Niat hati merayakan ulangtahun pernikahan kedua dengan kejutan manis, Cakra justru dihantam kenyataan pahit. Di dalam apartemen mereka, ia menemukan Hana terlelap dalam pelukan sepupunya sendiri. Tanpa tahu bahwa ini adalah jebakan licik sang ibu mertua yang tak pernah merestui mereka, Cakra terbakar api cemburu.
Malam itu juga, tanpa ruang untuk penjelasan, talak dijatuhkan. Hana hancur. Di balik kehancuran itu, ia menyimpan rahasia besar: sebuah kabar kehamilan yang baru saja ingin ia sampaikan sebagai hadiah anniversary mereka.
Tahun-tahun berlalu, Hana bangkit dan berjuang membesarkan putra mereka sendirian. Namun, waktu adalah saksi yang paling jujur. Akankah kebenaran tentang rencana jahat sang ibu mertua akhirnya terungkap? Dan saat penyesalan mulai menghujam Cakra, mampukah Hana memaafkan pria yang lebih memilih percaya pada amarah daripada cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sekolah baru untuk El
Pagi itu, kediaman Pak Sutoyo terasa berbeda. Janji yang diucapkan Pak Sutoyo kemarin bukanlah isapan jempol belaka. Beliau benar-benar ingin memastikan Hana memiliki masa depan yang kuat, sementara El mendapatkan pendidikan terbaik yang bisa dibeli dengan uang.
🍃🍃🍃🍃
Matahari baru saja naik ketika Pak Sutoyo memperkenalkan seorang wanita dengan setelan formal yang rapi dan tatapan mata yang cerdas. "Hana, kenalkan ini Indah. Dia orang kepercayaanku. Mulai hari ini, dia akan membantumu memahami seluk-beluk bisnis dari dasar," ujar Pak Sutoyo dengan nada tegas namun kebapakan.
Hana menyambut tangan Indah dengan sopan. Ada rasa gugup, namun semangatnya jauh lebih besar. Sementara itu, di sudut ruang makan, El sudah tampak rapi dengan tas kecilnya. Hari ini adalah hari besar bagi El; dia akan didaftarkan ke sebuah Taman Kanak-Kanak (TK) elit di Jakarta untuk program dua tahun ke depan.
Pak Sutoyo menoleh ke arah putranya yang sejak tadi sibuk memperhatikan El.
"Urusan El biar nanti Tama yang urus, bukankah begitu, Nak? Hari ini apakah kau sibuk dengan pekerjaanmu?" tanya Sutoyo kepada Tama.
Tama meletakkan sendoknya dan tersenyum tipis. "Tentu saja tidak, Pah. Semuanya sudah dijadwalkan ulang. Sekarang, apakah El mau diantar sama Om Tama?"
Tanpa ragu, El langsung berlari mendekat dan memeluk kaki Tama dengan erat. "Tentu saja Om! Apalagi Om Tama itu sangat baik... aku ingin punya Ayah seperti Om Tama!" ucap El dengan mata berbinar.
Di dalam benaknya, El membayangkan foto pria gagah yang pernah ia lihat secara tidak sengaja di komputer warnet milik Kak Ros.
'Ya ampun, aku jadi ingat... aku masih berhutang cokelat Cadbury sama Kak Ros karena sudah meminjam komputernya,' gumam El dalam hati.
Mendengar ucapan polos El, Tama yang baru saja menyesap kopinya mendadak tersedak. Suaranya tertahan di tenggorokan, wajahnya memerah karena terkejut sekaligus canggung.
Hana yang melihat hal itu langsung panik dan bergegas mengambil segelas air putih. "Mas Tama tidak apa-apa?" tanyanya sambil menyodorkan gelas itu dengan cekatan.
Tama meminum air itu sampai tandas, mencoba menetralkan degup jantungnya yang mendadak tidak beraturan.
'Kenapa perkataan El barusan membuat aku sangat terkejut?!' batinnya dalam diam.
"Aku... aku tidak apa-apa, Han!" ujar Tama sedikit gugup, menghindari tatapan mata Hana.
Pak Sutoyo yang memperhatikan tingkah aneh putranya itu hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh arti yang sulit ditebak.
Setelah drama kecil di meja makan, Tama dan El bergegas menuju mobil untuk pergi ke sekolah elit yang telah disiapkan. El melambaikan tangan dengan penuh kegembiraan, baginya, duduk di bangku sekolah adalah impian yang akhirnya bisa terwujud.
Di sisi lain, suasana di ruang kerja pribadi Pak Sutoyo menjadi serius namun kondusif. Indah mulai membuka beberapa berkas laporan keuangan dan strategi pemasaran di hadapan Hana.
"Kamu punya dasar yang sangat bagus, Nona Hana," puji Indah setelah melihat cara Hana menanggapi penjelasannya.
Indah memang tidak merasa kesulitan mengajar Hana. Pengalaman Hana selama setahun menjadi sekretaris Cakra di perusahaan Ardiwinata, sebelum akhirnya hubungan profesional itu berubah menjadi pernikahan, ternyata meninggalkan jejak kemampuan administrasi dan logika bisnis yang tajam. Hana bukan sekadar belajar dari nol. dia sedang membangkitkan kembali kemampuan yang sempat tertidur. Dulu Hana sempat kuliah sampai diploma 3, itupun ia mendapatkan beasiswa dari kampusnya, meskipun ia kuliah dalam keterbatasan ekonomi, Hana tidak mau menyerah...ia tetap akan terus berjuang sampai akhir, Hana pun bekerja sambilan sambil kuliah.
Mansion Ardiwinata
Di kediaman keluarga besar, Cakra sedang menyesap kopi hitamnya saat langkah kaki terburu-buru memecah keheningan. Sheila, sepupunya yang memang dikenal cukup dekat dan sering meminta bantuan, muncul dengan wajah sembap.
"Cakra, tolongin aku...!" rengek Sheila.
Cakra yang selalu bersikap dingin hanya menghela napas panjang, tidak mengalihkan pandangan dari tablet di tangannya. "Ada apa lagi, Sheila?"
"Kau hari ini sibuk tidak?" tanya Sheila sambil memasang wajah memelas, berharap sepupunya itu sedang dalam suasana hati yang baik.
"Hari ini aku sedang meliburkan diri, memangnya kenapa?" jawab Cakra datar.
Mendengar hal itu, mata Sheila berbinar. Ia merasa mendapat angin segar. "Kamu bisa bantuin aku? Kau kan tahu kalau aku dan Mas Ferry sedang dalam proses perceraian, dan hari ini adalah keputusan final. Aku harus ke pengadilan, tapi aku ingin kamu ikut bersamaku ke sekolahnya Axel. Temani dia di sana sebentar saja, kau bisa kan, Cakra?"
Cakra sempat terdiam. Pikirannya melayang jauh. Ia baru teringat jika Axel, putra Sheila, seusia dengan putranya yang hilang.
'Axel seusia dengannya...' batin Cakra.
Ada secercah harapan kecil yang muncul di benaknya, mungkinkah ia bisa menemukan jejak putranya di lingkungan sekolah seperti itu? Meski rasionya mengatakan itu mustahil, hatinya mendesak untuk mencoba.
Sheila sempat gugup melihat keterdiaman Cakra. Sebelumnya, ia sudah meminta izin kepada Tuan Ardi, ayahnya Cakra, namun sang paman hanya menyarankan agar Sheila bicara langsung. Tanpa disangka, Cakra mengangguk pelan. "Baiklah. Aku akan mengantar Axel."
.
.
Setibanya di salah satu sekolah dasar elit di Jakarta, Sheila bergegas pergi menuju pengadilan dengan taksi, meninggalkan Cakra dan Axel di lobi sekolah.
"Ayo, Axel. Kita ke kelasmu," ajak Cakra.
Namun, karena takut terlambat masuk kelas di hari pertamanya, Axel berlari mendahului Cakra. Koridor yang licin membuat langkahnya sulit terkendali hingga ia tidak sengaja menabrak seorang anak kecil sebayanya yang sedang berjalan santai dari arah berlawanan.
"Aduh!" seru bocah kecil yang ditabrak itu saat keduanya jatuh tersungkur.
Cakra yang baru saja menutup panggilan telepon bisnisnya langsung berlari menghampiri. Ia melihat Axel terjatuh, namun pandangannya juga tertuju pada bocah satunya yang kini memegangi lututnya yang berdarah.
"Axel, kau tidak apa-apa?" tanya Cakra panik, memeriksa kondisi keponakannya terlebih dahulu.
"Aku tidak apa-apa Om, hanya saja... anak itu terluka gara-gara aku," ujar Axel dengan bibir gemetar, hampir menangis melihat luka di dengkul anak yang ditabraknya.
Cakra segera berpindah posisi. Ia berjongkok di depan bocah yang tertabrak itu agar bisa sejajar dengan tubuh mungilnya. Rasa bersalah dan naluri kebapakan yang lama terpendam mendadak muncul.
"Nak, kamu tidak apa-apa?" tanya Cakra lembut sambil mengusap lembut bahu bocah tersebut.
Bocah itu perlahan mendongak, menyeka air mata di pipinya dengan punggung tangan. Saat wajah mereka berhadapan, Cakra membeku. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. Ia menatap lekat-lekat mata bulat dan garis wajah bocah di hadapannya yang terasa begitu familiar, wajah yang memperlihatkan dirinya sewaktu kecil
Bocah itu yang tak lain adalah El-Barack, ia terdiam menatap pria dewasa yang sangat mirip dengan foto yang pernah ia lihat di komputer Kak Ros.
Bersambung...