NovelToon NovelToon
MENOPANG LANGIT Di ATAP YANG ASING

MENOPANG LANGIT Di ATAP YANG ASING

Status: tamat
Genre:Slice of Life / Nikahmuda / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Hamil di luar nikah / Berbaikan / Tamat
Popularitas:13.8k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Bagi orang lain, ia adalah definisi kemandirian yang sempurna. Namun, di balik punggungnya yang tegap, tersimpan luka yang tak pernah dipeluk siapa pun.

Ia tumbuh dalam rumah yang penuh, tetapi merasa seperti yatim piatu di tengah hiruk-pikuknya. Sejak kecil, ia dipaksa menelan rindu pada orang tua yang merantau, hanya untuk kembali dan mendapati dirinya sebagai orang asing yang selalu salah. Tanpa pembelaan, tanpa kasih sayang, ia belajar satu hal: satu-satunya orang yang bisa ia andalkan adalah dirinya sendiri.

Namun, sampai kapan seseorang bisa terus menjadi "langit" yang kokoh tanpa pernah runtuh? Ketika semua keinginan harus dipenuhi sendiri dan setiap air mata harus disembunyikan, ia mulai kehilangan jejak akan perasaannya sendiri.


Di rumah yang seharusnya menjadi pelabuhan, ia justru tenggelam dalam kesepian yang paling sunyi. Mampukah ia menemukan jalan pulang ke dirinya sendiri, ataukah ia akan terus menopang langit itu sampai hancur berkeping-keping?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

,Langkah Alana terasa berat, seolah setiap inci tanah Uluwatu yang ia injak berubah menjadi lumpur yang mengisapnya kembali ke masa lalu. Kantin proyek yang biasanya bising dengan denting sendok dan tawa para pekerja, mendadak terasa senyap di telinganya.

Alana memilih meja paling pojok, jauh dari jangkauan kipas angin yang berputar malas di langit-langit. Aroma kopi sachet dan gorengan yang biasanya membangkitkan selera, kini justru membuatnya mual. Ia memesan sebotol air mineral dingin, lalu menempelkan botol itu ke keningnya yang berdenyut, mencoba mendinginkan badai yang berkecamuk di dalam kepalanya.

Bayangan lemari kayu pengap itu masih enggan pergi. Ia bisa merasakan tekstur baju-baju kasar yang dulu menyentuh kulitnya, dan rasa sesak saat oksigen seolah habis karena ia terlalu lama menahan napas.

"Sampai kapan, Alana?" bisiknya pada diri sendiri. "Sampai kapan kau akan terus bersembunyi di dalam lemari itu?"

Ponsel di atas meja kayu yang kasar kembali menyala. Pesan dari Pradipta masih terpampang di sana, menuntut jawaban. Alana tahu, jika ia membalas dengan kata "Aku baik-baik saja", ia hanya akan menambah satu lagi lapisan kebohongan pada dinding pelindung yang ia bangun bertahun-tahun.

Jari-jarinya gemetar saat mengetik balasan:

Alana: Aku hanya butuh udara, Dipta. Terkadang, masa lalu punya cara yang licik untuk menemukanku kembali, bahkan di bawah matahari Bali yang terik ini. Jangan khawatir, aku profesional. Aku akan kembali ke lokasi setelah ini.

Ia tidak menceritakan tentang lemari itu. Belum saatnya. Namun, mengakui bahwa ia sedang "tidak baik-baik saja" adalah langkah besar yang belum pernah ia lakukan pada siapapun sebelumnya.

Sementara itu, di Jakarta, suasana hati Pradipta sekeras batu karang di Uluwatu. Ia mengabaikan tatapan heran dari rekan bisnisnya yang masih berdiri mematung di lobi hotel. Baginya, nada pesan Alana yang tidak biasa itu lebih dari sekadar laporan cuaca; itu adalah panggilan minta tolong yang tersamar.

"Pak Pradipta, mobil sudah siap untuk ke bandara," lapor Rina dengan suara pelan, masih merasa tidak enak karena harus membatalkan pertemuan komisaris yang sangat penting.

Pradipta mengangguk singkat, melangkah lebar menuju pintu keluar. "Rina, pastikan tidak ada yang menggangguku selama di pesawat.

"Baik, Pak."

Saat masuk ke dalam mobil, Pradipta menatap lurus ke depan. Ia tahu Alana adalah wanita yang tangguh, tapi ia juga tahu bahwa sekuat-kuatnya tembok, ia akan runtuh jika terus dihantam hujan sendirian.

"Tunggu aku, Alana," batinnya. "Kamu tidak perlu meringkuk di kegelapan lagi. Aku akan membawa langit yang tidak pernah mendung itu untukmu."

Alana baru saja hendak menyesap air mineralnya ketika pemandangan di dekat meja kasir merampas sisa napasnya.

Di sana, Ibu Siti—pemilik kantin yang ramah—sedang duduk bersama putri kecilnya yang baru pulang sekolah. Sang ibu dengan telaten menyeka keringat di dahi anaknya menggunakan ujung celemeknya yang sedikit kusam, lalu mencium pipi gadis kecil itu sambil tertawa kecil. Tak lama kemudian, Ibu Siti menyuapkan sepotong pisang goreng, sementara sang anak bercerita dengan semangat, matanya berbinar penuh rasa aman.

Pemandangan sederhana itu menghantam Alana lebih keras daripada ombak Uluwatu.

Dada Alana terasa sangat sesak, seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya. Baginya, pemandangan itu adalah kemewahan yang tidak pernah ia miliki. Ingatannya kembali terseret pada sosok Ibunya sendiri—seorang wanita yang selalu terlihat lelah dan penuh amarah.

Dulu, jangankan mendapatkan usapan di dahi setelah pulang sekolah, Alana justru harus belajar berjalan tanpa suara agar tidak memicu ledakan emosi sang Ibu. Baginya, kasih sayang adalah sesuatu yang harus ditukar dengan kepatuhan mutlak, dan pelukan adalah sesuatu yang asing, yang hanya ia lihat di layar televisi.

"Kenapa rasanya tidak adil?" batin Alana pedih.

Ia melihat bagaimana gadis kecil itu bersandar di bahu Ibu Siti tanpa rasa takut, seolah bahu itu adalah tempat paling aman di seluruh dunia. Berbeda jauh dengan dirinya yang harus mencari perlindungan pada lemari kayu tua yang pengap hanya untuk sekadar menangis.

Alana segera memalingkan wajah. Ia tidak sanggup melihat lebih lama lagi. Kehangatan di depannya justru membuat luka lamanya terasa semakin dingin dan perih.

Dengan tangan yang masih gemetar, ia menyambar tasnya dan berdiri dengan terburu-buru. Ia harus pergi dari sana. Kantin itu, dengan segala aroma kasih sayang ibu dan anak yang menyesakkan, terasa lebih mencekam daripada kegelapan lemari masa kecilnya.

Saat ia melangkah keluar menuju terik matahari, sebuah notifikasi masuk ke ponselnya.

Pradipta: Jangan kembali ke lokasi kalau hanya untuk berpura-pura profesional, Alana. Aku sedang dalam perjalanan ke bandara. Tunggu aku di sana.

Alana terpaku di ambang pintu kantin. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga, satu tetes yang mewakili ribuan isak tangis yang dulu pernah ia bungkam di dalam lemari kayu.

1
falea sezi
resain lah oon
falea sezi
jangan betele tele
falea sezi
prett bgt muter doank. g jelas. ne novel. pantes g ada like wong peran utama. oon bkin mual
Lilack Sunrise: pakai lah bahasa Indonesia yang baik dan benar , kamu kayaknya yang oon semua tulisan di kasih titik.gagap loe
total 1 replies
falea sezi
resain pergi jauh dr. dipta yg. plin plan. pengecut dr ortu toxic
falea sezi
Resain aja alana pradipta aja goblok
falea sezi
bodoh di manfaatnya ortunya diem aja pergi lah bego
Desi Santiani
yaa tamat thor
RM
bagus bgt kenapa sepi pembaca y
byyyycaaaa: Terim ma


terimakasih sudah mampir kak🙏🤗
total 1 replies
RM
bagus banget kenpa sepi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!