening langsung keluar menemui Rajas, pria yang begitu dekat dengannya dan mempunyai tempat khusus di hati keduanya.
"Kamu beneran pindah? Aku cemas sampai izin ke sini, takut nggak bisa lihat kamu lagi."
"Iya Ja, maaf, belum sempat memberi kabar, jangan sedih kita masih bisa telponan kok, jarak tidak jadi masalah, kita bisa saling berkabar lewat udara."
"Aku pasti akan sangat merindukanmu, tunggu aku di kota ya, suatu hari nanti aku akan menyusulmu di universitas yang sama."
"Aku tunggu janjimu, sampai jumpa, Ja."
Setelah berpamitan dengan sahabat spesialnya, Wening kembali ke mobil dengan tangan terus melambai dan senyum yang terukir memungkasi pertemuan mereka.
"Ja! Sampai ketemu ya!" pekik gadis itu dari dalam mobil menyembul lewat kaca yang diturunkan sepenuhnya.
Pemandangan lebay itu sontak membuat Seno lagi-lagi mencibir.
"Lebay, kecil-kecil sok romantis!" ujarnya menyorot sinis.
Wening menautkan alisnya cuek, lebih tak peduli dengan ocehan tak berguna pria yang terlihat menyebalkan itu. Ia asyik sendiri bermain ponselnya, sedikit menghibur diri dalam perjalanan. Gadis itu sama sekali tidak terusik dengan ocehan kedua pria yang terlihat seumuran dan begitu kompak.
"Om, nanti berhenti di rest area ya, aku butuh ke toilet," ujar gadis itu tanpa canggung.
Kedua pasang netra Seno dan Wahyu saling melirik. Apa katanya? Om? Yang benar saja.
"Heh bocah! Sepertinya telingamu itu harus dikorek, aku Seno, ini Wahyu, panggilan dengan nama yang baik dan sopan!" ujarnya jengkel.
"Owh ... lagi ngajak kenalan toh ceritanya. Baiklah kalau Pak Seno sih Wening udah tahu, dia kan mantannya Mbak Rara, tapi kalau yang Om supir ini, belum, jadi namanya Wahyu. Oke, Wening ralat!"
Seno mendelik dikatain Pak, tua amad, emang bapak-bapak!
"Om Wahyu, cari tempat yang ada mini marketnya sama toilet!" ujar gadis itu kembali. Ia merasa tak nyaman sama sekali.
Wahyu hanya menggangguk mengiyakan, walaupun tidak juga suka dengan panggilan itu. Namun, terdengar lucu, gadis itu memang terlihat unik.
Wening langsung ngacir turun begitu mobil terparkir dengan benar. Gadis itu tidak begitu peduli dengan seruan Seno yang memperingatkan.
"Jangan lama-lama, merepotkan saja!" Teriak Seno terdengar kesal. Bisa-bisanya di jalan gadis itu banyak tingkah.
"Tuh kan bener, untung aku bawa," gumam Wening mendapati masa periodenya setelah sampai di kamar mandi.
Gadis itu bersih-bersih dulu lalu menggantinya agar terasa nyaman. Ia masih belum beranjak, rupanya membenahi rambutnya yang terlihat berantakan, sedikit bersolek manja di depan kaca lebar depan toilet.
Sementara Seno benar-benar meradang, hampir dua puluh lima menit gadis itu tak kunjung datang. Kalau bukan karena mandat ibunya membawa gadis itu ke kota sudah pasti Seno tinggalkan di jalan.
"Sial! Ke mana tuh bocah, Yu, ccek coba deh, jangan-jangan pingsan di toilet! Huhf ... merepotkan saja!" gerutu pria itu semakin kesal.