NovelToon NovelToon
Mafia Kejam Jatuh Cinta

Mafia Kejam Jatuh Cinta

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: erinaCalistaAzahra

Marvel Dewangsa sadar bahwa hatinya sudah lama mati. Mungkin dari pengkhianatan oleh wanita yang ia sayangi, ditambah ia yang berkecimpung di dunia bawah yang tidak memerlukan simpati untuk bertahan hidup. Ia akhirnya percaya bahwa hidupnya akan seallau gelap sampai mati.

Namun, entah keajaiban apa, di hari itu seorang wanita yang bernama Elara , datang dan perlahan selalau ada di kehidupannya. Apakah marvel Dewangsa akan menerima Elara di kehidupannya dan hatinya akan luluh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erinaCalistaAzahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

merayakan kemenangan

Kemenangan bagi Marvel bukanlah akhir, melainkan pengukuhan takhta. Di tengah puing-puing pelabuhan yang kini berada di bawah kendalinya, ia berdiri sebagai satu-satunya penguasa yang tersisa.

Seluruh sisa pasukan Valerius yang masih hidup kini berlutut di hadapannya, menyerahkan senjata dan kesetiaan mereka karena takut akan maut yang lebih mengerikan jika menolak.

Dengan jatuhnya pelabuhan, Marvel kini memegang kunci distribusi utama di kota tersebut. Setiap barang yang masuk dan keluar harus melalui izinnya, menjadikannya orang paling berkuasa secara ekonomi di dunia bawah tanah.

Kabar tentang bagaimana Marvel menghancurkan musuhnya dengan strategi dingin menyebar ke seluruh penjuru kota. Nama "The Glacier" kini bukan sekadar julukan, melainkan peringatan bagi siapa pun yang berniat mengusik kedamaiannya.

Marvel memasukkan tangannya ke saku jas, menatap matahari terbit yang menyinari wilayah barunya. Tidak ada sorak-sorai, hanya keheningan yang penuh kepatuhan.

"Kota ini sekarang bernapas sesuai irama jantungku," bisiknya pelan pada angin pagi.

Marvel tidak merayakan kemenangan dengan pesta pora atau tawa keras. Baginya, kemenangan hanyalah sebuah konfirmasi atas dominasi yang sudah seharusnya ia miliki.

Malam itu, di lantai teratas gedung pencakar langit miliknya yang menghadap ke arah pelabuhan yang masih berasap, Marvel duduk di kursi kulit mahoni. Hanya ada satu lampu meja yang menyala, memberikan siluet tajam pada wajahnya yang dingin.

Berikut adalah cara Marvel "merayakan"

Ia menuangkan wiski Scotch berusia 50 tahun ke dalam gelas kristal. Tidak ada musik, tidak ada sorak-sorai anak buah. Ia menikmati sunyi sebagai bukti bahwa tidak ada lagi lawan yang berani bersuara di kotanya.

Sambil menyesap minumannya, ia meninjau laporan keuangan di tabletnya. Aset-aset Lorenzo Valerius yang baru saja disita—termasuk real estat dan jalur logistik—telah berpindah tangan secara legal ke perusahaan cangkang miliknya. Kemenangan baginya adalah angka-angka yang bertambah di saldo bank.

Marvel mengeluarkan sebuah pemantik emas, lalu membakar peta lama pelabuhan yang kini sudah ia kuasai. Ia memperhatikan api melahap kertas itu hingga menjadi abu, simbol bahwa sejarah lama telah berakhir dan era barunya dimulai.

Ia mengirimkan pesan singkat kepada tangan kanannya: "Bonus dua kali lipat untuk semua unit. Kirim keluarga mereka berlibur. Besok kita bekerja lagi." Marvel tahu bahwa loyalitas dibeli dengan kemakmuran, bukan sekadar kata-kata.

marvel berdiri, menatap pantulan dirinya di kaca jendela yang besar. Darah di pipinya sudah dibersihkan, menyisakan luka kecil yang akan menjadi pengingat permanen. Ia tidak tersenyum. Ia hanya mengangguk pelan pada dirinya sendiri, seolah berkata bahwa dunia kembali berada dalam keteraturan yang ia ciptakan.

Kemenangan bagi Marvel bukanlah tentang tepuk tangan, melainkan tentang keheningan. Di dunia bawah tanah, suara yang paling keras adalah suara ketakutan musuh yang tidak berani lagi bernapas.

Marvel berdiri di balkon kantornya, memandang kota yang kini tunduk di bawah kakinya. Kemenangan ini terasa seperti es yang memadat—kokoh dan tak tergoyahkan.

Marvel meletakkan cangkir kopinya yang pahit. Ia membuka laci meja dan mengambil sebuah koin emas—simbol kekuasaan tertinggi dalam organisasinya. Ia memutar koin itu di atas meja marmer, memperhatikan putarannya yang sempurna hingga berhenti tepat di tengah.

"Menang itu mudah," gumamnya dengan nada datar yang mengerikan. "Yang sulit adalah memastikan tidak ada lagi yang cukup berani untuk bermimpi mengalahkanku."

Kota di bawahnya kini tenang, namun Marvel tahu, di balik ketenangan itu, ia adalah badai yang sedang beristirahat.

1
Dysha♡💕
bagus
Dysha♡💕
ceritanya bagus,tapi terlalu singkat dan cepat,,jadi kurang menghayati gitu,,,
erin
jangan bosan untuk membaca
erin
jangan lupa mampir🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!